DIFFERENT LANE

1059 Kata
Mendengar pertanyaan ambigu yang Reksa lontarkan, Genta segera menimpali dengan sahutan bergurau, “Lo pasti sedang mengigau. Maksud gue, berujar sembarangan karena mimpi buruk lo baru saja, bukan?” Danur terdiam. Sejatinya, ia merasakan kejanggalan dari interaksi kedua sahabat yang terlihat cukup aneh. Meski begitu, suara jangkrik yang bersahut-sahutan membuat Danur menjadi tak betah. Demi menghilangkan kebisingan yang sedang ia rasa, Danur bergegas mengarahkan Genta untuk memindahkan mobil. Sebelum itu, ia dan Reksa harus berpindah keluar sisi kendaraan. Mereka berdua harus mendorong mobil menuju daratan yang lebih rata. Sungguh, mendorong kendaraan berjenis SUV off-road pada kali itu terasa cukup berat. Bagaimana tidak, mereka harus melawan bebatuan berukuran cukup besar. Satu Dua Tiga— Danur menghitung. Reksa mengikuti pergerakan Danur pada hitungan ketiga. Mobil baru saja berpindah. Menapakkan keempat roda pada bidang tak terjal. Kemudian, Genta sedang bersiap pada bagian sisi kanan kendaraan. Sedangkan, Danur dan Reksa sedang mengambil perkakas yang diperlukan. Badan pintu bagasi baru saja terbuka. Danur segera mengambil perlengkapan berupa dongkrak, kunci pas dan ban serep. Sementara itu, Reksa sedang terdiam. Ia membeku seketika. Perubahan mimik pada wajah sang sahabat, membuat Danur menghentikan aktivitas. Beralih mengikuti bidik pandang Reksa. Bertanya, “Apa yang sedang lo lihat, Sa?” Reksa tersadar. Menyahut, “Bukan, Nur. Bukan apa-apa.” Setelah itu, mereka segera memindahkan perlengkapan pada sisi kanan kendaraan. Genta bergerak cepat dalam mengendorkan velg ban. Danur bertugas mendongkrak mobil. Hanya saja, permukaan tanah yang sudah ia pastikan rata dan kuat untuk menumpu, tak memudahkan Danur. Putaran dongkrak yang seharusnya berhasil, menjadi gagal. Sesaat usai tangan Danur tiba-tiba kesemutan. Bruk! Badan mobil kembali ke posisi semula. Dongkrak mobil tertanam begitu saja. Yakni, tepat setelah dataran tanah menjadi ambles dalam sekejap. “Nur, apa yang terjadi? Apakah lo sedang kelelahan, Bro?” Genta berdecak. Berkacak dengan kedua tangan. “Sudah, Nur. Biar gue saja,” Reksa mengambil alih posisi Danur. Di sela Reksa bersibuk dengan alat dongkrak, Genta mengedarkan pandangan ke sana dan ke mari. Tak menunggu lama, ia membuka pintu mobil. Meraih kamera yang ia letakkan pada sisi dasbor dalam keadaan mati. “Lo sedang apa, Ta?” Danur bertanya. “Gue mau abadikan momen ini. Lagi pula, suasana mistis akan segera terasa. Lihatlah! Kita hanya berada di sepanjang jalan ini bertiga saja.” Mendengar sahutan dari Genta, Danur hanya bisa mendengkus singkat. Sebelum, suara berat dari sosok Genta memasuki tangkapan audio di dalam kamera. ****** Lima menit kemudian. Ban mobil baru saja diganti. Reksa berhasil mengganti ban dalam waktu cukup cepat. “Buruan masuk, Ta. Keburu gue tinggal,” Danur berseru. Kali itu, ia menduduki jok pada bagian kemudi. Genta segera mengikuti pergerakan para sahabat. Suara mesin kembali terdengar. Danur berkemudi dengan aman. Meski, jalanan terjal tak membuat mereka nyaman. ****** Beberapa kilometer berhasil tertempuh. Sialnya! Penunjuk bensin tak bersahabat. Danur memperkirakan, jikalau ia harus segera mencari pom pengisian bahan bakar usai berhasil melintas sepanjang jalan perkampungan. Dan, benar saja. Meski sudah keluar dari dalam Kampung Lelegean, Danur tak segera menjumpai pom bensin. Beruntung, setelah satu kilometer ia menemukan penjual bensin eceran. Pria tersebut segera menepi. Menyalakan lampu peringatan pada badan mobil sisi depan dan belakang. Turun dari dalam kendaraan. Hanya saja, tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Melihat Danur bercelingukan bingung, Genta turut turun dari dalam mobil. Menyarankan agar Danur melanjutkan berkendara. Namun, dengan mengambil arah jalur yang berbeda. Dengan demikian, diharapkan mereka dapat menjumpai pom bensin di sana. “Bagaimana lo bisa yakin?” Danur bertanya memastikan. Genta mendecap bibir. Berujar, “Sudah, lo percaya saja sama gue.” Melihat kesungguhan di wajah Genta, Danur kembali menduduki posisi semula. Menyalakan mesin setelah memastikan sabun pengaman terpasang. Kemudian, memutar kemudi untuk berbalik arah. Baru saja, petunjuk jalan pada alat navigasi berpindah lokasi. Meski begitu, Danur berusaha untuk mempercayai perkataan sang sahabat. ****** Dua kilometer kemudian. Sebuah pom bensin terlihat dari kejauhan, Danur merasa lega. Hanya saja, terselip pula rasa heran. Bagaimana bisa Genta tahu jikalau ada pom bensin di daerah sini? Sembari terus bertanya di dalam hati, Danur segera membelokkan kemudi. Menghampiri petugas yang sedang berjaga di sana. Maklum, karena terletak di wilayah yang jauh dari pusat kota. Maka, hanya ada dua orang pegawai yang berjaga. Anehnya, seorang petugas yang diajak mengobrol oleh Danur tak berniat memberi sahutan. Bahkan, petugas laki-laki itu hanya bersibuk dengan selang dan tangki kendaraan. Tak berniat menatap wajah Danur sedikit saja. “Mas, tolong diisi hingga full, ya,” Danur berusaha memecah keheningan diantara mereka. Namun, tetap tak ada sahutan. Petugas itu hanya menggerakkan tangan. Sebuah gerakan untuk mempersilahkan Danur kembali melanjutkan perjalanan, tepat setelah aktivitas pengisian bahan bakar diselesaikan. Deru kendaraan terdengar. Danur melajukan mobil pada arah semula. Ia enggan mengambil jalur berbeda. Mengingat, mereka bertiga baru pertama kali mendatangi wilayah tersebut. Sehingga, kembali berkendara pada jalur laju semula adalah pilihan terbaik. Tentu, agar mereka tak semakin tersesat. ****** Dua jam setelah itu, Danur masih berfokus pada kemudi. Sedangkan, kedua orang sahabat sedang bersibuk dengan layar ponsel masing-masing. Dini hari itu, jarum digital pada dasbor menunjuk angka dua. Mereka tak berniat berbincang satu sama lain. Memilih untuk hening. Sebelum, “Oh ya, Sa. Malam ini. Ah, maksud gue pagi ini setelah sampai Jakarta, gue numpang tidur di rumah lo saja, ya?” Genta mengeluarkan suara. Masih menatap layar ponsel yang menyala. “Boleh saja,” Reksa menyahut singkat. Danur mengangguk. Ia menimpali dengan ijin yang sama pada Reksa. Bagaimana tidak, kepulangan mereka di waktu pagi akan menjadi bahan sasaran amuk para orang tua. Sedangkan, kediaman Satria Pambudi -ayah Reksa yang selalu sepi, dapat menjadi lokasi singgah teraman untuk Danur dan Genta. Kesepakatan baru saja tercapai. Pada saat bersamaan, Genta memekikkan suara. Tepat, setelah ia memusatkan pandangan pada jadwal KKN yang telah dikirim melalui pesan elektronik. “Ada apa sih, Ta?” Danur bertanya. “Pengajuan lokasi KKN kita baru saja disetujui oleh pihak jurusan, Nur,” Genta mengabarkan. Danur memanggutkan dagu. Meski, merasa sedikit ragu dalam bertahan beberapa bulan di desa itu. Namun, ia tak memiliki pilihan. Lagi pula, ide untuk menjalankan KKN di Kampung Lelegean berasal dari dirinya. Tentu, keputusan itu dibuat oleh Danur tanpa alasan. Mengingat, sosok hantu wanita yang sering bergentayangan, membuat kehidupan Danur menjadi tak tenang. Ia terpaksa mencari tahu kebenaran di balik mimpi-mimpi buruk, yang selama beberapa bulan terakhir mengganggu tidur dan keseharian. Tak terasa, usai mendengar kabar yang diberikan oleh Genta, pijakan pedal gas tertekan cukup dalam. Danur membahu jalanan melebihi kecepatan semula.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN