INTEND TO HARM

1071 Kata
Setengah jam kemudian. Danur mulai tersadar. Ia mengerjap mata. Memandang area sekitar. Namun, tak ada yang bisa ia lihat dengan jelas. Hanya sebuah lentera berwarna kuning yang mampu terekam ke dalam retina. Sembari meregangkan leher yang terasa berat, Danur mencoba mengingat hal terakhir sebelum ia terjatuh pingsan. Yakni, suara pukulan yang terdengar menghujam salah satu bagian tubuh dengan keras. Yah! Itulah yang dapat sang pemuda yakini sesaat usai menyentuh bagian belakang kepala. Haish! Siapa yang melakukan hal ini kepada gue? Danur mengeram. Merogoh saku celana. Mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Menatap angka digital yang tertera. Saat itu, tepat pada pukul lima sore seorang pemuda sedang mencoba keluar dari sisi dalam sebuah ruang. Ia mengerahkan segala cara. Termasuk, mendobrak pintu dari arah dalam. Namun, tak berhasil. Pada akhirnya, cara kedua terpaksa digunakan oleh si pemuda. Yakni, dengan mengarahkan sebuah hiasan dinding yang terbuat dari bahan besi. Besi itu telah berkarat. Terasa amat berat. Tetapi, dapat dipastikan jika benda tersebut dapat membobol kenop pintu yang terpasang. Sehingga, daun pintu akan dengan mudah dibuka tanpa menggunakan kunci sama sekali. Pang! Pang! Danur berhasil merusak pegangan pintu tersebut. Menyebabkan area sekitar kenop menjadi berlubang. Dengan segera si pemuda membuka daun pintu yang mengarah ke sisi dalam. Sebuah penyebab akan kegagalan Danur dalam mendobrak pintu dari sisi yang sama dengan arah pintu terbuka. Sembari berjalan dengan sedikit terhuyung, Danur membawa serta lentera yang sedari tadi menyala. Menatap sekeliling rumah yang terlihat gelap gulita. Padahal, waktu masih menunjuk pada pukul lima sore. Tak menunggu lama, ia bergegas menuju sisi pintu utama. Melewati koridor demi koridor yang selama itu tak pernah ia lihat. Bagaimana tidak, Danur memang baru dua kali berkunjung ke sana. Di sela ia terus melangkah, suara pijakan terdengar bergantian. Tampaknya sedang banyak orang berada di sisi utama hunian. Benar saja, saat itu Danur menjumpai sosok Genta dan para mahasiswa dari lain jurusan. Sang sahabat segera menoleh ke sumber suara. Ia tak lupa mengarahkan kamera dan memperbesar gambaran Danur di dalam sana. Lalu, berjalan mendekat. Bertanya, “Nur? Lo baik-baik saja? Gue dan teman-teman sedari tadi mencari lo ke mana-mana.” Alih-alih menjawab. Danur justru melontarkan pertanyaan balasan, “Kalian tahu dari mana kalau gue sedang berada di sini?” “Ini hanya feeling gue saja. Dan, ternyata benar jikalau lo sedang berada di rumah tua ini,” Genta berujar. Menatap sekeliling rumah. Memastikan kamera miliknya berhasil merekam setiap gambaran menyeramkan di rumah tersebut. Setelah itu, “Ta? Sebaiknya, kita segera kembali. Bulu kuduk gue tak henti berdiri,” Salah seorang mahasiswa berujar. Memecah obrolan diantara kedua sahabat pria. Sore itu, langit berubah menjadi petang. Suara adzan maghrib mulai terdengar. Para pemuda berjumlah empat orang itu masih berada di dalam perjalanan. Selama mereka berjalan menuju pemukiman warga, Danur tak henti bertanya-tanya. Ke manakah Reksa? Mengapa dia tak turut serta bersama Genta? ****** Kini, mereka telah kembali pada sebuah hunian warga. Danur segera menjumpai sosok Nayla yang terlihat menunggu dengan cemas. Bertanya, “Lo tak apa, kan?” “Apa yang sedang lo tanyakan, Danur? Seharusnya, gue yang bertanya demikian ke lo. Lo dari mana saja? Mengapa tak segera kembali ke mari?” Di saat Nayla sedang mengajukan pertanyaan, seorang wanita muda yang pada pagi hari menyelipkan secarik kertas, kembali menampakkan diri. Wanita itu memandang Danur dengan tatapan penuh arti. “Nay, sebentar. Gue harus mengejar seseorang,” Danur berujar. Menepuk singkat pundak si teman perempuan. Lalu, ia berlari dengan langkah lebar. Melewati jalanan setapak yang berada diantara dua rumah berdampingan. Berseru, “HEI? Kau? Tolong berhentilah. Ada yang ingin kutanyakan.” Wanita muda itu benar-benar berhenti melangkah. Menoleh ke arah seorang pemuda. Danur segera berjalan mendekat. Berusaha untuk tak menakuti si wanita tak dikenal. Berujar pelan, “Namaku Danur. Bolehkah kutahu namamu?” Sang lawan bicara menunduk. Menyahut, “Kau tak perlu tahu namaku. Yang harus kau tahu, salah satu temanmu itu bisa melakukan apa saja untuk menyakiti kami. Termasuk—" “Termasuk, apa?” Danur melebarkan bola mata. Memasang telinga lebar-lebar. “Termasuk menyakitimu.” HAH? Danur menoleh ke arah belakang. Menatap pada satu garis bidikan. Yakni, melihat para pemuda berusia sebaya. Mengkonfirmasi, “Siapa? Temanku yang mana yang sedang kau maksudkan itu?” Wanita muda seusia Luna tersebut menggeleng cepat. Menggurat takut di wajah. Berkata, “Aku harus segera pergi. Aku tak ingin dia melihatku berbicara denganmu.” Pada saat bersamaan dengan wanita tersebut berlari menjauh. Menutupkan kain pada kepala. Sosok Reksa dan Genta berteriak dari kejauhan. “Danur? HEI! Lo sedang apa berada di sana? Jangan membuat kami menjadi cemas lagi. Lekas kembali ke mari,” Genta mewakili kalimat seruan dari Reksa. Reksa membenarkan ucapan Genta dengan anggukan kepala. Rasa nyeri akibat pukulan benda tumpul pada sisi belakang kepala, membuat Danur tak bisa melanjutkan langkah untuk mengejar seorang wanita misterius. Terpaksa, ia kembali berjalan menuju posisi semula. Whoa? Reksa berdecak. Sesaat usai melihat sisi jemari tangan kiri Danur yang berdarah. Bertanya, “Apa lo terluka, hah?” Danur menggeleng kecil. Menyentuh sisi belakang kepala. Dengan peka Reksa dan Genta mendongak untuk memastikan. Berseru bersamaan, “Siapa yang melakukannya kepada lo, Nur?” Mendengar pertanyaan kedua sahabat, Danur justru menyugar puncak kepala dengan kasar. Berjalan melewati sisi tubuh Reksa dan Genta tanpa berpamitan. ****** Usai mendapatkan tindakan perawatan luka dari Nayla, Danur menanyakan perihal keberadaan Reksa sewaktu Genta pergi mencarinya. “Reksa sedang berada bersama gue. Dia meminta bantuan gue untuk mengerjakan laporan penyuluhan tadi.” “Berarti, Genta mencari gue tanpa mengajak Reksa? Ataukah, Reksa yang menolak ajakan dari Genta?” “Genta? Memang, Genta pergi untuk mencari lo?” Danur mengangguk. Mengingat, itulah yang telah ia dengar dari sosok Genta sewaktu mereka berada di rumah tua. Sontak, Nayla menelengkan kepala. Berkata, “Gue tak yakin kalau Genta memiliki tujuan untuk mencari lo. Seingat gue, tadi dia hanya pergi keluar untuk membuat konten bersama mahasiswa di lain jurusan.” “Benarkah?” “Yah. Seperti yang lo tahu, begitulah aktivitas sehari-hari Genta.” “Lalu, diantara Reksa dan Genta adakah yang menanyakan keberadaan gue sewaktu tak sedang berada bersama kalian?” “Reksa sama sekali tak menanyakan keberadaan lo. Sedangkan, Genta memang sempat bertanya. Dan, gue menjawab jikalau lo sedang diminta untuk membantu Pak Kepala Desa.” Mengapa Reksa sama sekali tak berniat untuk mengetahui keberadaan gue? Seolah, dia sudah tahu jikalau gue sengaja menghampiri rumah tua itu secara diam-diam. Jangan bilang, jika ucapan wanita muda itu memiliki arti bahwa Reksa meminta seseorang untuk mencelakai gue sewaktu berada di rumah tua tadi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN