BAB 6: LABIRIN KACA

480 Kata
Rara tersentak bangun di sebuah lorong tak berujung yang dindingnya seluruhnya terbuat dari cermin. Setiap langkahnya memantulkan ribuan bayangan dirinya - tapi dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang menangis, ada yang tertawa terbahak-bahak, bahkan beberapa menunjukkan wajah yang sudah membusuk. "Kamu tidak bisa kabur, cucuku," suara nenek bergema dari segala arah. Suara itu seolah datang dari dalam cermin-cermin itu sendiri. Rara berlari, tapi setiap belokan hanya membawanya ke lorong yang sama. Di salah satu cermin, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya membeku: Adegan masa kecilnya yang tidak pernah ia ingat Nenek Sri muda sedang berbicara dengan seseorang di ruang bawah tanah Sosok tinggi dengan leher bengkok mengawasi dari balik pintu Tiba-tiba, salah satu bayangannya bergerak sendiri. Bayangan itu tersenyum lebar, lalu mengetuk kaca dari dalam. "Aku bisa membantumu," bisiknya dengan suara Rara sendiri tapi lebih parau. Bayangan itu mengulurkan tangan keluar dari cermin. Kulitnya pucat kebiruan dengan kuku-kuku panjang menghitam. Rara mundur ketakutan, tapi bayangan itu terus memanggil. "Kamu harus memilih, Rara. Tetap di sini selamanya... atau gantikan aku." Di ujung lorong, muncul cahaya redup. Rara melihat sosok Dr. Farid berdiri di sana, tangannya memegang jam saku berdarah. "Jangan percaya bayanganmu sendiri," peringatannya singkat sebelum ia menghilang lagi. Lantai mulai bergetar. Cermin-cermin retak satu persatu, dari celah-celahnya keluar tangan-tangan pucat mencoba meraih Rara. Suara nenek semakin keras: "WAKTUNYA HAMPIR HABIS!" Bayangan Rara di cermin kini sudah setengah keluar, senyumnya semakin lebar sampai sudut mulutnya terkoyak. "Ayo cepat... ganti aku..." (328 kata) Rara tersentak bangun di sebuah lorong tak berujung yang dindingnya seluruhnya terbuat dari cermin. Setiap langkahnya memantulkan ribuan bayangan dirinya - tapi dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang menangis, ada yang tertawa terbahak-bahak, bahkan beberapa menunjukkan wajah yang sudah membusuk. "Kamu tidak bisa kabur, cucuku," suara nenek bergema dari segala arah. Suara itu seolah datang dari dalam cermin-cermin itu sendiri. Rara berlari, tapi setiap belokan hanya membawanya ke lorong yang sama. Di salah satu cermin, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya membeku: Adegan masa kecilnya yang tidak pernah ia ingat Nenek Sri muda sedang berbicara dengan seseorang di ruang bawah tanah Sosok tinggi dengan leher bengkok mengawasi dari balik pintu Tiba-tiba, salah satu bayangannya bergerak sendiri. Bayangan itu tersenyum lebar, lalu mengetuk kaca dari dalam. "Aku bisa membantumu," bisiknya dengan suara Rara sendiri tapi lebih parau. Bayangan itu mengulurkan tangan keluar dari cermin. Kulitnya pucat kebiruan dengan kuku-kuku panjang menghitam. Rara mundur ketakutan, tapi bayangan itu terus memanggil. "Kamu harus memilih, Rara. Tetap di sini selamanya... atau gantikan aku." Di ujung lorong, muncul cahaya redup. Rara melihat sosok Dr. Farid berdiri di sana, tangannya memegang jam saku berdarah. "Jangan percaya bayanganmu sendiri," peringatannya singkat sebelum ia menghilang lagi. Lantai mulai bergetar. Cermin-cermin retak satu persatu, dari celah-celahnya keluar tangan-tangan pucat mencoba meraih Rara. Suara nenek semakin keras: "WAKTUNYA HAMPIR HABIS!" Bayangan Rara di cermin kini sudah setengah keluar, senyumnya semakin lebar sampai sudut mulutnya terkoyak. "Ayo cepat... ganti aku..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN