“Mas…” Danira menatap Tejo yang mengunci pintu kamar. Danira mau pulang saja, dibanding di sini, lalu ketahuan oleh mantan ibu mertuanya nanti.
Bisa-bisa Danira dan Mas Tejo dituduh berzina nantinya. Walau mereka tidak ngapain-ngapain.
“Mas, Danira pulang aja ya. Danira ndak mau di sini, ketahuan sama Mama nanti loh. Bisa-bisa kita dinikahkan.”
ITU YANG MAS TEJO MAU DEK! NIKAH SAMA ADEK CANTIK DAN BAHENOL!
“Ndak masalah kalau kita dinikahkan Dek. Malah bagus toh, kita rujuk lagi. Dan kamu bisa manggil Mas itu suami kamu lagi. Lalu kita punya anak. Hehehehe…” nyengir Tejo.senang.
Tapi Dek Danira malah natap Mas Tejo dengan pandangan datarnya. Ndak mau menikah dengan cara digrebek dan nikah di rumah Pak RT aja. Gini-gini Danira masih mau mahar yang gede loh sama pesta besar-besaran.
“Opo toh Mas! Kamu jangan gila. Aku ndak mau ahh! Aku mau pulang aja. Awas sana Mas! Minggir! Danira mau pulang.”
Tejo segera mencegah Danira yang mau membuka kunci kamar. Lama-lama Tejo kirim pesan sama ibunya, suruh ibunya itu manggil mamang-mamang yang ada di sini dan grebek Tejo dalam kamar sama Dek Danira.
Walah! Ide bagus iki. Mas Tejo harus segera melaksanakan ide yang bagus kayak gini. Biar cepat bisa rujuk sama Dek Danira lagi. Cepat dan berhasil lagi.
“Jangan pulang toh Dek. Ini udah malam, kamu lihat jam dinding udah jam berapa itu, nanti kamu mau, diperkosa sama laki-laki asing yang suka nongkrong di tengah jalan?” Tanya Tejo menakuti, tapi dia tidak terlalu menakuti Danira. Memang begitu kenyataannya banyak lelaki pengangguran yang hobinya nongkrong di pinggir jalan dan mabukan.
Danira menatap takut dan menggeleng. Membayangkannya saja sudah membuat Danira tidak sanggup. Tubuhnya yang molek aduhai ini, cuman pernah disentuh sama Mas Tejo aja. Danira masih menjaga sekali tubuhnya untuk tidak disentuh oleh lelaki lain yang bukan suaminya.
“Danira ndak mau.” Mata Danira sudah berkaca-kaca karena takut tanpa sadar. Danira sudah pegang baju Mas Tejo.
Tejo memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Perlahan Mas Tejo membawa Danira ke dalam pelukannya. Aduh… nyaman sekali loh. Seandainya tiap hari Mas Tejo peluk Danira. Pasti senangnya hati Mas Tejo.
“Kamu nggak usah takut Dek. Makanya jangan pulang ya, di sini aja tidur sama Mas. Mas janji nggak akan lakuin macam-macam sama kamu, palingan cuman satu macam Dek.”
Danira memukul d**a Mas Tejo yang tegap dan enak untuk dijadikan sandaran.
“Auh! Sakit Dek!” Desah Mas Tejo mengaduh.
“Kamu jangan desah-desah Mas. Danira nggak mau disangka perkosa kamu, Mas.”
Mata Tejo berbinar. “Adek mau perkosa Mas? Ayo! Perkosa Mas sayang. Mas sangat ingin sekali diperkosa sama kesayangan Mas ini. Ayo! Perkosa Mas sekarang.”
Bruk!
Tejo menjatuhkan dirinya diatas ranjang, membuka kemejanya lalu telentang pasrah menunggu Dek Danira melakukan sesuatu padanya.
“Ayo, Adek. Mas Tejo siap lahir dan batin. Ndak akan nolak dan nangis.” Tejo tersenyum begitu manis meminta pada Dek Danira-nya yang menatap Mas Tejo takut.
“Mas! Jangan gitu ahh! Danira jadi takut loh ini. Mas Tejo cepat duduk lagi.” Danira menarik tangan Mas Tejo.
Tiga kali tarikan. BRAK! Malah Dek Danira yang jatuh diatas Mas Tejo. Mas Tejo memegang b****g bulat Dek Danira yang empuk dan sangat enak sekali diremas-remas manja.
“Mashh…,” Danira memukul Mas Tejo. Matanya melotot dan segera turun dari atas tubuh Mas Tejo.
Walau Danira merasa nyaman berada di atas Mas Tejo. Apalagi ini, Danira membuka satu persatu pakaiannya. Lalu ikatan rambutnya dibuka. Lalu menjilati perut kotak Mas Tejo sampai ke bawah.
Aduh!
Danira jadi basah di bawah sana. Danira merapatkan kakinya dan menggigit bibir. Sudah tiga tahun Danira nggak pernah melakukan hubungan badan dengan siapapun. Cuman sama Mas Tejo. Itupun Mas Tejo dulunya cepat keluar.
“Kamu kenapa Dek? Wajah kamu memerah iki. Kamu sakit Dek?” Mas Tejo khawatir, langsung memegang kening Dek Danira. memeriksa keadaan Dek Danira.
Danira yang disentuh oleh Mas Tejo, makin menjadi isi pikirannya ini. Membayangkan telapak tangan Mas Tejo yang lebar itu menangkup melon di depan Danira. Lalu bibir Mas Tejo memainkan pucuk melon Danira, menghisapnya layak bayi yang sedang-
“Danira ndak papa Mas. Danira cuman mau mandi. Mas, ada pakai-”
“Kamu tenang Dek. Di sini ada pakaian wanita yang baru dan nggak pernah dipakai.”
Mata Danira memicing mendengar ucapan Mas Tejo barusan. Mas Tejo suka bawa wanita kemari?
“Kamu suka bawa betina kemari Mas?” Tanyanya menuduh.
“Ngomong opo kamu Dek! Itu baju yang tiap bulan Mas belikan untuk kamu. Sampai sekarang ketemu sama kamu. Setiap kali ada pakaian branded keluaran terbaru, Mas pasti belikan untuk kamu. Karena Mas yakin, kalau kamu bakalan kembali sama Mas.”
Danira terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Mas Tejo. Debaran jantung Danira bisa terdengar sekarang, mendengar apa yang dikatakan oleh Mas Tejo.
Ya Gusti! Mas Tejo kenapa romantis sekali. Padahal Danira tidak pernah memikirkan kalau dia bakalan kembali sama Mas Tejo. Apalagi dia punya-
“Dek! Kamu sana mandi. Jangan ngelamun. Nanti kamu kesambet.”
Danira mengangguk, berjalan menuju kamar mandi. Satu langkah mau masuk ke dalam kamar mandi. Tangan Danira sudah dipegang oleh Mas Tejo.
“Dek, kamu mau mandi bersama dengan Mas?” Tanya Tejo tersenyum m***m.
“Mas! Kita bukan muhrim!”
“Ya dihalalkan, yok, Dek. Kamu kapan mau ke penghulu sama Mas. Mas bersedia untuk bawa kamu sekarang.”
Danira kembali memukul manja lengan Mas Tejo. “Ihh! Kamu ngomong opo toh Mas. Sana!” Danira mendorong Mas Tejo salah tingkah.
Danira menutup pintu kamar mandi. Danira memegang dadanya yang berdetak begitu kencang, dan setelahnya memegang wajah. Danira bisa merasakan. Wajahnya memanas mendengar apa yang dikatakan oleh Mas Tejo.
Apa ini Danira kamu tidak kembali mencintai Mas Tejo ‘kan?
***
Tejo yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Tersenyum begitu bahagia.
“Selangkah menuju pelaminan. Dek! Mas yakin, kamu pasti masih cinta sama Mas. Kamu nggak akan pernah bisa melupakan Mas yang tampan ini. Duh! Dek, yok, kita nikah aja lagi.” Gumam Tejo tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tejo sudah dimabuk asmara semenjak mengenal Dek Danira dari dulu sampai sekarang. Cuman kamu Dek, yang pantas Mas perjuangkan.