Mendengar Danur menyimpulkan bahwa Reksa sedang kerasukan, Genta tercengang. Pemuda tersebut justru terdiam. Tak berkutik. Melainkan, hanya bergidik karena rasa ketakutan.
“Apa yang sedang lo lakukan, Genta? Sini! Buru bantu gue,” Danur berseru. Menyadarkan keheningan yang sedang Genta kerjakan.
“Ban-bantu? Apa yang harus gue lakuin, Nur?”
“Ah, elah! Lo pakai nanya segala. Tentu saja, bantu gue buat baca ayat kursi. Kita sadarkan Reksa sekarang juga.”
Bola mata Genta melebar melebihi ukuran semula. Berkata, “Mampus! Baca doa sebelum makan saja, gue nggak bisa, Nur. Apa lagi, ayat kursi?”
“Astaga, Genta!” Danur berdecak tak paham. Ia segera melantunkan bacaan ayat kursi pada detik itu juga.
Satu kali ayat kursi dibacakan, Reksa terlihat menggeliyat.
Danur mengulang bacaan hingga menyaksikan tubuh Reksa mulai menjadi tenang.
Beberapa menit kemudian.
Hhh,
Danur menghela napas lega. Menghapus bulir keringat yang semula memenuhi dahi. Keadaan menegangkan baru saja mereka lewati. Kini, Reksa sedang dalam keadaan membujur pada sisi lantai yang dingin. Kemudian, Danur meminta agar Genta membantu untuk membopong tubuh sang sahabat. Memindahkan Reksa menuju sebuah sofa.
Alih-alih memikirkan perihal alasan Reksa menjadi kerasukan, Genta justru menyalakan kamera. Ia berniat merekam kejadian setelah berhasil menyadarkan seorang pemuda, yang baru saja mengalami peristiwa mistik.
“Astaga, Genta! Lo keterlaluan,” Danur berujar. Ia berniat merampas kamera yang sedang Genta pegang.
“Ya-ya! Baiklah, gue nggak bakal rekam fenomena ini,” Genta menyahut. Mengakhiri agenda semula. Kembali mematikan layar kamera yang menyala.
Pada detik itu juga, Reksa mengerjap mata. Perlahan kelopak mata pemuda tersebut terbuka. Ia menyapa kedua sahabat secara bergantian. Bertanya, “Apa yang sedang terjadi pada gue, Nur? Kepala gue—”
“Sudah, lo tenang saja. Kepala lo hanya merasakan sedikit pusing setelah kerasukan. Jadi, lo nggak perlu khawatir. Itu bukan efek dari cidera kepala, yang sempat lo alami pada setahun silam kok,” Danur menyergah. Bergegas memberi penjelasan.
Pada mulanya, Reksa tak percaya. Jikalau, ia sempat dikendalikan oleh makhluk gaib. Meski begitu, keadaan rumah terbengkalai yang sedang mereka kunjungi, teramat mendukung fakta akan hal tersebut. Mengingat, rumah megah yang dipenuhi dengan lumut pada bagian dinding itu memang terlihat menyeramkan. Sudah pasti, para penghuni dari dunia lain telah banyak berkeliaran.
“Kalau begitu, sebaiknya kita segera pulang, Nur,” Reksa meminta. Sesaat usai merasakan aura tak menyenangkan di sana.
Di sela Danur hendak membantu Reksa untuk berjalan, pemuda tersebut bersikeras untuk melangkah dengan mandiri. Tentu, dibarengi dengan langkah Genta yang sedang bersiap di samping sebelah kiri.
Saat itu, mereka bertiga berhasil melintasi daun pintu utama dengan bersama-sama. Entahlah, siapa yang membuka daun pintu berukuran besar tersebut menjadi dua bagian. Mengingat, ketika Danur dan Genta tiba, hanya ada satu daun pintu yang terbuka dengan sendirinya.
******
Malam kian larut. Tepat pada pukul sebelas malam mereka baru tiba di depan hunian si kakek.
“Lo sedang apa, Nur?” Reksa bertanya. Mencegah pergerakan Danur saat hendak mengetuk daun pintu rumah berbahan dasar kayu.
“Gue hendak mengetuk pintu.”
“Kalau lo nggak keberatan. Bagaimana jika kita pulang saja ke Jakarta, sekarang? Firasat gue, kita nggak boleh menginap di rumah si kakek pada malam ini,” Reksa mengutarakan keinginan.
Danur melebarkan bola mata. Berkata, “Lo nggak lihat apa? Sekarang sudah jam sebelas, Reksa. Dan, menyetir ke Jakarta dengan medan terjal di waktu selarut ini, akan membuat gue menjadi sedikit kesusahan.”
Beruntung, Genta dengan senang hati menawarkan diri. Ia memperbolehkan agar Danur terduduk saja pada bangku penumpang di sebelah kiri. Sementara, ia akan mengemudi mobil milik sang sahabat.
“Lo yakin?” Danur memastikan.
Genta memandang Danur dan Reksa secara bergantian. Berujar, “Gue nggak ada pilihan. Lagi pula, nggak ada salahnya mematahkan prinsip untuk hanya berkendara dengan mobil sport, bukan? Lagi pula, gue harus bertanggung jawab pada apa yang terjadi dengan Reksa. Kalau bukan gara-gara gue maksa dia turut serta ke rumah tua itu. Dia takkan mengalami hal buruk ini.”
Mendengar pernyataan tersebut, Danur mengangguk setuju.
Reksa menepuk pundak Genta. Ia mengisyaratkan banyak terima kasih atas pengertian yang Genta beri.
Tak menunggu lama, ketiga pemuda tersebut telah berpindah ke dalam kendaraan. Suara mesin terdengar. Lampu pada badan depan mobil menyala terang benderang. Berhasil menyorot sisi depan kendaraan yang terlihat gelap gulita.
Saat itu, sebuah pondok terlihat dari kejauhan. Bukan pondok dengan ukuran besar. Melainkan, hanya sekitar tiga kali tiga luas bangunan. Genta dan Danur yang sedang terduduk di bagian depan segera memusatkan pandangan. Merasa heran dengan penampakan pondok yang terletak di tengah-tengah area persawahan.
“Apa yang sedang kalian pikirkan? Itu adalah tempat peristirahatan para petani. Mengapa memandang dengan takjub seperti itu, hah?” Reksa menimpali. Sesaat usai menyelipkan tubuh pada sisi kosong di bagian tengah jok depan.
“Maksud lo itu adalah dangau?” Danur mengkonfirmasi.
“Tentu saja.”
Genta turut memanggutkan dagu sebagai tanda mengerti atas penjelasan Reksa. Kemudian, ia mulai menginjak pedal gas dan beralih pergi dari sana.
******
Beberapa saat usai meninggalkan rumah seorang kakek, Danur merasa tak enak. Ia berujar sungkan, “Seharusnya, kita tetap berpamitan dahulu kepada kakek itu.”
“Tak perlu, Nur. Lagi pula, dia sudah pasti sedang beristirahat, bukan?” Genta menyahut. Masih berfokus pada kemudi. Memfokuskan pandangan untuk mengambil jalur aman. Mengingat, medan yang sedang mereka tempuh cukup terjal.
“Lo benar juga, Ta.”
Di sela mereka berdua mengobrol, Reksa sedang menyandarkan kepala sembari memejamkan mata. Lirikan mata yang Genta tujukan melalui kaca spion tengah, berhasil memecah pandangan Danur. Pria tersebut beralih menoleh ke arah jok belakang. Memastikan keadaan Reksa yang sedang tak bersuara.
Dan,
Ternyata dia sedang tidur. Danur bergumam. Kembali menoleh ke arah depan.
Namun, dalam beberapa detik pergerakan kepala yang hendak berputar, bayangan wanita berhasil membuat bulu kuduk Danur menjadi berdiri. Ia membatin teruntuk kedua kali. Jangan bilang kalau—
Sret!
Danur segera menoleh cepat. Memusatkan netra pada sosok tak terlihat. Ia menyipitkan mata. Dan, benar saja lagi-lagi bayangan wanita itulah yang tertampak.
“Nur? WOI! Sedang apa? Mengapa lo melamun, hah? Lagi pula, kepala lo kagak peyang apa, hah? Sedari tadi menoleh ke arah Reksa,” Genta memecah lamunan singkat sang sahabat.
Belum sempat Danur memberi jawaban dan kembali menatap sisi jalanan pada bagian depan.
Tiba-tiba,
Jesh!
Suara angin terdengar keluar. Dalam sekejap roda kendaraan pada bagian belakang kempes begitu saja. Di saat bersamaan, sosok wanita yang bergentayangan itu menghilang. Danur menjadi was-was. Sepertinya, dia sengaja membuat perjalanan kami menjadi terhambat.
Sementara itu,
“Sial! Kita harus turun untuk mengganti ban, Nur,” Genta berdecak kesal. Sesaat usai memukul sisi kemudi dengan kasar.
Tin!
Suara klakson tak sengaja tertekan. Menimbulkan bunyi memekak gendang telinga. Reksa terbangun seketika. Mengeluarkan suara, “Ada apa? Apakah dia baru saja mengganggu kita?”
“DIA?” Danur dan Genta memekikkan suara bersama-sama.