Revan membawa Ina ke klinik yang tidak jauh dari Souri Café. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara. Revan hanya menatap jalanan dengan fokus, sementara Ina sesekali menyentuh pipinya yang mulai memerah dan terasa perih.
Begitu sampai, seorang perawat langsung mengarahkan mereka ke ruang pemeriksaan. Dokter pria berjas putih itu mempersilakan Ina duduk, menatap wajahnya yang penuh ruam dan bibirnya yang membengkak.
“Sepertinya ini alergi makanan. Muncul ruam di wajah dan bibir Anda juga mulai sedikit bengkak,” ujar dokter itu. “Apa tenggorokan dan mulut juga terasa gatal?”
Ina mengangguk pelan. “Iya, Dok… awalnya ruam duluan. Pas di jalan, saya baru ngerasa bibir mulai bengkak dan tenggorokan gatal,” jelasnya, suaranya pelan karena rasa tidak nyaman di tenggorokannya.
Dokter itu mencatat cepat. “Baik, kalau begitu saya resepkan antihistamin dan salep topikal untuk ruamnya. Nanti kalau ada sesak atau gejala lain, segera ke IGD, ya,” katanya. Ia berhenti sebentar, lalu menatap Ina. “Sebelumnya Anda pernah alergi makanan tertentu?”
Ina menggeleng. “Belum pernah. Ini pertama kalinya.”
“Mungkin karena ada bahan makanan yang baru Anda coba. Atau—ada bahan yang kadaluarsa,” katanya santai, tapi cukup membuat Ina berpikir keras.
Ina menunduk. Dia memang baru pertama kali mencoba Baklava, dan kemungkinan besar salah satu bahan di dalamnya tidak cocok untuk tubuhnya. Atau bisa saja, ada kesalahan kecil yang luput saat persiapan di dapur.
Setelah mendapatkan obat dan penjelasan singkat, Ina keluar dari ruang periksa bersama Revan. Tapi langkahnya terhenti seketika saat melihat dua orang berdiri di dekat parkiran.
Gita dan Aldo.
Dunia Ina seolah berhenti.
Revan melirik ke arah gadis di sebelahnya, lalu kembali menatap Aldo yang kini berjalan cepat ke arah mereka.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Aldo panik. Matanya membulat sempurna melihat wajah Ina yang kemerahan dengan bibir membengkak. “Apa yang terjadi sama kamu?!”
Tanpa izin, Aldo hendak menyentuh wajah Ina, tapi perempuan itu dengan cepat menepis tangannya.
“Apa-apaan sih?!” ucap Aldo sedikit keras. “Sayang! Kamu kenapa sih? Aku ini khawatir, tahu?!”
Ina hanya menatapnya dingin. Tak ada satu pun kata keluar dari bibirnya. Dia kemudian melirik ke belakang Aldo, dan tatapannya langsung bertemu dengan Gita—yang hanya berdiri diam, menatap Ina dengan pandangan tidak suka.
Situasinya jadi canggung. Panas. Tidak nyaman.
“Saya akan bawa Mbak Ina pulang,” suara Revan memecah ketegangan. Datar, tapi mengandung kuasa.
Aldo sontak tersentak. “Lho? Pak Revan?” suaranya sedikit goyah.
Revan mengangguk tipis. “Saya yang membawa Mbak Ina ke sini. Dan sekarang saya akan mengantarnya pulang.”
Tanpa menunggu reaksi, Revan meraih tangan Ina dan menariknya menuju mobilnya.
Langkah mereka cepat, seperti ingin segera menjauh dari tempat itu. Aldo hanya bisa memandangi punggung mereka. Wajahnya keruh, dan Gita berdiri kaku di sampingnya. Mobil Revan perlahan menjauh dari parkiran.
“Jadi, bener apa yang dibilang sama anak kantor,” ucap Gita pelan namun menusuk.
Aldo menoleh. “Apa maksud lo?”
Gita mendengus pelan, lalu berkata tanpa menatapnya. “Kursi sakral itu…”
Aldo mendadak teringat. Gosip yang beredar di kantor. Kursi depan di mobil Revan hanya diduduki oleh perempuan yang sangat dekat dengan CEO itu. Tidak pernah sembarang karyawan.
“Halah,” katanya mencoba menyangkal. “Mana mungkin Revan sama Ina punya hubungan. Mereka cuma rekan kerja, Git.”
Gita tertawa kecil, getir. “Kalau lo aja bisa selingkuh sama gue, apa jaminannya Mbak Ina nggak selingkuh juga sama Pak Revan, Mas?”
Aldo menatap Gita. Tapi sebelum ia sempat menjawab, Gita sudah lebih dulu membalikkan tubuh.
“Udahlah. Berhenti ngomongin Mbak Ina. Kita ke sini mau cek kesehatan, kan?”
Langkahnya meninggalkan Aldo yang masih berdiri diam di tempatnya.
Tapi dalam hati Aldo, kekacauan mulai menyusup pelan-pelan. Gita benar. Kalau dia bisa mengkhianati Ina… apa jaminannya Ina tidak bisa melakukan hal yang sama padanya? Tapi lebih dari itu… bayangan Revan menggenggam tangan Ina tadi masih terus berputar di kepalanya—dan entah kenapa, itu menyakitkan.
Sepanjang perjalanan, tubuh Ina masih tegang.
Ia duduk di kursi penumpang mobil Revan, tapi pikirannya jauh melayang. Pandangannya kosong menatap keluar jendela. Sinar matahari menari di kaca, tapi tak satu pun bisa mengalihkan pikirannya dari luka lama yang baru saja menganga lagi.
Bayangan itu kembali. Wajah Aldo dan Gita di pantry kantor. Dan tatapan mereka—entah bersalah, entah tidak peduli—yang menancap di kepalanya hingga kini. Meski mereka melakukan pengakuan di sana, Ina tidak melihat raut penyesalan pada keduanya. Aldo terkesan menutupinya, sedangkan Gita seolah memang tidak memiliki rasa bersalah karena sudah menjadi selingkuhan kekasihnya.
Perlahan, punggung Ina bersandar lemah. Energinya seolah disedot dari setiap inci tubuhnya. Yang tersisa hanyalah hembusan napas pelan, seperti sisa dari sebuah ledakan yang tidak terlihat.
Revan tak berkata apa-apa. Ia tahu. Melihat wajah Ina yang sejak tadi membisu dan muram, Revan paham bahwa gadis itu sedang berperang dengan dirinya sendiri. Jadi, hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah memberi ruang.
Alih-alih membawanya kembali ke Souri, Revan membelokkan arah. Vanilla by SeleraKita. Tempat yang baginya netral, aman, dan cukup tenang. Ia tidak ingin menanyakan alamat kos Ina. Bagi Revan, privasi adalah hal yang mutlak.
Setibanya di sana, Revan turun lebih dulu. Ina mengikuti dari belakang dengan langkah pelan. Revan memilih tempat paling ujung—sofa besar empuk yang biasa digunakan tamu untuk istirahat. Ia melirik seorang pelayan.
“Tolong teh hangatnya,” ucapnya singkat.
Ina menarik napas dalam. Ini seperti deja vu. Terakhir kali ia duduk di sini juga bersama Revan. Dan pria itu, juga memesan teh hangat.
“Pak, saya…” ucapnya pelan, tapi suaranya menggantung.
Revan menoleh. Tatapannya tajam tapi lembut. “Tenangkan diri kamu. Istirahat di sini sebentar. Lalu pulang. Saya masih ada hal lain yang harus diurus,” katanya.
Setelah seorang pelayan meletakkan secangkir teh di meja, Revan langsung berdiri dan pergi. Tanpa sepatah kata lagi. Tanpa basa-basi. Tapi cukup untuk menunjukkan kepedulian.
“Mbak, mau camilan atau kue lain?” tanya pelayan itu ramah.
Ina menoleh. Itu pelayan yang sama waktu itu. Gadis berambut bondol dengan celemek cokelat muda.
“Nggak apa-apa, Mbak. Saya teh aja,” katanya dengan senyum tipis.
Pelayan itu memperhatikan wajah Ina dengan saksama. “Lho, Mbak sakit, ya? Mau istirahat di dalam aja?”
Ina menggeleng pelan. Gatal dan nyeri akibat alergi bahkan sudah tak terasa. Yang ada hanya sisa luka di hati yang kembali terbuka setelah pertemuan tadi.
Pelayan itu hanya mengangguk. “Kalau butuh apa-apa, panggil saya aja, ya.”
Setelah itu, Ina hanya diam. Matanya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Vanilla tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup. Obrolan pelan, denting sendok, dan aroma manis pastry membuat suasana tenang.
Ia bersyukur Revan membawanya ke sini. Setidaknya, ia tidak tenggelam terlalu lama dalam pikirannya sendiri. Ia merasa sedikit lebih waras. Dan dalam hati, ia merasa berutang banyak pada CEO-nya itu. Dan setelah cukup tenang, Ina memesan ojek online dan pulang ke kosnya. Namun, langkahnya terhenti di koridor lantai dua, di depan pintu kamarnya.
Aldo berdiri di sana.
Tangannya memegang kantong kresek, dan wajahnya—tersenyum lebar.
“Sayang, aku bawain obat buat kamu. Ayo kita masuk,” katanya ringan, seolah tidak ada apa-apa.
Detik itu juga, alarm di kepala Ina menyala. Ia berbalik hendak lari, tapi Aldo lebih cepat. Tangannya menarik lengan Ina, menyeretnya ke depan pintu.
“Buka pintunya, Sayang. Aku nggak akan minta dua kali. Siniin kuncinya.”
Ina terpaku. Tangannya gemetar. Ia panik.
“Sayang, kamu lagi sakit. Jangan ngelawan. Aku bawa bubur, obat. Kamu tadi perginya buru-buru banget sama Pak Revan. Aku juga mau ngerawat kamu,” kata Aldo yang semakin menekan.
“Lepas,” ucap Ina pelan tapi tegas.
“Sayang, kok kayak orang takut gitu sih? Memangnya aku ngapain? Niatku baik. Biasanya kalau kamu sakit, kamu manja. Nggak mau jauh dari aku. Iya, kan?” suara Aldo lembut, tapi ada nada mengancam di dalamnya.
Ina memandang pria itu. Kini, Aldo terlihat menakutkan. Seperti orang lain. Seperti psikopat yang tersembunyi di balik wajah mantan kekasihnya.
“Lepas,” ulang Ina dengan suara lebih keras.
Aldo akhirnya melepaskan genggamannya.
“Buka pintunya, Ina.”
Tubuh Ina gemetar hebat. Tapi ia tahu, tidak punya pilihan. Perlahan, tangannya merogoh tas. Dengan jari-jari gemetar, ia membuka pintu. Dan secepat kilat, Aldo mendorong tubuh Ina masuk ke dalam dan menutup pintu di belakang mereka.
“Aldo!” pekik Ina kaget, ketika pria itu kembali menyentuh tangannya.
“Sayang…” ucap Aldo dengan nada manja yang membuat kulit Ina merinding. “Gimana rasanya… selingkuh sama CEO dingin di kantor kita?”
Ina membelalak. Hatinya mencelos. Tapi bukan karena pertanyaannya. Karena sorot mata Aldo yang kini tidak bisa lagi disamakan dengan pria yang pernah ia cintai.