FIRST CLUE

1045 Kata
Sesaat usai menuntaskan agenda makan malam bersama. Danur mengarahkan Genta menuju sebuah sudut. Ia ingin menanyakan mengenai hal ganjil yang kemungkinan juga dilihat oleh sang sahabat. “Apa maksud lo, Nur?” “Tak adakah kejanggalan sewaktu lo merekam area sekitar rumah tua pada sore hari tadi? Seperti, kehadiran seseorang yang bisa jadi diperintahkan untuk mencelakai gue?” Danur mengulang kalimat tanya. “Lo jangan mengada-ada. Jikalau memang iya, gue sudah pasti akan menghabisi orang itu karena berniat melukai lo,” Genta menyahut. Kali itu, ia sembari menyalakan kamera. Menujukan rekaman yang sudah ia buat pada beberapa jam lalu. Benar saja, sepanjang video yang terekam, tak ada tanda-tanda seseorang di dalam hunian terbengkalai. Bahkan, Genta sempat merekam sisi dapur yang tak berserakan. Benar-benar menampakkan gambaran yang bersih di dalam retina. Padahal, sudah jelas Danur melihat seseorang baru menuntaskan aktivitas memasak bubur dan menu lain di ruang yang sama. Di sela Danur bertanya-tanya, Genta mengakhiri putaran video di dalam kamera. Ia segera mematikan daya pada alat perekam. Bertanya, “Memang, lo yakin jika ada seseorang yang tinggal di rumah tua tersebut, Nur? Jikalau iya, bagaimana penampilan dia? Dia benar-benar menapak di tanah, kan?” Haish! Danur mengeram. Hampir saja bergerak menghujam sisi tubuh sang sahabat. Bagaimana tidak, Genta selalu antusias saat menemukan hal-hal di luar batas normal. Seperti, melihat adanya makhluk gaib yang terkadang hanya menampakkan diri di dalam kamera. Haha, Genta terbahak. Kembali mengeluarkan suara, “Lo kan tahu sendiri, Bro. Gue harus mendapatkan bahan untuk diunggah ke dalam laman video. Jadi, tolong katakan jikalau lo menemukan hal-hal mistis selagi kita berada di kampung keramat ini.” Issh! Desisan kedua terdengar. Danur merasa sia-sia saat memilih untuk mendiskusikan hal serius dengan Genta. Lain halnya ketika ia berbincang dengan Reksa. Hanya saja, pemuda misterius itu sedang menjadi subyek dari misi rahasia yang sedang ia kerjakan. Maka, tak mungkin jika Danur mendiskusikan tuduhan tersebut pada seseorang yang sedang ditargetkan sebagai tersangka. ****** Malam hari itu. Tepat pada pukul sepuluh. Danur masih terjaga. Ia sedang memperhatikan secarik kertas berisi pesan yang tersemat. Membatin. Mungkinkah, selama ini Reksa menjalin hubungan dengan seorang mahasiswi tanpa sepengetahuan kami? Setelah itu, Danur menyudahi aktivitas melamun. Beralih menggulir layar telepon genggam menuju sebuah profil di dalam sosial media. Ia berusaha mencari hal terkait yang bisa membuktikan kedekatan Reksa dengan mendiang Nawang. Namun, sudah beberapa menit pemuda tersebut menggulir beranda sebuah profil. Ia tak berhasil menemukan sosok Nawang berada di dalam salah satu foto yang Reksa unggah. Lantas, jika mereka tak menjalin hubungan dekat seperti berpacaran. Apa motif Reksa melakukan pembunuhan pada kakak tingkat kami itu? Beruntung, rasa penasaran di dalam benak enggan menyudahi keantusiasan Danur untuk mencari bukti. Sebelum, sebuah unggahan menjadi petunjuk untuk dia. Yakni, di saat Danur menemukan seorang kakak tingkat lain mengunggah gambar Nawang sedang dirundung oleh sekelompok siswa. Apa yang sedang gue lihat baru saja? Apakah benar ini adalah sosok Mbak Nawang sewaktu masih SMA? Danur bertanya-tanya. Sesaat usai membaca caption yang disertakan. Kemudian, ia beralih memperbesar gambar untuk memastikan. Dan, Astaga! Pemuda tersebut berdecak tak menyangka. Tak lain, ketika menemukan sosok pemuda berseragam abu-abu yang turut terekam. Reksa? Sedang apa dia berada di sana? Saat itu, sosok Reksa sewaktu masih menggunakan seragam putih abu-abu terlihat menyaksikan Nawang sedang dirundung dari kejauhan. Anehnya, sebuah video yang juga disertakan ke dalam unggahan baru saja menunjukkan sosok Reksa yang menghampiri dan membela Nawang. Oh, Tuhan. Apa yang sedang kusaksikan baru saja? Mengapa aku baru tahu jikalau Reksa telah mengenal sosok Mbak Nawang sedari kami masih SMA. Dari mana Reksa bisa mengenal dia? Pertanyaan itu tak semata-mata terlontar. Mengingat, si tiga sekawan tak berada di satu sekolah yang sama dengan si mendiang Nawang. Hal itu terlihat jelas dari seragam SMA yang sedang digunakan oleh Nawang dan para kawan. Pertanyaan yang terus bertambah di dalam benak, membuat Danur menjadi pusing tujuh keliling. Sungguh, sifat tertutup dari sosok Reksa benar-benar menyembunyikan banyak fakta yang selama ini tak pernah diketahui oleh Danur mau pun Genta. Bagaimana tidak, yang Danur dan Genta tahu; Reksa adalah seorang pemuda yang selalu tergagap setiap berada di samping wanita. Lantas, mengetahui fakta akan sosok Reksa yang menjalin hubungan berpacaran dengan seseorang sejak duduk di bangku SMA, Danur tak menyangka. Jikalau, Reksa berhasil menyembunyikan kehidupan pribadi dari Danur dan Genta selama bertahun-tahun. ****** Kini, jarum pada jam menunjuk angka sebelas malam. Sudah satu jam semenjak Danur berkutat dengan telepon genggam. Tengkuk yang terasa pegal, memaksa pemuda tersebut untuk merebahkan badan. Malam itu, Danur sengaja meminta Reksa untuk tidur di atas sofa. Mengingat, hawa dingin yang sempat ia rasakan pada kemarin malam, membuat Danur mau pun Genta tak dapat tidur dengan nyaman. Sehingga, pada malam itu Genta berhasil mengistirahatkan badan dengan pulas. Tentu, Danur menyertakan diri pada satu ranjang yang sama dengan Genta. ****** Setelah berhasil berpindah ke alam mimpi. Danur mendapati mimpi menyeramkan. Tak sama dengan mimpi sebelum-sebelumnya. Kali itu, mimpi yang merasuki alam bawah sadar, seakan memberi petunjuk atas kronologi kejadian meninggalnya sosok Nawang. Tepatnya, di bagian paling atas sebuah bangunan. Sosok wanita berjalan dengan terseok. Merintih kesakitan sembari menggurat tangis karena sedang ketakutan. Wanita itu terus berjalan mundur. Hingga, ia tak lagi mendapati pijakan. Benar-benar berada di tepi sebuah bangunan. Setelah itu, seseorang terdengar melangkah dengan berat. Langkah kaki itu menandakan pijakan tungkai seorang laki-laki. “Tidak. Hentikan!” Wanita di dalam mimpi tersebut berseru lantang. Menggeleng berulang. Beberapa kali menoleh ke arah kiri dan kanan. Namun, hanya ada tepi batas bangunan yang ia lihat. Percuma saja dia melangkah pada salah satu arah. Pria yang sedang menargetkan dia, sudah pasti akan mendorong wanita itu dengan mudah. Sebelum, “Arrgh!” Suara teriakan terdengar. Wanita berbalut pakaian setinggi lutut, baru saja terlempar dari sisi atas sebuah bangunan. Lama Kian lama Sebelum, BUGH! Suara penanda sesuatu yang jatuh, segera terdengar. Sesaat usai menyasar dataran tanah. Tampak jelas ketika cairan berwarna merah pekat mengucur deras dari arah kepala. Bagaimana tidak, wanita di dalam mimpi Danur, terjatuh dalam posisi tengkurap. Bagian sisi depan wajah berhasil mengenai bebatuan berukuran besar di bawah sana. Wanita itu baru saja meregang nyawa. Sontak, “Tidak! Tidak. Lo tak boleh mati begitu saja,” Danur memekikkan suara. Sesaat usai tersadar dari alam mimpi yang menyeramkan. Terbangun dari aktivitas tidur yang baru saja berjalan selama satu jam. DENG! DENG! Jarum pada jam dinding sedang menunjuk angka dua belas tepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN