BE RELATED

1082 Kata
Mentari pagi telah menampakkan diri. Danur segera menjumpai Nayla pada hunian lain di sana. Di sela ia menunggu sosok Nayla keluar dari dalam rumah salah satu warga, Danur mengedarkan pandangan ke sekeliling. Berharap menjumpai seorang wanita muda yang sudah dua kali ia temui. Lalu, “Nur?” Suara Nayla terdengar. Sesaat usai membuyarkan aktivitas Danur menoleh ke sana dan ke mari. Bertanya, “Sedang apa lo berada di sini? Lo sengaja menunggu gue, ya?” Mendengar sahutan sumringah dari Nayla, tak dibalas dengan ekspresi yang sama oleh si pemuda. Bagaimana tidak, pagi itu Danur berniat untuk menanyakan hal serius. Yakni, perihal mimpi yang sempat dialami oleh sang teman wanita. “Ngomong-ngomong, mengenai mimpi lo pada malam itu, apakah lo melihat wajah seseorang yang berusaha mendorong lo dari atas atap, Nay?” Lawan bicara Danur waktu itu sedang menelengkan kepala. Berusaha mengingat kejadian di alam mimpi pada malam sebelumnya. Tetapi, “Maafkan gue, Nur. Mimpi gue terlalu abstrak. Bahkan, gue tak bisa memastikan jikalau wanita di dalam mimpi gue itu, benar-benar diri gue sendiri. Jadi, gue tak mungkin bisa memastikan pula perihal rupa sosok pendorong gue dari atap. Yang gue tahu, dia adalah seorang pria. Terlihat jelas dari perawakan tinggi nan tegap yang dia punya. Namun, sekali lagi maafkan gue, Nur. Gue tak bisa memberi lo petunjuk dengan akurat. Memang, ada apa? Apakah mimpi gue berkaitan dengan peristiwa meninggalnya sosok Nawang? Akankah, wanita yang sedang didorong itu adalah dia? Bukan gue, huh?” Haish! Danur menyugar puncak kepala. Menunjukkan gurat frustasi di wajah. Bagaimana tidak, dahulu dia sendiri yang berkata bahwa mimpi tak bisa dijadikan acuan. Namun, sekarang Danur seolah menjadikan mimpi sebagai petunjuk akan teka-teki yang belum terpecahkan. “Nur? HEI! Mengapa lo diam saja?” Nayla mengeluarkan suara. Memecah pemikiran sang lawan bicara. “Entahlah, Nay. Haruskah, gue bertanya langsung saja kepada Reksa, huh?” Ck! Nayla berdecik. Menyahut, “Coba saja. Lagi pula, maling mana yang akan mengaku ketika ditanya?” Obrolan berakhir. ****** Kini, kedua muda mudi tersebut berpindah lokasi. Yakni, menuju sebuah sisi halaman rumah seorang warga. Saat itu, para ketua tim sedang mengumpulkan anggota. Tak lain, sosok Reksa dan seorang ketua tim dari jurusan lain. Mereka berdua sedang membahas agenda pembagian kelompok untuk pengerjaan tugas tim masing-masing. Reksa baru saja membagi tim menjadi dua. Yakni, dia dengan Nayla. Sedangkan, Danur bersama Genta. “Oke, hari ini kita akan mulai melakukan penyisiran ke rumah-rumah warga. Sewaktu mendatangi rumah-rumah itu kita harus melakukan pengecekan sesuai poin yang sudah disebutkan di dalam form ini.” Selagi Reksa sedang memberi instruksi, Genta justru bersibuk dengan kamera. Berkutat dengan media elektronik untuk menuntaskan pengerjaan konten. Melihat rekan satu timnya berperilaku demikian, Danur tak heran. Lagi pula, sedari awal ia sudah memahami keberadaan Genta di sana. Yakni, hanya untuk menumpang nilai kepada dirinya dan Reksa. ****** Satu jam kemudian. Danur dan Genta berjalan bersama menuju arah barat pemukiman. Kedua pemuda tersebut telah memutuskan untuk mendatangi rumah warga secara terpisah. Tentu, agar mereka dapat segera menuntaskan pengecekan yang diperlukan dengan segera. Namun, siapa sangka jikalau selagi Danur benar-benar bersibuk dengan tugas KKN, Genta justru menghilang entah ke mana. Hal itu didapati oleh Danur ketika ia tak menjumpai sosok Genta pada titik poin yang sudah ditentukan. Haish! Dia pergi ke mana? Danur bertanya-tanya. Berinisiatif untuk mendatangi sebuah rumah warga. “Permisi.” “Iya, Nak? Dari mana, ya? Ada yang bisa Ibu bantu?” “Saya ingin menanyakan perihal teman saya,” Danur menjelaskan ciri-ciri wajah dan perawakan Genta pada sang lawan bicara. Namun, warga berusia pertengahan lima puluh itu menggeleng. Menyahut ‘tak tahu’ sewaktu Danur menyebutkan sosok Genta. Bahkan, wanita tersebut mengakui jikalau belum ada seorang mahasiswa laki-laki yang mendatangi rumahnya. “Baik, Bu. Kalau begitu, ijinkan saya mengecek pondasi bangunan rumah Ibu sekeluarga.” Pada akhirnya, Danur menggantikan jobdesk Genta. Beralih masuk ke dalam rumah tersebut dan melakukan pengecekan yang diperlukan. Setelah itu, Danur memutuskan untuk menanyakan hal yang sama pada warga lain. Yakni, rumah-rumah yang ditargetkan oleh Genta. Namun, sama halnya dengan si pemilik rumah pertama. Warga-warga itu tak menjumpai seorang mahasiswa KKN mengunjungi rumah mereka. Lagi-lagi, dengan terpaksa Danur melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas sang sahabat. ****** Beberapa jam kemudian. Danur baru menuntaskan seluruh agenda penyisiran. Ia mendudukkan diri pada sebuah bangku panjang. Menjadikan kumpulan form menjadi alat penggerak kipas. Selagi Danur sedang menghilangkan rasa gerah dengan kipas tangan, suara Nayla terdengar. Mahasiswi itu menyapa, “Nur?” Sang pemuda menoleh sembari menerima sodoran air mineral dari Nayla. Meneguk sebotol minuman dingin hingga tersisa setengah. “Di mana Reksa?” Danur mengedikkan bahu. “Dia tak benar-benar melakukan tugasnya, ya?” “Seperti yang lo lihat. Form-form ini merupakan hasil kerja gue seluruhnya,” Danur menyahut. Melirik sekilas pada tumpukan kertas yang sedang ia pegang. “Pantas saja, Reksa lebih memilih untuk satu tim dengan gue. Melihat keuletan Reksa dalam mengerjakan tugas KKN, sudah jelas ia takkan bisa bersabar ketika berada dalam satu tim dengan Genta,” Nayla berkomentar. Terkikik setelahnya. “Bagaimana Reksa?” Danur menimpali dengan kalimat tanya yang ambigu. “Bagaimana apanya, Nur? Bukankah, baru saja kalimat gue mendeskripsikan bahwa Reksa adalah ketua tim dan rekan yang baik?” Issh! “Bukan itu yang sedang gue maksud. Maksud gue, bagaimana dengan Reksa? Apakah ada hal aneh sewaktu lo berada berdua saja dengan dia?” Hm? “Entahlah,” Nayla menelengkan kepala. Melanjutkan, “Tak ada yang aneh. Dia tak terlihat sedang berbicara seorang diri seperti sewaktu berada di pesta ulang tahun. Dia terlihat baik-baik saja. Hanya—" “Hanya apa?” “Reksa menjadi lebih pendiam, menjadi lebih dingin sewaktu gue ajak mengobrol. Beberapa kali, gue juga menjumpai dia sedang melamun.” “Benarkah?” Namun, Haha! Nayla terbahak. Sesaat usai berkata, “Sepertinya, hal yang gue utarakan merupakan hal yang sudah biasa, bukan?” Mengingat, sosok Reksa memang kerap berperilaku demikian pada para wanita. Yah, terkecuali pada Nawang. Sepertinya, Reksa cukup berperilaku berbeda pada si mendiang. “Nur? WOI! Mengapa lo diam saja?” “Gue sedang berpikir.” “Tentang?” Saat itu, Danur menceritakan perihal unggahan yang sempat ia temukan semalam. Nayla sempat tercengang. Sebelum, ia mulai teringat akan suatu hal. Lalu berujar, “Nur, sebentar. Gue memiliki teman BEM yang kakak perempuannya berada di satu angkatan dengan Mbak Nawang. Semoga saja, kita dapat mengorek informasi dari dia.” Usai berucap, Nayla segera menyalakan layar telepon genggam. Berniat untuk menghubungi seseorang yang sedang ia maksudkan. Hanya saja, mahasiswi tersebut tersadar. Ah, sial! Kan, di kampung ini telepon genggam kami tak mendapati jaringan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN