Pagi itu, Ina sudah tiba lebih awal di kantor. Setumpuk berkas proposal untuk revisi konsep Souri Cafe tergeletak di atas mejanya. Ia menarik napas dalam-dalam. Ini bukan hari yang ringan. Ia harus segera ke lokasi untuk menyaksikan trial beberapa menu baru dari tim kitchen.
“Mbak, gue ikut sama lo deh. Mau cobain makanannya,” suara rengek Rara dari belakang membuat Ina menoleh sambil tertawa kecil.
“Jangan ah. Kalau cuma mau makanan, nanti aku bungkusin. Lagian kalian juga harus siapin planning marketing-nya, kan? Kita ubah konsep, jadi banyak banget yang harus disesuaikan.” Nada suaranya tegas tapi tetap hangat, seperti biasanya saat memberi arahan.
Rara menghela napas panjang. Lesu. Ia ingin sekali menghindari pekerjaan hari itu, tapi Ina benar. Proyek Souri Cafe bukan proyek biasa. Mereka bukan anak kemarin sore, sudah puluhan brand ditangani, tapi Souri... kafe ini punya kelas yang lain. Kelas yang bisa menentukan masa depan karier mereka.
“Ingat ya, kalau kita kerja keras, bonus akhir tahun bakal gede,” ujar Ina sambil berjalan menuju lobi. “Souri Cafe buka di pertengahan tahun, jadi kalau ini sukses, akhir tahun kita bisa dapet bonus lebih besar dari tahun lalu.”
Kalimat itu seperti alarm yang menyadarkan semua orang. Mendadak meja marketing yang tadinya sunyi berubah ramai.
“Asli deh, ini proyek harus berhasil. Gue udah lembur berapa malam mikirin konsep marketing yang cocok,” celetuk Ririn, sambil memutar kursinya menghadap Rara.
Ina hanya menanggapi dengan senyum. “Ya udah, semangat ya. Aku pergi dulu.”
Ia bergegas menuju lobi, jari-jarinya cekatan membuka aplikasi pemesanan taksi online. Lokasi Souri cukup jauh, dan ia harus tiba sebelum tim kitchen memulai uji rasa.
Baru saja ia melangkah keluar dari pintu kaca kantor, tatapannya menyisir jalan mencari kendaraan yang dipesannya. Namun sebelum sempat mengenali plat mobil yang datang, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram lengan kirinya—kuat dan kasar.
“Aldo!” pekiknya kaget.
Pria itu tidak memberi jeda. Tarikannya terlalu kencang hingga tubuh Ina sempat oleng, tumit sepatu tingginya menghantam lantai trotoar dengan keras. Pria bertubuh tinggi dan kurus itu menggiringnya seperti barang, menuju motor tua berwarna hitam yang terparkir di seberang jalan.
“Naik,” titahnya dengan nada yang tak mengizinkan bantahan.
Ina membeku. Motor itu... motor yang dulu mereka pakai hampir setiap hari saat masih bersama. Motor penuh kenangan—tapi bukan kenangan manis. Hanya trauma dan luka yang tak ingin ia buka kembali.
Ia tak bergerak. Diam. Pandangannya menusuk helm yang tergantung di spion.
Melihat Ina membatu, Aldo kembali menarik lengan itu. Lebih keras.
“Aku bilang naik, Sayang. Kamu nggak denger?!” Kali ini suaranya menekan, tajam, dan dingin. Sorot matanya menyiratkan ancaman yang tak bisa disepelekan.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Ina pelan, suaranya bergetar, seolah ingin mencari cara untuk mengulur waktu.
“Ngapain lagi? Mau jemput kamu lah. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat,” ucapnya santai, tapi jelas ada nada yang tak enak di balik suaranya.
Ina mencoba menarik tangannya yang dicekal. “Aku nggak mau. Aku nggak punya urusan apapun lagi sama kamu.”
Aldo membentak keras, “Ikut!”
Tubuh Ina langsung melemah. Ketakutan menjalari tubuhnya seperti listrik yang menyengat setiap inci kulit. Ia tak terbiasa dengan kekerasan, dan wajah Aldo kini tak sama seperti dulu. Tatapannya gelap. Ada sesuatu yang menyeramkan bersembunyi di balik tatapan itu.
Dengan napas tercekat, Ina menaiki motor itu.
Aldo tak berkata apa-apa. Ia menyalakan mesin dan menarik gas kuat-kuat. Motor itu melaju membelah jalanan Jakarta yang ramai, menjauh dari kantor SeleraKita. Meninggalkan semua orang yang mungkin bisa menyelamatkan Ina—jika saja mereka tahu.
Motor terus melaju tanpa tujuan yang Ina kenali. Jalanan yang mereka lewati makin lama makin asing. Bukan jalur utama. Tidak ada papan petunjuk, tidak ada warung kecil atau keramaian warga. Hanya jalanan tanah berbatu yang mulai berlumpur karena gerimis semalam.
Ina mencatat dalam hati—ini bukan jalur yang biasa. Aldo tahu semua tempat yang familiar baginya, dan pria itu jelas sengaja memilih jalan yang tidak akan pernah bisa ia hafal.
Setelah berkendara cukup lama, motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan reyot yang terletak jauh dari keramaian. Gudang besar dengan dinding seng berkarat dan pintu besi yang tampak nyaris copot dari engselnya. Sekelilingnya hanya sawah, jalan setapak, dan gubuk-gubuk kosong yang tak berpenghuni.
Jantung Ina berdetak lebih cepat. Tangannya bergetar saat ia turun dari motor. Saat Aldo lengah mematikan mesin, ia mendorong tubuhnya sendiri sekuat tenaga untuk lari.
Kakinya menjejak tanah dengan panik. Nafasnya memburu. Sepatunya nyaris terlepas, tapi ia tidak peduli. Ia harus keluar dari sana. Ia berlari ke mana pun arah terbuka—mencari rumah, mencari jalan raya, mencari siapa pun.
Namun di kiri dan kanan hanya hamparan sawah. Tak ada jalan besar. Tak ada suara kendaraan. Bahkan burung pun enggan lewat. Hanya ada suara napasnya sendiri yang berat, dan...
Langkah kaki menyusul cepat dari belakang.
“Jangan pernah berpikir buat kabur dari aku, Sayang. Kamu nggak akan bisa,” suara itu menusuk belakang telinganya. Sesaat sebelum tangan Aldo mencengkeram lengannya dari belakang dan menariknya kasar.
Ina menjerit kecil. Nafasnya putus-putus. Tangannya gemetar saat Aldo kembali menggiringnya, memaksanya berjalan mundur menuju gudang yang tadi. Tubuhnya menolak, tapi Aldo terlalu kuat.
“Masuk!” bentaknya, mendorong tubuh Ina ke dalam gudang yang pintunya kini terbuka sebagian.
Di dalam, hawa panas menyergap. Udara pengap menusuk paru-paru. Tak ada ventilasi. Bau besi tua bercampur debu, ditambah aroma apek yang menyengat—tempat itu seperti sudah puluhan tahun tidak dihuni.
Ina melangkah mundur, mencoba mencari ruang bernapas.
“Ngapain bawa aku ke sini?” tanyanya. Suaranya nyaris tidak terdengar. Napasnya masih tersengal, dan suaranya pecah oleh ketakutan.
Aldo tidak menjawab. Ia hanya berdiri menatapnya, seperti seseorang yang sedang menilai barang rampasannya. Ina diam-diam menggerakkan tangannya ke kantong celana, mencoba mengambil ponsel.
Tapi Aldo melihatnya. Dalam satu gerakan cepat, ia merebut ponsel itu dari tangan Ina dan melemparnya ke sudut gudang hingga berbunyi keras.
“Udah aku bilang, jangan berpikir buat kabur. Sekarang kamu mau nelpon orang minta tolong? Iya?!” suaranya menggelegar. Tatapan matanya penuh amarah. Sorotnya menusuk seperti pisau tajam yang siap menembus kulit Ina kapan saja.
Ina menelan ludah. Tangannya kini gemetar nyata. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, berharap tubuhnya tidak menunjukkan ketakutan yang begitu besar.
“Apa yang kamu mau, Aldo? Kita udah selesai...” suaranya bergetar.
Aldo melangkah mendekat, menatapnya dalam jarak yang terlalu dekat.
“Aku nggak mau putus dari kamu. Aku mau kita tetap pacaran,” katanya tenang. Tapi ketenangan itu justru membuatnya terdengar lebih menyeramkan. “Kita masih bisa bahagia bersama, Sayang. Kita masih bisa wujudin impian kita buat nikah. Kamu masih ingat, kan? Rumah kecil, usaha bareng, dua anak? Kamu yang bilang dulu...”
Ina terdiam. Ia tahu semua yang dikatakan Aldo pernah mereka impikan bersama. Tapi waktu sudah berjalan terlalu jauh. Dan Aldo... bukan lagi orang yang dulu ia kenal.
Matanya memandangi pintu gudang yang kini tertutup rapat. Tidak ada sinyal. Tidak ada suara. Tidak ada siapa pun yang tahu di mana dirinya.
Ia sendirian.
Dan pria yang berdiri di depannya... bukan hanya seorang mantan. Tapi juga seseorang yang telah berubah menjadi ancaman.
“Aku nggak mau,” kata Ina lirih. Suaranya nyaris tak terdengar. Ia menggeleng lemah, nyaris tanpa tenaga. Setetes keringat menetes dari pelipisnya. Bukan hanya karena panas, tapi juga karena rasa takut yang terus membuncah.
Aldo menatapnya lekat. Wajahnya masih membawa senyum—tapi bukan senyum yang biasa Ina lihat. Ini bukan senyum kekasih yang hangat. Ini senyum mengancam, penuh obsesi.
“Makanya aku bawa kamu ke sini. Di sini, cuma ada kita berdua,” katanya sambil menyeringai. Sorot matanya berkilat gila. “Kamu nggak akan keluar dari gudang ini sampai kamu ikutin apa yang aku mau. Dan kita… bisa mati konyol di sini karena kepanasan dan dehidrasi. Sehidup semati.”
Kalimat itu menusuk seperti pecahan kaca. Dingin. Tajam. Gila.
Ina merinding. Seluruh tubuhnya menegang. Ia tidak pernah membayangkan jika Aldo, orang yang dulu mencintainya dengan begitu dalam, bisa berubah menjadi sosok semenyeramkan ini.
“Aku nggak mau,” ucapnya lagi, dengan suara yang lebih mantap meski tubuhnya masih gemetar. Tak peduli berapa lama ia terjebak di sini, ia tidak akan kembali pada Aldo. Bahkan jika itu artinya harus mati di tempat ini. Pria itu bukan lagi Aldo yang ia kenal—dan tidak ada jaminan bahwa ia akan berubah kembali jika Ina menyerah.
Aldo hanya terkekeh. Tawa pendek, dingin, tanpa emosi.
“Terserah, Sayang. Kamu punya banyak waktu buat mikir,” katanya. Perlahan ia melangkah menuju pintu besar tempat mereka masuk tadi. Ia menarik rantai besi yang tergantung di sisi pintu, lalu menggemboknya dengan suara keras yang menggema di dalam gudang.
Setelah itu, ia mengayun kunci gembok itu keluar—melemparkannya entah ke mana, seperti tak peduli.
Sekarang, mereka benar-benar terkurung.
Ruangan itu semakin terasa sesak. Panasnya menjadi nyata, bukan hanya metafora ketakutan. Di dalam gudang hanya ada tumpukan besi tua, debu di mana-mana, dan satu ventilasi kecil yang terlalu tinggi untuk dijangkau.
Aldo duduk di sebuah kursi kayu reot, menghadap Ina. Ia menyilangkan kaki santai, seolah mereka sedang bercengkerama di sebuah taman.
“Kita lihat sampai kapan kamu bisa bertahan,” ujarnya ringan, seolah tak baru saja mengancam nyawa mantan kekasihnya.
Ina berdiri terpaku. Matanya menyapu seluruh ruangan, mencoba mencari celah, jalan keluar, apapun. Tapi tidak ada. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali berdiri dan bernapas dalam udara panas dan pengap itu.
Peluh menetes di dahinya. Pakaiannya mulai basah karena keringat. Udara di gudang makin lama makin terasa seperti mendidih. Lantai terasa lengket, debu menempel di kulit, dan napas terasa berat.
Kepalanya mulai pening. Matanya kabur. Ia mencoba tetap tegak, menahan tubuhnya agar tidak tumbang. Tapi kekuatan itu tak bertahan lama.
Dalam hitungan menit, tubuhnya limbung. Ia menyentuh dinding untuk menopang diri, tapi tangannya meleset. Pandangannya menghitam. Kakinya melemas. Ia jatuh.
“Ini yang aku tunggu, Sayang...”
Itu suara terakhir yang ia dengar. Suara Aldo, pelan... pelan... lalu menghilang bersamaan dengan kesadarannya yang runtuh.