Ina tidak bisa berpikir dengan jernih. Kepalanya penuh dengan foto yang dia lihat melalui ponsel Ajeng. Mirror selfie milik kita itu sudah tersebar ke seluruh penjuru kantor. Anak magang itu tidak tanggung-tanggung dalam menyebar aib mereka, dan pagi Aldo dan Gita langsung menjadi trending topic di setiap divisi.
Sedangkan Ina hanya bisa duduk di kursinya. Foto itu juga ada di ponselnya, di ponsel semua orang yang ada di kantor dan masuk ke grup kantor itu. Bahkan, CEO seperti Revan juga pasti memiliki foto itu di ponselnya. “Aldo …,” bisiknya dengan lirih.
Bagaimana bisa pria yang sepanjang jalan tadi dipeluknya itu juga memeluk perempuan lain? Pria yang masih menggenggam tangannya dengan hangat di dalam lift itu ternyata memiliki tangan perempuan lain untuk digenggam. “Lima tahun …” itu bukan waktu yang sebentar untuk menjalin hubungan pacaran. Mereka mulai berpacaran sejak masih menjadi mahasiswa baru di salah satu kampus terbaik yang ada di Jakarta. Sekarang, semuanya kandas begitu saja.
“Mbak Ina, kita masih harus revisi untuk presentasi jam sembilan,” ucap Ajeng yang sebenarnya tidak enak untuk mengganggu ketua divisi marketing sementara itu. Ina bertanggung jawab atas segala proyek yang dikelola oleh tim marketing selama Ayu, ketua tim divisi marketing yang sebenarnya selesai cuti melahirkan.
Mau tidak mau, Ina harus selesai dengan masalah pribadinya itu. Masih ada tanggung jawab yang lebih besar yang harus dilakukan. Wanita berambut sebahu itu menetap sendu ke arah Ajeng. “Jeng … aku …” katanya terputus. Terlihat jelas bahwa Ina memang sedang tidak baik-baik saja.
Ajeng hanya bisa menghela napas pelan. Dia tahu apapun yang akan keluar dari mulutnya tidak akan mengubah suasana hati Ina menjadi lebih baik. “Maaf, Mbak. Gue tahu kalau lo lagi nggak baik-baik aja. Tapi, gue juga nggak tahu harus ngerevisi apa di presentasi kita. Gue bingung, Mbak,” katanya.
Pagi ini, tim divisi marketing mendapatkan feedback dari Revan terkait presentasi mereka. Revan hanya mengatakan bahwa presentasi itu harus direvisi tanpa memberitahu secara detail bagian mana yang harus diperbaiki. Tidak hanya itu, sang CEO itu juga meminta untuk memajukan jadwal meeting menjadi pagi ini.
“Di tengah kantor yang lagi geger gini, harus banget kita meeting, ya?” sahut Ririn, salah satu tim marketing, tim yang duduk di sebelah Ina.
“Ya, mau gimana, Rin. Gue yakin kalau Pak Revan juga tahu sama gosip pagi ini. Gita kan share itu ke grup besar kantor. Tapi, memangnya lo pikir Pak Revan bakal peduli? Nggaklah. Meeting lebih penting buat dia. Lagian Souri ini proyek yang waktu eksekusinya singkat banget,” celoteh Ajeng.
Wanita itu tidak salah sama sekali. Revan tidak akan memberikan toleransi apapun kepada Ina meskipun dia tahu mengenai kabar tersebut. Kabar itu memang berkaitan dengan hubungan yang ada di kantor, tapi tetap saja itu tidak boleh mengganggu profesionalitas mereka sebagai pekerja. Di lantai lima yang masih sibuk dengan suara bisik-bisik itu, Ina memaksa dirinya kembali bangkit dan mengerjakan tugasnya.
“Oke, kita diskusiin bareng-bareng lagi bahan presentasinya,” ucap Ina.
Mereka kemudian berkumpul di meja panjang yang ada di sudut ruangan. Selain Ina yang menjadi leader di project ini, ada Ajeng, Ririn, Sinta, dan Rara yang juga ikut bergabung di meja itu. Sedangkan Gita yang harusnya ikut berkumpul bersama mereka tidak hadir tanpa keterangan. Padahal dia menjadi sorotan di seluruh kantor pagi ini.
“Oke, menurutku, Souri Cafe by SeleraKita itu udah oke konsepnya. Kita udah pilih warna pastel buat interior, tone warnanya juga udah sesuai sama apa yang dimau Pak Revan terakhir kali,” ucap Ina. “Aku akuin, salah satu yang kurang maksimal itu di bagian menunya. Souri Cafe by SeleraKita ini menunya nggak ada yang spesial sama sekali. Kita jualan cake dan pastry sama kayak kafe lainnya. Minumannya juga nggak ada yang spesial,” lanjutnya.
Sebagai tim marketing, mereka tidak hanya mencoba untuk menjual dan mempromosikan brand Souri Cafe, namun juga mencari tahu dan mendukung nilai jual dari menu-menu yang tersedia. Karena pada akhirnya yang akan membuat promo makanan dan minuman adalah tim marketing.
“Gue setuju sih, Mbak,” ucap Ririn. “Waktu pertama kali anak-anak di dapur Souri coba buat develop menu, gue juga merasa kalau menu yang mereka siapin itu biasa aja. Kita harus minta mereka buat menu yang akan jadi signaturenya Souri, Mbak,” lanjutnya.
“Gimana kalau bikin dessert jadul? Terus di modif dikit tampilannya, biar nggak jomplang sama menu lainnya. Jadi unik, kan?” usul Rara. “Gua belakangan sering banget lihat konsep kafe yang memang jual makanan jadul gitu. Tapi belum pernah gua lihat yang gabungin keduanya. Apalagi kan dessertnya Souri kebanyakan juga kiblatnya Eropa, kalau ditambahin Indo dikit buat jadi signature kayaknya oke, Mbak,” lanjutnya lagi.
Ina terdiam. “Nggak ada salahnya sih buat nyoba. Kalau gitu kita langsung tambahin itu di presentasi. Yang penting ada yang berubah dari presentasi sebelumnya. Seenggaknya sampai kita benar-benar dapat feedback di meeting pertama ini,” lanjutnya.
Ajeng tersenyum. Dia tahu Ina berkata seperti itu bukan karena tidak menghargai atau meremehkan ide dari Rara. Ide Rara adalah penyelamat mereka untuk meeting pagi ini. Ina hanya ingin keputusan yang bisa diambil dengan cepat karena mereka tidak memiliki banyak waktu lagi.
“Setuju,” kata Ajeng. Diangguki dengan anggota lainnya. Mereka siap untuk mempresentasikan hasil revisian tersebut.
Tempat pukul sembilan pagi, mereka sudah duduk rapi di ruang meeting. Rara, sebagai yang memiliki ide, mempresentasikan apa yang sudah mereka diskusikan selama seminggu belakangan ini. “Jadi, sekian dari kami, Pak,” tutupnya dengan ragu.
Revan terdiam, membuat suasana di ruang meeting itu menjadi sangat mencekam. Meeting dengan Revan tidak pernah membuat karyawannya tenang. Bahkan jantung Ina sedari tadi sudah berdegup dengan sangat kencang menunggu reaksi dari atasannya itu.
“Jadi, dari pagi tadi, output revisi yang kalian dapatkan hanya tentang menu saja? Itu pun masih sangat mentah. Kalian tidak menyebutkan dessert Indonesia apa yang cocok dengan Souri,” ucap Revan dingin. “Kalian punya waktu lebih dari dua jam untuk berdiskusi sebelum meeting ini,” lanjutnya yang semakin memojokkan mereka.
“Mbak Ina,” panggil Revan.
Jantung Ina mencelos mendengar namanya disebut. “I-iya, Pak,” katanya.
“Kenapa dengan tim marketing kali ini? Apa karena gosip pagi ini, kinerja kamu menurun?” tanyanya. Mata tajam Revan menatap Ina dengan sangat dingin.
Kaki Ina bergetar di balik mejanya. “Ma-maaf, Pak. Tapi, waktu kami untuk brainstorming ini memang sedikit sekali. Terlebih lagi feedback bapak sebelumnya hanya revisi, jadi saya sama tim berusaha untuk mencari hal yang paling lemah dari Souri, yaitu menunya,” jelasnya dengan takut-takut. Ina bahkan tidak berani untuk menatap atasannya secara langsung.
“Apa menurut kamu memasukkan menu Indonesia ke dalam kafe dengan konsep Eropa itu masuk akal?” tanyanya. “Kalian harus ubah seluruh konsepnya kalau begitu,” ucapnya memojokkan.
Ina tidak sanggup untuk menyahuti ucapan itu. Begitu pula dengan anggotanya yang lain. Di ruangan itu, yang terdengar hanyalah suara dentingan jarum jam dinding dan juga helaan napas kasar milik Revan. “Saya suka dengan idenya. Masukkan menu Indonesia. Jadi, kalian ubah total konsepnya. Jangan terlalu berkiblat ke Eropa. Ubah semua! Dekor, menu, semua. Paham?”
Ina tanpa sadar menahan napasnya. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah. Ide kecil itu ternyata malah membuat mereka harus lembur lagi memikirkan konsep baru. Dia juga harus melakukan koordinasi ulang dengan tim dapur dari Souri yang sudah mendevelop menu.
“Dan satu lagi,” ucap Revan setelah cukup lama terdiam. “Gita mana? Bukannya dia ada di divisi kalian?” tanyanya.
“Hari ini Gita nggak masuk, Pak,” ucap Ina yang semakin takut. “Tanpa kabar,” katanya.
Revan menganggukkan kepalanya kaku. “Mbak Ina. Kamu sudah ditunjuk sebagai leader sementara tim marketing. Sudah jadi tugas kamu untuk menghubungi Gita. Saya tidak peduli dengan bagaimana hubungan kalian saat ini. Tapi, saya ingin kamu terus hubungi dia, suruh dia untuk menghadap saya besok,” katanya tegas.
Rasa sedih dan kesal yang dari tadi dia coba untuk singkirkan kembali muncul. Ina bahkan sudah tidak sudi untuk menghubungi Gita setelah apa yang terjadi. Bagaimana mungkin dia terus-terusan menghubungi perempuan itu setelah Gita membeberkan semuanya tentang perselingkuhan dengan kekasihnya sendiri? Tapi, Ina juga tidak bisa mangkir begitu saja dari tugasnya sebagai ketua divisi.
“Kalian boleh pergi, kecuali Ina,” kata Revan lagi.
Ina mendongakkan kepalanya dengan dahi yang mengernyit. “Maaf, Pak. Apa masih ada yang akan dibahas lagi?” tanyanya.
Revan mengangguk. “Saya juga sudah panggil Aldo untuk ke sini,” ucapnya.
Jantung Ina seketika berhenti berdetak ketika mendengar nama itu. Dia tidak siap untuk bertemu dengan Aldo.