SECOND CLUE

1141 Kata
Setiba di atap rumah. Garis police line tak lagi ada. Danur segera mencari benda-benda yang dapat ia jadikan sebagai barang bukti keterkaitan Reksa di sana. Mengingat, dari berita yang disajikan telah menyatakan bahwa para polisi tak berhasil menemukan apa pun. Oleh karena itu, berita meninggalnya seorang mahasiswi pada setahun silam telah diputuskan sebagai kasus bunuh diri. Tak lama setelah Danur menyisir setiap tepi bangunan, ia menemukan beberapa tumpuk ban mobil. Entah mengapa pemuda tersebut memiliki firasat untuk mengecek tumpukan-tumpukan tak beraturan itu. Sesuai yang diberitakan, tak ada barang yang berpotensi ditinggalkan oleh si tersangka. Namun, tak halnya dengan benda yang ditinggalkan oleh si mendiang. Yakni, sebuah foto cetak yang menggambarkan potret dirinya di sana. Saat itu, Danur menemukan sebuah foto berukuran minimalis. Gambaran di dalam potret itu menyuguhkan sosok Nawang yang sedang tersenyum manis. Hanya saja, foto cetak itu tak lagi tertata mulus dan rapi, memperlihatkan gambaran memudar karena lapuk termakan oleh air hujan. Meski begitu, bukan hal tersebut yang menjadi fokus utama Danur. Melainkan, bekas robekan pada salah satu sisi itulah yang membuat sang pemuda berpikir dalam. Sebenarnya, potret siapa yang sengaja dipisahkan dengan sosok Mbak Nawang di dalam foto ini? Apakah si pelaku yang merobek gambaran dia di sini? Kesimpulan singkat itu baru saja digumamkan oleh Danur di dalam hati. Kemudian, pemuda tersebut berjalan menyisir bagian barat bangunan. Ia merasa aneh dengan bekas pijakan berwarna hitam pada pembatas tembok. Dan, benar saja. Sesaat usai Danur mendongak ke arah bawah, beberapa batu berukuran besar terlihat. Seketika, memori perihal mimpi yang sempat ia dapatkan, berkeliling di dalam kepala. Jadi, di sinilah Mbak Nawang terjatuh? Pada saat bersamaan, suara berisik terdengar. Suara itu berasal dari beberapa speaker berukuran besar yang diletakkan pada atap bangunan. Danur tak tahu pasti mengenai alasan pemilik rumah memasang speaker di sana. Yang jelas, speaker itu tiba-tiba mengeluarkan suara abstrak; seperti sewaktu pemuda tersebut sedang menggunakan piranti dengar. Sepertinya, sosok Mbak Nawang sebentar lagi akan memunculkan diri. Danur menerka. Mengedarkan pandangan ke sana dan ke mari. Memastikan agar ia tak kehilangan bayangan, yang bisa melesat dengan tiba-tiba. Dan, “Ta?” Seorang pemuda berteriak. Mengalihkan bidik pandang Genta yang semula mengarah pada sisi timur bangunan. Saat itu, Danur dan Genta segera menyaksikan bayangan putih yang berjalan pelan. Pelan Pelan, Hingga, Blush! Bayangan itu berhasil menghempas tubuh Danur hingga menyasar tepi tembok bangunan. Beruntung, bayangan berwarna putih itu segera menghilang sesaat sebelum tubuh Danur melewati pembatas tembok. BRUK! Pemuda tersebut menyasar dataran. Sontak, “Nur? Nur? Lo tak apa, kan?” Genta berseru dengan lantang. Sesaat usai berlari cepat bersama ketiga pemuda lain di sana. Mereka memastikan bahwa tidak ada hal buruk yang menimpa sosok Danur. “Gue, tak apa. Hanya lecet sedikit saja.” Saat itu, sisi siku yang menjadi tumpuan ketika ia terjatuh baru saja terluka. Memunculkan luka lecet seperti halnya setiap orang yang menyasar dataran kasar. “Sebaiknya, kita pulang saja, Ta,” Salah satu dari mereka menyarankan. Namun, Genta enggan mendengar. Ia justru kembali berdiri dan mendongak ke arah bawah bangunan. Menatap bebatuan yang semula diperhatikan oleh sang sahabat pria. “Ada apa, Ta? Mengapa lo terlihat memandang tak suka seperti itu?” Danur menegur. “Ah, tidak. Tak apa. Gue hanya kesal. Jika saja, bayangan putih tadi tak menghentikan lo tepat di tepi bangunan ini, bisa jadi lo akan terjatuh dan menyasar bebatuan itu. Tapi, syukurlah. Lo baik-baik saja,” Genta menyahut. Kali itu, sembari mengeluarkan kamera dari dalam tas. Sengaja mengarahkan pada bebatuan yang terlihat dari ketinggian sepuluh meter. Lalu, memperbesar gambaran di dalam kamera agar para penonton dapat melihat apa yang mereka saksikan dengan jelas. Setelah bersepakat untuk kembali ke hunian warga, kelima pemuda tersebut segera menuruni anak tangga. Namun, secara tak sengaja sebuah foto yang terpotong, terjatuh dari dalam saku celana Danur. Sepertinya, pemuda tersebut tak memasukkan benda tipis itu hingga ke sisi dalam bagian saku. Sehingga, potret seorang wanita tersebut melayang karena hempasan udara begitu saja. ****** Setiba pada anak tangga paling bawah. Danur menghampiri sebuah foto yang semula ia masukkan ke dalam saku celana. Di sela ia menunduk, sebuah ikat pinggang terlihat memiliki percikan darah. Melihat benda berukuran panjang tersebut, Danur segera menendang sabuk itu hingga mencapai sisi tembok berlubang. Ia berusaha mengamankan benda yang kemungkinan merupakan barang bukti atas kasus pembunuhan. Lalu, “Nur? Lo sedang apa? Bergegaslah. Kita harus segera kembali sebelum fajar tiba,” Genta berseru. Memecah pemikiran singkat sang sahabat. ****** Kini, para pemuda itu telah keluar dari dalam hunian. Danur tak lupa mengembalikan batang kunci ke tempat semula. Selagi mereka berada di dalam perjalanan menuju pemukiman, Genta memutar ulang video yang berhasil terekam. Saat itu, bayangan putih yang semula mereka lihat secara tak kasat mata, cukup menampakkan sosok yang jelas. Yakni, penampakan hantu wanita dengan rambut hitam panjang. Entah mengapa, tatapan Genta terlihat sedikit berbeda. Yakni, sesaat usai hantu tersebut menoleh dan menatap lekat alat perekam. Seolah, hantu itu sedang mengisyaratkan pandang pada siapa pun yang nantinya menyaksikan hasil rekaman. Issh! Genta berdesis. Sesaat usai bulu kuduk miliknya merinding. “Ada apa, Ta? Lo berhasil mendapat gambaran horor tadi, kan?” “Tentu saja. Seperti unggahan gue yang lain, gue berhasil. Hanya saja, hantu yang kali ini terekam kamera gue benar-benar berbeda. Lihatlah,” Genta mengarahkan layar pada seorang pemuda yang sedang berjalan di sampingnya. “Astaga, Ta. Hantu itu seperti sedang menyiratkan amarah yang besar.” Hrr! Pemuda di lain jurusan itu segera bergidik ketakutan. Sedangkan, Danur tak heran. Mengingat, sosok yang berhasil membuat ia menyasar pada tepi bangunan adalah si mendiang Nawang. Sudah jelas, hantu tersebut merasa terusik saat pemuda-pemuda itu datang tanpa permisi di lokasi kejadian. Beruntung, kemarahan si hantu wanita tersebut dapat sekaligus memberi sedikit pencerahan atas mimpi menyeramkan, yang sempat dialami oleh Danur dan Nayla. ****** Tak terasa, mereka berlima kembali tiba di pemukiman warga. Saat itu, jarum pada jam menunjuk angka tiga. Suasana langit yang gelap masih disertai dengan hawa dingin. Hanya saja, temperatur dingin tersebut benar-benar menusuk kulit hingga lapisan terdalam. Seketika, Danur teringat akan suatu hal. Yakni, sosok Reksa yang sempat diselimuti oleh hawa dingin si mendiang Nawang. Dengan bergegas, pemuda tersebut segera melangkah menuju lokasi bermalam. Membuka daun pintu utama dengan batang kunci cadangan yang diserahkan pemilik rumah pada tim mereka. Lalu, segera menghampiri sosok Reksa di dalam sebuah kamar. Saat itu, salah seorang sahabat pria yang ia tinggalkan sedang meringkuk kedinginan. Jikalau, pada beberapa waktu silam, Reksa terlihat baik-baik saja. Namun, kali itu tidak. Pemuda yang sedang tertidur seorang diri di atas ranjang sedang menggigil. Danur memastikan suhu tubuh sang sahabat dengan telapak tangan. “Astaga, Reksa? Lo sakit?” Danur memekikkan suara. Menyadarkan sosok Reksa yang tak benar-benar memejamkan mata. Tiba-tiba, Manik mata pemuda tersebut memerah. Melebar dari ukuran semula. Reksa mengeluarkan suara, “Kubilang, kau itu terlalu lamban!” Su-suara itu— Bukan suara Reksa. Spontan, “Ta? Genta?” Danur berteriak. Memanggil seorang sahabat lain yang masih berada di luar kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN