Keira sendiri sekarang merasa kesal. Dimana dirinya mencak – mencak sendiri karena dirinya di tinggalkan sendiri di sini. Dia juga merasa bahwa dia kesepian di sekolah ini. Dimana dirinya memang tidak biasa sendiri di sekolah. Dia sudah biasa sendirian di rumah namun tidak ada di sekolah ini.
Di rumah memang sudah sangat biasa ia sendirian. Dimana memang dia sendiri saat siang ini. Kalau pun malam hari, biasanya dia hanya diam di rumah dan duduk diam saja di dalam kamarnya. Dia juga benar – benar merasa kesepian.
Selama setahun ada di sekolah ini, baru kali ini ia menginjakkan sepatunya di perpustakaan. Dimana dirinya memang tidak pernah masuk jika ada tugas mencari referesi untuk tugas sekolahnya. Namun, kali ini dia harus datang ke perpustakaan. Dia benar – benar harus karena tidak ada tempat lagi untuk dirinya bersembunyi dari orang – orang yang sering kali menganggapnya tidak pernah baik.
Padahal, ada waktunya dimana dia akan bersikap baik – baik kepada orang yang cukup baik dengannya. Selama orang itu benar – benar baik kepadanya tanpa membicarakan dirinya setelah itu. Keira juga sering sekali mendengar orang – orang yang membicarakan dirinya walau pun Kiera berbiat baik kepada orang – orang di sekitarnya.
Mungkin, orang di luar sana sudah tertanamkan sikap ketus dan acuh seorang Keira dimana dirinya yang memang selalu menampilkan hal tersebut di setiap waktu dirinya di sekolah ini. Mereka yang tahu sikap tidak suka Keira kepada kehidupannya ini mungkin lebih memilih untuk menjauhi Keira dari pada berurusan dengan Keira. Mereka juga memilih untuk tidak berurusan secara gamblang dengan seorang Keira.
Karena mereka lebih tidak menyukai Keira setelah Keira berbicara dengan nada yang tidak enak di dengar dan juga isi pembicaraannya yang kurang enak di hati orang yang mendengarnya. Tidak seharusnya memang seperti itu, tapi begitulah sikap Keira yang tidak menyukai kehidupannya.
“Bisa di isi dulu buku kunjungannya.” Kata penjaga perpustakaan itu.
Benar.
Keira benar – benar tidak biasa untuk masuk ke perpustakaan sampai – sampai dia tidak tahu harus mengisi buku kunjungan seperti ini jika masuk ke perpustakaan. Dia benar – benar pertama kali ada di sini mengisi buku kunjungan.
Keira tersenyum canggung kemudian mengangguk dan dia mngambil pulpen yang ada di sana kemudian menuliskan namanya dan juga kelasnya.
“Keira, kelas sebelas ips lima.” Kata penjaga perpustakaan itu.
Lagi – lagi Kiera tersenyum canggung. Dia benar – benar tidak biasa bicara dengan orang yang lebih tua darinya. Dia juga tidak biasa untuk terus di sana berdiri. Pasalnya, dia hanya ingin tidur siang memukul waktu supaya berjalan dengan cepat karena dia sudah tidak bisa lagi ada di kelasnya dan sendirian.
Dia juga hanya ke perpustakaan ini untuk bersembunyi dan diam. Tadi, dia pergi ku UKS tapi bukan ketenangan yang ia temukan malah kejadian menjijikan yang di temuinya. Dimana ada dalam UKS sana ada hal tidak seronoh. Dia hanya mendiamkan dan tidak mau mencampuri urusan pribadi itu.
Tentu saja pribadi.
Yang malu adalah mereka sendiri. Yang dosa juga mereka sendiri. Keira tidak ingin berbagi hal itu kepada dirinya sendiri. Walau pun dirinya sendiri merasa banyak dosa di kehidupannya ini, dia tidak ingin lagi menambha dosa karena melihat hal buruk itu. Dimana dirinya tidak mau melihat dan berdosa karena menganggu ‘kesenangan’ mereka berdua. Jadi, dia ke sini dan berharap dia menemukan ketenangan di sini. Setidaknya, dia bisa duduk diam atau bahkan tidur.
Keira mengangguk kepada penjaga perpustakaan itu dan tersenyum sambil melegos perdgi dari sana setelah mengisi buku kunjungan. Namun, dia di panggil lagi yang mengharuskan dia berbalik lagi ke sana dan bertanya kenapa.
“Iya, Bu?” Tanya Keira, “kenapa ya?” tanyanya pelan.
Sebenarnya, Keira tidak sabar ingin masuk ke dalam salah satu lorong buku di sana dan membiarkan dirinya duduk di sana kemudian membaca beberapa baris buku atau novel, dan tertidur di sana. Melupakan apa yang sudah ia alami hari ini. Dia juga tidak berkeinginan untuk lama – lama sendirian.
Tapi karena rapat guru di sana belum selesai, dia memilih untuk tidak ada di kealsnya. Mungkin, kelasnya menjadi lebih ramai lagi karena di sana ada beberapa biang kerok sekolahan. Dan kemungkinan besar juga, dia akan di ganggu dengan kebisingan yang ada di sana. Dia tidak suka dan tidak pernah menyukai hal seperti itu.
Selanjutnya, yang dia alami adalah dia di berikan satu kartu dimana itu menandakan bahwa dia sekarang adalah salah satu anggota pengungjung perpustakaan. Sekali lagi, Keira benar – benar tidak tahu jika dia harus memiliki ini untuk masuk ke dalam perpustakaan.
“Ini kali pertamamu datang ke sini bukan?” tanya penjaga perpustakaan itu, Keira mengangguk pelan, “lain kali, kamu harus menuliskan nomor anggota kamu di buku kunjungan.” Kata orang itu lagi.
Keira mengangguk lalu menatap kartu yan sedang ia pegang. “Nomor 88 ya, Bu?” Tanyanya pelan.
Ibu penjaga itu mengangguk.
Setelah itu, Keira berbalik dan bergumam. “Kalo kartu anggota gue ini nomor 88, apa mungkin yang masuk ke perpustakan ini baru 88 orang?” tanyanya kepada dirinya sendiri. “Tapi masa ya? Ada tiga angkatan, terus setiap kelas ada tiga puluh orang, kalo di kalikan lima kelas setiap angakatan da itu baru kelas ips aja, mungkin-“ lalu gumaman Keira sendiri sambil berjalan itu berhenti. “Ngapain juga gue mikirin itu lah.” Kata Keira lagi.
Dia kemudian memasukkan kartu anggota itu ke dalam saku kemejanya dan langsung masuk ke dalam salah satu lorong buku yang ada. Lalu dia memilih buku mana yang akan ia baca. Setidaknya, harus ada beberapa kalimat yang ia baca. Namun, untuk tidak membuang waktunya terlalu lama, mungkin dia akan langsung tidur di serratus kalimat pertamanya. Kemungkinan juga, dia akna langsung tidur di sana.
Sebelum dia tidur, dia akan memasang alarm di ponselnya untuk emmbangunkannya tadi. Jangan sampai dia ketiduran sampai pulang sekolah atau lebih parahnya sampai perpustakaan di kunci. Dia juga tidak ingin ada di sini selama itu. Dia hanya ingin ada di sini selama rapat guru berlangsung. Estimasinya adalah satu jam, jadi dia akan memasang alarm untuk satu jam ke depan.
Dia menemukan satu buku novel romantis. Katakanlah dia tidak pernah menyukai kehidupannya, namun, dia cukup untuk menyukai kehidupan yang ada di dalam novelnya. Dia juga mungkin akan tenggelam dalam tokoh itu dan mungkin juga dia akna membayangkan yang indah itu adalah kehidupannya.
Setidaknya, jika itu dia mungkin dia akan memilih untuk tetap ada di dalam novel itu dari pada kehidupannya ini.
Dia kemudian duduk di ujung lorong di dekat jendela. Dia kemudian memanjangkan kakinya dan membuka buku itu dan membaca synopsis di belakang buku itu lalu mulai membuka bab pertama. Dia membaca dengan cukup serius setelah dia meng – set alarm di ponselnya yang ia simpan di sampingnya kemudian dia duduk manis di sana.
Lembar demi lembar ia buka dan dia terlelap dalam bacaannya.
“Lo di sini ternyata.”