Sampai di rumah bukan hanya Keira yang di sambut tapi kakaknya juga. Keira benar – benar berubah menjadi sosok yang dingin sejak saat dia sudah mulai dewasa dan mengerti apa yang di katakan ‘kasih sayang’.
Keira mungkin membutuhkannya karena dia bena r – benar tidak merasakan hal itu di sini. Keira benar – benar tidak harus mendahului apa yang sudah ia jalani. Dia juga merasa bahwa dirinya memang sepantasnya seperti itu.
Entah kenapa, tapi Keira merasa bahwa dirinya memang pantas mendapatkan kehidupan seperti itu. Tiba – riba saja dia terpikirkan jika dia tidak seperti itu, mungkin Keira tidak bisa hidup seperti ini.
“gimana sekolahnya?” tanya kakaknya Keira, Keylo.
Sebenarnya, kakaknya ini baik untuk di anggap sebagai seorang kakak. Hanya saja, Keira memilih untuk ikut membencinya karena kakaknya ini masih saja selalu memperhatikan ayah dan ibunya dulu.
Padahal, dengan dnegan jelas Keira tidak menyukai hal seperti itu. Keira bahkan membenci ibu dan juga ayahnya sampai sekarang. Dimana ayahnya yang tidak bisa bekerja dan hanya diam di rumah di atas kursi rodanya membuat Keira sedikit merasa risi di buatnya. Keira benar – benar membenci keadaan ini.
Keira mengangguk kecil, “baik.” Kata Keira singkat kemudian meninggalkan Keylo yang melihat ayahnya yang sedang ada di taman di dekat belakang rumah.
Dia sendiri tidak memiliki simpati lagi. Dia sudah cukup untuk membenci ayahnya. Namun, radanya tidak cukup. Hanya dengan mengabaikannya. Keira sendiri masih menyimpan cerita lain. Dimana dirinya memang tidak menyukai ayahnya sejak masih dia kecil.
Bahkan, sampai sekarang, Keira tidak pernah memperhatikan seorang ayahnya itu. Keira lebih memilih untuk menjadi dirinya yang memang tidak peduli kepada ayahnya itu. Dia masih tidak segan untuk hanya bertanya keadaan ayahnya bagaimana. Selebihnya, untuk ada di rumah ini, itu karena kakaknya, Keylo yang meminta Keira di sini. Walaupun tidak sampai untuk menemani ayahnya, setidaknya ayahnya tahu bahwa ada Keira yang bisa saja, sewaktu – waktu bisa membantu ayahnya.
Walau lun Keylo sendiri tidak yakin jika Keira bisa menolong ayahnya. Lebih lagi ketika ayahnya sedang seperti ini.
Keira masuk ke kamarnya. Melempar tas gendongnya dan menuju ke ruang gantinya. Dia tidak mandi dulu, dia masih harus mengerjakan hal lain. Dia sedang semangat untuk mengikuti olahraga online. Dimana dirinya bisa menghabiskan waktu seperti itu dari pada harus mengurus ayahnya atau bahkan mengurus hantu – hantu yang mungkin saja masih berkeliaran di sekitar Keira. Tentu saja, tidak aneh, namun tetap saja terkadang Keira masih memikirkan mereka.
Walau pun tidak sampai se dalam itu, tapi Keira masih saja memikirkan, bagaimana mereka bisa di sini. Bagaimana mereka bisa tetap di sini jika mereka benar – benar sudah mati.
Haruskah Keira menanyakannya?
Sepertinya, Keira sudah cukup untuk hanya sekedar mengobrol dengan Jean saja. Dia tidak berminat untuk menambah teman ‘hantu’ nya.
· * * * * * * * * * * * * *
Keira di ganggu oleh hantu yang memang sering sekali ada di kamar mandinya. Dia sangat terganggu. Terlebih lagi, dia di kamar mandi ini te*lanjang. Dan mengabaikan hantu itu tidak bisa seenak jidatnya. Apalagi, hantu ini mungkin sudah pernah melihat Keira berkomunikasi dengan ganti dan mungkin saja secara tidak sengaja Keira menunjukkan bahwa dia bisa melihat hantu.
“gue emang liat lo. Jadi bisakah lo berhenti buat liat gue?” kata Keira memejamkan matanya di bawah aliran shower yang ada di atas kepalanya, “bisa ga lo wujudnya, yang bagusan dikit gitu? Viar kalo di ajak ngobrol agak enakkan gitu?” Tanya Keira lagi.
Hantu itu cekikikan tertawa dengan suara melengkingnya. Bahkan untuk ukuran hantu, sekarang itu tidak menyeramkan bagi Keira. Dia sudah terbiasa dan mungkin akan terus terbiasa.
Setidaknya, omongan tadi membuat hantu itu pergi dari sana dan tidak terlihat lagi di kamar mandi. Setidaknya, Keira juga bisa mandi dnegan aman dan privasinya terjaga.
Untuk sekarang, mungkin aman. Entah untuk nanti. Di luar kamar mandi, mungkin hantu itu sudah menunggu Keira untuk berbicara dengannya.
Kalau saja Keira tidak berbicara dengan hantu itu, sekarang lun, keira mungkin masih mandi dengan baju yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja.
Terkadang, jika Keira merasa amalu sekali, dia benar – benar memakai seluruh bajunya untuk mandi. Tapi, sekarang, Keira benar – benar te*lanjang bulat.
“Udah lama kayaknya gue ga mandi tanpa pake baju.” Gumam Keira pelan. “Siaalnya, gue mungkin harus berurusan dengan satu hantu lagi.” Katanya kemudian dia beedumal.
Setelah mandi, dia keluar. Dia benar – benar di tunggu oleh hantu itu fi depan kamar mandi. “bentar deh, gue pake baju dulu.” Kata Keira pelan sambil memejamkan matanya, karena hantu itu masih memakai sosok yang menyeramkan bagi Keira, “ganti dulu deh wujudnya. Kalo enggak, ya gue ga mau ngobrol sama lo.” Kata Keira sambil berjalan menuju ke arah lemari dan membawa baju juga menggantinya.
Sosok itu tidak tau entah kemana. Karena ujung mata Keira, dia tidak melihatnya di dekat lemari. Sosok hantu yang mengalahkan keseraman di kehidupan Keira itu benar -, benar sering kali membuat Keira gemetar.
Wajahnya cukup hancur seperti di pukuli dan juga lebam di sana dan sini. Rambut panjangnya berantakan dan cukup menyeramkan karena tangannya juga hampir tidak ada apa tempatnya. Dia benar – benar hancur seperti di pukuli kemudian di buang. Entah, namun, untuk sekarang Keira benar – benar harus menerima bahwa dirinya memang fi haruskan untuk bisa berkomunikasi dengan para hantu. Apalagi yang ada di kamarnya.
Setidaknya, Keira tidak ingin tidur, mandi dan belajarnya di ganggu.
Oh iya, jika kalian ingat tentu cerita Keira pada Olive yang dimana Keira melihat hantu keluar dari cermin itu, hantu itu adalah yang sekarang menungguinya di belakang Keira.
“Okay, ke ranjang.” Kata Keira kemudian menembus sosok itu yang sedari tadi ada di belakangnya dan terus menatapnya.
Hantu itu mengikutinya. Untung saja hantu iru didks mengeyel dan tidak keras kepala. Hantu itu berubah. Sosoknya menjadi sedikit rapi dan tentu saja Keira bisa mengobrol dan berbicara sedikit dengan hantu itu.
Jika bertanya bagaimana Keira bisa mengatakan bahwa hantu bisa berubah sosoknya, dia sudah melihat Jean yang berubah. Jean yang tadinya hantu yang menyeramkan karena jeratan di lehernya, membuat Keira ngilu karena lehernya mungkin tampak akan putus, namun, Jean berhasil merubah sosoknya menjadi sosok yang tidak terlalu menyeramkan untuk Keira. Jadilah, Keira mungkin bisa mengerti jika hantu bisa merubah sosoknya.
Dan terbukti. Sekarang, Keira berhadapan dengan hantu yang sosoknya cukup bisa dikatakan cantik. Mungkin, sosok ini selama hidupnya memang cantik.
“Jadi apa maumu?”