Tangga darurat di lantai lima terasa sunyi seperti ruang hampa. Tidak ada suara, hanya derap sepatu mereka yang terpantul di dinding beton. Udara di sana pengap dan dingin bersamaan. Regina berdiri di depan Ina, menatapnya tajam seolah menembus pikirannya.
"Ada hubungan apa antara kamu dan Revan?" Suaranya rendah, tapi sarat tekanan. "Saya tidak ingin dengar kalau kalian hanya atasan dan bawahan saja."
Ina tercekat. Pertanyaan itu terasa seperti ledakan yang tidak ia duga. Dia belum mendengar gosip apapun. Tadi pagi semuanya berjalan cepat, bahkan terlalu cepat untuk diproses.
"Maksudnya bagaimana, Bu?" tanyanya, mencoba tetap tenang.
Regina menyilangkan tangan di depan d**a. "Dari tadi di kantor ini heboh karena kamu masuk ke mobil Revan. Duduk di jok depan," katanya pelan namun menusuk.
Jantung Ina berdetak tak karuan. Ia tahu persis betapa ketatnya jarak antara Revan dan para karyawan. CEO itu hampir tak pernah terlihat terlalu dekat dengan siapapun. Tapi kejadian pagi itu, ia yakin, adalah pengecualian. Darurat. Tidak lebih.
"Saya tidak punya hubungan apa-apa dengan Pak Revan, Bu. Kejadian itu terjadi karena beliau hanya ingin membantu saya. Saya nyaris ditampar oleh mantan pacar saya, Bu. Pak Revan melihat dan langsung menarik saya pergi dari tempat itu," jelasnya terbata, namun yakin. Ia tidak ingin Ibu Regina salah paham, apalagi sampai membawa masalah pribadi ke ranah profesional.
Regina menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Jadi, kamu sudah putus dengan kekasih kamu?"
Ina mengangguk. "Benar, Bu. Saya juga merasa bersalah karena membawa hubungan personal ke kantor. Dan… saya sudah dapat teguran dari Pak Revan langsung, atas insiden itu."
Regina menaikkan alis. "Terus, tadi kalian pergi ke mana? Bukannya Revan ada meeting?"
Ina menarik napas. Ia harus jujur, tapi dalam batas yang profesional. "Ke Vanilla by SeleraKita, Bu. Saya diturunkan di sana. Setelah itu, Pak Revan langsung melanjutkan perjalanannya untuk meeting," katanya. Meski dalam hati ia sendiri tidak tahu pasti ke mana Revan pergi setelah itu.
Regina kembali mengangguk. Wajahnya masih tenang, tapi pandangan matanya seperti pisau yang sedang mengukur tajam. "Apa posisi kamu di perusahaan ini?"
"Saat ini saya jadi leader sementara tim marketing, Bu. Menggantikan karyawan yang sedang cuti hamil dan melahirkan," jawab Ina, tegak. Ia merasa harus menjawab dengan keyakinan penuh.
"Baik." Nada suara Regina melunak sedikit. "Saya harap kamu bisa menyelesaikan masalah kamu dengan baik. Jangan sampai mengganggu kinerja kamu sebagai leader."
Ina menundukkan kepala sedikit. "Baik, Bu. Saya pastikan kinerja saya tidak akan menurun karena masalah ini."
Regina bersiap untuk pergi, namun sebelum melangkah, ia berhenti sejenak dan berbalik. Matanya menatap Ina sekali lagi, kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalam sorotnya. Seperti ragu. Atau penasaran.
"Menurut kamu, Revan orang yang seperti apa?" tanyanya.
Ina terdiam. Pertanyaan itu seperti datang dari ruang yang tidak terduga. Aneh. Kenapa seorang atasan, bahkan istri dari pemilik perusahaan ini, bertanya hal pribadi semacam itu kepada karyawan biasa sepertinya?
"Saya..." bibir Ina bergerak, tapi tak ada suara keluar. Ia tahu jawabannya, tapi ia juga tahu, ada pertanyaan tersembunyi lain di balik kalimat itu.
Regina masih berdiri di tempatnya, tidak bergeming. Pandangannya tajam menusuk ke wajah Ina, seolah mencoba menarik jawaban langsung dari dalam benaknya. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut wanita itu, namun dari cara dia menatap, dari garis rahangnya yang mengeras, dan dari alisnya yang sedikit mengangkat… Ina tahu: ia sedang menunggu jawaban.
Tekanan itu membuat udara di antara mereka jadi berat. Sejenak, Ina merasa sedang disidang oleh hakim yang tidak butuh saksi lain, hanya mengandalkan intuisinya sendiri.
"Dia pemimpin yang baik," kata Ina akhirnya, suaranya tenang namun dijaga hati-hati. Ia memilih jawaban paling aman, paling netral. Ia tidak ingin mengatakan hal yang bisa disalahartikan. Lagi pula, ia tidak punya masalah dengan Revan. Memang, pria itu keras dan tegas, tapi tidak pernah menyimpang dari batas profesional. Setiap teguran yang dilayangkan Revan, meski tajam, selalu berdasar. Tidak pernah personal.
Regina menyipitkan mata, lalu bertanya lebih dalam. “Sebagai laki-laki, bukan atasan kamu,” katanya pelan, tapi cukup jelas. Suaranya rendah namun penuh tekanan. Kini bukan lagi tentang profesionalisme, tapi persepsi pribadi.
Ina kembali diam. Pertanyaan itu... terlalu jujur. Terlalu personal. Dan ia tahu, tidak ada tempat yang benar-benar aman untuk menjawabnya. Tetapi Regina menunggu, dan di tempat sunyi seperti ini, tak ada jalan lain kecuali menjawab.
“Pak Revan… tampan?” katanya ragu. Kata itu nyaris seperti bisikan.
Regina mengangkat alis. Tapi tidak berkata apa-apa.
Ina menelan ludah. Dalam pikirannya, Revan memang tak lebih dari seorang CEO. Ia tidak tahu siapa Revan di luar kantor—apakah dia suka menyetir sendiri? Apakah dia suka mendengarkan musik di perjalanan? Apakah dia tipe pria yang akan membuat kopi sendiri di pagi hari?—Semua itu kosong.
Tapi satu hal yang tidak bisa dipungkiri: wajah pria itu seperti pahatan. Tegas. Simetris. Dingin seperti marmer. Hidungnya tinggi, matanya seperti belati yang tajam, dan rahangnya mengeras saat sedang berpikir. Tidak ada satu pun wanita yang akan menyangkal kalau pria itu… menakjubkan. Tapi justru karena itulah, tak ada satu pun yang berani mendekat.
Regina tersenyum. Tipis, penuh arti. “Dari wajah dia… dia tipe kamu?” suaranya tenang, namun sorot matanya seolah sedang menelanjangi isi hati Ina.
Ina tak bisa menghindar. Ia mengangguk kecil, ragu. “Siapa yang bisa menolak ketampanan Pak Revan, Bu?” jawabnya sambil menyunggingkan senyum kikuk. Ia mencoba menutupinya dengan humor, tapi suaranya tidak cukup meyakinkan untuk jadi bercanda.
Regina mengangguk pelan. Tatapannya belum beranjak dari wajah Ina. Seolah sedang mencari sesuatu yang tersembunyi. Kemudian ia berkata dengan nada yang hampir seperti gumaman, “Kamu juga tidak buruk untuk jadi menantu saya.”
Suasana langsung membeku.
Langkah Regina perlahan terdengar menjauh, bergema di dinding tangga darurat yang kosong. Nada sepatunya tak tergesa, tapi juga tak pelan—seolah membawa sesuatu bersamanya. Mungkin rahasia. Mungkin niat. Mungkin ujian.
Ina masih berdiri di tempat. Terperangah. Hening.
Perkataan itu… membekas seperti cap panas di pikirannya.
Menantu saya…
Apa maksudnya? Apa ini sebuah candaan? Atau… Apakah Regina memang menginginkan sesuatu darinya?
Setelah berbicara dengan Regina, Ina keluar dari tangga darurat. Udara kantor yang biasanya tidak ia hiraukan kini terasa begitu sesak. Langkahnya gontai. Ia hanya ingin kembali ke ruangannya. Tapi bahkan itu pun bukan keputusan yang mudah sore ini. Begitu ia mendorong pintu ruang divisi yang hanya dibatasi oleh partisi kaca, tangan Ririn langsung menariknya.
“Mbak, Bu Regina bilang apa?” tanyanya dengan suara berbisik, tapi penuh rasa ingin tahu yang tidak bisa disembunyikan.
Ina menatap Ririn, tapi pandangannya kosong. Ia masih belum benar-benar kembali dari percakapan barusan. Suara Regina masih terngiang-ngiang seperti gema di dalam kepalanya. Ia ingin menjawab, tapi lidahnya terasa kaku. Napasnya terasa pendek.
“A—apa?” tanyanya akhirnya, tergagap.
Ajeng, yang sejak tadi memperhatikan, langsung berdiri dari kursinya. “Mbak, Mbak Ina nggak apa-apa?”
Ina hanya bisa menggelengkan kepalanya. Gerakan itu kecil, nyaris tidak terlihat. Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sangat salah. Ia masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, apa yang baru saja ia dengar. Dadanya sesak. Rasanya, dunia kembali berputar tanpa arah. Ia belum selesai memproses rasa sakit karena pengkhianatan Aldo, dan sekarang...
“Mbak, gue tahu lo nggak baik-baik aja. Tapi, mungkin lo belum denger ini,” kata Rara tiba-tiba. Suaranya pelan, seperti sedang menyampaikan rahasia besar.
“Selain karena kasusnya Mas Aldo sama Gita, di kantor juga lagi heboh, katanya Mbak Ina duduk di jok depan mobil Pak Revan. Disetirin Pak Revan. Bener, Mbak?” tanya Ririn, matanya membulat, suaranya semakin pelan tapi bergetar karena antusiasme.
Napas Ina tertahan. Tubuhnya seperti kehilangan gravitasi. Ia bersandar di sisi partisi kaca, mencoba mencari pegangan. Tapi tidak ada yang bisa menopang dirinya selain dirinya sendiri.
Ia kelelahan. Bukan hanya secara fisik. Tapi batinnya seperti habis dilindas truk berkali-kali. Hari ini terlalu panjang. Terlalu melelahkan. Terlalu menyiksa. Ia bahkan sudah lupa berapa kali ia hampir menangis, berapa kali ia harus berpura-pura kuat.
“Jam pulang masih lama, ya?” tanyanya lirih. Pandangannya kosong. Hatinya seperti ingin kabur dari tubuhnya sendiri.
“Mbak, mending lo izin aja deh. Nggak bakal bisa fokus kerja,” kata Rara cepat, langsung diamini oleh yang lain.
“Tapi, Souri...” ucap Ina dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia ingat proyek itu. Proyek besar yang ia tangani sendiri. Ia tidak bisa begitu saja lepas tangan.
“Nggak usah dipikirin dulu, Mbak. Mending selesaiin satu-satu. Sekarang, Mbak butuh istirahat,” kata Ririn tegas.
Ina terdiam. Anggotanya itu benar. Dia bahkan tidak yakin bisa membuka laptop sekarang. Tangannya gemetar. Dadanya masih sesak. Tapi kemudian, ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.
“Kalian tahu dari mana kalau aku masuk mobil Pak Revan?” tanyanya, nada suaranya pelan, nyaris curiga.
“Anak divisi lain ada yang lihat. Terus pada nyebarin di grup gosip kantor juga, Mbak. Lo pasti belum buka grup chat dari tadi, ya?” tanya Sinta.
Ina mengangguk. Ia bahkan belum sempat mengecek ponselnya. Bahkan untuk sekadar duduk dan menenangkan diri saja ia belum punya waktu. Segalanya terlalu cepat. Terlalu banyak. Terlalu menyakitkan.
“Kalau gitu aku istirahat duluan, ya. Kalau ada apa-apa, kita obrolin besok,” katanya akhirnya.
Langkahnya berat saat berjalan ke luar ruangan. Tapi ia tahu, satu-satunya hal yang ia butuhkan sekarang adalah pergi. Menjauh dari semua. Menenangkan kepala yang terasa seperti akan meledak.
Sesampainya di rumah, Ina langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Tanpa melepaskan blazer, tanpa mengganti pakaian. Tubuhnya lelah, tapi yang paling lelah adalah hatinya. Dan akhirnya, tangis itu pecah.
Isakannya tidak tertahan lagi. Ia menangis sejadi-jadinya, suara sesenggukannya memenuhi kamar. Wajah Aldo dan Gita di pantry terus menghantui. Begitu juga dengan bayangan Aldo yang hendak menamparnya. Semuanya datang bertubi-tubi seperti gelombang yang tidak ada hentinya.
“Padahal pagi tadi...” katanya lirih di sela-sela tangisannya. “Pagi tadi aku masih peluk dia...”
Dan sekarang, hanya beberapa jam kemudian, status itu telah berubah. Dari pacar menjadi mantan. Dari seseorang yang ia yakini akan menjadi masa depannya, menjadi sumber luka terdalamnya.
“Kenapa nasib aku gini banget, sih? Aku capek...” keluhnya sambil membenamkan wajah ke bantal. Suaranya tertelan oleh isak dan kain. Ia menangis hingga tubuhnya kehabisan tenaga, hingga akhirnya tertidur dalam keadaan masih mengenakan blazer, dengan mata sembab, dan hati yang remuk.
Tapi, lelapnya itu tidak lama karena mendadak ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk. Ina mengernyitkan dahinya. Matanya terasa sangat berat untuk dibuka, tapi gadis itu memaksanya. “Pak Revan?” katanya bingung dengan suara serak.
Setelah mengumpulkan kesadarannya, Ina langsung menerima panggilan tersebut. “Halo, Pak?” sapanya dengan suara sengau.
“Mbak Ina, ke ruangan saya sekarang,” katanya dingin. Panggilan langsung ditutup.