Rara terjatuh ke dalam kegelapan yang dingin dan basah. Saat matanya terbiasa, ia mendapati diri berada di replika terbalik rumah tua itu , tapi dengan segala sesuatu yang lebih... tidak benar
Dinding-dinding bernapas seperti daging hidup, mengeluarkan lendir kemerahan.
Jam dinding berputar mundur, jarum-jarumnya terbuat dari jari manusia yang kaku.
Di jendela, bayangan-bayangan tanpa pemilik bergerak sendiri, menyaksikannya dengan lapar.
"Kau tidak seharusnya melukai Ayah."
Suara itu membuat Rara berbalik. Neneknya berdiri di tangga tapi bukan nenek yang ia kenal. Kulitnya pucat kebiruan, bibirnya dijahit rapat dengan benang hitam , dan di tangannya ia menggenggam foto keluarga yang terus berganti-ganti wajah
PENGUNGKAPAN MENGEJUTKAN
1. Dunia cermin adalah penjara abadi untuk semua korban kutukan keluarga.
2. Nenek Rara (Sri) sebenarnya korban pertama dibunuh Teguh karena menolak menyembahyangkan mayat istrinya.
3. Setiap 30 tahun, mereka butuh penerus baru agar bisa "merasakan hidup lagi".
"Kau harus memahami, Rara,"bisik nenek dengan suara yang tiba-tiba lembut. "Kami hanya ingin... merasakan hangatnya teh di pagi hari lagi. Mencium bau tanah setelah hujan..."
Tangannya yang membusuk mengusap foto. Tiba-tiba, gambar itu menunjukkan adegan Rara kecil sedang bermain di taman esuatu yang tidak mungkin mereka ketahui .
PERTARUHAN TERAKHIR
Rara menyadari satu hal: cermin adalah portal dua arah .
Dengan sisa tenaga, ia berlari ke dapur dunia terbalik itu—di mana kompor masih menyala dengan api biru kehijauan.
"Jika kalian ingin merasakan hidup..."Rara mengambil wajan berkarat, "...mari kita masak bersama."
LANGKAH GILANYA
1. Memasak makanan favorit almarhum nenek (opor ayam) di dunia roh.
2. Memancing memori emosional nenek yang sebenarnya.
3. Saat nenek lengah menyambar foto keluarga itu dan melemparkannya ke api .
"TIDAK!" Nenek menjerit saat foto itu terbakar, mengeluarkan asap berbentuk wajah-wajah yang kesakitan .
KEHANCURAN DUNIA TERBALIK
Lantai mulai menelan diri sendir
Cermin-cermin pecah berantakan , mengeluarkan jeritan.
Dari dalam api, Teguh muncul sebagai sosok hangus , mencakar-cakar udara.
"LARI, RARA!"
Suara itu datang dari versi nenek yang sebenarnya wajahnya kini normal, tapi setengah tubuhnya sudah hancur. Tangannya mendorong Rara ke arah cermin retak terakhir yang masih utuh.
EPILOG: KEMBALI KE DUNIA NYATA
Rara terbangun di rumah sakit dengan luka bakar berbentuk tangan di pergelangan tangan.
Rumah tua itu telah hangus jadi abu
Tidak ada mayat yang ditemukan di puing-puing.
Tapi setiap malam purnama, cermin di kamarnya menunjukkan bayangan tambahan —seorang wanita tua tersenyum bangga, memegang mangkuk opor ayam.
Catatan terakhir di buku harian Rara :
"Kadang, kutukan tidak perlu dihancurkan... tapi dipahami. Dan nenek? Akhirnya ia mendapatkan kedamaian yang ia rindukan selama 60 tahun."