Bab 13. Manipulasi Aldo di Kantor

1639 Kata
Pukul sembilan tepat. Ruangan besar dengan dinding kaca buram itu terasa sunyi, seolah udara pun menahan napas. Meja panjang dari kayu mahoni terlihat nyaris kosong kecuali beberapa berkas tertumpuk rapi, dan sebuah laptop dengan layar menyala di hadapan Revan. Di balik meja itu, sang CEO masih tenggelam dalam pekerjaan. Jemarinya mengetik cepat, tanpa menoleh sedikit pun. Ina berdiri di depan meja itu. Tegak, tapi hatinya bergetar hebat. Bau parfum Revan yang dingin dan bersih menyatu dengan aroma kopi yang tinggal setengah cangkir. Suara detik jam di dinding terdengar terlalu nyaring di telinga Ina. “Saya minta maaf atas kejadian kemarin, Pak,” suara Ina akhirnya terdengar, memecah ketegangan udara seperti belati menebas kabut. Revan mengangkat kepala perlahan. Matanya yang tajam langsung menancap ke arah Ina. Tidak ada emosi yang terlihat dari wajah pria itu. Datar. Dingin. Tegas. “Sebelum hal ini terjadi, saya sudah peringatkan kamu, Mbak Ina,” suaranya tenang, namun mengandung tekanan seperti dentuman palu di ruang sidang. “Dan kemarin, Ajeng harus turun untuk menggantikan kamu. Dia juga lembur karena harus menyelesaikan pekerjaannya.” Ia berhenti sejenak, menghela napas seperti menahan emosi yang mendidih di dalam d**a. “Dan hasilnya? Kurasi menu Souri belum selesai. Karena Ajeng nggak tahu planning untuk promosi menu. Kamu yang tahu. Kamu leader-nya. Kamu hanya menyia-nyiakan tenaga Ajeng, dan juga tim kitchen Souri Café.” Ucapan itu menusuk langsung ke d**a Ina. Dia tahu. Dia salah. Tapi mendengar semuanya dilafalkan langsung oleh Revan seperti menaburkan garam ke luka yang belum mengering. Biasanya, Revan tidak banyak bicara. Tapi kali ini—mungkin karena luka itu terlalu dalam bagi proyek Souri—pria itu tidak bisa hanya berdiam diri. Revan adalah tipe pemimpin yang disiplin, kaku, dan tidak menyukai kejutan. Dan kaburnya Ina kemarin, adalah kesalahan yang tidak bisa ditoleransi. “Kamu jadwalkan sendiri untuk mengulang develop menu,” lanjut Revan, menutup laptopnya pelan namun penuh makna. “Dan saya tidak mau jadwal lain terganggu.” Dunia Ina terasa runtuh seketika. Mengulang develop menu berarti mengatur ulang koordinasi, mendorong dapur bekerja dua kali lebih keras, dan yang lebih berat lagi—mungkin harus merelakan akhir pekan timnya untuk bekerja. Padahal saat ini, mereka semua sudah kelelahan. Kecuali dia memohon. Kecuali dia mengorbankan sesuatu. “Kamu paham, Mbak Ina?” suara Revan kembali terdengar, kali ini lebih berat. Ina tersentak. “Paham, Pak,” jawabnya cepat, walau suara itu nyaris tenggelam oleh gemuruh jantungnya sendiri. “Saya akan selesaikan masalah ini tanpa ganggu jadwal Souri yang sedang berjalan.” Revan mengangguk pelan. “Saya tidak ingin hal ini kembali berulang,” katanya singkat. “Silakan keluar.” Langkah Ina terasa berat ketika kembali ke kubikelnya. Dia bahkan tidak yakin masih bisa bernapas normal. Suara langkahnya di lantai kantor terdengar jelas di telinganya sendiri. Punggungnya seperti memikul beban yang tak kasat mata. Rasa malu, bersalah, dan lelah bercampur menjadi satu. Sebelum masuk ke ruangan Revan tadi, dia sudah sempat meminta maaf pada tim marketing. Tapi dia tidak menjelaskan detail. Hanya berkata bahwa pingsannya kemarin karena kelelahan. Dia tidak ingin membawa urusan pribadi—terlebih tentang Aldo—ke tengah-tengah profesionalitas tim. Saat ia baru duduk, Ririn langsung menyambut dengan bisikan pelan, “Mbak, gimana Pak Revan?” Ina mengangkat kedua bahunya, mencoba menyembunyikan luka di balik senyum kecut. “Ya, kayak biasa. Dingin. Kaku,” jawabnya. Ririn mengangguk pelan. Tapi matanya menunjukkan sesuatu yang lain—seperti menyimpan kabar yang belum disampaikan. “Mbak,” katanya lagi, kali ini lebih pelan. “Tadi waktu Mbak Ina di ruangan Pak Revan, ada yang cari Mbak.” Ina mengerutkan dahi. “Siapa?” “Bu Regina. Dia nunggu di kafe lobi, Mbak,” ucap Ririn cepat, matanya menatap sekitar seolah memastikan tidak ada yang menguping. “Tapi... Bu Regina bilang jangan sampai Pak Revan tahu.” Ina menghela napas panjang. Tubuhnya bersandar di sandaran kursi. Matanya menatap langit-langit kantor yang berwarna putih kusam. Tangannya bergerak pelan ke rambutnya, mengacaknya dengan frustasi. “Astaga… ada apa lagi ini?!” Mau tak mau, Ina harus menunda pekerjaannya. Langkahnya pelan menyusuri koridor menuju lobi. Tubuhnya terasa ringan tapi hati dan pikirannya berisik. Kafe kecil yang berada di sisi kanan lobi itu belum ramai, jam makan siang masih terlalu jauh. Hanya ada beberapa orang yang duduk di sana, kebanyakan sedang membuka laptop atau menggulir layar ponsel. Tapi langkah Ina mendadak terhenti ketika matanya menangkap sosok yang duduk di salah satu sudut. Regina. Dan tepat di hadapannya— “Aldo?!” pekik Ina, tertahan di tenggorokannya. Tubuhnya kaku di tempat. Jantungnya berdetak sangat cepat. Tubuhnya mundur setengah langkah secara refleks. Ia menatap pemandangan itu dengan ngeri. Aldo duduk santai, menyilangkan kaki, wajahnya tersenyum—senyum yang sudah terlalu sering Ina lihat selama lima tahun terakhir, tapi hari ini terasa sangat asing dan menyakitkan. “Apa yang dia lakukan di sini…?” gumam Ina dalam hati. “Dan… satu meja sama Bu Regina?” Kepalanya terasa berat. Dia tidak pernah tahu kalau Aldo mengenal Regina. Tidak pernah menduga ada benang merah antara mantan kekasihnya dan ibu dari CEO dingin di kantornya. Ia ingin kabur. Badannya memutar, siap melangkah pergi seolah belum pernah melihat apa-apa. Tapi suara lembut yang cukup nyaring menghentikannya. “Ina, di sini,” panggil Regina dari seberang ruangan. Ina spontan berhenti. Tubuhnya membeku. Napasnya tercekat. Dia harus menghadapi ini. Tidak ada tempat untuk sembunyi sekarang. Dengan senyum canggung, Ina melangkah pelan menuju meja tempat Regina dan Aldo duduk. Kakinya berat. Di setiap langkahnya, degup jantungnya seperti genderang perang yang makin kencang. “Selamat pagi, Bu,” ucapnya, mencoba sopan. “Tadi kata teman saya, Ibu mencari saya.” Regina menatapnya, masih dengan senyum tenang. Elegan seperti biasa, mengenakan blazer krem yang memeluk tubuh rampingnya, dipadu scarf sutra bermotif halus yang melingkar ringan di leher. Wajahnya hanya dipoles riasan tipis, tapi aura kalangan atas terpancar dari setiap detail kecil pada dirinya. “Iya, saya memang panggil kamu,” katanya pelan, anggun. “Tapi kata rekan kerja kamu, kamu lagi di ruangan Revan. Ada yang mau saya bicarakan.” Ia menunjuk kursi kosong di sebelah Aldo. “Duduk dulu, Ina.” Ina menatap kursi itu, ragu. Dia enggan duduk di sebelah Aldo. Tapi tatapan Regina terlalu kuat untuk ditolak. Dengan terpaksa, Ina menarik kursi dan duduk setengah menjauh, matanya menatap meja, bukan ke arah laki-laki di sebelahnya. “Ada apa, ya, Bu?” tanyanya. Regina tersenyum sebentar. “Sebelumnya, saya pernah bertanya tentang hubungan kamu dan Revan. Waktu itu, baik kamu maupun Revan menyangkal ada hubungan di luar pekerjaan. Tapi tadi saya mendengar dari beberapa karyawan, kalau kamu memang memiliki hubungan spesial dengan anak saya.” Tatapan Regina menajam. Tapi suaranya tetap tenang. “Jadi, saya datang sendiri. Untuk bertanya langsung padamu.” Ina membulatkan matanya. Ini seperti tamparan baru yang mendarat tanpa peringatan. Selama dua hari terakhir, pikirannya terlalu sibuk untuk mendengar gosip apapun. Tapi ternyata, di luar sana, rumor itu telah tumbuh liar. “Tidak ada, Bu,” jawab Ina cepat. “Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Pak Revan, di luar hubungan profesional.” Regina mengangguk pelan. Tidak terlihat kaget, seolah jawaban itu sudah ia duga. “Saya tahu,” katanya. “Kebetulan saya bertanya pada orang yang tepat. Saya mencari karyawan untuk memvalidasi gosip itu, dan saya bertemu Aldo di sini. Dia sudah menjelaskan bahwa hubungan kalian baik-baik saja setelah kasus yang sempat ramai itu. Jadi, tidak mungkin kamu punya hubungan dengan Revan ketika kamu masih jadi kekasih Aldo.” Perkataan itu jatuh seperti batu besar ke d**a Ina. Aldo lagi. Setelah memanipulasi orang tuanya, sekarang dia memanipulasi Bu Regina? “Maaf, Bu…” ucap Ina pelan. “Tapi hubungan saya dan Aldo juga tidak seperti apa yang Ibu katakan barusan.” “Iya, Bu.” Suara itu memotong ucapan Ina. Milik Aldo. Nada suaranya tenang, bahkan terdengar menyenangkan. “Setelah kesalahpahaman itu, kami justru jadi lebih romantis dari sebelumnya. Iya, kan, Sayang?” Aldo menoleh, menatap Ina dengan senyum manis yang pura-pura hangat. Regina mengangguk. “Seperti yang kamu bilang tadi, banyak gosip tidak perlu yang menyebar karena kesalahpahaman.” Aldo menambahkan, “Saya juga sudah meluruskan ke rekan-rekan kantor bahwa hubungan saya dan Ina baik-baik saja. Supaya gosip itu berhenti. Kebanyakan dari mereka sudah paham, kok.” Ina hanya diam. Tapi otaknya berpikir cepat, keras, dan kacau. “Berarti… sekarang satu kantor percaya aku dan Aldo masih bersama?” Regina mengangguk mantap. “Iya. Pantas saja kalian dijuluki couple goals kantor ini. Ternyata… tidak semudah itu memisahkan kalian.” Setelah berkata demikian, Regina bangkit dari tempat duduknya. “Saya sudah dapat jawaban dari yang saya cari. Jadi, saya pamit dulu,” katanya. Ina hanya bisa menatap langkah Regina yang menjauh dari kafe itu. Meninggalkan dia. Dan Aldo. Keduanya kini duduk bersebelahan. Sepi, namun terasa sesak. “Sayang…” panggil Aldo. Ina langsung berdiri. Refleks. Hadirnya Aldo di dekatnya seperti alarm bahaya yang membakar seluruh tubuhnya. “Aku pergi.” Namun sebelum ia sempat melangkah, tangan Aldo dengan cepat mencekal lengannya. “Sayang, kamu harus dengerin aku dulu. Memangnya kamu nggak bisa kerja dari kafe aja?” ucap Aldo, masih dengan senyum yang memuakkan. “Temenin aku dulu di sini.” Ina mencoba melepaskan cekalan itu. Tapi gagal. Karena dari arah pintu masuk kafe, muncul seorang pria dari tim legal yang mengenal Aldo. “Aduh, di ruang publik bisa-bisanya mesra-mesraan,” godanya sambil tertawa. “Pegang-pegangan tangan segala. Mau nyebrang lo?” Aldo terkekeh. “Duh, sana… sana… ganggu orang pacaran aja.” Rekan itu berlalu sambil tertawa. Dan Aldo… menoleh ke arah Ina dengan senyum yang berubah menjadi senyum pemenang. “Aku udah bilang,” bisiknya tepat di telinga Ina. “Aku nggak mau putus dari kamu. Dan kamu… nggak semudah itu untuk lepas dari aku.” Aldo terus tersenyum. “Gimana kalau kita cabut aja? Mau pergi ke pantai nggak?” tanyanya dengan santai. Tanpa aba-aba, tangan Aldo langsung menarik Ina keluar dari kafe tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN