Bab 9. Keinginan Aldo yang Tidak Bisa Ina Beri

1555 Kata
"Maaf, Pak. Tapi saya sudah di rumah sekarang. Saya izin bekerja setengah hari," ucap Ina pelan lewat sambungan telepon, suaranya terdengar lelah, hampir seperti bisikan yang menunggu dimengerti. Revan yang duduk di ruangannya menghentikan aktivitasnya sejenak. Matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang memamerkan langit senja Jakarta yang mulai menghitam. Hening melingkupi ruangannya beberapa detik sebelum akhirnya dia menjawab dengan suara datar. "Baik, kalau begitu besok temui saya di ruangan pukul sembilan pagi." "Baik, Pak. Apa kami harus presentasi untuk Souri lagi? Kami baru selesai brainstorming untuk develop menu dan dekornya," tanya Ina, mencoba memastikan semuanya berjalan sesuai dengan timeline, bahkan ketika tubuh dan hatinya sedang tidak baik-baik saja. "Tidak. Ini bukan tentang Souri Café," jawab Revan dengan nada dingin, seakan menyembunyikan sesuatu di balik ketenangannya. Ina mengernyitkan dahinya. "Lalu? Tentang apa, Pak?" tanyanya, bingung sekaligus khawatir. "Kita bisa bicarakan besok. Silakan beristirahat," kata Revan menutup percakapan tanpa jeda, tanpa penjelasan. Hanya keheningan yang tersisa di telinga Ina. Sambungan telepon terputus. Di ruangannya yang sepi, Revan memandang layar ponselnya yang kini gelap, seakan berharap sesuatu yang tak akan pernah muncul. Lalu dia mengalihkan pandangan pada sosok ibunya yang duduk santai di sofa kulit, memegang cangkir teh yang tinggal setengah. "Ina sudah pulang. Ini hari yang berat untuk dia," ujar Revan akhirnya. Regina menatap putranya dengan sorot mata hangat. "Setidaknya Mama sudah sempat berkenalan dengannya. Mama tidak keberatan kalau dia jadi istri kamu. Sepertinya dia anak yang baik." Revan mengernyitkan dahinya, menunjukkan ketidaksetujuan yang jelas. "Dari mana Mama tahu dia orang baik? Mama belum pernah ketemu sama dia," katanya, nyaris sinis. Regina hanya mengangkat kedua bahunya dengan elegan, senyum tipis masih menghiasi wajahnya. "Seorang ibu itu punya rasa yang kuat. Mama tahu mana yang terbaik untuk anak Mama." Revan terdiam. Tidak bisa membantah, tapi juga tidak mau mengiyakan. "Gesturnya sangat sopan. Nada bicaranya penuh hormat. Padahal, Mama sadar betul bahwa kehadiran Mama tadi membuat dia tidak nyaman. Tapi dia tetap menunduk dan tersenyum. Itu bukan sesuatu yang bisa dipalsukan, Van," ujar Regina lagi, kini suaranya lebih dalam, seperti menyentuh lapisan yang lebih sensitif dari hati putranya. Revan menarik napas panjang. Dalam hatinya, ada sesuatu yang berkecamuk, tapi dia belum tahu apa namanya. "Aku tidak suka dengan Ina. Dia tidak lebih dari bawahan aku, Ma," katanya tegas. Regina hanya tersenyum kecil. "Kamu hanya belum mencoba untuk mengenal dia," katanya lembut namun menusuk. "Kalau nggak, apa kamu mau Mama kenalin sama anak temannya Mama yang lain?" Pernyataan itu membuat Revan menoleh cepat. Wajahnya menyiratkan penolakan yang spontan. Regina tertawa kecil, lalu menyesap tehnya dengan tenang. Dalam keheningan yang menggantung, hanya suara detak jam dinding yang terdengar — seolah waktu sedang menunggu keputusan penting yang belum diucapkan. Di sisi lain, Ina meletakkan ponsel di meja kecil di samping kasur. Tubuhnya yang lelah ia rebahkan kembali di atas sprei biru yang masih belum sempat diganti sejak tiga hari lalu. Kepalanya terasa berat, dan matanya terasa perih akibat menahan tangis yang tak pernah benar-benar tumpah. Ia mencoba memejamkan mata, berharap waktu bisa mengampuninya malam ini. Namun harapan itu buyar seketika. Tok. Tok. Tok. Terdengar ketukan di pintu kost-nya. Ina membuka mata perlahan. Napasnya menggantung. "Siapa?" tanyanya lelah. Suaranya nyaris tak terdengar. Ia sendiri tidak yakin orang di balik pintu bisa menangkapnya. Tidak ada sahutan. Tapi suara ketukan kembali terdengar. Kali ini lebih cepat. Lebih gelisah. Lebih menekan. Dengan terpaksa, Ina mengangkat tubuhnya. Rasa kantuk berubah jadi siaga. Ia melangkah ke pintu dengan berat, menahan rasa malas dan kelelahan yang masih menggerogoti. Tangannya meraih gagang pintu, dan ketika pintu itu terbuka—dunianya mendadak berputar. "Aldo?!" Sosok pria itu berdiri di hadapannya, dengan wajah kusut dan mata merah yang penuh amarah. Sebelum Ina sempat bertanya lebih jauh, Aldo langsung mendorong tubuhnya dan masuk ke dalam kamar kost kecil itu. "Aldo, tunggu—" Ina melangkah mundur, mencoba menjaga jarak. Tapi Aldo tak memberinya ruang. Dengan gerakan cepat, ia menghadang Ina dan mendekatkan wajahnya. Nafasnya memburu. Matanya liar. Bibirnya nyaris menyentuh wajah Ina. Ina panik. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara tangan satunya mendorong d**a Aldo sekuat tenaga. "Apa-apaan kamu, Do?!" teriaknya, ketakutan dan jijik. Aldo berdecak, mulutnya menyeringai sinis. "Apaan sih? Kayak nggak pernah ciuman aja." "Kamu bukan pacar aku lagi!" seru Ina dengan suara yang kini lebih tegas, meski gemetar. "Nggak seharusnya kamu datang dan masuk sembarangan ke kost aku!" Tapi Aldo tak peduli. Dia malah semakin mendekatkan tubuhnya. Suaranya berubah pelan, tapi menakutkan. "Sayang... kamu masih pacar aku. Kita belum putus. Kamu inget, kan? Kita pernah janji untuk menikah dan hidup bahagia. Kenapa sekarang kamu malah mau putus?" bisiknya di telinga Ina. Ina bergidik ngeri. Tubuhnya menegang, napasnya pendek-pendek. Ia tidak nyaman. Ia ingin berlari. "Pergi!" bentaknya. "Pergi kamu dari sini!" Tapi Aldo justru menatapnya dalam-dalam. Matanya menyala, penuh obsesi. "Aku nggak akan pergi dari sini. Aku ke sini punya tujuan. Aku cuma mau bilang... kita nggak akan putus. Selamanya kamu adalah pacar aku, Sayang." Kalimat itu menusuk. Nada suaranya dingin, tapi ada bara api di baliknya. Sorot matanya tajam. Bibirnya menyeringai, seolah menikmati ketakutan Ina. Ina tercekat. Tubuhnya bergetar. Pria yang pernah dia cintai kini berdiri di hadapannya seperti orang asing. Seperti monster yang mengintai dalam gelap. "Aku belum pernah ngerasain senang-senang bareng, kan?" ucap Aldo, kini matanya menyisir tubuh Ina dari atas ke bawah. Ina membeku. Hatinya berdebar tak karuan. Ia tahu betul apa maksud Aldo. Ia tahu, dan itu membuat darahnya seperti berhenti mengalir. Aldo mendekat. Suaranya merendah, tapi intens. "Ini yang bikin aku lari ke Gita, Sayang. Coba aja kamu bisa kasih aku apa yang aku mau. Kita bisa bahagia... kita bisa nikah... kayak yang kamu mau." Napas Ina sesak. Menikah dan Aldo adalah dua hal yang dulu terasa manis. Tapi sekarang? Itu mimpi buruk. Sangat buruk. Imajinasi tentang masa depan yang indah bersama Aldo kini berganti dengan gambaran mengerikan—tentang keterpaksaan, kekerasan, dan luka. Pria itu telah berubah. Ia bukan lagi Aldo yang dulu ia kenal. Ia bukan cinta. Ia ancaman. Suasana kamar kost Ina hening dan sangat mencekam. Aldo berdiri, menatap Ina dengan intens, seolah hendak membakar sisa-sisa logika yang masih tersisa di kepala perempuan itu. Sementara Ina, napasnya tersengal-sengal. d**a naik turun cepat. Matanya waspada, mengamati setiap pergerakan Aldo. Ia tahu, malam ini adalah pertarungan—bukan hanya antara dua orang yang pernah saling mencintai, tetapi antara harga diri dan kehancuran. "Sayang," suara Aldo memecah hening. Tenang. Penuh keyakinan, seperti pria yang tahu bahwa ia sedang berbicara pada seseorang yang masih bisa ia taklukkan. "Baju kantor kamu itu terlalu besar kayaknya," katanya, senyumnya menyeringai tipis. Matanya menatap ke arah pakaian kantor yang sudah kusut karena Ina bawa tidur. Ina masih diam. Jantungnya berdegup keras di dalam d**a, tapi wajahnya berusaha tetap datar. Ia tidak mau menunjukkan ketakutan, tidak mau memberi celah pada Aldo untuk membaca kelemahannya. Ia hanya menatap, mengawasi. "Gita itu suka pakai baju kantor yang bagus. Yang kelihatan lekuknya, dibuka dikit juga nggak apa-apa," lanjutnya. Matanya menelusuri tubuh Ina dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Kamu coba deh, pakai kayak gitu. Modis. Jangan kayak gini. Ngebosenin." Ada bara kecil yang menyala di d**a Ina. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Wajahnya panas. "Jangan samain aku sama Gita!" bentaknya, suara tinggi memecah keheningan malam. Aldo tertawa kecil, sinis. "Jelas nggak sama. Gita bisa bikin aku puas. Kamu apa? Lima tahun pacaran, isinya cuma anter jemput kamu doang. Ngedate cuma makan sama jalan-jalan. Tiap kali diajak staycation, kamu nolak. Dipegang dikit kamu berontak. Mana ada cowok yang nggak bosan sama cewek kayak kamu, Sayang?" Dia melangkah maju, satu langkah, membuat Ina mundur setapak. "Cuma aku, lima tahun aku coba buat terima kamu apa adanya," lanjutnya. Nada suaranya naik turun seperti sedang berpidato tentang pengorbanannya yang luar biasa. "Sekarang aku cuma minta satu, dan kamu nggak bisa kasih. Ya jelas aku bakalan pilih Gita yang bisa kasih apa yang aku mau." Ina berdiri kaku, matanya membelalak pelan saat Aldo terus melanjutkan racauannya. "Tubuh Gita bagus, terawat. Kamu? Sibuk kerja ke sana sini, penampilan biasa aja. Ngebosenin. Harusnya kamu terima kasih sama aku, yang udah bisa sayang sama kamu selama ini." Tubuh Ina bergetar. Bukan karena takut, tapi karena kemarahan yang membuncah dalam d**a. Air matanya menggenang, tapi ia tidak akan menangis di depan pria itu. Ia tidak akan memberi kemenangan. Di benaknya, satu per satu kenangan lima tahun hubungan itu luruh seperti kertas terbakar. Ternyata, semua pengorbanan, batas-batas yang ia bangun demi menjaga diri, hanya jadi bahan hinaan bagi pria yang pernah ia cintai. "Sayang," Aldo mendekat, tangannya terulur pelan, suaranya mendayu seperti racun. "Kasih aku... kasih apa yang aku mau, dan kita bisa kayak dulu lagi. Kamu bahagia kan sama aku? Aku juga bahagia sama kamu, Sayang. Kita bisa bahagia lagi. Aku akan tinggalin Gita buat kamu. Karena hati aku akan selalu milih kamu. Aku cinta kamu, Ina Sayang." Ina merinding. Kalimat cinta itu terasa seperti ancaman. Ia tidak pernah membayangkan, ada pernyataan cinta yang bisa terdengar sejahat ini. "Pergi kamu! Pergi!" teriak Ina, tangannya mendorong tubuh Aldo dengan sekuat tenaga. "Aku nggak mau dengar apa pun dari kamu lagi!" Aldo tersentak ke belakang, hampir kehilangan keseimbangan. Ina memaksakan tenaganya, mendorong lebih keras, meski tubuhnya kecil dibanding pria itu. Ia ingin mengusir semua sisa luka yang melekat pada sosok di depannya. Ia ingin bebas. “Jangan harap kamu akan lepas dari aku, Sayang. Aku nggak akan berhenti sampai dapat yang aku mau,” teriak Aldo sebelum Ina menutup pintu kostnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN