“Coba gaun yang lebih tertutup,” komentar Erika, matanya menelusuri setiap lekuk pada tubuh putrinya yang dibalut gaun putih sabrina nan elegan. Siang itu, cahaya matahari menerobos masuk dari jendela besar studio bridal, menyinari payet-payet gaun yang berkilau seperti serpihan kristal.
Hari ini adalah jadwal fitting gaun pengantin Gita dan Aldo. Dan Gita, dengan tubuh semampainya, berdiri di depan cermin besar, mematut dirinya dengan gaun berpotongan sabrina yang memperlihatkan leher jenjangnya — anggun, dewasa, dan menggoda.
“Lho? Kenapa?” Gita menoleh setengah protes, bibirnya cemberut manja. “Mas Aldo suka, lho, sama leher aku,” rengeknya, sambil memainkan jari-jarinya di depan d**a.
Erika berdecak pelan, matanya menyipit, seolah tak percaya anaknya bisa berkomentar seperti itu di depan para staf butik. “Kamu ini...” tegurnya dengan suara datar tapi sarat ketegasan. “Memangnya kamu pikir di acara resepsi nanti hanya ada Aldo? Banyak orang yang akan lihat kamu. Kamu harus berpakaian yang sopan,” lanjutnya, kini suaranya lebih keras. “Lagian bajunya itu... terlalu ketat. Yang kembang aja, jangan yang ngepress gitu,” katanya sambil menunjuk ke arah gaun yang menjepit tubuh Gita seperti sarung tangan.
Gita mendengus, tangannya bersedekap di depan d**a. “Yang kayak gini bagus, Ma. Badan aku kan bagus, jadi cocok aja pakai gaun ini,” ucapnya dengan penuh percaya diri, bahkan nyaris menantang.
Erika memutar matanya. Muak. “Gita, kamu itu lagi hamil muda. Jangan aneh-aneh deh,” katanya dengan suara lirih namun bernada tajam.
“Nggak! Aku maunya ini, Ma,” Gita bersikeras, matanya nyalang menatap cermin, seolah gaun itu bukan sekadar pakaian, tapi simbol pertahanan harga dirinya — yang selama ini harus tunduk pada kehendak orang lain.
“Ganti!” ucap Erika penuh penekanan, satu kata yang menggantung kaku di udara, seperti palu hakim yang mengakhiri sebuah persidangan.
Suasana studio mendadak canggung. Beberapa staf butik yang tadi tampak ramah, kini saling menukar pandang dengan tatapan gelisah. Mereka tahu, perdebatan antara ibu dan anak ini bukan sekadar soal potongan gaun — tapi ada lapisan lain yang lebih rumit dan menekan.
Salah satu staf mendekat dengan senyum ragu. “Mbak, tolong carikan gaun lain yang lebih tertutup. Saya mau yang lengannya sampai pergelangan tangan. Terus nggak ada gaun yang belahan bawahnya tinggi. Semuanya harus elegan dan tertutup,” titah Erika tanpa melihat ke arah siapa pun, matanya tetap tertuju pada Gita yang kini berdiri diam seperti patung, rahangnya mengeras.
Gita hanya bisa melotot ke arah ibunya. Ia tahu, percuma berdebat lebih jauh. Pernikahan ini bukan karena sang ibu mendukung hubungannya dengan Aldo, tapi karena satu hal yang lebih pahit: kehamilannya yang tak diinginkan keluarga, dan pernikahan ini adalah solusi dari aib yang coba ditutup rapat-rapat.
“Arghh, Mama!” pekiknya kesal, seperti anak kecil yang dipaksa melepaskan mainan kesukaannya. Dengan langkah tergesa dan wajah masam, Gita kembali masuk ke ruang ganti, membanting tirai dengan kasar.
Erika hanya bisa menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin. “Tingkah kekanak-kanakan kayak gitu... yang katanya mau nikah?” bisiknya pada diri sendiri, sambil memijit pelipisnya yang mulai berdenyut.
Suara ritsleting terdengar dari balik ruang ganti. Gita, dengan rambut digelung tinggi, kini tengah mencoba gaun lain — lengan panjang renda, rok mengembang bak putri kerajaan. Meski wajahnya masih kusut karena adu argumen dengan sang ibu, tubuhnya berdiri tegak di depan cermin, mencoba mencari pembenaran dari pantulan dirinya sendiri.
Sementara itu, di area utama butik, Aldo baru saja keluar dari ruang ganti pria. Tubuhnya dibalut setelan tuxedo hitam dengan potongan klasik — dasi kupu-kupu dan kemeja putih bersih menambah kesan formal.
Namun bagi Erika, tak ada yang spesial dari pria itu.
Tak ada aura memikat. Tak ada kharisma. Bahkan tidak ada setitik simpati di matanya untuk menilai Aldo lebih baik.
Semua sudah terlanjur hancur sejak pertama kali ia tahu anak gadisnya mengandung di luar nikah.
Erika hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap layar ponselnya. 'Pria ini cuma numpang lewat di hidup Gita. Tapi sialnya, dia akan jadi menantuku,' pikirnya, getir.
Padahal, Erika paham betul bahwa bukan hanya Aldo yang salah. Gita juga sama. Mereka berdua melangkah ke jurang itu bersama-sama, dengan kesadaran penuh dan... dengan nafsu yang buta. Tapi tetap saja — sebagai ibu, kebencian itu lebih mudah diarahkan ke pria. Pria yang lebih tua. Yang harusnya lebih bijak. Yang seharusnya bisa mengerem. Tapi tidak.
Pintu depan butik terbuka pelan. Seorang pria paruh baya masuk dengan jas kerja masih melekat di tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya terlihat lelah.
“Ma,” panggilnya sambil mendekat.
Erika mendongak. Begitu melihat suaminya, ia langsung berdiri dan melipat kedua tangan di depan d**a. “Dari mana aja, Pa? Udah telat setengah jam lho ini,” omelnya dengan nada yang tak lagi bisa ditahan.
Edo menarik napas panjang. “Maaf, Ma. Tadi meetingnya molor,” jelasnya sambil mencondongkan tubuh ke arah Erika, mencoba meredakan suasana.
Erika hanya bisa mengangguk kecil — tidak puas, tapi cukup untuk menahan diri di tempat umum.
Atensi mereka kini beralih ke Aldo yang berdiri agak kikuk di dekat sofa panjang butik. Ia mencoba tersenyum, walau senyumnya kaku dan penuh tekanan. “Gimana, Pak, Bu?” tanyanya dengan suara setengah pelan.
Erika hanya menoleh sekilas, terlalu malas untuk memberikan komentar.
Edo, dengan gestur datar, melangkah mendekat. Matanya menelusuri Aldo dari atas hingga ke ujung sepatu. Diam sejenak. Lalu, dengan suara yang dingin dan berat, ia berkata, “Kamu jangan sampai membuat masalah di acara pernikahan nanti.”
Tidak ada basa-basi. Tidak ada sapaan hangat. Hanya peringatan. Seperti atasan yang berbicara kepada karyawan rendahan.
Aldo terdiam. Kepalanya menunduk sedikit. Jari-jarinya mengepal di sisi tubuh, mencoba menahan rasa malu yang membakar leher hingga ke telinga. Harga dirinya diinjak di depan semua orang. Tapi... ia tak bisa melawan. Tidak sekarang. Tidak di hadapan Edo. Pria itu bukan orang biasa — ia pemilik salah satu jaringan restoran ternama dan punya nama besar di dunia bisnis kuliner. Melawan berarti bunuh diri.
“Oh iya, sebelumnya kamu kerja di SeleraKita, kan? Di tempat Gita magang?” tanya Edo tiba-tiba.
Aldo mengangguk cepat. “Iya, Pak. Sebelumnya saya tim legal di sana. Mengurus legalitas usaha beberapa kafe,” jawabnya singkat, masih menjaga nada sopan.
Edo mengangguk pelan. “Saya akan membuka kafe tepat di depan Souri Cafe. Itu proyek baru SeleraKita, kan?”
Aldo tercekat. Tangannya yang semula tenang mulai bergerak gelisah di balik lipatan jas. Ia tahu proyek itu. Ia bahkan tahu siapa yang jadi kepala timnya. Ina. Perempuan itu. Yang masih tinggal di hati, meski tak lagi dalam hidupnya.
“Iya, Pak,” jawabnya akhirnya, pelan dan hati-hati.
Edo mendekat. Tatapannya tajam, seolah ingin menusuk isi kepala Aldo. “Tanggal pembukaan kafe saya akan sama dengan Souri Cafe. Saya akan mempercayakan itu pada kamu. Kafe saya harus lebih terkenal dan lebih laku dari Souri,” katanya penuh tekanan. “Itu tugas pertama kamu sebagai bagian dari keluarga ini.”
Aldo membatu. Detik itu juga, ia merasa seperti diikat dan dijebloskan ke dalam arena perang. Tanpa pilihan. Tanpa rencana pelarian.
“Maksudnya gimana, Pak?’” tanyanya, nyaris tidak terdengar.
Edo menyipitkan mata. “Lakukan segala cara untuk menang dari SeleraKita. Khususnya Souri. Saya dengar tim proyeknya cukup bagus dalam membuat konsep dan marketing. Saya mau kamu melawan mereka. Dari luar maupun dalam.”
Kata-kata itu menghantam keras. Tidak hanya menyayat moralitas, tapi juga mengguncang hati yang belum sepenuhnya pulih dari masa lalu.
Ina.
Dia akan jadi lawan Ina?
Aldo menarik napas panjang. Tenggorokannya mengering. Ruang di butik mendadak sempit. Dunia seolah menciut, dan semua jalan keluar tertutup rapat.
“Kalau kamu gagal dengan proyek ini, saya bisa pastikan hidup kamu tidak akan tenang, Aldo,” ucap Edo penuh penekanan. “Jangan kamu kira akan hidup senang jika menjadi menantu saya. Bagaimana pun kamu harus membayar semuanya karena sudah merusak anak saya,” katanya. “Saya tidak akan membiarkan kamu hidup tenang begitu saja,” ucapnya tajam.
Aldo menganggukkan kepalanya. "Baik, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin," katanya.
Edo mengangguk. "Tidak hanya dalam pekerjaan yang saya beri. Kamu juga harus membuat anak saya bahagia. Jika sekali saja saya melihat Gita menangis karena kamu, saya tidak akan pernah memaafkan kamu," katanya tegas.