Saat itu, Danur dan Nayla segera memasang mode serius dalam topik pembicaraan yang sedang mereka bahas. Nayla membawa bukti berupa sebuah koran yang sudah lusuh dan mulai berubah warna menjadi kecokelatan. Bukan karena terkena tumpahan. Melainkan, berita yang sedang ingin ia tunjukkan pada Danur berasal dari media cetak di waktu setahun silam.
Sebenarnya, Danur sempat terheran dengan barang-barang penunjuk informasi yang diberikan oleh Nayla. Mengingat, pada era terkini; semua berita dan informasi dapat mereka jumpai hanya dengan mengetik di laman pencarian.
Eits!
“Jangan salah, Nur. Gue membawa koran ini bukan hanya untuk bergaya. Melainkan karena informasi yang tertera di dalam koran cukup dapat diandalkan. Yah! Kau tahu sendiri. Apa yang kita baca di dalam laman pencarian perihal berita yang kita cari cukup simpang siur, bukan?” Nayla berujar. Membuka lembar koran pada sebuah halaman dengan judul bercetak tebal.
*Seorang Mahasiswi Universitas Terkenal di Jakarta Telah Dikabarkan Meninggal dalam Keadaan Mengenaskan*
Judul itu sama persis dengan yang sempat Danur jumpai pada layar elektronik berukuran sedang. Sang pemuda memundurkan posisi baca. Sesaat usai menuntaskan informasi di dalam kolom pemberitaan.
“Dapat dipastikan bahwa mahasiswi tersebut tak meninggal karena bunuh diri. Terdapat beberapa luka bekas perlawanan.”
Benar! Berita yang tertulis dalam dua kalimat itu mematahkan kesimpulan Danur ketika membaca informasi melalui laman pencarian. Ia bergumam. Jadi, penyebab terbunuhnya mahasiswi tersebut dikarenakan pembunuhan?
“Jadi, bagaimana? Tak sia-sia usaha gue dalam membongkar gudang di rumah, bukan? Issh! Asal lo tahu, gue rela mencari koran bekas bacaan papa untuk lo,” Nayla kembali mengeluarkan suara.
Lalu,
“Bagaimana dengan identitas wanita yang pernah gue sebutkan? Apakah lo sudah menemukan profil lengkap dia?” Danur bertanya. Sesaat usai meletakkan koran di atas meja.
Pada saat bersamaan, sosok Luna menampakkan diri dari balik ruang. Sang adik perempuan itu menjeda obrolan diantara muda mudi di sana.
“Kau sedang apa, Luna?” Danur menegur.
“Apakah Kakak tidak melihatku, hah? Aku sedang membawakan minuman dingin untuk Kak Luna. Kau itu tak sopan pada tamu. Bisa-bisanya, tak memberi suguhan apa pun,” Luna berujar. Berjalan mendekat. Membungkuk dan memindahkan kedua gelas berisi cokelat dingin ke atas meja.
Hanya saja, Luna tak berniat untuk segera pergi dari ruang tamu. Ia justru menjejalkan p****t tepat di samping sang kakak.
“Kau sedang apa?” Pertanyaan yang sama diajukan oleh Danur.
Issh!
Luna berdesis. Berkata, “Apa tak boleh aku ikut serta mendengar obrolan kalian? Kuperhatikan kalian sedang mengobrol serius. Sepertinya, kalian sedang berlaga menjadi seorang detektif. Dan, aku menyukai hal itu.”
Sembari menyengir, Luna mengisyaratkan pandang agar sang kakak memberi ijin. Meski begitu, Danur tetaplah seorang pemuda berpendirian teguh. Ia sudah bertekad, jika misi rahasia itu hanya diketahui oleh dia dan Nayla saja.
“Pergilah! Atau, kau takkan mendapat uang jajan tambahan dari Kakak selama sebulan ke depan,” Danur memberi ultimatum.
Mendengar ancaman yang Danur beri, Luna hanya bisa mengerucutkan bibir. Terpaksa beralih dari posisi semula.
Nayla terkikik setelahnya. Berkomentar, “Adik perempuan lo lucu juga.”
“Sudah. Mari kita lanjutkan pembahasan kita saja,” Danur menyergah. Kembali memasang gurat serius di wajah.
Nayla mengubah gerak kepala menjadi gelengan pelan. Sejatinya, informasi kedua yang Danur inginkan terlalu sulit untuk digapai. Tak lain, perihal informasi mengenai identitas seorang wanita bernama Nawang. Yakni, seorang hantu wanita yang terus bergentayang di dalam retina. Termasuk, menghampiri Danur di alam bawah sadar.
“Memang, selama ini lo nggak pernah dapat informasi apa pun, Nur? Lagi pula, lo tahu dari nama jika nama mahasiswi yang meninggal itu adalah Nawang?” Nayla bertanya.
“Gue pernah memimpikan dia. Dan, itu hanya prediksi gue saja, Nay. Maka dari itu, gue meminta bantuan dari lo.”
Benar, Danur memang meminta pertolongan Nayla selaku anggota BEM di kampus. Dengan begitu, Danur berharap jika Nayla berhasil menembus informasi pribadi para mahasiswa dan mahasiswi. Terkait berita meninggalnya seorang mahasiswi di Kampung Lelegean, Danur sudah memastikan jikalau wanita muda tersebut berasal dari kampus mereka. Hanya saja, hingga sekarang ia belum bisa mendapat identitas sang wanita. Dan, sosok hantu perempuan yang kerap muncul di dalam mimpi Danur, sering kali mengucapkan sebuah nama. Yakni, nama Nawang. Oleh karena itu, ketika si kakek menyebutkan nama yang sama, Danur segera tercengang.
“Lantas, jikalau lo pernah bermimpi tentang si Nawang itu, bukankah seharusnya lo mengenali wajah dia?” Nayla bertanya polos. Benar-benar lupa.
“Lo kira, sosok hantu akan menampakkan wajah asli dia, Nay? Jangan mengada-ada. Lagi pula, mimpi tak dapat kita jadikan acuan. Jadi, gue harap lo bisa menemukan informasi mengenai identitas si Nawang. Lo bisa bantu gue, kan?” Danur meminta persetujuan teruntuk kali kedua.
“Apa pun caranya, tolong bantu gue, ya?” Ia mengulang pertanyaan dengan nada sedikit memaksa.
Haish!
Nayla mengeram. Berujar, “Jika, bukan karena balasan pergi kencan sama lo. Gue nggak bakal mau bantuin lo untuk memecahkan misteri ini.”
Tak lama kemudian, mereka memutuskan untuk menyudahi pembahasan. Nayla dipersilahkan untuk meneguk minuman dingin yang sudah Luna sediakan. Setelah itu, mahasiswi satu angkatan si tiga sekawan, membuat permintaan tak terduga. Yakni, agar Danur mau memberi tumpangan sewaktu mereka berempat berangkat menuju Kampung Lelegean.
“Bukankah, lo bakal diantar sopir?”
Nayla menggeleng. Menyahut, “Tidak. Akan lebih seru jikalau gue berangkat bersama kalian saja. Lagi pula, ingatlah! Kita sedang menjalankan misi rahasia bersama. Jadi, lo jangan egois pada partner KKN dan anggota sukses dari misi lo.”
Usai berpikir sejenak, Danur memanggutkan dagu. Namun, tak benar-benar untuk mengiyakan permintaan tersebut. Mengingat, ia harus membicarakan ijin itu pada Reksa dan Genta. Bagaimana pun, mereka bertiga sudah terbiasa bersama-sama. Sehingga, lebih nyaman jikalau berangkat bersama sesama pria saja.
“Sudahlah, Nur. Lo nggak perlu khawatir. Genta pasti setuju dan Reksa takkan menolak. Dia cukup baik hati, bukan?” Nayla berusaha meyakinkan.
Hanya saja,
“HIA! Gue bilang, gue akan mendiskusikan permintaan lo itu dulu dengan mereka,” Danur memekikkan suara.
Ck!
Nayla berdecak. Menyahut, “Baiklah, baiklah.”
******
Beberapa menit kemudian.
Kendaraan roda empat yang semula menghalangi mobil SUV milik Danur, baru saja melaju. Nayla berkendara meninggalkan kediaman seorang pemuda tampan.
Di sela Nayla memutar kemudi ke arah kiri; berbelok arah, sosok pemuda lain terlihat memperhatikan wanita tersebut.
Genta bergumam. Sedang apa Nayla berada di komplek perumahan kami?
Tak menunggu lama, ia menujukan pesan singkat ke nomor sang sahabat.
**Genta : “Nur, gue lagi jalan kaki dari rumah Reksa. Tapi, di pertigaan ujung komplek gue sempat lihat mobil Nayla.”
**Genta : “Nayla baru saja dari rumah lo?”
Pesan segera mendapat balasan. Danur tak berniat menyembunyikan kunjungan Nayla. Ia mengatakan dengan jujur perihal permintaan, yang sempat Nayla lontarkan. Tentu, tak lupa untuk terus menyembunyikan misi rahasia antara dia dengan mahasiswi yang sedang ditaksir oleh Genta.