WHAT THE HELL?

1153 Kata
Akhir pekan. Danur sedang menunggu kehadiran Reksa dan Genta di rumah. Kebetulan, rumah mereka bertiga berada di dalam satu komplek perumahan yang sama. Tak lama kemudian, “Danur? Danur? WOI!” Suara Genta terdengar. Pemuda tersebut berseru sembari membuka paksa pintu pagar rumah kediaman Rendra Estiawan. “Lo berisik banget, sih?” Danur memunculkan diri dari balik gerbang yang terbuka. “Nggak tahu nih, Nur. Rasanya, gue pengen minta tolong ke Tante Nimas untuk nggak pernah lahirin bocah kayak dia,” Reksa menimpali. “Sialan lo, bro!” Genta berdecak. Lalu, “Ya udah kalau gitu, kita berangkat sekarang aja,” Danur mengajak. Beralih memasuki mobil pada sisi jok kemudi. Benar! Akhir pekan tersebut, mereka memutuskan untuk mengendarai kendaraan roda empat milik Danur. Mobil berjenis SUV terbaru itu, diyakini dapat mempermudah perjalanan mereka hingga ke pelosok desa; dipercaya memumpuni medan off road yang cenderung susah. ****** Di dalam perjalanan. “Nur, lo siap berkendara pulang pergi, kan?” Genta memecah keheningan. “Siap nggak siap, gue harus siap. Lo kan, paling anti berkendara selain menggunakan mobil sport. Jadi, gue nggak ada pilihan,” Danur menyahut. Sementara itu, Reksa memilih terdiam. Mengingat, ia belum berani mengemudi, usai mengalami kecelakaan mobil pada satu tahun yang lalu. Memori akan kecelakaan tersebut, kerap membuat Reksa kembali trauma akan kejadian nahas yang pernah menimpa. ****** Enam jam setelah menempuh perjalanan panjang. Danur memberhentikan mobil pada tepi area sawah berukuran lebar. Ia turun dari dalam mobil untuk memastikan petunjuk arah pada ponsel, tak salah. Namun, tetap saja. Arah tujuan mereka, tak kunjung ketemu. Hal itu, membuat Danur menjadi frustasi. Beruntung, seorang Gentamas Nugroho yang dipenuhi oleh banyak ide itu, berjalan menuju area pemukiman. Ia memilih bertanya pada warga, dari pada harus mengikuti rute yang ditunjukkan oleh perangkat lunak berbasis wilayah. Dan, “Ayo, Nur. Gue udah dapat informasi lokasi Desa Lelegean. Kata warga, kita tinggal berkendara sejauh lima kilometer lagi. Setelah itu, kita akan menemukan sebuah desa yang lain dari pada desa yang lain. Entahlah, se-berbeda apa desa itu,” Genta menginfokan sembari mengedikkan bahu; pertanda tak tahu. Kedua orang pemuda tersebut kembali masuk ke dalam mobil. Sang pengemudi segera menginjak pedal gas. ****** Setiba di sebuah desa bertuliskan Kampung Lelegean. Baik Danur, Reksa dan Genta saling bercelingukan. Mereka memandang penampakan desa yang benar-benar tak biasa. Sungguh, berbeda dari desa-desa yang sempat mereka lewati pada jalanan sebelumnya. “Wah, parah. Jadi, ini yang warga tersebut maksud?” Genta berujar. Menggeleng kepala berulang. “Gue nggak kaget sih, Ta. Petunjuk arah aja sampai salah lokasi terus. Pertanda, Kampung Lelegean memang se-pelosok ini,” Reksa menimpali. Bagaimana tidak, gapura bertuliskan Kampung Lelegean memang terlihat dari sisi depan. Namun, tak tampak sedikit pun pemukiman warga di sana. Kampung itu benar-benar antah berantah. Mereka harus melintas belasan kilometer sebelum tiba di pemukiman warga. Tentu, dengan medan yang terjal. Beruntung, mereka tak salah memilih alat transportasi kendaraan. ****** Tujuh belas kilometer kemudian. “Akhirnya, sampai juga,” Danur menghembus napas lega. Ia segera mematikan mesin kendaraan. Turun dari dalam mobil dan membuka kap bagian depan; mendinginkan mesin yang telah digunakan berkendara selama berjam-jam. “Gue nggak menyangka, berangkat pagi bakalan sampai di saat sore seperti ini,” Danur berujar. Reksa menepuk pundak sang sahabat. Kemudian, ia mengalihkan pandang pada seorang kakek tua yang menghampiri posisi mereka berada. “Selamat sore, Kek,” Reksa menyapa. Setidaknya, sapaan itu tak ditujukan oleh Genta yang cenderung kurang sopan dalam berbicara. “Selamat sore. Kalau boleh Kakek tahu, tujuan adik-adik ini ke mari untuk apa?” Kakek tersebut bertanya. “Kami hendak survei lokasi untuk kegiatan KKN dari Fakultas dan Jurusan kami, Kek,” Reksa menjelaskan. Sang kakek mengangguk paham. Ia mengarahkan tiga orang pemuda itu menuju sebuah rumah. Tak lain, adalah hunian pribadi yang ia tinggali seorang diri. “Duduklah. Kakek akan mengambil minuman untuk kalian.” Di sela menunggu sosok kakek tersebut kembali ke depan teras, Genta terlihat antusias dengan lokasi pemukiman warga yang berjarak jauh di sana. Ia tak lupa sembari mengaktifkan media perekam gambar; kamera khusus yang diubah menjadi mode menangkap area bidikan. “Halo, para penonton setia Hideous Movie Channel, balik lagi di—” Blablabla. Genta mulai menujukan salam pembuka pada konten yang sedang ia buat. Di sela Genta bersibuk dengan benda pribadi. Danur terlihat berfokus pada sosok Reksa yang sedang terdiam. “Sa, jangan diam aja. Entar, lo kesambet,” Danur membuyarkan pemikiran di dalam benak Reksa. “Gue cuma kepikiran waktu kita balik dari sini, Nur. Pasti jalanan gelap gulita. Lo lihat kan, sepanjang jalan sebelum atau pun sesudah sampai di pemukiman, sama sekali tak ada penerangan. Gue nggak yakin kita bisa pulang malam ini. Lampu depan mobil aja, nggak cukup untuk menerangi medan seterjal tadi, Nur.” Danur mendecap bibir. Setuju akan pernyataan dan perkiraan yang Reksa lontarkan. Kemudian, “Ini, Nak,” Sang kakek kembali dengan membawa sebuah nampan. Nampan itu berisi tiga buah gelas dan sepiring pisang kukus berwarna kuning kematangan. “Silahkan. Tapi, begini adanya. Kakek hanya bisa menyuguhkan kalian air mineral dan pisang kukus saja.” “Tidak apa-apa, Kek. Ini sudah lebih dari cukup,” Reksa menyahut. Dua pemuda itu meraih gelas tersebut. Meneguk air mineral, yang terasa dingin meski tak keluar dari dalam kulkas. “Sepertinya, kalian datang dari kota,” Sang kakek memulai pembicaraan. “Benar, Kek. Kami datang dari Kota Jakarta,” Danur membenarkan. “Kalau begitu, malam ini kalian menginap saja di sini. Esok hari, saat ayam berkokok, kalian bisa melanjutkan perjalanan pulang ke kota.” Danur dan Reksa mengangguk setuju. Seperti biasa, dalam mengambil keputusan; mereka jarang melibatkan sosok Genta. Lalu, “Ta? Genta? Sini,” Danur berseru. Memanggil seorang sahabat yang tak henti berfokus pada konten. “Ada apa? Kalian nggak berniat ngajakin gue balik sekarang, kan? Konten gue setidaknya harus berjalan selama satu jam.” “Justru itu, bro. Gue mau bilang, kalau malam ini kita bakal menginap di rumah Kakek.” What the— Genta menghentikan kalimat yang tertahan di dalam batin. Sesaat usai tak memiliki pilihan lain. Mengingat, hari itu senja benar-benar berakhir. Menyisahkan sayup-sayup suara adzan yang mulai terdengar. ****** Setelah menuntaskan ibadah sholat maghrib berjamaah. Genta yang tak turut serta, bersiap mengajak para sahabat untuk berkeliling Kampung Lelegean. “Malam-malam begini, Ta?” Reksa mengkonfirmasi. “Ah, elah. Ini masih jam setengah tujuh malam, Sa. Di Jakarta, kita bahkan baru balik ke rumah lewat tengah malam. Terus, sekarang lo takut gue ajakin keliling kampung pada jam segini? Cupu, lo!” Reksa menggeleng tak heran. Beralih berjalan di samping Genta. Mengiyakan ajakan pemuda tersebut usai berpamitan singkat pada Danur dan sang kakek. Selagi Genta dan Reksa berjalan menjauh, kakek tua itu berkata, “Teman kalian yang tampan itu, takkan pernah bisa meninggalkan kampung ini.” Hah? Danur melebarkan bola mata. “A-apa maksud dari ucapan Kakek, baru saja?” “Lihatlah,” Sang kakek mengarahkan pandang. Danur mengikuti arah bidikan. Tak lain, pada sosok Reksa yang sedang berjalan. Sontak, Han-hantu wanita itu, kan—
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN