Ibu yang melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Danira juga belum pulang ke rumah. Wanita itu menggigit bibirnya dan menggeleng pelan, tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya. “Bu, kenapa?” Dimas yang masih di dalam rumah, menatap pada Ibu yang gelisah dan terus mondar mandir. Dimas tiba jam enam petang tadi. Lelaki itu sampai menunggu Danira selama tiga jam. Dimas harus membicarakan tentang pernikahannya dengan Danira. Lalu hal lain yang akan mereka siapkan di pernikahan mereka. Tapi bukannya Danira pulang malah mereka menunggu dengan rasa khawatir sekarang. “Ini Danira kemana toh? Ndak pulang-pulang. Ibu khawatir sama Danira, Dimas. Ibu takut kalau terjadi sesuatu sama anak Ibu.” Ibu menggigit kukunya, lalu mencoba untuk menelepon Danira lagi. Tapi

