SCUFFLE

1208 Kata
Danur baru saja meninggalkan hunian tersebut. Sembari berjalan gontai, ia menyugar puncak kepala dengan kasar. Sedangkan, sebelah sisi tangan lain tak henti memperhatikan potret Nawang di dalam bekas robekan foto. Kemudian, “Nur? Ssh? Nur?” Suara desisan terdengar. Berasal dari nada bicara seorang wanita yang sengaja dilirihkan. Danur mencari sumber suara. Ternyata, bisikan jauh itu berasal dari suara Nayla. “Ke marilah,” Nayla menggerakkan jemari tangan. Meminta agar Danur menjumpai posisi ia berada dengan diam-diam. “Ada apa?” Danur bertanya. Sesaat usai tiba di sebuah lorong sempit di antara batas rumah warga. Kembali berkata, “Sebaiknya, kita jangan bertemu diam-diam seperti ini. Kalau tidak, kita akan kembali dituduh berbuat hal yang—" Sstt! Nayla menghentikan ucapan Danur dengan telunjuk tangan kanan. Ia beralih menyodorkan sebuah kertas berisikan ancaman. *Kau pergilah dari sini. Jika tidak, aku takkan menjamin keselamatan kalian bertiga* “Siapa yang mengirimkan pesan ini pada lo, Nay?” “Entahlah. Seandainya saja, pesan ini berasal dari media perpesanan, kita bisa melacak nomor dia. Namun, ini hanya secarik kertas yang diselipkan oleh seseorang di bawah ponsel gue ketika gue sedang mandi tadi pagi.” Usai berpikir sejenak, Danur memutuskan agar Nayla tak lagi ikut campur dengan urusan Danur. Bahkan, pemuda tersebut berkata akan mengurus perihal kepindahan tim KKN untuk Nayla. Dengan begitu, Nayla bisa segera kembali ke Jakarta. “Tapi, Nur? Lo tak perlu berbuat sejauh itu.” “Jika tak demikian, kita bisa apa, Nay? Lagi pula, ancaman dan situasi ini cukup memberatkan lo. Gue berani menanggung resiko jikalau suatu hal terjadi pada diri gue. Tetapi, tak dengan keselamatan lo. Keselamatan lo itu jauh lebih penting dari apa pun. Jadi, segera kembalilah, huh?” Setelah itu, Nayla mengutarakan niat untuk tetap membantu Danur meski mereka sedang dipisahkan oleh jarak. Wanita tersebut berkata akan mencari informasi melalui teman satu angkatan Nawang dahulu. Mengingat, mereka takkan bisa menggunakan ponsel untuk berkomunikasi selagi masih berada di Kampung Lelegean. “Baiklah, gue rasa keputusan kali ini jauh lebih efisien untuk kita berdua,” Danur menyetujui. Ia tak lupa mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang Nayla beri selama ini. Kini, kedua muda mudi itu kembali berpisah. Nayla meninggalkan posisi semula lebih dahulu usai mengijinkan Danur menyimpan pesan berisi ancaman tersebut. ****** Pukul delapan pagi. Reksa baru saja membagi tim menjadi dua. Kali itu, ia berada dalam satu tim dengan Danur. Sedangkan, Nayla bersama Genta. Mendengar pembagian tim itu, Danur merasa lega. Paling tidak, Nayla tak berada dalam jangkauan pandang Reksa. Mengingat, wanita tersebut baru saja mendapat pesan ancaman dari sosok yang diduga sebagai tersangka di balik pembunuhan si Nawang. Hari itu, tim yang telah terbagi memiliki tugas untuk mengidentifikasi beberapa rumah warga pilihan. Tentu, pilihan rumah tersebut didasarkan oleh pengisian form yang sempat mereka kerjakan. Mereka akan mendatangi rumah-rumah dengan pondasi yang kurang aman dalam penanggulangan bencana alam. Satu jam berkeliling, lagi-lagi sosok Genta menghilang. Pemuda itu tak kunjung kembali usai berpamitan ke toilet pada Nayla. Hanya saja, kali itu sosok Reksa juga melakukan hal yang sama. Danur tak bisa menjumpai sang sahabat sekaligus rekan satu timnya pada hari itu. ****** Tepat sesaat Danur keluar dari rumah seorang warga, suara teriakan penduduk wanita terdengar. Mereka berseru ketika melihat ibunda mendiang Nawang meninggalkan rumah sembari melukai diri sendiri. Danur sempat tercekat untuk beberapa detik, sebelum ia berlari kencang dan menangkap tubuh ibunda mendiang Nawang dari belakang. Pemuda itu berhasil mendekap erat tubuh wanita paruh baya tersebut. Menenangkan dengan pergerakan tangan yang mengikuti ritmis napas normal para orang dewasa. Berhasil menjatuhkan sebuah pisau yang semula digenggam oleh si paruh baya. Menendang pisau itu menjauhi posisi mereka berdiri. Kemudian, berbisik lirih. Bertanya, “Ada apa, Bu? Apakah ada seorang pemuda yang baru saja menghampiri rumah Ibu? Apakah dia datang untuk mengancam Ibu?” Sontak, ibunda mendiang Nawang mengangguk cepat. Anggukan itu disertai dengan suara tangis. Danur mengijinkan wanita paruh baya itu untuk meluapkan rasa sedih, takut dan kecewa melalui air mata. Pada saat bersamaan, sosok Reksa terlihat keluar dari dalam rumah yang sedang dihuni oleh ibunda mendiang Nawang. Usai meminta Nayla untuk menggantikan posisi ia berada, Danur segera menghampiri sang sahabat pria. Dan, BUG! Sebuah kepalan tangan berhasil mendarat pada sisi wajah Reksa. Kali itu, pemuda pendiam tersebut melayangkan pukulan balasan. Tak menunggu lama, mereka berdua berada dalam adegan baku hantam. Sedangkan, pada sebuah sudut lain sosok Genta terlihat mengarahkan kamera pada dua orang sahabat pria. Sebelum, Reksa menghentikan pukulan balasan dan menatap Genta dengan tajam. Melihat gurat menyeramkan di wajah Reksa, yang hendak melayangkan pukulan ke arah Genta, Danur menghalangi. Berkata, “Lo jangan menyakiti siapa pun. Orang yang pantas lo incar adalah gue. Bukan Nayla atau pun Genta.” Cih! Reksa berdecik lirih. Menepis kasar tangan Danur yang sedang mencengkram lengan miliknya. Berkata, “Pulanglah, kalau lo ke mari bukan untuk membantu. Melainkan, hanya untuk mencari masalah!” Usai berujar, Reksa mendorong tubuh Danur hingga cukup terpental. Lalu, berlari kencang. Di saat Danur hendak mengejar sang sahabat, manik pada mata mendapati dompet milik Reksa yang tak sengaja terjatuh ketika mereka berada dalam baku hantam. Tanpa ragu, Danur meraih dompet itu. Membuka perlahan alat penyimpanan uang hingga terbentuk menjadi dua bagian. Kemudian, sebuah potret sama persis dengan yang ia miliki di saku celana, berada pula di sana. Danur melihat dengan mata kepala sendiri jikalau Reksa menyimpan foto mendiang Nawang pada bagian tembus pandang. Mendapati tim mereka bubar. Danur berpamitan pada Nayla untuk menuju rumah tua. Tak lain, untuk mengambil barang bukti yang sempat ia temukan pada dini hari. “Nay? Gue titip ibunda Mbak Nawang ke lo, ya?” Danur berujar lirih. Sesaat usai melihat wanita paruh baya itu merasa nyaman saat berada di dekat sang teman wanita.. “Baiklah, Nur. Gue tak lagi takut dengan beliau. Sepertinya, tangisan histeris yang beliau tujukan ke gue pada waktu itu merupakan pertanda jika beliau sedang merindukan Sukma dan Mbak Nawang,” Nayla bersimpul usai menatap manik mata ibunda mendiang Nawang yang penuh dengan makna kerinduan. “Syukurlah, kalau begitu gue pamit sekarang. Jika sesuatu hal terjadi pada kalian, jangan ragu untuk mencari Pak Karim. Apa kau mengerti, huh?” Danur berpesan. Nayla memberi anggukan paham. Pada detik itu juga, Danur melangkah lebar meninggalkan pemukiman warga. Menuju sebuah arah untuk menyusur jalanan setapak yang dapat membawanya ke tempat kejadian perkara. Di sela pemuda tersebut melangkah, ia berpapasan dengan Genta yang telah babak belur. “Ta? Apa yang terjadi pada lo? Siapa yang melakukan ini?” “Menurut lo, siapa? Tentu, pria sinting yang tadi juga menghajar lo,” Genta menyahut kesal. Kembali berujar, “Memang, dia harus sekesal itu saat melihat gue merekam kalian sedang bertengkar, hah?” Issh! “Itu salah lo sendiri, untuk apa lo justru mengarahkan kamera ke arah kami.” “Astaga, Nur. Gue tak sengaja. Tadi, gue sedang membuat konten di sekitaran sana. Dan, suara gaduh membuat fokus gue berpindah. Tapi, gue tak menyangka jika kegaduhan itu merupakan ulah kalian yang sedang tonjok-tonjokkan. Lagi pula, gue akan menghilangkan bagian rekaman saat kalian sedang bertengkar. Video gue bertema horor. Tak bertema action, Bro.” Mendengar pernyataan dari Genta, Danur hanya bisa membatin. Asal lo tahu, Ta. Reksa kesal pada tindakan lo karena enggan lo menyimpan bukti apa pun perihal keberadaan dia di tempat tinggal ibunda mendiang Mbak Nawang. Bukankah, hal itulah yang kerap ditakuti oleh para tersangka?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN