Bab 11 – Luka yang Sembuh, Tapi Masih Terasa

381 Kata
Bab 11 – Luka yang Sembuh, Tapi Masih Terasa Setelah malam penghargaan itu, hidupku gak langsung sempurna. Tapi ada satu hal yang berubah: Aku gak takut lihat cermin lagi. Dulu, setiap lihat bayanganku sendiri, yang muncul cuma suara-suara mereka: > “Je—lek.” “Bikin malu.” “Gak pantes disayang.” Tapi sekarang, setiap lihat cermin... aku cuma bilang pelan: > “Terima kasih, Dea. Kamu udah bertahan.” --- Aku mulai sering diundang jadi pembicara, podcast, bahkan TV lokal. Tapi aku selalu bilang di awal: > “Aku bukan motivator. Aku cuma cewek yang pernah ngerasa gak pengen hidup... dan sekarang pengen bantu orang lain yang ngerasa sama.” --- Suatu hari, aku buka DM. Ada nama yang bikin aku berhenti napas sebentar: "Kak Revan" Iya, kakakku sendiri. Yang dulu paling kejam, paling sering ngatain aku—bahkan lebih jahat dari orang luar. Pesannya: > "Dea, boleh aku datang ke Rumah Dea?" Aku baca berkali-kali. Rasanya seperti luka lama ngetuk pintu minta masuk lagi. Tapi kali ini... aku gak takut. --- Aku balas: > "Boleh. Tapi bukan untuk menyakitiku lagi, kan?" Dia jawab: > "Enggak. Aku cuma pengen minta maaf. Dan denger ceritamu, dari mulutmu sendiri." --- Besoknya, dia datang. Duduk di kursi ruang tamu. Diam. Tangannya gemetar. > “Gue gak punya alasan buat semua yang gue lakuin. Tapi waktu lo bilang di TV bahwa lo pernah mikir buat gak hidup... gue ngerasa hancur.” Aku gak jawab. Aku cuma lihat wajahnya. Wajah kakak kandungku sendiri—yang dulu aku harap gak pernah lahir di dunia yang sama. > “Lo kuat, Dea. Dan gue malu karena pernah ngerasa lebih dari lo.” Dan untuk pertama kalinya... aku lihat air mata di matanya. > “Kalau lo bisa maafin gue... gue janji bakal jadi kakak yang lo butuhin dari dulu.” --- Aku gak jawab. Tapi aku bangun, ambil satu tisu, dan kasih ke dia. > “Gue gak tau bisa maafin seutuhnya atau nggak. Tapi gue mau mulai dari nol. Dan lo bisa duduk di barisan orang yang nyakitin gue... atau orang yang bantu sembuhin.” Dia angguk. > “Gue milih yang kedua.” --- Bab ini bukan tentang menghapus luka. Tapi tentang menerima bahwa beberapa luka akan selalu ada... cuma nggak berdarah lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN