Setelah malam itu, wajah Raka muncul terus di kepala. Kata-katanya menggema kayak lagu lama yang tiba-tiba diputar ulang.
Tapi bukan karena aku masih punya rasa. Bukan.
Justru karena... aku bingung.
> Apa aku harus maafin dia? Apa itu artinya aku lemah? Atau justru kuat?
Aku cerita ke Nayla, yang sekarang udah jadi bagian tetap di “Rumah Dea”.
Dia cuma bilang,
> “Maafin tuh bukan buat mereka, Kak. Tapi buat diri kita sendiri.”
Aku diam.
> Iya, tapi gimana cara maafin orang yang jadi alasan kamu pengen ngilang dari dunia dulu?
---
Beberapa hari kemudian, aku duduk di rooftop apartemen. Angin dingin. Tapi hati rasanya lebih dingin lagi.
Aku buka DM dari Raka. Ada satu pesan:
> “Dea, aku gak minta kamu balas. Tapi makasih karena kamu udah bertahan, bahkan setelah disakiti sama orang kayak aku.”
Pesan itu sederhana. Tapi hangat. Jujur. Gak ada paksaan.
Dan entah kenapa, malam itu aku nulis di jurnal:
> “Aku gak lupa. Tapi aku udah gak marah lagi. Mungkin... ini yang disebut memaafkan.”
---
Besoknya aku kirim satu kalimat ke Raka:
> “Kamu dimaafkan. Tapi bukan berarti aku bisa kembali ke masa lalu.”
Dia balas:
> “Dan aku gak minta itu. Aku cuma pengen kamu tau, kamu lebih kuat dari yang pernah aku bayangin.”
---
Hari itu, aku berdiri di depan kaca. Lihat diri sendiri. Gak ada air mata. Gak ada dendam. Yang ada cuma...
Seorang cewek yang dulu dikatain jelek, tapi sekarang... jadi rumah bagi banyak orang.
Dan yang paling penting: jadi rumah untuk dirinya sendiri.