Bab 12. Cerita Aldo pada Orang Tua Ina

1420 Kata
Kepalanya berat. Seolah ada batu besar yang menekan dari dalam. Dunia terasa bergoyang perlahan saat ia membuka matanya. Samar-samar, cahaya hangat dari jendela masuk melalui celah gorden, menimpa wajahnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan. Langit-langit kayu yang familiar menyambutnya. Bau kamper. Tirai renda putih. Seprai bermotif bunga. Ia di rumah. Ina langsung terduduk. Jantungnya berdetak cepat. Ia memandang sekeliling, memastikan semuanya benar-benar nyata. Dinding kayu dengan pigura lama, lemari tua milik ibunya, karpet rajutan tangan—semua mengkonfirmasi satu hal: ini benar-benar rumahnya. "Kenapa aku bisa ada di rumah?" gumamnya, dahi mengernyit. Rumah ini jauh. Ia tidak mungkin pulang begitu saja. Apalagi mengingat terakhir yang ia ingat... tubuhnya terjatuh di lantai berdebu, di gudang tua yang bau karat. Di tempat itu, Aldo berdiri seperti hantu dari masa lalu, seperti iblis yang menyamar dalam tubuh pria yang dulu ia cintai. Kakinya lemas saat ia melangkah keluar kamar. Tapi rasa bingung jauh lebih kuat daripada pusing yang menyerangnya. Suara lembut terdengar dari arah ruang tamu. Percakapan ringan, diselingi tawa kecil. Suara yang sangat dikenal: orang tuanya. Dan satu lagi—suara laki-laki—tidak asing. Justru membuat dadanya berdegup lebih kencang. Ia mendekat. Langkahnya perlahan, seolah takut pada apa yang akan ia temukan. Dan di sana, di ruang tamu kecil itu, Aldo duduk dengan tenang di antara kedua orang tuanya. Ia tersenyum, sesekali menimpali obrolan. Seolah semuanya baik-baik saja. Seolah tidak ada yang pernah terjadi. "Ibu, Bapak...," suara Ina serak. Ia berdiri kaku di ambang pintu, menatap pria itu dengan mata tak percaya. Aldo. Pria yang telah membuatnya terkapar di gudang gelap itu. Aldo. Pria yang kini duduk tenang, seperti menantu idaman. "Setelah apa yang kamu lakuin ke aku, kamu masih berani muncul di hadapan orang tuaku, Do?" teriak batinnya. Tapi bibirnya hanya terkatup kaku. Ibunya langsung berdiri. "Kamu sudah bangun, Ina?" Isti menarik tangan Ina, mengisyaratkan agar duduk di sebelahnya. Wajahnya terlihat lega, bahkan sedikit bahagia. Ina duduk, tapi matanya tidak lepas dari Aldo. "Ngapain kamu di sini?" suaranya terdengar dingin, tajam. "Hus! Ina, kok ngomongnya kasar begitu?" tegur Isti pelan, tapi tegas. "Kamu ini sudah ditolongin malah marah-marah. Harusnya kamu berterima kasih sama Aldo. Dia yang bawa kamu ke sini. Susah payah lho dia bopong kamu sampai kamar." Ina memalingkan wajah pada ibunya. "Ditolongin? Ditolongin apa, Bu?" suaranya naik. Ia menggeleng tak percaya. "Dia yang bikin aku kayak gini!" Irlan, ayahnya, meletakkan koran yang tadi ia pegang. Tatapannya tajam menembus wajah putrinya. "Kamu ini kalau kesal karena Aldo nggak balas chat kamu, nggak usah marah-marah seperti ini. Keterlaluan. Membesar-besarkan masalah. Sampai ngamuk-ngamuk terus pingsan. Yang repot siapa? Aldo, kan." "Ina, masak perkara kecil itu dibesar-besarin, sih, Nak?" timpal Isti. "Sampai minta putus segala. Kamu itu sudah besar." Paru-paru Ina serasa tidak cukup untuk bernapas. Apa yang mereka katakan? "Maksud Ibu sama Bapak apa? Nggak balas chat?" Ia menatap mereka satu per satu. "Aku sama Aldo memang udah putus. Kami udah nggak ada hubungan lagi!" katanya, suara mulai gemetar. Aldo berdeham pelan. Dari tadi ia diam, seperti sedang menunggu momen yang tepat. Kini ia bersandar sedikit ke depan. "Sayang," katanya dengan nada lembut yang menusuk seperti belati. "Aku udah minta maaf karena telat balas chat kamu. Tapi kamu malah nuduh aku yang nggak-nggak. Kamu marah banget. Kondisi kamu hari ini lagi nggak bagus. Mending istirahat aja dulu, ya? Iya, kan, Bu?" Isti mengangguk cepat. "Iya, kamu istirahat dulu. Marah-marah sampai pingsan itu artinya kamu capek, nggak fit. Nanti keluar lagi waktu makan malam, ya. Sekalian sama Aldo." Aldo menahan senyum. Ia menoleh pada Ina, senyumnya manis—tapi ada kilatan sinis di matanya. "Duh, Bu, sore ini aku harus ketemu temen. Udah ada janji. Tadi juga sebenernya ada urusan, tapi karena Ina pingsan, aku bawa ke sini dulu. Takutnya kalau di kost nggak ada yang jaga," katanya ringan. "Lain kali aku makan malam di sini, Bu." Ina tak bisa bicara. Tatapan Aldo menancap padanya, menusuk pelan seperti ular yang baru saja menggigit tapi belum menyuntikkan semua bisa. Ekspresinya menang. Ia sudah lebih dulu bercerita pada Isti dan Irlan. Ia sudah mengatur semuanya. "Wah, ya sudah. Kalau begitu, lain kali aja, ya. Maaf, Ina jadi ngerepotin kamu. Sampai bawa ke rumah segala. Kan jauh," ucap Isti sungkan. "Nggak apa-apa, kok, Bu," kata Aldo sambil tertawa kecil. "Sama calon mantu sendiri nggak usah sungkan." Calon mantu. Ina menggigit bibir. Napasnya pendek-pendek. Ia tidak paham dunia seperti apa yang sedang ia pijak sekarang. Aldo yang di ruang tamu ini, adalah Aldo yang selama lima tahun ini ia kenal. Yang ramah, sopan, penuh perhatian. Bukan Aldo yang menyeringai kejam di gudang gelap. Bukan Aldo yang membuatnya merasa tidak berdaya. Bukan... monster yang sebenarnya. Setelah kepulangan Aldo, Ina masih diam di ruang tamu. Punggungnya menyandar lemas ke sofa abu-abu yang mulai kehilangan elastisitasnya. Tangannya gemetar. Pikiran Ina terlempar ke jam-jam sebelumnya—saat Aldo tiba-tiba muncul di depan kantor dengan raut wajah masam dan tegas, berbeda dari sebelumnya, tak lagi ia percaya. Ia bahkan tak sempat menolak ketika tangannya ditarik dan tubuhnya dibawa ke gudang kosong. Penuh tekanan. Penuh emosi. Dan berakhir dengan tubuhnya ambruk, kesadarannya hilang karena menolak untuk kembali bersama pria yang sudah mengkhianatinya. Segalanya terjadi begitu cepat. Terlalu cepat. Sampai-sampai napasnya pun tak sempat sinkron dengan realitas. Perselingkuhan itu... luka itu... masih berdarah. "Lho? Kok diem? Kamu istirahat sana. Kayaknya kamu itu terlalu stres kerja," ujar Isti sambil membereskan gelas yang tadi digunakan Aldo. "Kata Aldo tadi kamu memang lagi pegang proyek besar dari kantor, ya? Pasti kecapekan sampai emosi kamu nggak stabil." Ina memejamkan mata. Ia menarik napas cepat dan panjang, seolah mengumpulkan keberanian untuk melawan narasi yang terus dibangun Aldo. "Bu," panggilnya cepat. Satu kata itu seperti lemparan batu ke permukaan air yang tenang. "Aku sama Aldo udah putus, Bu. Dia cuma baik di depan Ibu sama Bapak aja. Dia udah jahat—" "Udah, Ina," potong suara berat itu dari arah dapur. Irlan, ayahnya, datang sambil membersihkan kacamata. "Aldo udah cerita semuanya sama Bapak dan Ibu. Kalian udah besar. Perkara komunikasi harusnya dibicarakan baik-baik. Tidak perlu dibuat drama seperti ini, Nak." Drama. Kata itu seperti peluru. Kecil, tapi tepat sasaran. "Bapak sungkan kalau kamu terus merepotkan Aldo. Dia sudah baik banget sama kita. Dia calon mantu idaman, jadi jangan pernah berpikiran pendek untuk memutus hubungan dengan dia. Mau dicari ke mana lagi pria seperti Aldo?" Seolah ada gumpalan es yang jatuh ke tenggorokannya, Ina hanya bisa menunduk. Isti ikut mengangguk. "Ya sudah, istirahat sana. Jangan kerja mulu." Kerja. Satu kata itu menyentaknya. Ada agenda penting hari ini. Tim kitchen. Souri Cafe. Menu baru. Dengan langkah terburu-buru, Ina kembali ke kamar. Tangan gemetar meraih ponsel yang tergeletak di meja rias. Puluhan notifikasi memenuhi layar. Grup marketing. Grup kitchen. Grup perusahaan. Semua mencarinya. Ia membuka satu per satu. Degup jantungnya beradu dengan rasa bersalah yang menyesakkan. Ajeng harus menggantikannya seharian. Padahal Ina tahu, tim marketing juga sudah overload pekerjaan minggu ini. "Guys, maaf banget. Tadi di perjalanan aku pingsan, ini aku baru aja bangun," tulisnya cepat di ruang obrolan tim marketing. Tak lama, balasan datang dari Rara. "Pingsan? Kok bisa, Mbak? Terus sekarang ada di mana?" "Aku ada di rumah. Maaf banget, kalian harus backup tugas aku hari ini. Besok aku bakal atur ulang flow kerja kita biar nggak berantakan," balas Ina. Ia juga cepat mengabari grup-grup lain. Tangannya mengetik cepat, berpacu dengan rasa cemas yang tak juga reda. Sampai akhirnya, satu pesan dari grup besar perusahaan muncul. Ketua divisi kitchen, mention namanya. Bertanya tentang progress. Ina langsung mengetik permintaan maaf. Lalu— Ponselnya berdering. Nama Revan muncul di layar. Jantung Ina mencelus. Napasnya tercekat. Dunia seperti menahan napas bersamanya. “Oke, tenang, Na. Kamu harus hadapi ini,” ucapnya pelan, menguatkan dirinya sendiri. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia menggeser ikon hijau. "Halo, Pak Revan?" "Temui saya besok di kantor," suara itu keluar tanpa ekspresi. Datar. Dingin. "Baik, Pak. Saya akan sampaikan pada tim marketing. Kami akan siapkan presentasinya," jawab Ina cepat, mencoba terdengar profesional. "Bukan. Hanya kamu saja." Seketika hening menyergap. "Ha-hanya saya? Ada apa, ya, Pak? Kalau terkait pekerjaan saya hari ini, saya benar-benar minta maaf. Saya juga sudah jelaskan alasan saya tidak bisa mengikuti jadwal hari ini..." "Tiba-tiba pingsan?" potong Revan. "Bukannya tadi saya lihat kamu naik motornya Aldo di dekat kantor?" Jantung Ina berhenti berdetak sejenak. "Saya sudah bilang. Jangan sampai masalah pribadi kamu malah mengganggu kerjaan. Temui saya saja di kantor. Pukul sembilan." Klik. Panggilan ditutup. Ina terdiam. Sunyi menelan semua suara. Lalu pelan-pelan, rasa panas menjalar ke matanya. Ia mengerang sambil mengubur wajah di kedua telapak tangannya. "Astaga... cobaan apa lagi ini?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN