Bab 15. Perhatian Kecil Revan yang Tidak Disadari

1620 Kata
Siang di hari Minggu. Langit mendung menggantung di atas jalanan Jakarta. Udara panas khas ibukota masih terasa menyesakkan meski matahari tak benar-benar menampakkan wajahnya. Ina duduk di belakang ojek online yang membawanya ke arah Kemang. Jemarinya menggenggam erat tas selempang cokelat miliknya, seolah tas itu bisa menahan emosi yang sudah menggelegak sejak pagi tadi. “Kalau bukan karena Aldo, mungkin hari ini aku bisa rebahan di rumah…” rutuk Ina dalam hati, matanya menatap kosong ke arah trotoar yang penuh debu. Ia menghela napas panjang. Minggu seharusnya jadi hari istirahat. Tapi tidak untuknya. Hari ini, dia harus mengganti jadwal develop menu Souri Café yang kacau karena kesalahan dan keterlambatannya sendiri. Dan semua ini... karena Aldo. Ia menggertakkan giginya pelan. Lelaki itu sudah bukan lagi pria yang dikenalnya dulu. Aldo yang dulu romantis, perhatian, bahkan terlalu posesif—kini telah berubah jadi sosok asing yang manipulatif. Masih terekam jelas dalam benaknya, bagaimana Aldo tiba-tiba memaksanya ikut ke pantai. Kalau bukan karena Ajeng yang muncul tiba-tiba dan membawanya ke lantai lima waktu itu, mungkin semuanya sudah jauh lebih buruk. Motor berhenti di depan Souri Café. Bangunan dua lantai dengan kaca besar di fasad depannya tampak setengah didekor. Spanduk promo yang sebelumnya menggantung sudah dicopot sebagian. Di dalam, bangku-bangku panjang ditumpuk di sisi dinding. Cermin aestetik ala coffee shop masih menempel di satu sisi ruangan, memantulkan sisa kekacauan di dalamnya. Kafe itu tampak kosong, hampa, seolah menunggu untuk dilahirkan ulang. Ina membuka pintu. Bunyi lonceng kecil di atas pintu menyambutnya. “Mas, makasih banget udah mau datang libur begini,” ucap Ina begitu melihat sosok Fahrul sedang membuka lemari pendingin di dapur terbuka. Fahrul menoleh. Pria berkulit sawo matang itu tersenyum ramah. “It’s okay, Mbak Ina. Di tim kitchen nggak ada hari libur. Lagian jam kerja kami beda sama tim kantor. Udah biasa masuk hari Minggu.” Nada suaranya ringan. Tapi Ina tetap merasa bersalah. “Tapi saya juga minta maaf karena cuma saya yang bisa datang,” lanjutnya. “Anak-anak lain udah punya agenda masing-masing. Karena Souri belum full operasional, mereka masih freelance. Belum ada kontrak.” Ina mengangguk, memaksa tersenyum. “Nggak masalah, Mas. Kita mulai aja, ya?” Fahrul mengeluarkan beberapa bahan dari dalam kulkas. Telur, s**u cair, whipping cream, dark chocolate batangan. Tangannya cekatan menyiapkan alat dan bahan. “Karena kemarin konsep satu negara dibatalin dan kita jadinya lebih general, saya sempat kepikiran, Mbak. Gimana kalau kita bikin Souri punya ciri khas dari rasa?” katanya sambil membuka bungkus cokelat. “Souri itu kan artinya senyum. Jadi saya pengen semua menunya bikin pengunjung senyum pas gigitan pertama.” Ina menatap Fahrul. Matanya mulai berbinar. Ada semangat yang muncul kembali dari kata-kata itu. “Menu yang bikin orang bilang, ‘Ih, ini enak banget!’” lanjut Fahrul sambil tertawa. “Jadi saya kurasi beberapa dessert yang cocok. Kita coba satu-satu, ya?” Ina tersenyum kecil. “Nggak salah Pak Revan nunjuk Mas Fahrul jadi manager sekaligus kapten tim kitchen,” katanya. Fahrul tertawa sambil mengaduk adonan. “Di sini kita nyebutnya pastry team, Mbak. Karena fokus kita di makanan penutup.” “Maaf, Mas. Saya nggak ngerti istilahnya,” ujar Ina canggung. “Tenang aja, nanti juga kebiasa.” Ina berdiri tak jauh dari dapur terbuka, memperhatikan Fahrul mencampur bahan. Gerakannya rapi, presisi. Seolah adonan itu bukan cuma pekerjaan, tapi bagian dari dirinya. “Mas Fahrul sebelumnya kerja di Vanilla by SeleraKita, ya?” tanya Ina, membuka obrolan. Fahrul yang sedang memasukkan adonan ke dalam loyang mengangguk. “Iya. Itu tempat pertama saya kerja di SeleraKita. Saya gabung pas Vanilla baru buka. Tiga tahun di sana, pindah ke cabang lain. Baru lima bulan di sana, saya dipindahin ke sini.” “Semua kafe yang dipegang Mas Fahrul sukses semua. Apalagi Vanilla. Katanya itu tempat favoritnya Pak Revan,” ucap Ina. Belum sempat Fahrul menanggapi, suara pintu berderit memecah konsentrasi mereka. Dari arah meja bar, Ina bisa melihat jelas siapa yang masuk ke dalam. “Lho? Pak Revan?” bisiknya, matanya membulat sempurna. “Mas Fahrul undang Pak Revan juga?” Fahrul menggeleng. “Nggak, Mbak. Tapi saya memang sempat bilang ke dia, develop food dilanjut hari ini.” Revan melangkah masuk dengan tenang. Gerakannya lambat, terukur, seperti biasa. Ia mengenakan kemeja biru muda yang digulung hingga siku, celana chino gelap, dan pantofel hitam bersih tanpa noda. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, namun kehadirannya mengubah atmosfer Souri Café menjadi lebih tegang dari sebelumnya. Ia duduk di kursi bar, menyilangkan kaki. “Pak Revan,” sapa Ina kaku, setengah membungkuk. Revan hanya mengangguk. “Saya ingat hari ini kalian develop menu baru. Jadi, saya ingin hadir dan melihat progresnya,” ujarnya singkat, tanpa nada basa-basi. Ina mengangguk cepat. “Baik, Pak. Terima kasih sudah datang,” jawabnya, berusaha terdengar tenang. Setelah itu, tidak ada lagi yang berbicara. Fahrul kembali sibuk di dapur terbuka, menyusun bahan dan mengaduk adonan. Tapi Ina bisa melihat, gerakannya tidak seluwes tadi. Tangannya terlihat sedikit gemetar saat menuang adonan ke dalam loyang. Aura kehadiran Revan memang selalu seperti itu—diam, tapi menekan. Beberapa jam berlalu, dan tiga piring makanan penutup kini sudah tersaji dengan cantik di atas meja panjang di tengah café. “Ini Baklava, dessert khas Turki,” ujar Fahrul sambil menunjuk potongan pastry berlapis dengan isian kacang dan sirup madu. “Picarones dari Peru,” lanjutnya, kali ini menunjuk donat berbentuk cincin kecil dengan sirup di atasnya. “Dan terakhir, Deep-Fried Candy Bars,” ucapnya sambil menatap permen cokelat yang sudah dibalur adonan dan digoreng renyah. “Kebetulan tiga menu ini belum ada di kafe lain milik SeleraKita. Dan saya juga baru pertama kali mencoba buatnya hari ini.” Ia tersenyum sopan. “Silakan dicoba, Pak, Mbak.” Revan mengambil garpu dan langsung mencicipi Picarones. Ina, yang dari tadi mencium aroma madu dan mentega dari Baklava, langsung memasukkan satu potong utuh ke dalam mulutnya. Namun, belum sempat ia menelan... “Ukh… uhukkk…” Suara tersedak itu memecah keheningan ruangan. Ina terbatuk keras. Tangannya menepuk-nepuk d**a, wajahnya memerah. Revan langsung berdiri, tanpa pikir panjang menarik Ina untuk berdiri. Tangannya cekatan melingkar ke perut bagian atas Ina dan menekan dengan kuat dan terarah. Gerakan cepat itu membuahkan hasil. Potongan Baklava yang tersangkut di tenggorokan Ina akhirnya keluar. Napasnya memburu. “Mbak Ina nggak apa-apa?” tanya Fahrul panik, bergegas mengambil segelas air dan menyodorkannya. Ina menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Ia meneguk airnya habis dalam sekali minum. “Makasih, Mas… makasih, Pak Revan…” katanya sambil memegangi tenggorokannya yang masih terasa perih. Revan kembali ke kursinya, menatapnya sejenak. “Lain kali hati-hati,” ucapnya singkat. Sederhana, tapi berisi. Jika dia terlambat beberapa detik saja, segalanya mungkin bisa jauh lebih buruk. Ina masih memegangi lehernya. Tenggorokannya berdenyut sakit. Karena terlalu bersemangat, ia memang langsung menyantap potongan besar tanpa berpikir. Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali ke meja. “Bagaimana, Mbak Ina, Pak Revan?” tanya Fahrul hati-hati. Meski sudah beberapa kali bekerja bersama, Revan tetap membuatnya gugup. Pria itu terlalu tenang dan terlalu presisi dalam menilai sesuatu. Revan meletakkan garpunya. “Saya suka Baklavanya. Mungkin potongan per porsinya bisa dikecilkan, supaya bisa sekali gigit,” katanya menoleh pada Ina—jelas karena kejadian barusan. “Menu lain juga enak. Tapi saya ingin Souri menjual dessert yang lebih visual. Kue kekinian yang lucu. Akan sulit menjual menu asing kalau belum dikenal publik,” tambahnya, matanya tajam namun nadanya tetap tenang. Ina mengangguk. “Kebanyakan café sekarang jual pastry ala Prancis atau Italia. Atau mousse. Kita bisa tambahkan itu juga. Tapi menu hidden gem seperti ini tetap harus dijual. Kita evaluasi penjualannya setelah sebulan uji coba,” usulnya. Revan mengangguk tipis. Diskusi berlanjut. Fahrul menunjukkan beberapa opsi menu lainnya. Mereka mencicipi beberapa kreasi baru, hingga akhirnya... “Mbak Ina… muka Mbak merah, deh. Bentol gitu,” ujar Fahrul tiba-tiba. “Mbak punya alergi, ya?” Ina mengernyit. Dia baru sadar, wajahnya terasa panas sejak beberapa menit tadi. Tangannya otomatis mengusap pipinya. “Duh… saya kayaknya nggak pernah alergi, deh. Nggak tahu juga ini kenapa,” katanya pelan, sambil mulai menggaruk pipinya yang gatal. Namun, tangan itu langsung ditahan. “Jangan digaruk. Tidak ada gunanya,” suara Revan terdengar datar tapi mengandung perintah yang tak bisa dibantah. Ia langsung berdiri. “Kita ke rumah sakit sekarang,” ucapnya sambil menarik tangan Ina. Ina kaget. “Pak?” tanyanya pelan, menoleh ke arah Fahrul dengan bingung. Fahrul mengangguk. “Biar saya beresin semuanya, Mbak. Takutnya alergi serius.” Ina akhirnya mengikuti Revan yang menariknya menuju parkiran. Tapi tubuhnya terasa kaku. Sentuhan itu—terlalu aneh baginya. “Pak… sebentar,” ucapnya. Revan berhenti dan menoleh. “Apa?” Ina tak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, menatap tangan mereka yang masih bertaut. Revan pun sadar. Ia segera melepaskan genggamannya. “Cepat masuk,” katanya, membuka pintu mobil sisi depan. Ina terpaku. Itu kursi depan. Di sebelah pengemudi. “Pak, saya—” “Apa?” Ina ragu. Tapi pintu sudah terbuka. Dan tatapan Revan tidak memberi ruang untuk menolak. “Masuk,” ucap Revan lagi. Lebih pelan, tapi menekan. Akhirnya, Ina masuk ke dalam mobil itu. Duduk diam, punggungnya menempel ke jok dengan kaku. “Semoga gosip itu nggak bener…” batinnya. Ina yang sudah tahu tentang gosip kursi sakral itu tentu menjadi takut untuk duduk di sana, apalagi jika ada karyawan SeleraKita yang melihatnya. Dia tidak ingin kembali digosipkan memiliki hubungan romansa dengan CEOnya itu. Terlebih jika hal ini kembali didengar oleh Regina, bisa-bisa Ina harus kembali berhadapan dengan wanita paruh baya yang penuh dengan tatapan intimidasi itu. Namun ketegangannya tak hilang, bahkan saat Revan mulai menghidupkan mesin mobil. “Tidak semua orang di Jakarta ini karyawan SeleraKita,” ucap Revan tiba-tiba, tanpa menoleh. Ina meliriknya. “Kok dia tahu apa yang aku pikirin? Pak Revan… nggak mungkin cenayang, kan…?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN