PHOTO FRAME

1090 Kata
Pada detik itu juga, suara tapakan kaki terdengar. Namun, tak hanya berasal dari tungkai milik Genta. Melainkan, “Reksa? Lo kok—” Danur memekik tidak percaya. Ia segera menoleh pada sisi dalam kamar. Saat itu, tak ada siapa-siapa selain dirinya. “Ada apa, Nur? Apa yang baru saja lo lihat? Mengapa lo terkejut saat mendapati wajah gue?” Reksa bertanya heran. Sesaat usai memandang ke arah Genta yang sedang mengedikkan bahu; pertanda tak paham. Haish! Danur menyugar puncak kepala dengan kasar. Tak menunggu lama, ia menarik kerah pakaian sang sahabat. Membawa Reksa menuju sisi dalam kamar dengan paksa. Kemudian, bergegas menghempas tubuh Reksa ke dataran lantai. Menghujamkan pukulan sebanyak dua kali. Sebelum, “NUR? Sadar, Nur! Apa yang sedang lo lakukan pada Reksa?” Genta berteriak. Menatap sosok Danur yang dipenuhi oleh gurat frustasi dan curiga. Beruntung, tak ada kepalan tangan untuk kali ketiga yang berhasil menyasar wajah Reksa. Danur menghentikan pergerakan usai meremas buku jemari tangan. Berujar, “Lo? Lo harus bertanggung jawab, Reksa. Jangan biarkan dia terus bergentayangan dan membuat gue hampir menjadi tak waras.” Hah? Sontak, Reksa dan Genta melongo tak paham. ****** Adzan shubuh berkumandang. Suara sayup-sayup menenangkan hati itu berhasil membuyarkan amarah di dalam hati seorang pemuda. Dalam sekejap, Danur menyudahi agenda menghujam sang sahabat dengan kepalan tangan. Ia beralih keluar dari dalam ruang. Meninggalkan Reksa yang sedang diberi bantuan oleh Genta. Saat itu, Danur menghampiri sisi keran berada. Ia membasuh muka. Membaca niat untuk menyucikan diri sebelum melaksanakan sholat shubuh. Sementara itu, Reksa sedang menyentuh sisi bibir yang memercikkan darah bekas tonjokan. Lalu melontarkan pertanyaan pada Genta, “Apa ada yang sedang terjadi pada lo dan Danur selagi kalian membuat konten?” “Itu—” Genta menjeda jawaban. Sebelum berujar, “Sepertinya, Danur masih syok dengan hempasan yang ditujukan oleh sosok arwah di rumah tua itu.” Sontak, Reksa mengeluarkan senyum tipis. Menyeringai penuh arti pada sosok Genta. Hanya saja, pemuda pembuat konten horor tersebut tak mampu mengartikan ukiran senyum yang ditunjukkan oleh Reksa pada detik itu. Sebelum, “Haruskah, gue saja yang turut serta bersama lo sewaktu membuat konten tadi, huh?” Reksa berbisik. Sesaat sebelum meninggalkan posisi Genta yang sedang tercengang. ****** Setuntas melaksanakan sholat shubuh. Danur berjalan menuju pertigaan ujung jalan pemukiman. Ia berniat menghampiri rumah yang sedang dihuni oleh ibunda Sukma dan mendiang Nawang. Entah mengapa, langkah kaki lebar yang dipijakkan oleh Danur tak segera membawa pemuda tersebut menuju sisi pertigaan. Seraya, ujung jalan di pemukiman warga itu memiliki jarak yang cukup jauh. Padahal, jikalau dilihat dari kejauhan, Danur dapat memusatkan pandangan pada rumah sederhana yang mulai reyot di beberapa bagian. Tak lama kemudian, “Danur? Sedang apa, Nak?” Suara Karim terdengar. Pemuda tersebut menoleh dan segera memberi jawaban. Ia sama sekali tak berniat untuk berbohong. Justru, Danur menyatakan tujuan yang semula hendak menghampiri rumah seorang warga. Kali itu, Danur melangkah berdampingan dengan Karim. Pria yang berusia jauh lebih tua itu mengatakan bahwa dirinya akan mengantar Danur hingga tiba pada tujuan. Sembari berjalan, Danur memanfaatkan waktu luang untuk menanyakan perihal kasus mendiang Nawang pada setahun silam. Sosok Karim tak segera memberi jawaban. Sebelum, pria berbrewok tipis di wajah itu mengakhiri gerak mengusap dagu. Memberitahu bahwa, “Itu adalah kali pertama seorang mahasiswi meninggal dunia di kampung kami dengan cara mengenaskan. Para warga yang pada dasarnya tak suka pada mendiang Nawang dan sekeluarga, menganggap kematian Nawang sebagai kutukan bagi desa ini. Semenjak itu, desa kami diperintahkan agar tak menerima pengunjung dari mana pun. Tentu, kami juga tak boleh bepergian ke desa lain.” Hah? Danur melongo. Beralih bertanya, “Jadi, kedatangan saya dan teman-teman merupakan ijin pertama yang mendapat persetujuan untuk masuk ke Kampung Lelegean, Pak?” “Kau benar. Memang, pihak dari universitas dan jurusanmu tak memberi tahu?” “Tidak,” Danur menggeleng cepat. Pada saat bersamaan dengan obrolan tersebut hendak berakhir, langkah kaki mereka berhasil mencapai sisi depan halaman rumah mendiang Nawang. “Baiklah, kita sudah sampai. Bapak titip pesan kepadamu, Nur. Jangan menanyakan atau membahas hal yang cukup memprovokasi ibunda Nawang. Apa kau mengerti?” Danur mengiyakan melalui anggukan. Kemudian, sosok Karim terlihat membalikkan badan. Sesaat usai berpamitan hendak berkeliling kampung untuk menyapa dan membantu aktivitas pagi para warga yang membutuhkan. Setelah itu, Danur menghembus napas panjang. Mengucap basmallah sebelum mengepalkan tangan dan menyuarakan ketukan. Tok Tok, Suara ketukan sengaja dilirihkan. Namun, berhasil didengar oleh seorang wanita di dalam hunian. Seperti halnya yang Nayla gambarkan. Saat itu, wanita berusia paruh baya dengan penampilan cukup berantakan sedang menampakkan diri dari balik pintu yang terbuka. “Permisi, Bu. Saya—” Danur memperkenalkan diri dengan tenang dan penuh keramahan. Sosok ibunda mendiang Nawang cukup dapat diajak berkompromi saat mendengar suara teduh yang Danur keluarkan. Hanya saja, wanita tersebut tak mengeluarkan suara sebagai balasan. Ia hanya menggerakkan tangan sebagai penunjuk arah agar Danur masuk ke dalam rumah. Saat itu, Danur menjejalkan p****t pada sebuah dudukan yang disediakan. Sosok ibunda mendiang Nawang segera duduk berhadapan dengan si pemuda. Lalu, “Bu? Apakah Ibu tinggal di rumah ini sendirian?” Wanita tersebut mengangguk. Memberi gelengan kepala sebagai pertanda tidak saat Danur menanyakan hal lain. Yakni, mengenai keberadaan Sukma. “Jadi, Sukma tidak pernah pulang ke rumah?” Pertanyaan itulah, yang dibalas dengan gelengan kepala. Setelahnya, Danur menunjukkan potret Reksa dari dalam layar ponsel yang menyala. Berkata, “Bu? Bisakah Ibu mengenali pemuda ini?” Saat itu, sang lawan bicara menunduk kecil. Melirik dengan tatapan fokus. Kemudian, mengukir senyum di wajah. Spontan, Danur bingung akan tanggapan yang diberikan oleh ibunda si mendiang. “Apakah pemuda yang Ibu kenali ini merupakan seorang pria muda yang baik?” Danur sengaja menanyakan sosok Reksa dengan kalimat seefektif mungkin. Lagi-lagi, ukiran senyum tersumbul dari bibir si paruh baya. Danur menyipitkan mata. Membatin. Gue juga sama. Gue merasa bahwa Reksa adalah pemuda yang baik hati sampai kapan pun. Hanya saja— Seketika, gumaman berisi komentar pribadi dari pemuda tersebut terhenti. Sesaat usai mendapati sebuah bingkai berukuran A4 terjatuh dalam posisi terbalik. Dan, “Bu? Bolehkah, saya melihat bingkai foto itu?” Danur kembali bersuara. Kali itu, ia menujukan kalimat persetujuan. Sosok wanita yang sedang menggigit jemari tangan sembari bersikap ketakutan itu menoleh. Menatap bingkai hitam yang tergeletak. Sontak, ia menjerit histeris. Beranjak dari posisi duduk dan mengusir Danur dengan sekuat tenaga. “Tapi, Bu? Ijinkan saya melihat bingkai itu sebentar saja.” Namun, tiada daya. Teriakan menggelegar itu berhasil membangkitkan para warga yang semula bersibuk dengan aktivitas. Mendapati penduduk sedang memperhatikan hunian berlokasi di pertigaan tusuk sate tersebut, Danur terpaksa menyerah. Bagaimana pun, ia telah berjanji pada Karim untuk tak memprovokasi sang penghuni rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN