Bab 7 : Namanya Jean

1570 Kata
Hantu itu mendadak melihat apa yang ada di tangannya. Di bayangannya, di tangannya itu ada sebuah ponsel namun secara perlahan – lahan ponsel itu menghilang dan tentu saja tidak ada di tangannya. Dia benar – benar kaget dengan kenyataan itu. Keira yang melihat itu tersenyum miring kemudian dia menempatkan tangannya di atas tangan yang sedang menagadah ke atas. Lebih tepatnya tangan Keira ada di atas tangan hantu itu. Kemudian setelah hantu itu melihat Keira, dia diam dan menatap Keira dengan tatapan ‘kenapa?’. Kiera dengan ke*jamnya langsung melayangkan tangannya. Menimpa tangan yang sedang ada di bawahnya itu. Kemudian dengan sigap, hantu itu menatap tangannya. “Lihat?” tanya Kiera, “tangan lo itu sebenernya tembus pandang.” Kata Kiera dengan nada yang cukup membuat hantu itu sedikit sakit, “gue bilang kayak gini bukan buat nyakitin lo.” Kata Keira men – disclaimer apa yang sudah ia katakan, “gue mikir lo harus tau keberadaan lo dan lo harus bisa nerima kalo lo ini udah berbeda dari kehdiupan lo yang lalu – lalu.” Kata Keira lagi. Keira benar – benar tidak bisa berbuat apa – apa lagi selain memberi tahu apa yang diirnya perlu tahu. Keira juga memberi tahu bahwa dia tidaklah seharusnya ada di sini. “Terus, gue harusnya ada di mana?” Tanya hantu itu. Keira sekarang mengendikkan bahunya. Dia sungguh tidak tahu kemana dan harus bagaimana ke depannya. Hantu itu selalu ada di sekeliling Keira dan membuat Keira sedikit penasaran, harusnya, mereka kemana? Seharusnya mereka tidak di sana tentu saja? Apakah ada urusan yang belum selesai sehingga mereka ada di sini dan terus berada di sini? Terjebak? Atau bahkan mereka sengaja di sini? Tapi rasa penasaran justru terkalahkan dengan rasa takut yang di rasakan oleh Keira. Dimana Keira benar – benar ada di sana dengan tanpa tanya. Biasanya, Keira juga tidak berbuat apa pun ketika bertemu dengan hantu. Dimana dia selalu mencoba mengabaikannya walau pun terkadan itu sulit di lakukan karena Keira terkadang selalu penasaran kenapa tidak semua hantu sama? Apakah mereka menjadi hantu setelah apa yang sudah di laluinya? Misalkan, ada hantu yang sebagian wajahnya hancur dan amsih mengeluarkan darah yang sudah mongering namun tetap saja mengerikan. Ada juga di antara mereka yang tidak utuh anggota tubuhnya. Dan ada juga di antara mereka yang biasa saja seperti hantu yang sudah ia temui ini. Dia seperti anak sekolahan lainnya. Maka dari waktu itu, Keira menjawab pertanyaannya yang menanyakan bagaimana kabarnya hari ini. Karena Keira belum menemukan perbedaannya. Dimana Kiera hanya menganggapnya siswa biasa yang berada di sekolahnya. Saat Keira berusaha untuk bersikap ramah kepada orang – orang, yang di temuinya adalah hantu. Bukan orang biasa. Keira juga merasa menyesal karena hal itu membuat hantu ini mengikutinya sejak pagi hari tadi. Siang ini, hantu ini benar – benar menunjukkan realitasnya. Dia benar – benar bisa di ajak berbicara seperti orang – orang pada umumnya dan juga seperti orang – orang yang biasa di ajak berkomunikasi. Tentu saja hal itu membuat Keira sedikit menyesal. Tapi walau pun begitu, setidaknya, berbicara dengan hantu tidak seburujk itu juga menurutnya. Mungkin, jika semua hantu seperti hantu di depannya sekarang, dengan baju dan juga tubuh yang normal, mungkin Keira bisa mengajak mereka mnegobrol. Kiera merasa kesal dengan orang – orang di sampingnya sekarnag. Dimana orang – orang tidak pernah menganggapnya ada. Dan itu membuat Keira seperti menjadi hantu di kehidupan ini. Dan tentu saja, rasanya tidak enak. Begitu pula yang di rasakan oleh hantu di depannya ini. Kemungkinan dia juga merasakan apa yang sudah di rasakan oleh Keira yang lalu – lalu. Dimana Kiera yang merasa rishi ketika dia bicara namun tidak di dengarkan. Dia mencoba berbaur namun semua orang menghindarinya. Dulu sekali, Keira mengalami hal buruk. Dan itu terjadi dan tertinggal sampai hari ini. Hari dimana dirinya benar – benar di buat menyesal. Dia benar – benar menyesal karena melakukan satu kesalahan yang di ingat selama ini untuk semua orang. Dan itu membuat Keira tidak memiliki teman lagi. “Gue ga tau kalo untuk urusan itu.” Kata Keira menjawab pertanyaan dari hantu yang kini masih ada di depannya dan tentu saja membuat hantu itu lesu, “gue beneran ga tau, jadi cukup sampai sini aja.” Kata Keira. “Lo jangan ganggu gue lagi.” Kata Keira melanjutkan perkataannya yang belum sempat keluar. Hantu itu diam. Kemungkinan hantu itu mulai berpikir lagi. Apa dan bagaimana yang harus ia lakukan sampai ke depannya. Dimana Kiera yang tidak punya urusan untuk masalah itu, jadi dia ingin beranjak pergi dari sana. Tapi, sebelum dia berhasil keluar dari lingkungan itu, hantu itu menyusulnya. “tapi, gue bisa ngobrol sama orang lain selain lo.” Kata hantu itu. Tentu saja Keira terkejut. Dia bilang dia bisa berbicara dengan orang lain selain Keira? Apa itu dia manusia? Atau sesama hantu? Keira tersenyum kecil, “lo yakin itu orang termasuk ke golongan gue?” tanya Kiera, “yang gue maksud golongan gue adalah orang – orang semacam gue yang masih hidup dan bernapas dan yang terpenting masih punya denyut jantung.” Kata Keira menekankan kalimat di akhir perkataannya barusan. Selanjutnya, hantu itu diam. Dia berpikir lagi. Di dalam pikirannya, benar juga. Bukankah itu orang yang bernyawa atau bahkan orang yang sudah mati seperti dirinya? Hantu itu benar – benar seperti di buat berpikir lagi oleh Keira, dimana hantu it uterus menerus berpikir dan berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi di kehidupannya. Dia benar – benar tidak mengingat apa pun. Dia hanya mengingat namanya. “Jean.” Katanya pelan. “Hah?” Tanya Keira. “Nama gue.” Kata hantu itu, “nama gue Jean.” Ucapnya lagi. Hantu yang mengaku namanya Jean itu kini tersenyum kecil ke arah Keira, “gue ga peduli apa yang udah terjadi di kehidupan masa lalu gue, gue pengen cari tahu gimana gue mati.” Kata Jean lagi. Kiera tersenyum tidak ikhlas dan menatap Jean ngeri kemudian dia mengangguk ekcil, “baiklah, Jean.” Katanya kemudian menelan ludahnya, “selamat berjuang dan selamat untuk mencari tahu bagaimana lo mati.” Kata Keira yang ingin kabur dari sana. Selanjutnya, Keira benar – benar pergi dari sana. Dia benar – benar berharap tidak ingin melihat Jean atau siapa pun itu. Sudah cukup hanya satu hantu saja yang di ajaknya berbicara. Yang lainnya tidak usah. “Lo ngobrol sama siapa?” Keira kaget dengan suara itu. Suara berat itu membuat Keira berhenti berjalan. Dia terpaku di sana dan berputar pelan. Dia melihat orang yang sedang berjalan mendekatinya. Keira baru lagi melihat orang itu. Bahkan Keira tidak mengenali wajahnya dan tidak pernah melihatnya dengan sangat jelas. “Lo siapa?” Kata Keira dengan nada sedikit takut. Keira bukan takut kepada orang di depannya. Keira hanya takut jika itu adalah hantu lain yang sudah bisa mengajaknya mengobrol dengan Keira. Dia tidak mau berurusan dengan hantu lagi selain Jean. Dan Jean adalah sudah cukup untuknya. Dimana Jean adalah hantu pertama dan terakhirnya yang di ajak bicara. Keira tidak mau lagi mengajak dan berbincang dengan hantu lagi. Sudah cukup. Hanya Jean saja. “Gue yang tanya duluan ke lo.” Kata orang itu. Keira melihat orang itu berjalan ke arahnya sambil tangannya ada di sakunya. Dia masih siswa di sini. Namun, Kiera baru saja melihatnya. Keira tidak mengenalnya dan Keira tidak perduli itu siapa dan dari mana kelasnya. Yang jelas, Keira benar – benar tidak mau lagi berkenalan dengan hantu. “Lo ngobrol sama siapa barusan?” tanyanya lagi. Kiera meneguk ludahnya kemudian menatap orang itu dengan dagu terangkat. Sebenarnya, walau pun Kiera cukup buruk di mata pelajaran di sekolahnya ini, tapi Keira tidaklah sebodoh itu juga. Dengan pertanyaan yang di ajukan sampai dua kali oleh orang yang sekarang ada di depannya dan sudah sangat jelas Keira menatap orang ini. Kemudian, dia yang di lakukan Keira adalah kebodohannya yang mungkin tidak pernah akan di lakukannya lagi setelah ini. Keira menepuk lengan dari orang itu sedikit memakai tenaga kemudian dia tersenyum. Dia hanya memastikan bahwa pertanyaan yang di ajukan orang di depannya ini adalah pertanyaan yang bukan sekedar basa – basi. Dia hanya takut jika orang di depannya juga sama dengan Jean tadi. Dia takut bahwa orang di depannya tidak menyadari bahwa dia sudah mati dan menyakan pertanyaan yang bo*doh karena Keira sudah mengobrol dengan orang lain atau bisa di katakana dengan hantu lain. “Ngapain lo pegang – pegang gue?” Kata orang di depannya. Kini Keira benar – benar yakin jika orang di depannya adalah orang yang sama dengan Keira. Masih memiliki jantung dan juga masih memiliki napas yang sama dengan Keira. “Gue cuman mastiin kalo lo bukan se*tan.” Kata Keira dengan seenaknya. Orang di depannya jelas akan tersinggung. Tentu saja, Keira dengan sangat jelas mendapatkan tatapan tajam. Dia benar – benar merasakan bahwa Kiera sedang mengejeknya dengan membuat kalimatnya seperti itu. Setidaknya, Keira benar – benar mengajak ribut orang di depannya saat ini. “Lo ngatain gue?” Tanya orang itu dengan kalimat yang ditekankan di semua katanya. Kemudian, Keira dengan polosnya menggeleng pelan. “Gue ga ngatain lo, gue cuman meyakinkan diri gue sendiri kalo lo beneran secara harfiah bukanlah se*tan.” Kata Keira lagi. Orang di depannya sedikit menggeram. “Gue ga pernah tau lo bisa ngobrol sama se*tan.” Kata orang itu lagi. Keira terkekeh, “gue barusan udah ngobrol sama se*tan.” Kata Keira kemudian dia berbalik, “itu ‘kan pertanyaan lo tadi?” Ucapnya pelan, “udah terjawab ‘kan? Dah gue pergi.” Kata Keira meninggalkan orang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN