BAB 5: CERMIN TERAKHIR

328 Kata
Rara berlari sambil memegang pecahan kaca dari koper—satu-satunya s*****a yang bisa ia dapatkan. Langkah kakinya berdebam di tangga kayu yang lapuk, sementara suara derak tulang semakin dekat di belakangnya. "KAMU TIDAK BISA KABUR DARI KELUARGA, ANAKKU!" Suara kakek buyutnya bergema, memenuhi seluruh rumah seperti gema dalam gua. Kamar Mandi Lantai Dua Rara membanting pintu kamar mandi dan mengunci—tapi tahu itu tak akan bertahan lama. Cermin tua di atas wastafel sudah retak membentuk pola spiral, persis seperti simbol di ruang bawah tanah. "Cermin itu jalan keluar," pesan terakhir itu berbisik di kepalanya. Dengan tangan bergetar, ia mengulurkan tangan menyentuh cermin DINGIN. Permukaannya berubah seperti air, jari-jarinya tenggelam ke dalam bayangan. Tapi sebelum ia bisa melompat, pintu kamar mandi terbanting terbuka. Kakek buyutnya berdiri di sana, tubuhnya kini utuh wajahnya segar seperti orang hidup, tapi matanya hitam seperti lubang. "Kau harus menggantikan Sri di cermin," ujarnya sambil melangkah mendekat. "Agar aku bisa bebas." PENGUNGKAPAN TERAKHIR 1. Kakek buyut Rara (Teguh) tewas menggantung diri 60 tahun lalu setelah membunuh istrinya yang ketahuan selingkuh. 2. Dia mengutuk seluruh keturunannya sebagai tumbal agar rohnya tetap "hidup". 3. Nenek Rara (Sri) sebenarnya sudah mati 30 tahun lalu digantikan oleh adiknya yang hilang (ternyata dikurung di cermin). "Lihatlah cerminnya, cucuku..." Rara menoleh di dalam cermin, wajah neneknya yang sesungguhnya menangis, tangan menekan dari balik kaca. "Tolong... aku sudah terjebak di sini terlalu lama..." KEPUTUSAN FINAL Rara memandang pecahan kaca di tangannya, lalu ke cermin. Dua pilihan: 1. Memecahkan cermin = Membebaskan nenek, tapi membuat kakek buyut menguasai dunia nyata. 2. Melompat ke dalam cermin = Menggantikan nenek, mengunci kutukan selamanya. "AKU PILIH JALAN KETIGA." Dengan gerakan cepat, Rara menikam pecahan kaca ke leher kakek buyutnya tepat di bekas luka gantung diri. "TIDAK—!" Tubuhnya berubah jadi debu, tapi cermin mulai menghisap segala sesuatu seperti lubang hitam. Rara berpegangan erat pada pipa, sementara neneknya terlempar keluar dari cermin. "Rara, pegang tanganku!" teriak nenek. Tapi sudah terlambat. Cermin itu menyedot Rara masuk
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN