Bab 12 : Kenalan

1118 Kata
Keira menatap hantu itu lalu bertanya, "ga bakal kejadian apa - apa kan kalo gue gunting ini?" Tanya Keira pelan. Hantu itu menggeleng pelan, "ga akan ada yang bakal terjadi, saya pernah melihat orang seperti itu." kata hantu itu. Keira diam. "Lo udah jadi hantu berapa lama emang?" Tanya Kiera lagi. Hantu itu menggeleng pelan sambil tersenyum kecil dengan wajah yang sedikit kebingungan, "ga tau juga sih. Orang saya mati juga ga tau gimana ceritanya." Kata hantu itu lagi. Keira merasa bahwa dirinya sedang ada di fase dimana dirinya benar – benar bingung. Dia juga merasakan bahwa dirinya ada di puncak dilemma. Dia benar – benar merasa untuk kali ini tidak tahu haru percaya pada hantu atau tidak. Sebelumnya juga dia tidak pernah percaya sama sekali dengan yang namanya hantu. Namun, karena dirinya sekarang di hadapkan dengan keadaan dimana para hantu mungkin saja berdatangan dengan jumlah yang mungkin lebih dari satu, kemungkinan Keira harus percaya untuk yang satu ini. Sebab, jika Kiera tidak percaya, kemungkinan besar hantu – hantu di luar tali merah ini bisa menganggunya kapan saja. Lalu, untuk hantu di depannya yang katanya terperangkap di sini mungkin bisa dengan sangat jelas menjelaskan bahwa dirinya memang sudah lama ada di sini. Bahkan mungkin sebelum Kiera benar – benar belum bisa berkomunikasi dengan hantu. Dia mungkin tidak akan mengatakan hal penting jika bukan kuasanya. Dia mungkin bisa saja memberikan Keira petunjuk yang bermanfaat seperti ini. Keira mungkin harus percaya sekali saja kepada hantu ini. “Okay, mari kita coba buat gunting.” Kata Keira kemudian mengambil gunting di atas meja nakas di samping ranjangnya kemudian berjalan lagi ke arah pintu masuk kamarnya. Dia juga sekarang sedang mencari ujung tali tersebut dan memotong talinya nanti. “Berdoa dulu.” Kata hantu itu. Keira ingin berkomentar cukup jahat karena dia benar – benar di ingatkan oleh seorang hantu untuk berdoa. Kemungkinan semasa hidupnya, hantu ini berkelakuan baik sehingga ketika menjadi hantu pun dia benar – benar masih baik dan tentu saja baik sekali jika urusannya dengan doa. Lagi pula, Keira juga merasa sudah cukup lama tidak berdoa. Dia menemukan ujung tali itu namun, ada satu sisi dimana dirinya menjadi ragu lagi. Melihat panjang ujung tali itu cukup panjang, Keira benar – benar merasa bahwa dirinya mungkin saja bisa memotong semua sisa ujung tali untuk mengikatkannya semua ujung tali itu ke tubuhnya agar dia tidak merasa ‘terganggu’ oleh hantu yang berkeliaran. Namun, dirinya harus tau diri. Dia tidak mungkin memotong semuanya untuk dirinya sendiri. Dia juga harus memikirkan kejadian di depannya nanti. Mungkin saja doa akan membutuhkannya lain waktu dengan hal yang berbeda. Contohnya, memberikan perlindungan untuk orang lain mungkin. Atau sekedar memberikan tali merah itu untuk temannya yang kemungkinan di ganggu oleh hantu atau bahkan sesuatu yang mungkin bisa saja membuat orang terdekatnya celaka. Tapi, di satu sisi, dia benar – benar harus melindungi dirinya sendiri dulu. Jika bertanya kenapa, Keira memikirkan satu hal. Di dekatnya, tidak ada orang yang mungkin bisa ia lindungi. Dia membenci ayahnya setengah ma*ti. Dia juga mulai tidak menyukai kakaknya, Keylo, karena selalu mengurusi kehidupan ayahnya. Keylo juga sedang memegang bisnis ayahnya yang jelas membuat Keylo sering sekali tidak ada di rumah, persis seperti ayahnya dulu. Teman Keira cuman satu, Olive. Dan mungkin saja Keira bisa melindungi Olive jika ada apa – apa padanya secara langsung dan tentu saja jika Olive dalam bahaya, kemungkinan Keira akan langsung membawa dirinya untuk menemui Olive. “Ga ada yang harus gue lindungi tapi, mungkin nanti ada.” Kata Keira untuk dirinya sendiri namun terdengar oleh hantu yang ada di sampingnya. Hantu itu mengangguk, “sebaiknya, lindungi dirimu sendiri, Keira.” Kata hantu itu membuat Keira semakin yakin jika dirinya harus melindungi dirinya sendiri dulu kali ini. Setidaknya, jika dia harus melindungi orang lain, dirinya harus punya kekuatan untuk melindungi dirinya juga sebelum melindungi orang lain. Ya, katakanlah Keira egois untuk hal ini. Namun, hal – hal seperti ini sangatlah jarang terjadi karena orang yang bisa melihat hantu jelas tidak banyak di dunia ini. Mungkin, hanya hitungan jari. Dan kemungkinan juga, Keira tidak bisa menemukannya dengan jarak yang dekat kali ini. Selanjutnya, Keira melingkarkan tali merah itu di pergelangan tangannya untuk mengukur seberapa bagian yang di butuhkan untuk dirinya. “Apa segini aja ckup?” Tanya Keira kepada hantu itu. Hantu itu mengangguk lagi, “lebih dari cukup.” Kata hantu itu. Tentu saja, Keria merasa bahwa dirinya emndapat dukungan walau pun dari hantu yang bahkan Keira sendiri tidak tahu kapan, bagaimana, mengapa, dan juga siapa hantu ini sebenarnya. Mungkin Keira kana bertanya padanya nanti. Tapi, pertanyaannya mungkin sudah terjawab di beberapa bagian. Dimana Keira mungkin tidak usah tanyakan lagi adalah bagaimana dia bisa ma*ti. Dia mungkin tidak ingat. Namun, jika Keira bertanya lagi, kemungkinan hantu itu akan berpikir dulu dan menjawabnya. Tentu saja bukan hal yang mudah, tapi bukankah tidak ada salahnya untuk mencoba terlebih dahulu? Setidaknya, mungkin Keira bisa membantunya untuk sekedar mengingat atau bahkan sekedar membantunya untuk tetap tenang dan juga untuk membuat hantu itu merasa bahwa dirinya memang di takdirkan untuk ada di sini. Keira lupa mengamati bagaimana keadaan hantu itu pada keadaan yang sangat baik. Dimana sekarang hantu itu benar – benar cantik dengan wajah berseri dan tidak terlihat seperti hantu. Kemudian, badannya yang bagus mengingatkan Keira untuk menjalani kehidupan yang sehat, dimana dirinya mungkin akan emndapatkan tubuh yang baik seperti hantu itu. Lalu, kulit tangannya yang bersih dan juga tidak banyak noda dan juga tidak banyak hal yang bisa di katakana ‘jelek’ untuk hantu itu. Setelah memotong tali itu, Keira menatap hantu itu yang sedang tersenyum ke arahnya seolah dia bangga sudah memberikan Keira perlindungan. Hantu itu mungkin saja memang sengaja di takdirkan untuk membuat Keira seperti ini. Namun, Keira masih bingung. Bagaimana nanti dia akan menghadapi para hantu yang mungkin saja berkumpul untuk menanyakan hal – hal yang Keira tidak tahu. “Jika ada hantu yang menurut kamu akan menganggu kamu, kamu tinggal usap tali ini dan mengucapkan hal yang kamu inginkan.” Kata hantu itu menunjuk gelang tali merah itu. “Hal yang gue inginkan?” Tanya Keira, “maksudnya?” tanyanya lagi tidak mengerti walau pun dirinya sudah berpikir sedikit. Hantu itu mengangguk, “iya, hal yang kamu inginkan.” Kata hantu itu, “misalnya, kamu menginginkan saya untuk pergi, mungkin kamu bisa melakukannya.” Kata Hantu itu. Keira diam dan berpikir lagi, “ga bisa.” Kata Keira, “nanti gue coba ke hantu lain aja deh. Dari pada gue coba ke lo.” Kata Keira. “Loh, kenapa?” sahut hantu itu. Keira menggeleng, “ga tau juga gue, rasanya lo aman – aman aja ada di sini sama gue.” Kata Keira, “oh, iya, nama lo siapa? Inget ga?” Tanya Keira pada akhirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN