“Selingkuh?” tanya Ina dengan suara yang bergetar.
Aldo berdiri di hadapannya, sangat dekat, terlalu dekat. Senyum yang dulu terlihat manis, kini berubah menjadi seringai yang menyeramkan.
“Jangan bilang gosip yang beredar di kantor itu salah, Sayang,” ucap Aldo sambil menyipitkan mata. “Semuanya udah tahu kamu duduk di kursi sakral. Mereka percaya kamu udah punya hubungan sama Pak Revan.”
Jantung Ina berdetak sangat cepat. Tapi bukan karena gugup. Lebih karena ketakutan. Ia tak percaya pria di hadapannya ini—yang dulu ia cintai selama lima tahun—bisa berbicara seperti itu dengan penuh penekanan.
“Aku nggak ngerti kamu ngomong apa,” ucap Ina akhirnya. Suaranya pelan tapi tegas. Ia mencoba tetap tenang. Ia sadar, saat ini mereka hanya berdua di kamar kost miliknya.
Aldo menggeleng, napasnya kasar. “Kursi sakral itu… jangan bilang kamu juga nggak tahu, Ina. Jangan pura-pura bodoh!”
Langkah kaki Aldo mulai mendekat. Tekanan emosional dari sorot matanya cukup membuat Ina mundur selangkah.
Sial.
Ina teringat. Kursi sakral—kursi penumpang depan di mobil Revan—memang sudah lama jadi bahan gosip di kantor. Dan kini, untuk kedua kalinya, ia duduki kursi itu. Apakah ada yang melihat? Apakah gosip itu sudah menyebar? Bukankah Aldo juga sudah menyebar kabar bahwa hubungan mereka baik-baik saja?
“Aku nggak selingkuh,” ucap Ina lagi, kali ini lebih keras. Ia mendorong Aldo sekuat tenaga, berlari keluar kamar dengan napas terengah.
Terik sinar matahari siang menusuk kulitnya. Ina berlari di sepanjang jalan, tanpa tujuan. Wajahnya penuh ruam merah. Bibirnya membengkak. Matanya perih. Tubuhnya terasa panas dan dingin sekaligus. Ia lupa minum obat yang diberikan oleh dokter tadi. Ponsel di genggamannya bergetar, tapi ia tak peduli. Aldo terus-terusan mencoba untuk menghubunginya.
Ia berhenti di pinggir jalan, terhuyung dan berpegangan pada tiang listrik.
“Ughh…” keluhnya. Bibirnya kini terasa berat. Ia membuka aplikasi kamera di ponselnya. Dan gadis itu langsung terkejut. Wajahnya merah, penuh ruam, matanya mulai bengkak. Bibirnya bahkan tampak sedikit mengelupas.
“Aku harus kembali... ambil obatku,” gumamnya.
Ia kembali berjalan pelan ke arah kost. Setiap langkah terasa berat. Napasnya tidak teratur. Dan saat akhirnya sampai di depan kamar, langkahnya kembali terhenti.
Pintunya terbuka.
Dan Aldo masih ada di sana—duduk di tepi kasur, tersenyum.
“Aku tahu kamu bakal balik, Sayang,” ucapnya ringan. “Tuh lihat, wajah kamu makin parah. Kamu butuh aku.”
Ina berdiri di ambang pintu. Tangannya gemetar. “Ngapain kamu masih di sini?” tanyanya dengan nada yang mencoba tegas.
Aldo bangkit, mendekatinya. “Aku bawa bubur, obat. Aku nungguin kamu supaya aku bisa nyuapin kamu. Kamu itu lagi sakit, lho.”
Nada lembut yang dibuat-buat itu membuat Ina mual.
“Pergi,” ucap Ina, matanya mulai berkaca-kaca. “Atau aku teriak. Biar orang-orang datang ke sini.”
Aldo diam. Mungkin tidak menyangka Ina bisa mengancamnya seperti itu. Selama lima tahun pacaran, ini pertama kalinya Ina bersikap sekeras itu.
“Sayang…” bisiknya. “Ngapain kayak gitu? Aku cuma khawatir. Aku pengen nemenin kamu. Aku ini pacar kamu, lho.”
“Bukan. Kita udah putus,” jawab Ina dengan gemetar.
Wajah Aldo menegang. Tapi dia tersenyum lagi, kali ini lebih menyeramkan.
“Sayang... kamu lagi nggak waras. Aku tahu kamu cuma kecapekan. Nanti juga kamu sadar kalau cuma aku yang sayang sama kamu.”
Lalu dengan gerak cepat, Aldo kembali meraih tangan Ina dan menariknya masuk. Ina berusaha menolak, tapi tubuhnya yang lelah kalah tenaga.
Pintu tertutup.
Aldo menahan tubuhnya di balik pintu, menghalangi Ina untuk kabur. Nafasnya kini lebih berat. Tatapannya liar.
“Pertanyaan aku tadi belum dijawab, lho. Gimana rasanya... selingkuh sama Pak Revan?” bisiknya. “Udah ngapain aja kalian? Aku juga mau, dong.”
Mata Ina membulat. “Aldo, kamu sakit!” pekiknya. Ia mendorong tubuh pria itu.
Aldo tetap tak bergeming. Nafasnya kian berat.
“LEPAS!” jerit Ina.
Suasana kamar kost sempit itu berubah drastis. Tidak lagi seperti ruang kecil untuk beristirahat. Kini, ruangan itu dipenuhi ketegangan, ketakutan, dan tekanan yang menggantung di udara seperti kabut pekat. Tubuh Ina bergetar hebat. Jantungnya berdetak tidak karuan. Napasnya pendek-pendek.
Ia berdiri di dekat tembok, sementara Aldo masih berdiri menahan pintu. Matanya masih liar, penuh obsesi yang menakutkan.
Lalu tiba-tiba—
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu memecah kesunyian yang mencekam itu. “Mbak? Mbak nggak apa-apa? Ada apa di dalam?” tanya seseorang dari luar kamar. Suara perempuan, terdengar khawatir.
Ina dan Aldo saling tatap. Beberapa detik terasa seperti jam. Ina tahu, ini satu-satunya kesempatan.
“Mbak! Tolong, Mbak!” pekik Ina dari dalam, sekuat tenaga.
Aldo melotot. Tatapan matanya berubah panik. Tapi ia tak punya pilihan lain. Dengan cepat, dia membuka pintu kamar kost itu.
Di depan pintu, berdiri seorang perempuan—salah satu penghuni kost lainnya. Matanya menyapu keadaan kamar, lalu kembali menatap Aldo dengan curiga.
“Ada apa, ya, Mas?” tanya perempuan itu, nadanya tajam. “Kalian ngapain di dalam? Kenapa Mbaknya minta tolong? Mas juga ngapain di sini? Ini kost perempuan, lho,” sambungnya.
Wajah wanita itu terlihat sangat tegas. Dari kamarnya, terdengar sangat jelas seseorang berteriak, membuatnya terganggu. Terlebih lagi ternyata di kamar itu ada pria yang seharusnya tidak ada. Itu adalah kost wanita. Meski di kost itu tidak begitu ketat, tetap saja tidak boleh mengganggu ketenangan orang lain.
Aldo menghela napas dan tersenyum santai—senyum yang tidak cocok dengan situasi yang baru saja terjadi. “Biasalah, Mbak. Lagi berantem doang. Pacar saya ini lagi PMS. Sensitif banget. Makanya berantem dikit jadi lebay banget sampai teriak-teriak,” ucapnya enteng.
“Tolong jangan ganggu ketenangan di sini. Kalau mau berantem di luar aja,” ucap wanita itu tegas. “Saya butuh istirahat,” katanya.
“Iya, maaf, Mbak,” kata Aldo sambil nyegir.
Ina tidak bodoh. Dia langsung keluar dari kamar itu, berjalan melewati Aldo dan perempuan itu.
“Mbak, dia maksa masuk ke kamar saya. Saya mau lapor dulu ke penjaga kostan,” katanya cepat. Suaranya gemetar, tapi tegas. Ia ingin hal ini selesai. Ia ingin perlindungan.
Namun tangan Aldo kembali menariknya.
“Sayang…” ucapnya dengan nada memelas. “Jangan lebay deh. Kita cuma berantem, kok.”
Ina menatapnya tidak percaya. Matanya membulat—bukan karena terkejut, tapi karena muak.
Aldo benar-benar pandai berakting. Bahkan tetangga kostnya terlihat bingung, tak yakin harus membela siapa. Di satu sisi, Aldo terlalu tenang. Di sisi lain, Ina terlihat sangat panik. Perbandingan yang membuat keraguan muncul di benak orang luar.
“Ya udah,” ucap Aldo dengan nada lembut tapi penuh kontrol, “kalau gitu kita selesain di luar aja, yuk. Kita ngopi dulu biar kamu tenang.”
Dia menutup pintu kamar Ina begitu saja, lalu menggenggam tangan gadis itu dan menyeretnya keluar. Tidak peduli dengan wanita yang tadi mengetuk pintu. Dia ingin menyeret Ina jauh dari tempat itu. Meninggalkannya tanpa saksi. Membuat semuanya lebih... mudah.
Baru saja melewati pagar kostan, Ina menghentikan langkahnya.
“Lepas!” bentaknya keras. Dia menyentak tangannya sekuat mungkin agar terlepas dari genggaman Aldo.
Udara siang begitu terik. Matahari menggantung tepat di atas kepala. Tapi bukan hanya panas matahari yang menyiksa, melainkan juga rasa nyeri di wajah Ina. Ruam merah semakin menyebar. Gatal. Sakit. Dan menyesakkan.
Bibirnya bengkak. Matanya mulai berat. Bahkan kelopak matanya kini sedikit turun karena pembengkakan.
Ia tidak sanggup lagi.
“Lebih baik kamu pergi sekarang,” ucapnya lirih, tapi terdengar sangat jelas. Itu bukan permintaan. Itu perintah.
Aldo terdiam. Tatapannya menyapu seluruh wajah Ina yang kini terlihat... mengenaskan. Tapi di matanya, tetap ada api obsesi yang belum padam.
“Oke,” katanya sambil mengangguk. “Kalau gitu aku pergi.”
Namun senyum kembali muncul di bibirnya. Senyum menyeramkan yang membuat bulu kuduk Ina merinding.
“Tapi aku nggak akan berhenti... sampai aku dapatin apa yang belum aku dapatin,” bisiknya.
Ina bergidik ngeri. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia menyadari bahwa seseorang yang pernah ia cintai... bisa menjadi orang yang paling berbahaya dalam hidupnya.