Danur tak menyangka, jika sosok hantu wanita yang selalu berada di sekitar tubuh Reksa, tak henti berkeliling pada malam itu juga. Tepatnya, ketika mereka bertiga sedang berada beratus-ratus kilometer dari pusat Kota Jakarta.
“Kek? Apakah Kakek juga melihat penampakan yang sedang kulihat baru saja?” Danur bertanya. Memastikan. Mengingat, ucapan sang kakek terdengar amat janggal.
“Tentu saja. Wanita itu adalah Nawangsari, seorang mahasiswi yang sempat meninggal di kampung ini.”
DEG!
Seketika, degup jantung Danur seraya berhenti berdetak. Ia benar-benar terkejut setengah mati. Sontak, kedua tangan Danur bergemetar. Pemuda tersebut, hingga menggertakkan gigi berulang secara tidak sadar.
Jadi, hantu wanita itu benar-benar sosok Mbak Nawang?
Kemudian,
“Sebaiknya, hubungi teman-temanmu itu. Katakan pada mereka, agar tak kembali larut malam. Kampung ini penuh dengan misteri. Kakek hanya sekedar mengingatkan, agar tak ada hal buruk yang terjadi lagi.”
“Ka-kalau beg-begitu, saya akan segera menghubungi mereka, Kek,” Danur terbata. Meraih ponsel di dalam saku celana.
Nahas,
Tak ada jaringan pada telepon genggam miliknya. Haish! Bagaimana ini? Bagaimana caraku menghubungi mereka?
Selagi terus berusaha mencari jaringan pada ponsel, Danur tak henti menenggelamkan pikiran. Ternyata, semua mimpi buruk yang sempat ia alami pada beberapa bulan belakangan, benar-benar sempat terjadi di dunia nyata. Yakni, perihal sosok hantu wanita yang ternyata adalah Tri Ajeng Nawangsari. Tak lain, seorang kakak tingkat yang sempat meninggal setahun lalu di kampung mengerikan itu.
Hanya saja, penampakan dan bayangan dari sosok Nawangsari, tak pernah memberi kejelasan akan maksud dan tujuan ia terus berkeliling; menampakkan diri di depan retina Danurdana Panca Estiawan.
Sebenarnya, apa yang terjadi di balik kematian Mbak Nawang? Mengapa ia selalu berkeliling di tubuh Reksa? Haish! Danur mengeram. Ia menyugar puncak kepala dengan kasar. Fakta yang ia temukan baru saja, membuat Danur menjadi lebih frustasi dari sebelumnya.
Satu jam
Dua jam kemudian
Baik Reksa mau pun Genta tak kunjung kembali. Hal tersebut membuat Danur menjadi khawatir. Ia memutuskan untuk berpamitan pada sang kakek pemilik rumah, untuk mencari kedua orang sahabat. Bermodalkan sebuah lentera, Danur diijinkan pergi oleh si kakek.
******
Di dalam perjalanan.
Danur tak henti menyusur jalanan setapak. Meski, rumah-rumah warga berjarak cukup jauh. Namun jalanan di kampung itu hanya bisa dilintasi dengan berjalan kaki. Mengingat, samping kiri dan kanan pemukiman merupakan area persawahan yang teramat luas.
Tiba-tiba,
Langkah kaki dari seseorang terdengar. Danur mengarahkan lentera berwarna kekuningan pada sumber suara. Usai memusatkan pandangan, ia bernapas lega. Ternyata, sosok pemuda yang sedang berlari tersebut adalah Genta.
Sembari tergopoh, Genta mematikan kamera yang tak pernah henti ia bawa. Berlari mendekat ke arah Danur, yang baru saja dijumpai olehnya.
Dan,
Hh – hh !
Genta menghembus napas dengan cepat. Gambaran dari seseorang yang sedang tersengal-sengal usai berlari secepat kilat.
“Nur? Danur? Reksa ke mana? Dia sudah kembali ke rumah kakek itu, kan?” Genta bertanya. Sesaat usai mengatur napas.
Danur menyipitkan mata. Berucap, “Apa yang sedang lo maksud, Genta? Sedari tadi, gue belum berjumpa dengan Reksa. Bukankah, kalian berdua pergi bersama? Lantas, mengapa lo balik sendiri seperti ini?” Pemuda tersebut, mulai panik ketika tak mendapati salah satu dari mereka di sana.
“Lo nggak bercanda kan, Nur?”
“Bercanda? Lo yang benar aja, Ta. Di suasana genting seperti ini, untuk apa gue bercanda? Gue bukan seseorang yang suka bikin konten kayak lo.”
Hening sesaat.
Genta beralih berkacak sebelah pinggang. Tak lupa, ia berpikir dalam-dalam. Kemudian berujar, “Sepertinya, Reksa menghilang.”
“APA? Menghilang? Lo jangan keterlaluan, Ta. Nggak usah bikin konten prank di sini.”
“Gue nggak lagi nge-prank lo, Nur. Gue serius. Bahkan, kamera gue dalam keadaan mati sekarang,” Genta menunjukkan posisi kamera yang menggelap.
Issh!
Danur berdesis. Mengepalkan tangan. Menyahut, “Kalau begitu, kita berdua harus cari Reksa sekarang.”
Pada akhirnya, dua pemuda tersebut memutuskan untuk mengunjungi lokasi terakhir; tempat Genta berpisah dengan Reksa.
******
Setiba di depan hunian megah yang tak terawat.
“Lo yakin kalau kalian berpisah di sini?” Danur memastikan. Sesaat usai bergidik ngeri melihat gambaran sebuah rumah megah, yang dipenuhi oleh lumut di sana.
“Gue yakin, Nur. Tadi, selagi kami menyusur kampung, gue minta agar kami singgah di sini. Bahkan, kami sempat masuk ke dalam rumah ini.”
“Lo memang sembarangan ya, Ta. Lo masuk ke rumah orang tanpa ijin?”
“Tanpa ijin bagaimana, Danur? Lo nggak melihat apa? Rumah ini tak berpenghuni. Rumah ini terbengkalai. Lantas, gue harus minta ijin sama siapa? Sama hantu?”
Haish,
“Mulut lo!” Danur memekikkan suara. Menutup mulut sang lawan bicara.
Usai berpikir sejenak, mereka berdua mendorong sebuah pintu gerbang berwarna hitam. Gerbang tinggi nan menjulang tersebut berderit. Menimbulkan suara memekak gendang telinga. Menyuguhkan suasana mencekam.
******
Di depan pintu utama.
Pintu berukuran besar tersebut terbuka setengah. Benar saja, sewaktu Genta berlari, ia tak sempat menutup daun pintu karena rasa takut yang mendera.
Sontak,
Kriet!
Pintu tersebut terbuka sendirinya. Danur dan Genta saling memandang. Namun, tak ada waktu bagi mereka untuk berdiam. Mereka berdua harus segera menemukan Reksa.
Suasana di dalam rumah megah tersebut amat menyeramkan. Pilar-pilar tinggi menjulang pada beberapa bagian. Korden-korden dan kain penutup barang berwarna putih, memenuhi bidik pandangan.
Anehnya,
Rumah megah tersebut tak memiliki lantai atas. Padahal, jika dilihat dari sisi depan rumah, bangunan yang disuguhkan terlihat menjulang tinggi dan amat megah. Rupanya, sengaja didirikan dengan sisi atap beberapa meter ke arah atas; tanpa ada lantai dua.
Usai menyisir tiap sudut, pada akhirnya Genta menemukan sosok yang ia kenal. Tak lain, adalah Adinata Reksa Pambudi.
Genta bergegas menghampiri Reksa, yang sedang terbaring pada sebuah sofa. Tentu, sofa yang juga tertutup dengan kain putih di sana.
“Sa? Reksa?” Genta mengeluarkan suara. Menepuk salah satu bagian pipi sang sahabat. Berusaha menyadarkan Reksa yang sedang dalam keadaan tak sadar.
Namun,
Jiahaha!
Tiba-tiba, tawa membahana terdengar. Genta memundurkan langkah, sesaat setelah melihat Reksa terbangun sembari tertawa menakutkan.
Genta terus berjalan mundur. Langkah pemuda itu hanya berjangka beberapa centi. Ia tak dapat melangkah lebar karena merasakan hal janggal pada diri Reksa.
“Sa? Lo nggak lagi ngerjain gue, kan? Reksa? Sadar, Sa!” Genta meminta. Memandang Reksa yang sedang berjalan mendekat sembari tak henti tertawa.
Sementara itu,
Pada sebuah sudut, Genta berhasil berpandangan dengan Danur. Ia spontan menyerukan nama Danur dari kejauhan.
“DANUR? Tolongin gue!”
Danur melebarkan bola mata. Tercengang ketika melihat Reksa hendak mencekik leher Genta.
Pemuda itu memutuskan untuk berlari. Mendekati kedua orang sahabat. Lalu, “REKSA?” Danur menepuk dan mengarahkan tubuh Reksa hingga berbalik menuju sisi arahnya.
Sontak,
Danur tercekat sesaat. Kemudian, barulah ia berujar, “Ta, sepertinya Reksa kerasukan.”