SHE'S COMING

1177 Kata
Setiba di Jakarta. Jarak tempuh mereka tetap sama. Namun, waktu yang ditempuh lebih cepat dari waktu keberangkatan. Sehingga, ketiga pemuda tersebut berhasil menapakkan tungkai di kediaman orang tua Reksa pada pukul enam tepat. Matahari memang belum bersinar terang benderang. Hanya saja, suara kicauan burung yang menjadi peliharaan Satria Pambudi sudah bersuara dengan riang. Memekak gendang telinga ketiga pemuda yang baru saja tiba. Ceklek! Daun pintu utama terbuka. Reksa menuju sisi dalam kamar. Sedangkan, Danur segera merebahkan badan pada sisi atas sofa yang empuk dan nyaman. Sementara itu, Genta sedang bersibuk dengan kamera. Mengeluarkan layar kerja beserta segala keperluan untuk mengunggah hasil video yang sudah ia kerjakan. Di sela Genta berpusat pada layar kerja dan headphone yang terpasang rapat, Danur memejamkan mata. Dan, Reksa? Entahlah. Pemuda tersebut tak kunjung keluar dari dalam kamar. Meski begitu, Genta tak peduli. Bagi dia, hal terpenting adalah segera mengunggah video untuk disaksikan para subcribers. ****** Tak terasa, hari minggu yang menyejukkan telah berpindah pada pukul delapan. Genta merasa kelaparan. Cacing di dalam perut tak henti berdemo. Ia beranjak dari posisi semula. Menghampiri sisi ruang dapur. Mencoba mencari makanan. Hanya saja, tak ada apa pun di sana. Bahkan, lemari pendingin yang biasa dipenuhi oleh bahan-bahan masakan sedang terlihat lenggang. Genta terpaksa menggulir jemari pada aplikasi pemesanan makanan. Berjalan menghampiri sisi depan kamar Reksa. Mengetuk pintu. Namun, tak kunjung ada sahutan. Tiba-tiba, “Ta?” Suara Danur terdengar menyapa dengan lantang. Mengejutkan sosok Genta yang sedang menyentuh ganggang pintu kamar. “Sialan! Lo bikin gue kaget saja, Nur.” “Kaget? Memang, lo sedang apa, hah? Pagi-pagi begini pikiran lo kosong? Sampai terkejut seperti itu?” “Bukan begitu, Nur. Hanya saja, gue—" Belum sempat Genta melanjutkan kalimat, daun pintu berwarna cokelat itu terbuka. Menampakkan sosok Reksa pada ambang yang terbuka setengah. Menyapa, “Sedang apa kalian berada di depan kamar gue?” “I-ini, Sa. Gue berniat bangunin lo,” Genta menyampaikan niat. Yakni, hendak memberi tawaran menu pada sosok kedua sahabat. Ceklek! Daun pintu kamar baru saja tertutup. Reksa menutup pintu tersebut sembari memasukkan batang kunci di sana. Seolah, enggan melihat siapa pun menerobos ke dalam kamar tanpa sepengetahuan dia. Reksa aneh sekali. Hal ini, tak seperti biasa. Danur membatin. Sesaat usai menyipitkan mata. ****** Tak menunggu lama, seorang pengirim makanan tiba. Danur menghampiri sisi gerbang. Meraih sodoran makanan yang sudah dilunasi secara online oleh Genta. Sembari membuka bungkusan makanan di ruang makan, Danur mengeluarkan suara. Menujukan pertanyaan ambigu bagi kedua sahabat. Bertanya, “Apakah kalian mengenal Mbak Nawang?” Seketika, gurat wajah Reksa dan Genta berpindah. Jikalau, Reksa terlihat memucat. Genta menunjukkan raut tak paham. Berujar, “Entahlah. Kalau gue sih, baru mengenal nama itu dari lo.” “Kalau lo, Sa?” Danur menimpali dengan pertanyaan balasan pada sosok Reksa. “Kalau Genta saja tak mengenali dia. Apa lagi, gue? Gue baru mendengar nama itu,” Reksa menyahut. Sesaat sembari menyelimur menuju sisi kompor. Menyalakan api. Berniat memasak air untuk membuat teh hangat. “Benarkah?” Danur bertanya ulang. Kali itu, dengan nada yang ditekankan. Reksa menganggukkan kepala. Danur menghembus napas dengan kasar. Sejatinya, pertanyaan itu sengaja Danur tujukan. Bagaimana pun, sudah beberapa bulan pasca Reksa mengalami kecelakaan pada satu tahun silam, hantu wanita yang selalu berkeliling di sekitar tubuh Reksa, membuat Danur menjadi tak nyaman. Selama itu pula, Danur berusaha menampik gambaran yang tertangkap pada retina. Ia berdalih jika sedang lelah. Sehingga, mengalami halusinasi berlebihan. Namun, entah mengapa sosok wanita tersebut terus bergentayang. Danur telah menyimpulkan bahwa wanita itu adalah sosok tak kasat mata. Issh! Jikalau, Reksa memang tak mengenal sosok Mbak Nawang. Berarti ucapan si kakek perihal penampakan wanita itu hanya bualan? Danur bergumam. Mengingat, hingga sekarang ia belum menemukan sosok sesungguhnya dari hantu wanita tersebut. Hanya saja, kesimpulan yang diberikan oleh si kakek pada waktu itu, berhasil membuat pemikiran Danur menyatukan sosok Reksa dan Nawang. Sehingga, mendapati bagian dari teka-teki itu, Danur bertekad untuk segera mencari tahu. ****** Setuntas makan pagi bersama. Ponsel yang terletak pada meja ruang tamu, berdering keras. Dering khas tersebut berasal dari telepon genggam milik Danur. Pria tersebut beralih dari tempat duduk. Berjalan menghampiri sumber suara. Menoleh singkat, “Sa, tolong lo beresin bungkusan makanan gue juga, ya?” Permintaan tolong dari Danur, segera diiyakan oleh Reksa. Di ruang tamu. “Halo, Lun?” “Kak? Kau sedang berada di mana, hah?” Suara sang adik perempuan terdengar nyaring di telinga. Danur hingga menjauhkan posisi ponsel. Sesaat sebelum menyampaikan perihal keberadaan dirinya kepada sang adik semata wayang. “Bohong! Kau pasti sedang berada di rumah Kak Reksa, kan?” Sstt! Danur segera berdesis keras. Meminta agar sang adik tak memekikkan suara hingga terdengar oleh kedua orang tua mereka. “Sudahlah. Kau tenang saja. Papa dan Mama baru saja pergi keluar. Mereka memang sempat menanyakanmu padaku. Tapi, aku berhasil meyakinkan mereka jika kau sedang berada di luar kota untuk mengerjakan KKN.” Danur menghela napas lega. Meski, sejatinya KKN belum dimulai. “Lalu, untuk apa kau meneleponku, Lun?” “Aku ingin menyampaikan, jika di depan ada seorang perempuan sedang mencarimu. Dia menyebutkan nama Nayla. Apa kau mengenal dia?” Luna menyahut. Bercelinguk ke arah depan. Memandang sosok wanita muda dengan penampilan ideal kesukaan sang kakak. “Dia teman kuliahku. Kau persilahkan dia untuk menunggu dahulu saja. Aku akan segera pulang ke rumah,” Danur menyampaikan. Mengakhiri sambungan. Namun, “HIA! Sejak kapan lo berdiri di belakang gue?” Danur bertanya. Memasukkan ponsel ke dalam saku. Meraih kunci mobil yang terletak di atas meja berbahan dasar kaca. “Sejak lo mengobrol dengan Luna,” Genta menjawab. Meski, tak diberitahu sosok penelepon dari seberang. Genta dapat menebak jikalau adik perempuan Danur yang menelepon. Issh! “Lo itu memang kebiasaan menguping pembicaraan orang. Sudahlah. Gue hendak pulang. Sampaikan salam pamit gue pada Reksa,” Danur berujar. Beralih menuju sisi luar hunian. Menghampiri sisi kemudi kendaraan. ****** Mobil berjenis SUV baru saja menepi pada sisi depan pintu gerbang. Ia tak bisa memasukkan kendaraan karena sebagian gerbang yang terbuka, terhalang oleh badan mobil milik Nayla. Dan, “Nay?” Danur menyapa. Luna beranjak dari posisi duduk semula. Mengakhiri perbincangan basa-basi dengan teman wanita sang kakak. “Adik lo cantik juga, Nur,” Nayla memuji. “Seperti yang lo lihat. Jadi, lo ke mari untuk apa? Apakah lo sudah membawakan informasi yang gue minta?” Usai menjawab, tanpa berniat basa-basi Danur segera melontarkan pertanyaan serius. Padahal, kedatangan Nayla tak serta merta untuk membahas suatu hal. Melainkan, juga untuk melakukan pendekatan dengan Danur. Yah! Sudah sebulan, Nayla berusaha mendapatkan hati Danur. Namun, pemuda tersebut selalu tarik ulur. Bukan karena sengaja. Melainkan, Danur enggan terjebak dengan perasaan semu semata. Setidaknya, ia harus meyakinkan diri jikalau Nayla tak hanya berniat untuk bermain-main saja dengan dia. Mengingat, selama ini banyak mahasiswi yang menjadikan Danur sebagai bahan taruhan. Tentu, itu karena sosok Danur yang digandrungi oleh banyak wanita. “Sebelum gue kasih informasi penting ini ke lo. Lo janji, kan? Lo bakal kencan sama gue sebanyak lima kali setelah KKN selesai?” Nayla mengkonfirmasi bahan kesepakatan mereka berdua. “Iya, ah! Lo bawel amat. Jadi, informasi apa yang sudah lo dapat?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN