Keira tersentak karena suara itu. Dia benar – benar kaget namun dia berusaha untuk. Tidak berteriak karena melihat Jean yang sekarang ada di hadapannya.
Jean benar – benar membuat Keira hampir saja berteriak sambil melemparkan buku yang sedang ia pegang itu. Dia benar – benar kaget.
Yang sedang di tatap oleh Keira kini hanya tertawa pelan kemudian duduk di hadapan Keira yang dednag bersandar ke rak di belakang tubuhnya. Keira benar – benar tidak bida tertidur tentu saja.
“Ngapain juga sih lo?” Kata Keira dengan ketus kepada Jean yang duduk di hadapannya dan membuka buku yang ada di sana. Entah buku apa, Keira tidak memperhatikannya. Yang jelas Jean sepertinya tampak membaca buku itu dengan saksama.
“nyari lo. Abis gue ga ada temen lagi.” Kata Jean tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca. Keira yang melihatnya mendengus.
Keira benar -, benar di buat heran, “kan lo punya temen hantu yang lain. Kenapa mesti gue segala lagi.” Kata Keira kemudian menutup bukunya dan beranjak dari sana.
Secara tidak sadar, Keira pergi ke bangku dimana ada satu dua orang yang sedang membaca buku dan yang lainnya entah kemana. Keira juga sedikit risi karena di ikuti Jean yang masih terus membaca bukunya dan dia berjalan di samping Keira dengan menembus rak – rak buku yang ada. Dia tidak memperhatikan jalannya.
Keira masuk Agi ke lorong yang sepi. Dia ingin sekali menghakimi hantu satu itu. Dia benar -, benar sedang di uji. “bisa ga lo diem dan ga ngikutin gue?” tana Keira.
Pertanyaan Keira barusan di balas dengan gelengan dari om hantu di dioannya. “ga bisa. Cuman lo datu – satunya temen gue.” Kata Jean.
Embusan napas lelah dari Keira menandakan bahwa dia benar – benar jengah. “ga bisa, gue ga bisa ngomong banyak dan gue ga bisa ngeliatin ke orang kalo gue udah bisa ngomong sama hantu.” Kata Keira lagi berbisik.
“iya. Lo nanya di anggap gi*la.” Kata Jean dengan polosnya, “jadi abaikan aja gue kalo gue ga ngajak ngobrol lo.” Kata Jean, “gue bakal tau tempat kok buat ngajak ngobrol lo.” Ucapnya lagi kemudian menatap Keira sekilas.
Lagi – lagi Keira benar – benar ingin berteriak membentak hantu itu. Bisa – bisanya dia mengatakan itu dengan mudahnya. Tentu saja yang di anggap gi*la nanti adalah Keira. Bukan hantu. Amna ada orang lain melihat Jean yang sedang membaca buku ini. Lagi lula, kenapa juga Jean harus mengikuti Keira. Padahal, tidak da yang harus di lakukan. Tidak banyak juga yang di selesaikan. Keira sendiri pengen nya sih sendiri. Tapi, bagaimana lagi, irang lain mungkin akan menganggap dia sendiri.
Jadi, Keira pasrah dengan hal ini. Dimana dia benar -, benar saling mengabaikan satu sama lain. Tentu saja Keira tidak ingin di anggap orang stres di sini. Keira juga mungkin akan membahas ini nanti.
“Okay. Biarin gue istirahat.” Kata Keira, “kalo gue ketiduran, Bangunin gue.” Kata Keira lagi. Dia lantas mendudukkan pan*tatnya di atas kursi di bawah jendela yang memang sengaja di pasang miring mengikuti pola atap perpustakaan. Entah apa konsepnya, namun ini benar – benar menawan.
Dimana Keira bisa langsung melihat awan melalui kaca transparan itu. Selanjutnya, setelah melihat awan itu, Keira menyimpan kepalanya di atas tangannya yang sudah ia letakkan terlebih dahulu di atas meja. Dia benar – benar mengantuk.
Jean hanya mengangguk mendengarkan apa yang di minta oleh Keira. Dia tidak melepaskan pandangan dari buku yang ia pilih. Dia masih terus membaca tanpa menghiraukan sedikit pun pergerakan ari Keira. Jean malah ikut duduk di depan Keira.
“inget ya, gue ga mau ke kunci di sini. Apalagi sama lo.” Kata Keira dengan nada yang rendah. Dia mungkin sudah masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Namun, dia masih mengingat apa telatahnya kepada seorang (?) Atau hantu itu.
Yang jelas, setelah mengatakan itu, Jean tidak mendengar lagi suara dari Keira. Dia benar – benar terlelap di sana.
* * * * * * * * * *
Keira terbangun karena ocehan dari Jean yang sedari tadi terdengar namun baru ia sadari sekarang. Muka kusut dari Keira membuat Jean terkekeh.
“apaan sih?” kata Keira kepada Jean yang masih terkekeh.
Jean diam kemudian dia bertolak pinggang, “bukannya lo minta gue Bangunin lo? “ tanya Jean, “ha lo udah daring beepaa kali toh.” Katanya lagi.
Kemudian, yang di lakukan oleh Keira ada mengambil ponsel di saku roknya kemudian melihat jam yang terpampang di walppaernya. “jam setengah 3?” tanya Keira sedikit kaget.
Jean mengangguk, “gue dari tadi Bangunin lo.” Kata Jean pelan.
“Goyang – goyang badan gue kek.” Kata Keira mengomel, “suara aja susah buat gue bangun.” Kata Keira lagi.
Tanpa sadar, Keira diam setelah menyelesaikan kalimatnya kemudian menepuk jidatnya pelan, “gue lupa kalo lo hantu.” Sahutnya kemudian dia bangkit dari sana, “sekolah bubar jam empat belas empat puluh tepat, ada sepuluh menit lagi, gue musti ada di kelas.” Kata Keira lagi.
Dia sedikit berlari di sana kemudian menyapa sebentar penjaga perpustakaan kemudian dia pergi dari sana. Setidaknya, jika ada gue, dia tidak bisa beralasan lagi. Mungkin, Keira akan menunggu guru itu selesai mengajar. Toh, cuman sepuluh menit lagi.
Lagi pula, perjalanan dari perpustakaan ke kelas lumayan juga. Jadi, mungkin lima menit lagi.
Setelah sampai di depan kelasnya, Keira benar – benar tidak mendengar apa pun dari dalam kelasnya. Dia benar – benar merasa telinganya dingin – dingin saja. Lantas, dia menengok jendala yang ada di atas kepalanya, “udah bubar?” kata Keira pelan.
Sebenarnya, Keira mengomel kepada diri sendiri. Namun, Jean masih mengikutinya. “Iya dari se jam yang lalu.” Kata Jean pelan.
Keira menatap Jean, “lah, lo kok ga ngasih tau gue?” kata Keira kesal.
“idah, gimana mau ngasih tau? Lo yidur udah kayak kebo. Ga bisa gue Bangunin.” Kata Jean lagi.
“Ya gimana kek. Lo musti nya bilang dari tadi.” Kata Keira lagi berdecak pelan.
Kemudian, tidak ada kawasan dsei Jean. Tapi, Keira mendapati dan mendengar suara sepati menuju ke arahnya. Dia berbalik dan kaget menemukan orang yang sama yang tadi siang ia lihat.
“Lo kepergok ngomong sendiri sekali lagi, gue bener – bener bakal mgira lo gila.” Katanya lalu melewati Keira begitu saja.
Apa pula masalahnya? Ngapain juga dia bilang gitu an? Ga oenti g banget.
“Serah lo. Ga ada urusannya sama lo.” Uxao Keira dengan Anda cukup ringgi sehingga memungkinkan untuk laki – laki itu mendengarnya.
Laki – laki itu berhenti kemudian menatap Keira, dia tersenyum, “mungkin, lo udah ga waras sejak dulu.” Katanya pelan kemudian pergi lah meninggalkan Keira.
“sialaan, Ngapain juga sih toh orang.” Keira mencak – mencak sebal.