Ina masih terduduk di Vanilla by SeleraKita, dengan wajah sembab dan mata yang merah membengkak. Meski jam makan siang sudah lewat, kafe itu tetap ramai oleh pengunjung yang bersantai atau sekadar mengejar waktu istirahat terakhir mereka. Tapi, bagi Ina, suara-suara riuh itu hanyalah gema tanpa makna. Dia tenggelam dalam dunianya sendiri—dunia yang baru saja hancur di hadapannya.
Air mata masih sesekali turun, entah dari emosi yang belum sempat ditumpahkan atau dari kenangan yang terus berputar di kepalanya.
Seorang karyawan perempuan datang menghampirinya, membawa sepotong cheesecake di atas piring kecil yang ditata rapi. Ia tersenyum lembut sambil meletakkan kue itu di meja Ina.
“Nggak usah bayar, Mbak. Saya tahu Mbak salah satu karyawan SeleraKita. Dan… kayaknya Mbak lagi nggak baik-baik aja,” ucap pelayan itu, suaranya pelan, tulus.
Ina menatap kue itu sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke pelayan itu. Matanya sedikit membelalak karena terkejut. “Makasih, Mbak. Tapi, ini saya bayar aja. Kasihan kalau kalian yang nalangin,” katanya, berusaha menahan rasa sungkan.
Pelayan itu menggeleng sambil tersenyum. “Nggak apa-apa, Mbak. Ini dari store manager-nya, kok. Jadi bukan kami yang nalangin. Lagian… tadi Mbak datang sama Pak Revan, berarti Mbak bukan orang sembarangan,” ucapnya, masih dengan senyum canggung.
Ina tertegun. Ia sempat lupa, bahwa di mata karyawan kafe seperti mereka, siapa pun yang datang bersama Revan—terlebih duduk di sampingnya—akan dianggap istimewa. Padahal bagi Ina, tadi ia bahkan nyaris tak bisa bernapas saat berada di dalam mobil Revan. Bukan karena nyaman, tapi karena tekanan emosional yang membuatnya mati kutu.
“Oke. Makasih, Mbak,” ucap Ina akhirnya.
Setelah pelayan itu berlalu, Ina mencoba menarik napas panjang. Ia menyeka sisa air mata yang masih melekat di pipi, lalu meraih sendok kecil dan mencoba menyendok cheesecake yang diberikan. Rasanya lembut dan manis, namun tetap saja tidak bisa menutupi rasa getir di hatinya.
Teh yang tadi disuguhkan oleh Revan sudah dingin. Tapi Ina tetap meneguknya, berharap setidaknya rasa pahit teh itu bisa menyeimbangkan rasa manis yang terlalu semu dari cheesecake tersebut.
Ia tahu penampilannya sangat berantakan—mata sembab, wajah lembab, napas masih tak teratur. Tapi, untuk sekali ini, dia tidak peduli. Hari ini, dunianya sudah cukup hancur. Dan tak ada eyeliner atau bedak yang mampu menutupi luka di dalam hati.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama Ajeng tertera di layar.
Ina buru-buru mengangkat. “Halo, Jeng?” sapanya.
“Mbak Ina, izin ya? Nggak balik ke kantor?” suara Ajeng terdengar di seberang, hati-hati.
“Nggak kok, aku balik. Kenapa?” jawab Ina cepat, mencoba terdengar stabil.
“Ada beberapa ide lagi buat Souri Cafe, Mbak. Kita mau diskusiin sama Mbak Ina,” lanjut Ajeng.
Ina tersenyum kecil meski tak ada yang bisa melihat. Bahkan di tengah badai hidupnya, timnya tetap menunggunya. Dia harus kembali.
“Oke. Kalau gitu aku langsung ke kantor,” jawabnya mantap.
Ia berdiri, merapikan sedikit penampilannya seadanya. Cheesecake yang tak habis ia tinggalkan begitu saja. Saat melangkah keluar dari kafe, langit Jakarta terlihat kelabu, seolah ikut berempati dengan luka hatinya. Tapi Ina tahu, meski langit runtuh, hidup tetap harus berjalan.
Ia melangkah pergi. Menuju kantor. Menuju tanggung jawab yang menantinya.
Menuju babak hidup berikutnya—tanpa Aldo.
Sesampainya di kantor, langkah Ina langsung terarah menuju lantai lima. Hatinya masih terasa berat, namun wajahnya ia paksa untuk tetap tenang. Saat pintu lift terbuka, ia menarik napas panjang sebelum melangkah keluar.
Lorong menuju ruang divisi marketing tampak lebih lengang dibanding biasanya, tapi begitu ia masuk ke dalam, pemandangan yang menunggunya membuat dadanya sedikit menghangat.
Semua anggota tim sudah berkumpul. Mereka duduk di meja panjang, tampak serius, tapi juga menanti. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada lirikan penuh simpati. Hanya keheningan yang terasa sopan dan menghormati ruang pribadi Ina.
“Makasih udah nungguin aku,” ucap Ina begitu duduk di salah satu sisi meja panjang divisi marketing. Matanya masih sedikit sembab, tapi nada suaranya sudah lebih stabil, lebih tegak. “Kita mulai aja diskusinya.”
Rara membuka diskusi dengan semangat yang sedikit lebih tinggi, seolah ingin menarik seluruh ruangan ke dalam ritme ide yang dinamis.
“Jadi, aku pikir konsep dessert-nya perlu kita perluas,” ucapnya sambil memutar layar laptopnya ke arah yang lain. “Dari yang awalnya fokus ke pastry dan dessert khas Eropa—kayak eclair, mille-feuille, croissant bread pudding—gimana kalau kita mulai masukin unsur lokal dan juga menu dari Asia Tenggara atau bahkan Timur Tengah?”
Ina mencondongkan tubuhnya sedikit. Ajeng dan Sinta saling melirik, memberi anggukan kecil.
“Misalnya,” lanjut Rara, “kita bisa eksplor makanan penutup khas Indonesia seperti lupis, bubur ketan hitam, atau es teler, tapi kita sajikan dengan plating yang lebih modern. Jadi tetap terasa ‘wah’, meskipun rasanya tetap autentik.”
“Dan kita bisa tambahkan elemen kejutan dari rasa gurih juga,” sela Sinta, yang dari tadi mencatat sesuatu di notepad-nya. “Kayak cemilan asin yang biasa kita makan tapi dikemas sebagai penutup. Contohnya, keripik singkong yang dilapis caramel pedas atau cheese mousse dipadu rempah khas Indonesia kayak kayu manis dan cengkeh.”
Ajeng mengangguk cepat. “Konsep rasa kontras itu menarik. Sweet meets savory. Itu bisa jadi identitas Souri yang bikin beda dari kafe dessert lainnya.”
Ina mendengarkan dalam diam, namun dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa ia sedang memproses semuanya. Tatapan matanya tidak lagi kosong seperti tadi siang. Sekarang, ada fokus di sana. Ada arah.
“Kalau dari ambience tempat,” Ajeng melanjutkan sambil membuka map berisi sketsa kasar interior, “aku usul nuansa joyful tapi tetap hangat. Jadi warnanya bisa main di pastel earthy—terracotta, sage green, dusty blue. Tapi tetap dikasih tone hangat supaya nggak terlalu childish.”
“Lighting-nya gimana?” tanya Ririn, mengangkat alis.
“Warm yellow, tapi adjustable. Kita bisa pasang smart lighting yang bisa disesuaikan sesuai waktu. Jadi kalau siang agak terang, sore dan malam lebih redup dan cozy,” jawab Ajeng cepat.
“Dan posisi meja?” tanya Ina, kini mulai lebih aktif. “Aku pengen Souri punya spot nyaman buat sendiri, tapi tetap bisa akomodatif buat grup. Yang datang rame-rame nggak merasa kayak mengganggu yang kerja.”
“Meja panjang dengan stool bisa kita tempatkan di tengah, jadi bisa untuk communal table. Lalu sisi jendela untuk satuan, dikasih partisi tanaman biar tetap ada privasi,” jelas Ajeng.
“Gimana dengan musik?” tanya Ina. “Karena ini akan jadi tempat kerja juga. Aku nggak mau musiknya terlalu mengganggu.”
“Kita bisa atur playlist tematik,” sahut Rara. “Weekdays—instrumental jazz, lo-fi, acoustic. Weekend boleh yang lebih fun, kayak indie pop atau lagu-lagu nostalgia. Tapi volumenya tetap dijaga. Fokusnya tetap ke experience yang menenangkan.”
“Dan satu hal lagi,” kata Ina, suaranya sedikit lebih pelan, tapi tegas. “Aku pengen ada bagian dari Souri yang terasa... personal. Ada pesan kecil yang bisa menyentuh pelanggan, entah di dinding, di menu, atau di packaging. Kayak reminder kecil buat tetap kuat, tetap berproses, tetap hidup.”
Semua terdiam sejenak.
Bukan karena ragu. Tapi karena semua tahu, kalimat itu bukan hanya arahan desain. Itu keluar dari hati yang baru saja dilukai.
Ajeng mengangguk pelan. “Kita bisa sisipkan quotes di balik coaster, atau di bawah gelas. Atau di dinding toilet. Hal-hal kecil yang bikin orang tersenyum tanpa sadar.”
Ina tersenyum, sangat tipis. Tapi itu senyum pertamanya hari ini.
“Baik. Tim konten dan desain bisa mulai riset dan breakdown menu. Sinta, kamu bantu aku bikin guideline visual untuk brand tone. Aku juga mau mulai mikir tentang campaign pembukaan cabangnya.”
Ajeng mencatat cepat. “Noted, Mbak.”
Diskusi berlanjut, dan suara-suara mulai lebih hidup. Seolah ruangan itu mulai bisa bernapas lagi.
Dan di tengah semuanya, Ina tahu—mungkin hidupnya memang tidak sedang baik-baik saja. Tapi Souri… bisa jadi tempat untuk menyembuhkan. Bukan hanya untuk pelanggan. Tapi untuk dirinya juga.
Mereka baru saja selesai berdiskusi. Meski baru dalam bentuk brainstorming, Ina sudah cukup puas dengan anggotanya yang bisa berpikir cepat di saat seperti ini. Tiba-tiba, seorang perempuan berdiri di ambang pintu ruangan mereka. Wanita itu langsung menjadi pusat perhatian semua anggota.
“Bu Regina,” sapa Ina yang mengenal ibu dari atasannya itu. Meski tidak pernah bertemu secara langsung sebelumnya, Ina beberapa kali melihat wanita itu mengunjungi Revan.
“Saya ingin bertemu dengan Ina,” ucap Regina dengan nada tenang. Dia bahkan menyunggingkan sebuah senyuman.
“Saya Ina, Bu,” ucap Ina sambil berjalan mendekat. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Jelas ada. Kalau nggak ada, saya nggak akan ke sini,” jawab Regina, dia kembali tersenyum. “Ikut saya sebentar. Ada yang saya ingin tanyakan pada kamu,” katanya.
“Maaf, Bu. Kalau boleh tahu, ini tentang apa, ya?” tanya Ina. Tidak seharusnya Regina memiliki sesuatu yang harus dibicarakan dengannya.
“Revan dan kamu. Kamu kan yang masuk mobil Revan tadi?” tanyanya.
Ina tercekat. “Astaga, apa lagi ini?” pikirnya.