Bab 13 : Penyesalan

1080 Kata
Hantu itu diam. Dia mungkin sedang berpikir dan juga sedang mengenang masa lalunya. Keira sendiri tidak tahu jika dia sudah menjadi hantu, kemungkinannya dia sudah tidak ingat tentang apapun yang ada di dunia ini. Dia juga akna lupa bagaimana dia mati. Bahkan jika tifak bertanya tentang naman, mungkin Kiera juga tidak akan tahu namamnya nanti. Keira juga diam sambal mengusap – ngusap tali merah yang sudah terikat di pergelangan tangannya. Dia juga jadi sedikit gugup dan juga tidak pernah merasa segugup ini. Dia mungkin menunggu tapi rasanya dia sedikit bersalah membuat hantu itu berpikir seperti itu. “Shira.” Kata hantu itu. Kiera yang kaget itu merespon dengan cepat, “Hah?” Katanya seperti orang bo*doh. “Nama saya Shira.” Kata hantu itu lagi, “Shiraisi Kira.” Katanya lagi melanjutkan perkataannya. Kiera menelan ludahnya susah payah. Dia sedikit tidak enak ketika orang itu menyebutkan namanya. Dia juga merasa bahwa dirinya pernah mendengar nama itu. Dia juga pernah berkenalan dengan nama itu namun benar – benar tidak tahu. Keira antara ingat dan tidak ingat. Bahkan dirinya merasa bahwa dia sudah mengenalnya lama. Namun, Keira tidak ingat lagi kapan dan bagaimana. “Apa lo inget gimana lo bisa ada di sini?” Tanya Keira lagi setelah mengatasi kebingungannya. Tentu saja ia bingung karena dirinya benar – benar merasa bahwa dirinya benar – benar merasa bahwa nama itu tidak asing untuknya. Namun, dengan sangat jelas ia tidak mengerti bagaimana dan kapan dia mengenal nama itu. Setidaknya, dia merasa bahwa nama itu pernah masuk ke dalam telinga dan juga hatinya. Entah bagaimana, yang jelas Keira benar – benar tidak mengingatnya dengan jelas. Dia benar – benar merasa bahwa dia sangatlah pelupa dalam urusan ingatan. Jadi, yang ditanyakan oleh Keira bukan bagaimana cara hantu itu – Shira – ma*ti. Dia bertanya bagaimana Shira bisa masuk ke kamarnya karena yang pertama kali mengatakan bahwa di kamar ini di kelilingi tali merah yang bisa melindungi Keira adalah Shira. Kemungkinan, Shira juga tahu siapa yang memasangnya jika memang Shira sudah lama ada di sini. Mungkin. Namun, rasanya Keira kurang yakin jika Shira akan tahu siapa dan kenapa tali merah ini di pasang. Mungkin saja Keira bisa membantu Shira untuk mengingat bagaimana dia bisa ma*ti nantinya. Atau bahkan bisa membantu Shira menyelesaikan urusan yang belum selesai di sini dan itu mengakibatkan dirinya masih ada di dunia ini. Karena setahu Keira, hantu mungkin ada di dunia ini bukan hanya untuk menakut – nakuti seorang manusia lainnya. Tapi melainkan ada juga hantu yang terjebak di sini karena mereka masih mengurusi apa yang belum selesai di dunia ini selepas mereka meninggal. Tentu saja Keira tahu itu dari film dan juga buku yang pernah ia baca sekilas. Namun, Keira baru mempercayai hal itu ketika dirinya sudah mengenal dunia ini. Dunia dimana Keira bisa melihat hantu dan dengan jelasnya, Keira bisa menggunakan matanya untuk berkomunikasi langsung dengan orang – orang atau bhakan hantu – hantu di dunia ini. Dunia Keira mungkin berbeda kali ini. Dimana Keira benar – benar di suguhkan dengan pemandangan yang kadang – kadang membuatnya begidik karena melihat hantu yang mungkin saja tidak lengkap badan dan juga tubuhnya. Keira juga mungkin merasakan bahwa dirinya tidak pernah tenang lagi. Karena setiap kali dirinya ingin tidur dia selalu memikirkan apa yang sudah ia lihat hari ini. Tentu saja kehidupan kali ini mungkin sedikit lebih sulit dari pada sebelumnya yang bahkan sudah cukup sulit juga. Shira menggeleng, “ga tau juga saya kenapa bisa ada di sini.” Kata Shira menjawab pertanyaan dari Keira, “yang jelas, saya sudah cukup lama ada di sini. Yang masang tali merah ini adalah ibu kamu, Keira.” Kata Shira lagi. Di tiitik ini, Keira tidak bisa berkata apa – apa lagi. Dia benar – benar sudah tidak bisa mengatakan bahwa dirinya baik – baik saja. Mendengar siapa yang memasang tali merah ini membuat Keira lemas. Dia benar – benar tidak menyangka. Selama hidupnya, ibu Keira ini mungkin merasa bahwa dirinya di benci oleh anaknya ini. Keira merasa bersalah. Keira selama ini menganggap ibunya sudah gi*la karena terus – terusan menjerit setiap malam dan mengatakan bahwa ada banyak hantu di kamarnya. Kiera yang saat itu tidak percaya hal begituan, malah memilih untuk meninggalkan ibunya. Dia mungkin di liputi rasa bersalah kepada ibunya, namun, yang jelas, sekarang Keira benar – benar menyesal. Dia menyesal karena menganggap ibunya gi*la karena memang benar adanya bahwa ibunya bisa melihat hal tak kasat mata dan juga banyak hantu di sini yang mungkin saja rupanya tidak rupawan dan mungkin saja ibunya sudah jengah dengan apa yang terjadi di kehidupannya saat itu. Dimana mungkin ibunya benar – benar di terror dengan apa yang disebut hantu yang menyeramkan. Bahkan Keira juga mungkin sudah pernah melihat semenyeramkan apa mereka di luar sana dengan badan kurang lengkap dan juga da*rah yang mungkin mengalir di sana dan di sini. “Hantu di luar sana mungkin memang menyeramkan, Keira.” Kata Shira lagi, “mungkin mereka memasang tampang yang menyeramkan karena mereka bukan hanya berniat menakut – nakuti. Hanya saja mereka meminta di perhatikan dengan lebih baik.” Kata Shira. “Semua hantu memang begitu?” Tanya Keira, “apa mereka membutuhkan perhatian lebih dengan melebih – lebihkan penderitaan mereka selama ini?” Tanya Keira lagi yang belum puas dengan pertanyaan yang pertama. Keira melihat Shira mengangguk. “Mereka mungkin memang menjadikan diri mereka lebih seram dari pada saat mereka ma*ti.” Kata Shira. “Bukan hanya untuk menakut – nakuti. Tapi juga untuk mendapat perhatian agar mereka di bantu oleh orang – orang seperti kamu di dunia ini.” Kata SHhira menjelaskan. Keira baru mengetahui hal ini tentu saja. Shira mungkin selama ini juga menjadi pengamat yang luar biasa sangat baik. Tapi, jika ini menjadikan ibunya seperti orang gi*la, mungkin ibunya lebih tidak bisa mengendalikan hal – hal seperti ini. Kenapa juga ibunya berusaha untuk melindungi Keira seakan dia tahu bahwa Keira akan mengalami hal yang sama dengan dirinya sendiri. “Jadi, gue selama ini salah terhadap nyokap gue sendiri?” Tanya Keira untuk dirinya sendiri. Di dalam situasi ini, mungkin Keira menginginkan waktunya sendiri, dan Shira paham akan hal itu. Dia jadi lebih baik meninggalkan Keira dengan pikirannya sendiri. Lagi pula, Shira lebih menyukai harum kamar mandi milik Keira. Sabun yang di pakai Keira memiliki harum yang khas, jadi dia lebih banyak menghabiskan waktunya di sana. Shira memberikan waktu kepada Keira untuk mencerna semuanya. Dia mengerti dan paham. Bahwa dirinya, Kiera mungkin tidak akan bisa menerima ini dengan mudah. Apalagi ada penyesalan di kehidupan Keira sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN