Hampir tiga puluh menit Revan dan Ina diam di ruang meeting tersebut. Revan sibuk membaca sesuatu di ponselnya, sedangkan Ina hanya menunduk. Suara dentingan jarum jam terdengar sangat nyaring di ruang rapat yang luas itu. Waktu terasa berputar sangat lambat bagi Ina.
“Kamu tidak ingin menghubungi Aldo? Sudah pukul berapa ini?” tanya Revan memecah hening di antara mereka.
Ina menatap atasannya itu dengan ragu. “Ma-maaf, Pak. Tapi, saya …” ucapnya terputus. Wanita itu bahkan tidak tahu harus berkata apa. Dirinya masih tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap kejadian ini. Ina masih dalam tahap terkejut dan bingung.
“Saya apa? Saya tidak meminta kamu untuk melamun, Mbak Ina,” katanya lagi, kali ini dengan lugas.
Ina tertegun. Wanita itu menggenggam ujung bajunya dengan erat. Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan hingga detik itu, Ina masih tidak ingin bertemu dengan Aldo. Dia sangat bersyukur jika pria itu tidak menampakkan batang hidungnya di ruang meeting tersebut.
“Maaf, Pak,” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Ina.
Revan mendongakkan kepalanya, alisnya terangkat ketika melihat bawahannya itu masih menunduk. “Bingung? Nggak tahu mau ngapain?” tanyanya.
Ina tersentak, dia sontak mendongakkan kepalanya. Matanya beradu tatap dengan mata Revan. “Maksudnya, Pak?” tanyanya tidak mengerti.
“Itu yang kamu rasain sekarang, ‘kan?” tanyanya. “Saya nggak peduli apa yang kamu rasakan sekarang. Saya memanggil kamu dan Aldo ke sini hanya ingin menegaskan pada kalian, jangan sampai masalah yang senang kalian hadapi sekarang berdampak pada kinerja kalian, terlebih kamu, Mbak Ina. Souri Cafe butuh perhatian khusus. Saya nggak mau proyek saya gagal hanya karena karyawan saya mementingkan masalah pribadinya,” jelasnya dengan ada yang dingin dan tegas.
Ina tercekat. Tenggorokannya terasa sangat kering seketika karena tekanan yang dia dapatkan. Perasaannya sedang kacau balau, tapi dia berusaha untuk menekan semua itu agar terlihat profesional. Ini semua menjadi semakin sulit bagi perempuan berambut bondol itu.
“Iya, Pak. Saya berjanji apa yang teriak sekarang ini tidak akan mempengaruhi kinerja saya dalam menggarap proyek Souri. Apalagi ini adalah proyek pertama saya menjadi leader sementara. Saya tidak akan mengecewakan bapak dan rekan tim yang lain,” ucapnya penuh dengan profesionalitas.
Revan mengangguk kaku. “Saya sudah tidak punya waktu lagi untuk menunggu,” katanya setelah itu langsung beranjak dan keluar dari ruang meeting.
Pria itu bahkan tidak ada repot-repot untuk mengajak Ina keluar ruangan bersama. Dia meninggalkan Ina yang masih menunduk di kursinya. Lelah, itulah yang dirasakan oleh gadis itu sekarang. Dia belum selesai memproses apa yang terjadi dalam hubungannya dengan Aldo, dan sekarang dia harus ditarik paksa di dalam sebuah ruang profesionalitas yang hampir mencekiknya.
Dengan langkah gontainya, Ina keluar dari ruangan itu. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan sekarang ini. Tapi, gadis itu ragu apakah dia bisa menyelesaikannya dengan tenang tanpa bayang-bayang foto mirror selfie tersebut? Ina bahkan tidak bisa melupakan gambaran itu sedetik pun dari pikirannya.
“Mbak Ina,” panggil Ririn ketika dia baru saja sampai di kubikelnya.
Ina mengangkat kepalanya. “Kenapa, Rin?” tanyanya lemah.
Ririn menatap Ina dengan tidak enak. Dari tadi, dia dan keempat rekan kerjanya yang lain sudah berdiskusi. Dan Ririn terpilih menjadi orang yang akan mengatakan hal itu pada Ina. “Gita … tadi dia datang, Mbak,” katanya.
Mendengar nama itu, Ina langsung membulatkan matanya. “Di mana dia? Kenapa baru datang?” tanyanya.
“Dia di pantry. Dan di sana … ada Mas Aldo,” kata Ririn lagi. Dia benar-benar tidak enak menyampaikan hal sensitif seperti itu pada atasannya. “Mbak, Mbak Ina tenang dulu. Kayaknya mereka berdua juga mau ngomong sama Mbak,” katanya.
Napas Ina terasa sangat berat. Mendengar nama mereka saja sudah membuat dadanya terasa terhimpit ribuan beton. Bagaimana jika nanti Ina bertemu secara langsung. Apakah dia bisa menahan rasa marah dan kecewanya itu?
“Mbak,” ucap Ririn lagi, sedikit membuat Ina tersentak.
“Kenapa, Rin?” tanyanya lagi.
Ririn menggigit bibir bawahnya. “Mbak nggak mau ke pantry?” tanyanya. “Bukannya mau maksa Mbak buat ketemu sama mereka. Tapi, lantai kita jadi rame banget karena ada mereka, Mbak,” katanya. Tentu saja yang dimaksud oleh Ririn adalah bisikan-bisikan dari divisi lain yang membuat suara riuh rendah di lantai tersebut.
Ina menghela napasnya. “Aku ke sana,” katanya singkat.
Wanita itu melangkahkan kakinya dengan perlahan. Sambil mengumpulkan kekuatannya, Ina berkali-kali berusaha untuk menguatkan hatinya untuk tidak kabur. Gadis itu tidak suka dengan konflik, dia memang lebih suka menghindari konflik yang ada. Terlebih dalam keadaan emosinya yang belum terurai dengan baik. Dia belum memutuskan harus bersikap bagaimana di depan pria yang sudah dipacarinya selama lima tahun itu.
Dan benar saja, di ruang pantry itu, Ina melihat dua punggung yang terlihat sangat familiar. Milik Aldo dan Gita. “Ehm,” Ina sengaja berdeham, menunjukkan keberadaannya di ruangan itu.
Kedua bahu yang sedang memunggunginya itu tersentak. Mereka serentak menoleh ke belakang. “Ina,” panggil Aldo lemah.
“Kalian mau ketemu sama aku?” tanya Ina, berusaha untuk setenang mungkin. Dia berjalan pelan dan duduk tepat di hadapan mereka berdua. “Kamu dicari sama Pak Revan tadi,” ucap Ina menoleh pada Aldo.
Sedetik kemudian, mata mereka bersitatap untuk pertama kalinya setelah kejadian itu. “A-aku tahu. Aku mau selesaiin masalah ini sama kamu dulu. Baru ke Pak Revan,” katanya.
Ina mengerutkan dahinya. “Kayaknya nggak ada lagi yang perlu diselesaiin. Kita udah selesai sejak tadi pagi,” katanya.
“Na, aku bisa jelasin. Semuanya cuma salah paham,” ucap Aldo yang mendadak panik.
Di antara semua orang yang ada di kantor ini, Aldo adalah orang yang paling mengenal Ina. Dia tahu jika Ina diam dan terlihat terlalu tenang menghadapi sebuah masalah, itu artinya Ina sangat marah. Dan sudah bisa dipastikan bahwa Aldo akan kehilangan Ina jika pria itu tidak mencoba untuk meluruskan semuanya.
“Lho? Salah paham gimana, Mas?” sela Gita. “Gue memang hamil anak lo,” katanya tak terima. Gita lantas berdiri. “Tadi nggak gini perjanjiannya. Gue udah bela-belain datang ke kantor karena lo bilang lo bakal ngaku ke Mbak Ina. Kenapa malah nyangkal sekarang?” amuknya.
“Lo diam dulu!” bentak Aldo.
Tidak hanya Gita yang tersentak, Ina yang mendengar hal itu juga nyaris jantungan karenanya. Tentu itu bukan kali pertama Ina mendengar pria itu membentak. Selama lima tahun mereka pacaran, tidak semuanya berjalan dengan mulus. Mereka juga menghadapi banyak pertengkaran. Tapi, ini pertama kalinya pria itu kehilangan kendali di kantor.
“Apa sih, Mas? Gue nggak paham sama sekali sama lo. Gue ngumumin ini di grup kantor juga karena lo yang enggak mau tanggung jawab. Jangan mau enaknya doang, lo harus tanggung jawab, Mas,” ucap Gita. Wajahnya memerah, menahan malu dan amarah.
Perempuan yang beberapa tahun lebih muda dari Ina itu menatap dengan sangat serius. “Mbak, mending gue buka jadi semuanya sekarang. Cowok lo ini udah berkali-kali tidur sama gue. Dia yang ngemis-ngemis, dia bilang lo nggak akan bisa ngasih itu ke dia. Jadi, dia minta ke gue,” ucapnya. “Kalau lo ragu ini anak dia apa enggak, gue bisa jamin ini anak dia. Selama gue kerja di sini, gue cuma tidur sama dia, Mbak. Selama tiga bulan gue magang di sini, dua bulannya dia nginap di kostan gue, Mbak. Gue ada fotonya kalau lo mau bukti,” ucapnya.
Ina mematung. Dia benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa mendapat kabar seperti itu. “Du-dua bulan?” tanyanya tergagap. Masih tidak menyangka.
Gita menganggukkan kepalanya mantap. Sedangkan Aldo langsung menarik Gita dengan kasar. “Jangan sembarangan lo ngomong. Lo cuma cewek murahan, nggak usah ngerusak hubungan gue!” bentak Aldo.
Gita berdecak. Dia kembali menatap ke arah Ina tanpa ragu sama sekali. “Lihat, Mbak. Dia bahkan nggak nyangkal apapun dari yang gue bilang barusan. Lo udah bisa nilai siapa yang bener di sini,” katanya.
Terlalu banyak informasi yang dia dapatkan dan semuanya benar-benar tidak bisa pernah terpikirkan olehnya. Bagaimana bisa, selama dua bulan belakangan ini, Gita dan Aldo menjalin hubungan di belakangnya? Bagaimana bisa Aldo menyimpan itu dengan sangat baik hingga Ina tidak pernah berpikir bahwa kekasihnya selingkuh?
Gadis itu tidak berucap sepatah katapun. Dadanya terasa sangat sesak, bahkan sulit untuk berbicara. Kakinya yang terasa sangat lemas itu dia paksa bergerak, keluar dari pantry yang sangat menyesakkan. Hanya dengan begitu, Ina bisa bernapas. Dia mempercepat langkahnya, tanpa tujuan, dia bahkan tidak tahu harus kemana menenangkan diri. Kakinya melangkah begitu saja mengikuti kata semesta.
Langkahnya terhenti di parkiran basement. Jam kantor seperti ini, parkiran basement menjadi tempat yang paling sepi. Ina juga tidak tahu kenapa dia berakhir di sana. Kakinya memandu ke sebuah bangku panjang, tak jauh dari pintu darurat. Napasnya tersengal, semua sesak itu ternyata tidak hilang hanya karena dia keluar dari pantry.
“Apa yang terjadi sebenarnya sekarang ini?” tanyanyanya.
Ina tidak mengerti. Tadi pagi, dia masih baik-baik saja dengan Aldo. Tapi, kenapa sekarang dia seperti tidak mengenal Aldo sama sekali?
“Ina!” pekik suara yang sangat familiar baginya. Itu adalah suara Aldo.
Pria itu berlari cepat ke arah Ina. Sedangkan Ina langsung bangkit, dia tidak ingin lagi melihat wajah pria itu. Namun, lengannya sudah lebih dulu dicekal oleh Aldo sebelum Ina sempat kabur. “Aku nggak akan lepasin kamu, Sayang,” katanya dengan napas yang tersengal.
“Kamu harus dengar penjelasan dari aku dulu. Ini semua cuma salah paham,” ucapnya lagi.
Ina mencoba untuk melepas cengkraman tangan Aldo di lengannya. “Lepas!” bentaknya. “Apa lagi yang harus aku dengar? Kebohongan kamu? Atau kamu bilang itu cuma khilaf? Tidur dua bulan sama cewek lain itu khilaf?” tuding Ina. Semua emosinya meluap begitu saja. “Udah gila kamu!” makinya.
Aldo berdecak. “Aku? Gila? Aku kayak gini juga karena kamu! Kamu sok suci yang nggak mau disentuh sama sekali. Kalau ada yang harus disalahin di sini, orangnya itu kamu,” balas Aldo.
Ina benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang baru saja didengarnya. “Maksud kamu apa?” tanyanya. Suaranya yang emosi tadi sekarang terdengar sangat getir.
“Lima tahun kita pacaran, masa aku nggak dapat apa-apa? Seharusnya kamu sadar diri ada aku yang masih mau jadi pacar kamu. Kamu pikir kamu secantik itu sampai mudah buat dapat cowok? Mimpi kamu!” ucap Aldo dengan nada angkuhnya.
Untuk pertama kalinya, Ina mendengar hal itu dari sang kekasih. Dia tidak pernah berpikir bahwa dirinya cantik dan mudah untuk mendapatkan kekasih. Tapi, dia juga tidak pernah mengemis cinta dari Aldo. “Kamu gila!” ucapnya. “Kita putus,” lanjutnya dengan yakin.
Aldo menggelengkan kepalanya. Dia menarik lengan Ina sehingga tubuh mereka hanya berjarak kurang dari satu meter. “Nggak! Kita nggak putus. Aku cinta sama kamu, Sayang,” ucapnya nyaris berbisik. Bahkan di saat seperti itu, senyum yang diberikan oleh Aldo mampu membuat bulu kuduk Ina merinding.
Ina menggelengkan kepalanya. “Nggak. Aku mau putus. Aku nggak mau kenal kamu lagi,” katanya bersikeras. “Aku nggak mau pacaran sama cowok yang nggak bisa menghargai aku. Kita selesai sampai di sini!” tandasnya.
“Ina!” bentak Aldo yang seperti kehilangan kesabarannya. Wajahnya sudah merah padam. “Aku nggak mau putus,” katanya lagi.
Ina mencoba mendorong tubuh Aldo yang semakin dekat. “Pergi kamu! Pergi!” pekiknya.
“Sayang!” bentak Aldo sekali lagi. Tangannya mengayun di udara untuk menampar gadis itu.
Ina spontan menutup matanya. Tak siap dengan hal itu. Namun, seketika hening, tidak terjadi apa-apa. Ina membuka matanya, dan langsung terkejut melihat telapak tangan Aldo yang hampir mengenai wajahnya. Dan lebih terkejut lagi ketika melihat sebuah tangan yang mencengkram tangan Aldo dengan erat.
“Pak Revan?” tanya Ina.