saat dunia mulai melihatku

256 Kata
Setelah pertemuan dengan Raka, aku ngerasa seperti ada pintu yang selama ini tertutup rapat, akhirnya kebuka. Bukan untuk dia masuk, tapi untuk aku keluar. Keluar dari bayang-bayang masa lalu. Keluar dari rasa ingin diakui. Dan saat aku berhenti ngejar validasi orang, justru... dunia mulai melihatku. --- Beberapa minggu setelah itu, p muda inspiratif tahun ini!” Aku nggak langsung seneng. Aku sempat diem. Karena buatku, penghargaan sesungguhnya bukan piala. Tapi tiap DM dari pembaca yang bilang, > “Kak, karena cerita kakak, aku mutusin buat nggak nyakitin diri sendiri hari ini.” Tapi tetap, malam itu aku berdiri di panggung, pakai dress warna navy, rambut diikat rapi, dan senyum kecil yang dulu nggak pernah berani aku tunjukin. Namaku disebut. Sorotan lampu ke arahku. Aku melangkah maju. > “Aku adalah si jelek anak bungsu itu...” kataku memulai pidato. Semua ruangan terdiam. > “Yang dulu dibully, dikatain beban, dan disuruh jangan mimpi terlalu tinggi.” > “Tapi hari ini, mimpi itu yang ngebawa aku berdiri di sini.” Tepuk tangan menggema. Tapi yang aku dengar cuma satu suara dari dalam hatiku: > "Kamu berhasil, Dea. Bukan buat ngebales mereka. Tapi buat buktiin ke diri sendiri... kamu pantas bahagia." --- Di belakang panggung, aku ketemu Mama. Iya. Mama. Dia datang diam-diam. Dan untuk pertama kalinya, beliau peluk aku. > “Maaf, Ma dulu salah. Ternyata anak yang paling aku abaikan... yang paling kuat di antara semuanya.” Air mata aku jatuh. Tapi kali ini... bukan karena luka. Tapi karena akhirnya, aku bisa nangis... karena bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN