Kamar itu hangat oleh aroma parfum vanilla yang masih melekat di bantal, tirai jendela berkibar pelan tertiup angin sore dari celah kaca yang terbuka sedikit. Cahaya jingga dari langit senja merambat perlahan ke permukaan seprai putih yang kusut. Dan di bawah selimut, tubuh Gita masih berbaring dengan hela napas yang belum teratur. Rambutnya yang panjang terurai di bantal, sebagian menempel di pipi berkeringat. Di sisi ranjang, Aldo duduk—telanjang d**a—memandanginya dalam diam.
Di matanya, tidak ada pemandangan yang lebih menyenangkan dari tubuh perempuan itu. Meski perasaan itu bukan cinta, tapi setidaknya cukup untuk membuatnya lupa, walau sebentar, akan rasa kesal karena selalu ditolak Ina.
Aldo menghela napas panjang, menunduk, menatap lantai kamar yang masih berserakan pakaian mereka. “Ck,” desisnya pelan. Hanya di tempat seperti ini, dengan Gita, ia bisa meredakan sedikit stres yang menumpuk. Gita memang bukan Ina. Tapi setidaknya... tubuhnya hangat.
“Pokoknya kita harus nikah, dan lo bisa kerja di kafe Papa,” suara Gita memecah keheningan. Ucapannya lugas, tak terbata.
Aldo melengos. Ia mengambil sebatang rokok dari saku celananya yang tergeletak di kursi, lalu menyulutnya pelan. “Terserah deh,” gumamnya malas. “Asalkan lo nggak pernah campuri urusan gue sama Ina.”
Gita mendengus. Ia bangkit, duduk di ranjang dengan selimut yang masih melilit tubuhnya. “Mas, lo ini kenapa sih? Lupain Mbak Ina. Dia juga udah nggak mau ketemu lagi sama lo!” Wajahnya memerah, matanya tajam. “Gue ini lagi bunting, Mas!” bentaknya dengan suara tinggi.
Aldo menoleh. Matanya menyipit. “Apa hubungan lo bunting sama Ina? Ina ya Ina. Gue nggak akan bisa lepasin dia semudah itu. Lima tahun gue pacaran sama dia. Sedangkan lo?” Ia menunjuk Gita dengan dagunya. “Lo bukan siapa-siapa gue.”
Tubuh Gita menegang. Seluruh uratnya seperti ditarik paksa oleh amarah yang meledak. “Gue calon istri lo!” teriaknya. “Hargai gue sebagai calon istri lo, Mas. Gue juga akan jadi ibu dari anak lo!”
Aldo tidak membalas. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan asapnya ke udara tanpa peduli. Gita menatapnya dengan mata berair, emosi bercampur marah, malu, dan kecewa.
Ia tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Ia yang awalnya hanya ingin bersenang-senang, kini terjerat terlalu dalam. Ia kira Aldo hanya permainan. Tapi kini permainannya menjebaknya.
“Gue nggak mau jadi satu-satunya orang yang dirugikan di sini,” suaranya parau, namun tegas. “Kalau masa depan gue hancur, masa depan lo juga harus hancur, Mas.” Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Aldo. “Sekeras apapun lo berusaha dapetin Mbak Ina, sekeras itu juga gue bakal bikin dia jauh dari lo.”
Aldo berdecak. “Lo bisa apa sih?” katanya dingin. “Kuliah aja belum lulus. Mau-mau aja dipakai sana-sini. Ini gue apes doang buntingin lo.”
Ucapan itu menusuk seperti pisau berkarat. Gita mengernyitkan dahi, wajahnya memucat.
“Lo gila, ya?” suaranya rendah tapi bergetar. “Gue cuma tidur sama lo, Mas. Itu pun lo yang maksa-maksa, kan?” katanya gemetar.
Aldo mengangkat bahu, masih acuh. “Lo mau bilang gue maksa, ya udah. Nggak ada gunanya juga kita debat sekarang.”
Ketika Gita hendak membuka mulutnya lagi, suara mesin mobil terdengar dari luar jendela. Seruan pelan keluar dari bibirnya, “Papa pulang! Siap-siap lo, Mas!”
Ia melompat turun dari ranjang, mengambil bajunya dengan cepat. Tangan gemetar saat mengenakan blus yang sudah kusut. Di sisi lain kamar, Aldo juga buru-buru menarik celana jeans-nya, lalu mencari kaos yang tergeletak di bawah kursi. Dia bahkan mematikan dan membuang rokoknya sembarangan.
Denting detik jam dinding di ruang tengah terdengar seperti bunyi palu penghakiman malam itu. Gita dan Aldo sudah duduk di sofa ruang tengah ketika suara mobil berhenti di depan pagar. Keduanya terlihat rapi. Wajah Gita masih tersisa sedikit keringat, tapi sudah dirias tipis. Rambutnya dikuncir rendah, menyembunyikan bagian belakang lehernya. Aldo pun telah memakai kemeja putih yang dikancing hingga atas, menyamarkan bekas luka cinta yang sempat tertinggal di kulit lehernya.
Mereka duduk dengan jarak yang terukur, seolah sedang berbincang santai. Seolah tidak ada yang terjadi. Seolah tubuh Gita tidak baru saja menjadi pelarian Aldo dari luka batinnya yang lain.
Pintu terbuka. Sepasang kaki melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.
“Papa… Mama,” sapa Gita sambil tersenyum. Suaranya manis. Sangat manis, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Seperti bukan dia yang sempat menangis karena dicaci pria di sampingnya.
Erika hanya mengangguk ringan, meletakkan clutch-nya di meja konsol. Sedangkan Edo menatap ke arah sofa dengan pandangan tajam yang langsung menancap ke Aldo. Pria paruh baya itu berdiri dengan postur tegas, mengenakan setelan abu-abu gelap, dasinya sudah dilonggarkan. Matanya tidak bisa menyembunyikan rasa tidak suka yang begitu kentara.
“Ngapain kamu malam-malam ada di sini?” tanyanya ketus. Suaranya rendah namun dingin, menggema di ruang keluarga itu seperti peringatan awal sebuah badai.
Aldo menegakkan tubuhnya, menyeka keringat di telapak tangannya ke celana hitamnya yang sudah agak kusut. “Eemm... saya tadi datang untuk membicarakan tentang... pernikahan, Pak,” katanya pelan.
Begitu kata itu keluar dari mulutnya, Aldo langsung memaki dirinya sendiri dalam hati. Kenapa, dari sekian banyak alasan, lo malah pilih itu?
Edo mengangkat sebelah alisnya. Napasnya dalam. Pria itu kemudian berjalan ke arah sofa seberang, duduk perlahan, menatap tajam ke arah keduanya.
“Bagus,” katanya akhirnya. “Sudah sejauh mana pembahasan kalian?”
Aldo tercekat. Tenggorokannya terasa kering. Ia menoleh ke arah Gita sebentar—perempuan itu hanya tersenyum samar, tapi tidak memberikan bantuan apa pun.
“Kami... lagi cari tanggal yang cocok, Pak,” katanya dengan senyum kaku. Tubuhnya seperti ditindih sesuatu yang berat. Ucapan itu terasa seperti menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam lubang yang lebih dalam.
“Minggu depan saja. Hari Sabtu,” jawab Edo cepat. Tegas. Tidak memberikan ruang untuk diskusi. “Kalian punya waktu beberapa hari untuk menentukan gaun dan menyebar undangan. Semuanya biar saya yang atur. Lebih cepat lebih baik. Saya tidak ingin Gita malah menjadi aib di keluarga ini.”
Gita menunduk. Ucapan ayahnya itu menghantam seperti batu besar yang jatuh ke d**a. Aib. Kata itu terngiang-ngiang di kepalanya. Dia tidak sedang duduk sebagai putri yang dibanggakan. Ia hanya seorang perempuan yang harus segera dinikahkan agar noda yang sudah telanjur menempel bisa disapu bersih.
Namun, yang lebih menyakitkan dari ucapan ayahnya adalah kenyataan bahwa hanya di pelukan Aldo, ia merasa benar-benar dihargai. Walau itu hanya rayuan kosong, pujian saat mereka berbaring bersama—itu satu-satunya bentuk afirmasi yang bisa ia percaya, meski palsu.
“Besok saya atur jadwal untuk ketemu WO,” lanjut Edo sambil bangkit berdiri. “Kalian tinggal diskusikan dengan mereka.”
Dan tanpa menunggu tanggapan, pria itu pergi, meninggalkan aura dingin dan tekanan yang mencekik.
Seketika keheningan jatuh menimpa ruang tengah itu.
Aldo hanya bisa menghela napas pendek, seperti ingin melarikan diri dari beban yang baru saja menimpa pundaknya. Tapi sebelum ia sempat bergerak, suara halus namun tajam terdengar dari sebelah.
“Hamil muda itu belum boleh untuk melakukan hubungan,” ucap Erika tiba-tiba.
Aldo dan Gita langsung mematung.
“Maksud Mama?” Gita pura-pura bingung. Senyumnya dibuat seramah mungkin, namun saraf di balik kulit wajahnya menegang. Ia bisa merasakan napasnya mulai memburu.
Erika berdecak pelan. Ia tidak menoleh pada mereka, hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan jenuh.
“Lain kali, kalau mau bohong, pastiin ungu di leher kamu itu dikasih foundation dulu,” ucapnya.
Seketika Gita refleks menutup lehernya dengan telapak tangan. Dingin merambat dari ujung jari ke d**a. “Ma... ini nggak kayak apa yang Mama pikir...” katanya.
Erika menggeleng pelan, namun tegas. Tatapannya tajam kini beralih langsung ke mata anaknya. “Mama udah nggak peduli lagi, Gita. Kamu yang merusak hidup kamu sendiri, kamu juga yang harus membereskannya. Mama sama Papa hanya bisa bantu biar ini nggak jadi aib bagi keluarga kita. Bisnis kita sedang berjaya. Papa nggak akan membiarkan kamu jadi celah bagi lawan bisnis papa.”
Gita terdiam. Tidak berani membalas. Napasnya gemetar.
“Mama... aku cuma—”
“Mama nggak mau dengar kebohongan kamu lainnya, Gita,” potong Erika. Suaranya datar. Tidak ada simpati. Tidak ada kelembutan yang dulu biasa Gita temukan di mata ibunya. “Rasanya Mama tidak pernah kurang dalam menyayangi dan mendidik kamu. Dan kamu juga sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan kamu sendiri. Sekarang, kamu harus tanggung konsekuensinya.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu-batu besar menghantam dasar lautan di dalam d**a Gita. Ia hanya bisa duduk diam, terpaku, tenggelam dalam suara yang menggema di kepalanya sendiri. Erika bangkit dan meninggalkan ruangan, menyisakan Aldo yang kini menunduk dalam ketidaknyamanan yang sama besarnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gita merasa benar-benar sendirian.
Ayahnya tak pernah berpihak padanya. Ibunya sudah berubah menjadi asing. Dan Aldo, pria yang kini berada di sampingnya, sejak awal memang tak pernah ada untuknya. Ia hanya ada saat senang, dan sekarang, Gita tenggelam dalam kesedihan yang tak dibagi.
Dalam sunyi yang menggantung di udara, hanya ada satu kalimat yang berkali-kali terngiang dalam benaknya: “Kamu harus tanggung konsekuensinya.”
“Dan untuk kamu,” kata Erika pada Aldo. “Jangan harap hidup kamu akan enak karena bergabung dalam keluarga ini. Gita akan menjadi tanggung jawab kamu seutuhnya. Kalau sampai kamu berniat untuk membuat Gita keguguran dan lari dari tanggung jawab ini, kamu akan rasakan sendiri akibatnya,” ancam Erika. Meski dia tidak lagi bersimpati dengan tingkah anaknya itu, dia masih memiliki naluri seorang ibu untuk melindungi anaknya.
“Saya akan memastikan sendiri hidup kamu hancur jika berani menghancurkan hidup anak saya,” katanya lagi. “Bahkan jika harus melibatkan mantan kekasih kamu itu,” ucapnya lagi.
Aldo tercekat. Dia kenal Ina?