“Hamil?!” suara Erika terdengar nyaring, memecah keheningan yang mencekam ruang keluarga itu. Ia berdiri dari sofa seolah panas bara api menjalar dari lantai ke tubuhnya.
Matanya membelalak pada Gita, penuh keterkejutan dan kemarahan yang tak tertahankan. Di sisi lain, Edo hanya diam. Pandangannya menusuk ke arah anak tunggal mereka, menguliti lapisan-lapisan kebohongan yang kini mulai mengelupas satu per satu.
Gita menggenggam ujung bajunya. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin membasahi pelipisnya. “Maaf, Ma, Pa,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar. Suaranya pecah, dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan.
“Bisa-bisanya kamu melakukan hal itu, Gita?!” bentak Erika. Napasnya memburu. Suaranya bergetar antara amarah dan kecewa. “Mama sama Papa kasih kamu izin ngekos selama magang bukan buat... bukan buat hal b***t kayak begini!”
Wajah Erika merah padam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia tak pernah menyangka anak perempuan yang ia besarkan dengan limpahan kasih sayang dan nilai-nilai moral bisa terjerumus ke dalam jurang pergaulan bebas seperti ini.
Seketika Erika mengarahkan tatapan beringasnya pada Aldo yang duduk membeku di ujung sofa. “Kamu!” bentaknya. “Kenapa kamu menghamili anak saya?! Apa yang sebenarnya ada di benak kalian sampai tega berbuat seperti ini? Kamu itu lebih dewasa dari Gita! Harusnya kamu bisa berpikir jangka panjang!”
Aldo menunduk dalam. Ujung matanya berair, namun bukan karena penyesalan, melainkan tekanan yang mulai menghimpit dari segala arah. “S-saya minta maaf, Bu...” katanya nyaris tak terdengar.
“Maaf kamu itu nggak ada artinya!” suara Erika makin tinggi. “Kamu udah rusak masa depan anak saya! Dan kamu, Gita, kamu... kamu udah rusak masa depan kamu sendiri!”
Edo akhirnya bersuara. Suaranya dalam dan berat. “Kalian harus menikah.”
Ruangan itu hening. Suara kipas angin yang berputar di langit-langit terdengar seperti siulan kematian.
“Pak, saya... saya nggak bisa nikah sama Gita,” ucap Aldo akhirnya. Kalimat itu terucap begitu saja, spontan, tanpa sempat ia timbang akibatnya. Tapi itu adalah satu-satunya kebenaran yang bisa ia pegang saat ini. “Saya nggak cinta sama dia.”
Erika menoleh, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Edo mendekat. Wajahnya datar, namun tatapannya tajam seperti sembilu. “Apa maksud kamu? Kamu pikir kamu bisa lari dari tanggung jawab setelah... menikmati tubuh anak saya sampai dia hamil?” katanya dingin, namun mengandung amarah yang membeku. “Saya tidak peduli. Kalian berdua salah. Sama-sama mau, kan? Maka satu-satunya jalan untuk menutupi aib ini adalah: menikah.”
Gita menahan napas. Bibirnya bergetar, matanya mulai berkaca. Ia tahu ayahnya tidak sedang menawarkan pilihan. Ini adalah keputusan. Titik. Dan memang hal itu yang dia inginkan, Aldo bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat.
“Biar saya yang siapkan semuanya. Minggu ini atau minggu depan. Kalian akan menikah,” ucap Edo tegas, menyudahi diskusi yang tak pernah benar-benar dimulai.
Aldo terdiam. Dunianya runtuh. Ia ingin berlari. Lari sejauh mungkin dari rumah ini, dari tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan harus ditanggungnya. Ia hanya ingin kembali pada Ina. Hanya Ina. Gita tak lebih dari sensasi sesaat. Keindahan yang membosankan setelah gairah mereda.
“Saya nggak bisa, Pak...” katanya akhirnya, suara serak, hampir putus asa.
Edo mendekat. Kini jarak antara mereka hanya satu langkah. “Kalau kamu berani lari dari tanggung jawab, siap-siap untuk dapat konsekuensinya,” ucapnya tajam. “Saya tidak main-main, Aldo.”
Suasana ruang tamu di rumah Gita itu hening.
Tidak ada suara lain selain detik jam dinding yang terdengar nyaring di antara jeda napas orang-orang di dalamnya. Gita duduk di ujung sofa dengan tangan terkepal erat di atas pangkuan, sementara kedua orang tuanya duduk di sisi berlawanan. Di antara mereka, Aldo berdiri kaku. Siang itu seharusnya menjadi momen klarifikasi dan penyelesaian, tapi semuanya berjalan tidak seperti yang Gita harapkan.
Ia sudah mati-matian membujuk Aldo untuk datang. Bahkan memohon agar pria itu bersikap gentle, menjelaskan semuanya di depan kedua orang tuanya. Tapi kini, di hadapan Edo dan istrinya, Aldo justru terlihat seperti pengecut.
“Kenapa kamu tidak ingin menikahi Gita? Kamu tidak mencintainya?” suara Edo memecah keheningan, nadanya tajam menusuk seperti belati.
Aldo menunduk. Ia tidak bisa menjawab. Kalimat itu terlalu jujur untuk dibalas dengan kebohongan. Ia tidak mencintai Gita. Tidak pernah. Yang ia inginkan dari perempuan itu hanya tubuhnya. Manisnya malam-malam penuh gairah yang mereka lewati secara sembunyi-sembunyi. Tapi sekarang? Ia tidak mungkin menjelaskan semuanya dengan gamblang.
“Ini bukan tentang saya mencintai atau tidak mencintai, Pak,” ucap Aldo akhirnya. Suaranya terdengar pelan, hampir seperti bisikan. “Saya baru saja kena PHK dari kantor. Saya nggak punya pekerjaan sama sekali. Dan… saya rasa saya juga nggak pantas untuk Gita.”
Wajah Gita memucat.
Dua bulan menjalin hubungan rahasia dengan pria itu membuatnya tahu betul siapa Aldo sebenarnya. Tapi ia tidak menyangka, Aldo akan memakai kartu ‘kemiskinan’ untuk lari dari tanggung jawab.
Aldo sendiri tahu siapa Gita. Anak tunggal dari pengusaha sukses. Magang di SeleraKita hanya bagian dari kewajiban akademiknya. Bagi orang seperti Edo, laki-laki miskin seperti dirinya jelas tidak pernah masuk dalam kategori layak.
“PHK?” Edo mengangkat alis. Matanya menelusuri setiap gerak-gerik Aldo, mencoba membongkar apakah semua itu hanya alasan yang direkayasa.
Aldo mengangguk pelan. “Jadi… lebih baik kita cari solusi lain saja, Pak. Saya nggak cukup mapan untuk anak Bapak.”
Edo tiba-tiba berdiri. Tanpa aba-aba, ia melangkah cepat ke arah Aldo dan menarik kerah pria itu dengan kasar. Mata mereka bertemu—yang satu marah, yang lain terkejut.
“Kalau kamu merasa nggak cukup mapan buat anak saya, kenapa kamu malah menidurinya?” sentak Edo, dingin dan tajam. “Kamu buat dia hamil!”
Aldo tercekat. Kerah bajunya masih tergenggam kuat di tangan Edo. “Ma-maaf, Pak…” suaranya nyaris tak terdengar. Ia mencoba menahan napas dan tidak menatap mata Gita sama sekali.
“Saya nggak mau tahu. Kamu tetap harus menikahi anak saya secepatnya. Saya nggak mau ini jadi aib yang bisa jatuhkan bisnis saya.” Nada suara Edo tegas, seperti keputusan final yang tak bisa dibantah. “Masalah pekerjaan, kamu isi posisi yang kosong di perusahaan saya. Saya juga nggak mau anak saya hidup menderita cuma karena menikah dengan laki-laki nggak punya arah seperti kamu,” ucapnya tajam sembari melepas cengkraman di kerah tersebut.
Aldo menelan ludah. Rasa malu, ketakutan, dan keserakahan beradu di dalam dadanya. Harusnya dia menolak. Harusnya dia tegas bilang tidak. Karena hatinya bukan untuk Gita. Perempuan yang dia cintai sepenuh hati adalah Ina. Tapi tawaran itu… terlalu menggiurkan.
Ia bisa mendapatkan semuanya: tubuh Gita, kekayaan orang tuanya, dan hidup tanpa lagi harus mengandalkan motor tua yang sering mogok di jalan.
“Kamu akan kerja di salah satu kafe saya,” lanjut Edo. “Kamu dari bidang F&B, kan?”
Aldo menggigit bibir, lalu menjawab ragu. “Sa-saya di bagian legal, Pak…”
“Bagus. Kamu bisa bantu urus legalitas kafe dan perusahaan saya. Jadi sekarang kamu nggak punya alasan lagi untuk lari dari tanggung jawab kamu.” Suara Edo tak bisa ditawar. “Pernikahan akan kita atur secepatnya.”
Gita menghela napas. Entah lega atau justru kosong. Ia menoleh ke arah Aldo, tapi pria itu hanya berdiri diam seperti boneka yang sudah tak punya kemauan sendiri.
Dan di dalam hati kecilnya, Aldo tahu: hidup yang akan ia jalani setelah ini bukan karena cinta. Tapi karena keserakahan.
“Dan untuk kamu,” ucap Edo pada Gita. Dia menunjuk Gita tepat di depan wajah anak tunggalnya itu. “Kamu harus membayar semua ini. Selesaikan semuanya jika kamu tidak ingin kena masalah, Gita. Papa nggak pernah ngajarin kamu jadi perempuan murahan seperti ini,” katanya.
Meski tidak berbicara pada Aldo, napas pria itu tercekat. Dia baru saja melihat bagaimana tegas dan kerasnya Edo pada anak tunggalnya itu. Sekarang Aldo tidak heran kenapa Gita bersedia menjadi selingkuhannya selama dia mendapatkan kehangatan dan perhatian yang lembut dari seorang pria.
“Papa, jangan kasar gitu sama anak sendiri,” kata Erika mengingatkan. Dia sangat kasihan pada Gita.
Edo tidak mengindahkan hal tersebut. Pria paruh baya itu langsung menuju kamarnya, disusul oleh Erika yang masih tidak terima dengan perlakuan keras sang suami pada Gita. Di ruang tamu itu, tersisa Gita dan Aldo. Mereka saling tatap, Gita marah karena Aldo masih saja ingin lari dari tanggung jawab. Sedangkan Aldo terlihat sedikit bingung.
“Mas, ikut ke kamar gue sekarang,” titah Gita. Ada sesuatu yang harus dia tuntaskan dengan Aldo secara intim.