PAST STORY

1106 Kata
Nayla baru saja menghentikan langkah. Entah mengapa ia merasa terengah-engah. Bagaimana tidak, saat itu kedua muda mudi tersebut telah berpindah lokasi sejauh lebih dari lima kilometer. Sembari menghapus peluh yang bercucuran di dahi. Nayla menatap seorang pemuda tak sadarkan diri di sampingnya. Menghela napas lalu menepuk kedua pipi Danur secara bergantian. Berujar, “Nur? Bangun, Nur. Mengapa lo justru tertidur? Gue takut sekali.” Kalimat itu tak serta merta dilontarkan oleh Nayla. Mengingat, saat itu mereka berdua berada cukup jauh dari pemukiman warga. Berpindah menuju sebuah hunian dengan jarak jauh antar tiap rumah. Sebuah gambaran yang tepat dengan keinginan Danur sebelum mereka memutuskan pergi bersama. Lalu, Di saat Danur mulai mengerjap mata, seorang kakek terlihat keluar dari ambang pintu berbahan dasar kayu. Kakek itu berjalan mendekati sosok Danur dan Nayla. Menyapa, “Untuk apa lagi kau ke mari, wahai anak muda?” Sontak, “Kek?” Danur mengeluarkan suara. Beranjak dari posisi rebahan. Kemudian, menatap Nayla yang sedang menyiratkan pembenaran. “Benar, Nay. Dialah seorang kakek yang gue cari.” Setelah itu, mereka bertiga berpindah pada dudukan yang lebih nyaman. Sang kakek segera menyuguhkan dua gelas berisi teh hangat. Mengijinkan sosok wanita muda di hadapan untuk meneguk minuman. Sebelum ia mulai berujar, “Kakek tak bisa membantu kalian.” Danur dan Nayla melebarkan bola mata bersamaan. Sejatinya, mereka cukup terkesan saat mengetahui sang kakek memahami maksud dan tujuan kedatangan mereka ke sana. “Tapi, Kek. Kami belum menyampaikan niat kami sama sekali. Lantas, bagaimana bisa Kakek mengetahui tujuan kami itu?” Nayla bertanya polos. Sedangkan, Danur tak lagi ragu. Sudah pasti, si kakek merupakan warga desa yang cukup memiliki ilmu. “Baik, Kek. Jikalau memang Kakek tak bisa membantu kami. Paling tidak, jawab saja pertanyaan kami. Apakah Kakek mengenali seorang wanita muda. Ehm, maksud saya gadis muda berkisar usia lima belas hingga tujuh belas tahun di desa ini, yang cukup dekat dengan sosok mendiang Mbak Nawang?” “Apakah yang sedang kalian maksud adalah Sukma?” Si kakek memastikan. “Sukma?” “Yah. Sukma adalah adik perempuan mendiang Nawang.” “Pan-pantas saja,” Danur berdecak tidak heran. “Lalu, Kek. Di manakah kami bisa menemukan dia?” Kali itu, Nayla mewakili pertanyaan dari Danur. “Sukma sudah lama menghilang.” “APA?” Sontak, Danur dan Nayla memekikkan suara. “Menghilang bagaimana, Kek? Sudah dua kali ini saya berjumpa dengan dia di perkampungan,” Danur menginfokan. Hm? Si kakek berdehem. Berujar, “Kalau begitu, coba kalian cari dia pada sebuah rumah yang terletak di ujung jalan perkampungan.” “Maksud Kakek, rumah yang terletak di bagian tusuk sate pertigaan jalan?” Nayla memastikan. Bergidik ngeri saat membayangkan penampakan rumah tersebut. Bagaimana tidak, sewaktu ia sedang bertugas berkeliling rumah warga, Nayla kedapatan untuk mengecek pondasi di rumah tersebut. Dan, beberapa bercak darah terlihat menempel di dinding. Sedangkan, seorang wanita penghuni rumah itu hanya bisa menggeleng ketika diberi pertanyaan oleh Nayla. Sesekali, wanita renta itu menangis. Berteriak dan berusaha memeluk tubuh Nayla. Sehingga, pada detik itu juga mahasiswi wanita tersebut berlari sekuat tenaga. Meminta agar Reksa bertukar lokasi dengan dia. “Benarkah, Nay? Apakah separah itu kondisi beliau?” Danur bertanya tak percaya. Si kakek menginfokan bahwa, “Wanita itu adalah ibunda mendiang Nawang. Sudah lama suaminya meninggal dunia. Yakni, tepat di saat Sukma lahir ke dunia. Kepergian pria tak berperikemanusiaan itu merupakan pertanda bahwa selesai sudah putri-putri mereka dijual ke pria-pria tak berperasaan.” “Kek? Jangan bilang, kalau bekas darah yang mengering pada dinding itu merupakan bukti pembunuhan yang dilakukan oleh ibunda mendiang Mbak Nawang ke suaminya sendiri?” Nayla menebak. Sang kakek mengangguk. Kembali berkata, “Semenjak kejadian itu, dia menjadi cukup tak stabil dalam berpikir. Padahal, hanya dia yang dimiliki oleh Sukma semenjak ketiga saudara perempuannya menghilang begitu saja. Namun, satu tahun yang lalu Nawang kembali ke mari. Dia berhasil pulang usai terlepas dari jerat pria yang membelinya pada sang ayah. Saat itu, Sukma senang sekali. Dia merasa takkan hidup kesepian lagi. Hanya saja, kepulangan Nawang ke kampung ini bukan menjadi momen bahagia untuk Sukma dan ibunda mereka. Melainkan, menjadi petaka besar. Tak lain, saat menjumpai Nawang meninggal dalam keadaan mengenaskan. Sedari itu, Sukma menghilang. Kakek tak dapat menemukan jejak dia sama sekali.” Mendengar cerita itu, Danur dan Nayla tercengang. Mereka berharap jikalau Sukma dapat segera ditemukan. Mengingat, pesan yang ditinggalkan oleh mendiang Nawang melalui Sukma, menyiratkan bahwa Sukma cukup mengetahui dengan jelas mengenai keadaan sang kakak sebelum atau pun sesudah meninggal dunia. “Oh ya, Kek. Kalau boleh saya tahu, waktu itu Kakek sempat mengatakan bahwa Mbak Nawang meninggalkan pesan. Pesan apa yang ditinggalkan oleh dia? Apakah—“ Danur menghentikan ucapan. Merogoh saku celana. Mengeluarkan secarik kertas yang diselipkan oleh Sukma sewaktu acara penyuluhan di balai desa. “Apakah pesan ini yang Kakek maksud?” Danur menyodorkan kertas kusut berisi tulisan tersebut. Tak menunggu lama, si kakek membenarkan. Berujar, “Oleh karena itu, salah satu teman kalian takkan bisa meninggalkan desa ini.” Spontan, “Tidak, Kek. Tidak! Kami akan memastikan untuk membawa Reksa pulang ke Jakarta. Saya akan memecahkan kasus pembunuhan ini. Saya akan membuktikan bahwa Mbak Nawang tidak meninggal karena bunuh diri. Dengan begitu, Reksa akan terbebas dari jerat mendiang Mbak Nawang. Lagi pula, mereka telah berbeda alam.” Mendengar Danur berucap dengan nada menggebu-gebu, Nayla berusaha menenangkan sang teman. Berbisik, “Sudah, Nur. Sebaiknya, kita kembali ke pemukiman warga saja sekarang.” Kemudian, dengan langkah berat Danur berjalan menjauh dari hunian si kakek. Sebelum, “Oh ya, Nay. Kita harus menanyakan nama kakek itu.” “Ah, lo benar.” Dan, “Kek?” Danur berseru lantang. Sesaat usai menghentikan langkah. “Nama Kakek siapa?” Pria tua dengan rambut memutih dan perawakan bungkuk itu tersenyum lebar. Menatap Danur dan Nayla secara bergantian. Menyahut, “Sutredjo. Panggil saja Kakek dengan panggilan Kakek Redjo.” Pada saat bersamaan, Cthaar! Suara kilat terdengar menyambar. Dua muda mudi tersebut bergegas meninggalkan hunian di sekitar area persawahan. Bermodalkan penerangan pada telepon genggam, Danur dan Nayla berjalan sembari bergandengan tangan. Lalu, “Nur? Apakah lo tak penasaran dengan cara kita sampai di rumah Kakek Redjo?” Nayla memecah suasana hening di antara mereka berdua. Berusaha menyamarkan suara hewan jangkrik yang terus bersahut-sahutan. Detik itu juga, arwah mendiang Nawang terlihat membelakangi tubuh seorang mahasiswi berparas cantik nan jelita. Refleks Danur berseru, “Jangan! Kau jangan berbuat macam-macam. Jangan merasuki raga temanku lagi, Mbak Nawang.” Nayla menoleh. Mengikuti gerak pandang sang teman lelaki. Whoa? Sontak, Nayla terjatuh pingsan. Bukan karena sedang kerasukan atau pun dihantam dengan kepalan tangan dari arah belakang. Melainkan karena melihat wajah si hantu wanita, yang rusak parah sehingga terlihat sangat menyeramkan. “Nay? Hei, Nay! Bangun, Nay.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN