Hantu itu cekikikan dan membuat Keira Sedikit merinding di buat nya. Kemudian Keira menempatkan telunjuknya di bibir miliknya lalu berkata , “diem deh , ga usah gaya – gayaan kalo mau ngomong sama gue.” Kata Keira pelan.
Hantu itu langsung bungkam dan menatap Keira , “saya ga sangka loh , kamu ini bisa liat saya.” Kata hantu itu.
Keira mengangguk , “gue juga ga sangka bisa liat lo dan temen – temen semacam lo.” Kata Keira lagi.
Hantu itu diam , “cuman ada saya kok di kamar ini. Yang lain ga berani masuk.” Kata hantu itu lagi.
Mata Keira menyisir kamarnya , benar memang , hantu itu bilang kalo cuman ada dia di sini. Namun , kadang – kadang , Keira juga merasa ada orang lain. Maksudnya , hantu lain.
Keira sendiri tidak pernah mempermasalahkan itu , hanya saja , Keira ingin tahu , kenapa juga hantu itu ada di kamarnya.
“Kenapa emang?” tanya Keira untuk pernyataan dari hantu itu.
Dia tertawa ketika di tanya , “kamar kamu ini di batasi oleh tali merah yang ga bisa semua hantu masuk ke sini. Ga bisa juga keluar dnegan selamat.” Kata hantu itu membuat Keira mengerutkan keningnya tidak mengerti , “iya , seseorang memasang tali merah yang mengelilingi kamar kamu , jadi hantu yang ada di kamar kamu cuman ada saya. Yang lainnya , pada ga bisa masuk.” Kata hantu itu menjelaskan.
Tali merah katanya?
Siapa juga yang terniat banget buat Masang hal – hala seperti itu? Keira tidak mengerti dan tidak paham. Seharusnya , dia tanya. Tapi rasa gengsi jika di bantu oleh hantu untuk menjawab pertanyaannya.
“Kalau kamu tanya siapa yang pasang begituan , ya tali merah itu , saya juga ga tau. Tapi yang jelas , kami , para hantu tentu saja bisa melihatnya dengan jelas.” Kata hantu itu lagi. “lagi pula , jika ada hantu yang menerobos masuk , mungkin hati kamu sudah menerima hantu itu masuk ke dalam kamarmu.” Kata hantu itu lagi.
Jika begini caranya , bukan hantu itu yang di bantu oleh Keira , tapi malah Keira yang di bantu oleh hantu itu. Itu merupakan hal yang menurut Keira memalukan.
Tapi , jika tidak begitu , Keira tidak akan tahu dan tidak akan paham jika ada hal – hal seperti itu.
“Kalau keluar?” tanya Keira.
Hantu itu mengangguk , “sama saja. Saya pernah coba untuk keluar namun sayangnya , itu sangat menyakitkan ketika melewati tali itu. Jadi , bisa dikatakan , jika saya nini terjebak di sini.” Kata hantu itu lagi.
Kemudian, Keira mengangguk. “tapi, gue selalu ngerasa ada hantu lain selain lo di sini. Apa itu hantu yang berusaha masuk ke sini?” tanya Keira kemudian.
Tentu saja. Hantu Jean yang selalu mengikutinya sampai ke lantai bawah tadi, tidak terlihat di kamarnya. Jika ada, mungkin Keira akan melihatnya dengan baik. Jean tidak mungkin ada di lantai bawah terus. Dia tidak mungkin ada di sana tanpa Keira. Karena yang bisa di ajak komunikasi adalah Keira seorang saja. Selebihnya, ya tidak ada.
Hantu itu kemudian mengangguk, “temen hantu kamu yang di bawa dan ngikutin kamu smapai ke rumah mungkin berusaha masuk.” Kata hantu itu lagi, “terus, ada beberapa hantu lain juga yang mendadak ingin masuk ke sini ketika kita berdua ngobrol seperti ini.” Kata hantu itu.
Mendadak, Keira jadi merinding lagi. Dia mungkin saat keluar nanti akan banyak hantu yang mengantre untuk mengobrol dengannya. Mungkin, di dunia mereka, hanya ada beberapa orang yang begini. Yang bisa melihat mereka dan berkomunikasi. Dan itu, mungkin menjadi kesempatan bagi hantu – hantu yang ingin meminta tolong.
Keira mendesis, “gimana caranya supaya gue ga diganggu – ganggu banget sama hantu lain ya? Setidaknya, gue ga mau ngobrol sama semua hantu yang ada di dunia ini.” Kata Keira lagi.
Hantu di depannya cekikikan, “gampang, tinggal bawa aja tali merah yang ada di sekeliling kamar kamu.” Kata hantu itu, “terus kamu bisa berlindung di balik itu.” Kata hantu itu lagi.
“gimana cara liat tali itu? Bahkan sekarang juga, gue ga liat tali merah apa pun di kamar gue ini.” Kata Keira.
Hantu di depannya pergi entah kemana, “nih coba.” Kata hantu itu meniupkan sesuatu seperti bedak tabur ke arah matanya.
Dengan refleks, Keira menutup matanya lalu terbatuk kecil.
“Sekarang, kamu bisa liat?” tanya hantu itu sebelum Keira membuka matanya.
“Bentar deh, perih nih mata gue.” Kata Keira mendengus kesal.
Tak lama kemudian, Keira membuka matanya perlahan – lahan. Yang pertama kali ia lihat saat matanya terbuka adalah hantu itu yang jadi super cantik.
Tadi juga cantik sih. Namun, kali ini lebih cantik dari pada sebelumnya. Dan Keira merasa bahwa dia tidak asing dnegan wajah di depannya.
“apa gue sama lo pernah ketemu di kehidupan sebelumnya?” tanya Keira.
Hantu itu tersenyum lalu menggeleng, “saya ga bisa kasih tau kamu karena saya juga ga terlalu inget. Mungkin kamu bisa coba ingat – ingat lagi.’ Kata hantu itu pelan. “kamu liat talinya?” Tanya hantu itu.
Keira sendiri sampai lupa dengan tali itu. Karena dia terlalu berfokus pada ingatannya. Dia berusaha mengingat siapa hantu itu. Namun, selalu gagal dan dia tidak ingat lagi.
Matanya berkeliling, “gue liat t tali merah.” Kata Keira pelan, “bener – bener sekeliling kamar gue.” Kata Keira lagi.
Hantu di depan Keira mengangguk sambil cekikikan, “kamu bisa liat ujungnya?” tanya hantu itu lagi.
Mata Keira berhenti di pintu masuk ke kamarnya, “di sana.” Kata Keira sambil menunjuk pintu masuk itu. “ujungnya masih panjang. Apa gue bisa bawa yang itu?” tanya Keira kepada hantu itu sambil mendekati pintu masuk kamarnya dan mengambil tali merah itu.
“Tentu aja bisa, lo tinggal gunting.” Kata hantu itu lagi.
Sebenarnya, Keira tidak memiliki firasat apa – apa ketika hantu itu menyuruh Keira menggunting tali ini. Tapi, saat Keira melihat gunting di atas nakasnya, Keira merasa aneh.
“Bentar deh,” kata Keira.
“kenapa?” tanya hantu itu.
“perasaan, gue ga pernah nyimpen gunting di kamar gue.” Kata Keira, “di sana pula tempatnya.” Kata Keira lagi.
Tentu saja aneh. Seperti, barang itu sudah di siapkan bagi Keira hari ini.
“lo ga ada niat jahat sama gue kan, hantu?” tanya Keira kepada hantu di depannya.
Hantu itu menggeleng, “niat saya cuman ngebantu kamu buat berlindung di balik tali yang ada ini. Bisa kamu buat untuk berlindung.” Kata hantu itu lagi.
“Tapi beneran deh, gue ga pernah simpen gunting di sini.” Kata Keira berjalan ke arah gunting di atas nakasnya.
“Mungkin, emang di persiapkan.” Kata hantu itu, “tadinya, kamu ga bisa liat tali ini kan? Sekarang jadi bisa. Dan kemungkinan, gunting itu juga bukan gunting biasa dari dunia kamu.” Kata hantu itu lagi.
Hmm, masuk akal.
“Jadi, lo mau gunting sekarang atau nanti?”