part 14

1487 Kata
Pagi ini matahari bersinar lebih cerah dari hari biasanya, angin berkesiur menarikan dedaunan sebagaimana mestinya. sosok Mika tersenyum dengan berbeda kali ini sembari kedua tangannya di sibukkan dengan membuat omelette. senyumnya kian mengembang ketika ia menatap sekilas pria yang tengah duduk di ujung meja konter sedang menikmati kopinya dengan lesu. Tingg..... suara mesin pemanggang roti yang sudah selesai melakukakn tugasnya. "Mas, Ini" kata Mika sambil menyodorkan sebuat piring berisikan roti panggang dua, satu sosis bakar ukuran sedang dengan pelengkap omelette , tampak perpaduan yang cantik. di tambah potongan apel sebagai pencuci mulut. Mika kembali tersenyum ketika kata 'terima kasih' keluar dari bibir pria yang energinya masih belum terkumpul semua. "Hari ini mas Fahri anterin aku kerja , kan?" tanya Mika sambil mengambil tempat tepat berada di depan Fahri untk menyantap sarapannya. "iyaa..iya.." jawabnya malas. yeayy. "kalau gitu cepet di habisin nanti keburu dingin gak enak" kata mika. ".....Kayak ibu-ibu aja, bawel banget"Fahri menatap tak suka sebagai respon. Mika hanya tertawa kecil. Pukul sembilan pagi sinar matahari terbaik yakni pada saat jam ini. Mika dengan tenangnya berdiri dengan dagu yang terangkat seperti sedang menyerap energi alami dari alam. Mika di kagetkan dengan suara Fahri yang tiba-tiba berdiri di sampingnya dengan tatapan bingung. "Ngapain kamu?" tanya Fahri penasaran. Mika merentangkan kedua tangan melakukan peregangan sebelum ia menjawab pertanyaan dari sang suami. "lagi nyerap vitamin D mas, mas juga harus melakukan ini. di jamin langsung full energi" jawab Mika percaya diri. Fahri berdecak sinis tidak percaya ia digurui oleh gadis yang terpaut lima tahun lebih muda darinya. ia menggeleng pelan. . . "Jam empat, kan?" tanya Fahri memastikan, ketika tujuan mereka sudah sampai. "Iya mas, makasih ya.." "ahh .. ini mas" Mika mengulurkan sesuatu pada Fahri sebuah kotak kecil, Fahri bingung karena sepertinya ia tidak lupa akan sesuatu saat pergi tadi. "Ini sandwich, buat mengganjal kalau sewaktu waktu kamu telat makan siang" jawab Mika sambil meletakkan kotak bekal di laci dashboard. "saya gak nyuruh kamu bikinin bekal kamu kayaknya?" kata Fahri ragu. "enggak mas, ini dari aku kok. semalem mas Fahri kan pulang telat tidurnya juga pasti kurang, kelihatan punya kantung mata tuh" "Eh.. tapi" Fahri belum sempat menjawab. "Kalau mas Fahri gak mau, kasih aja sama temennya... Aku turun dulu ya mas makasih sekali lagi udah di anter" Mika seakan enggan mendengar penolakan dari Fahri, pikirnya terlalu pagi jika harus merasakan kecewa. Di raihnya tangan fahri menyalami nya untuk berpamitan. Fahri tidak bisa menjawab karena sosok mika sudah beranjak pergi dengan Fahri yang masih mematung. apa aku melewati batasku, hanya karena memberinya bekal makan siang. seharusnya bukan masalah besar, bukan? batin mika. Mika bersiap-siap beranjak menuju kelas yang akan ia ajar kali ini , namun sebuah senggolan menghentikannya. Lelaki perparas tampan dengan tinggi semampai itu mengejutkan Mika, terlebih Romi. ini kali pertama setelah dua bulan dua insan ini menjaga jarak meski mereka masih mengobrol tapi hanya sekedar urusan bimbingan belajar atau masalah yang berkaitan dengan pekerjaan. "Mika, maaf ya" Kata romi sambil melipir ke kanan. "emm.. enggak kak. gak apa-apa kok" jawab mika canggung. "ka--kamu mau pergi ke kelas " Romi basa basi. di balas mika dengan anggukan. ketika romi mencoba menyambung obrolannya sosok Sinta menghentikan Kalimat romi yang seakan masih tertahan dalam tenggorokannya. "Mikkaaa... eh kak Romi Pagi" salam Sinta, mika yang terlihat menghela nafas lega terselamatkan dari situasi yang menurutnya menyesakkan d**a, tapi tidak tahu menahu asal penyebabnya. "Mik, ayok buruan ke kelas udah di tungguin anak-anak" Sinta menarik lengan Mika dengan sedikit paksaan, setelah ia pamit pada romi untuk pergi menuju kelas bersama mika. "Ciehhh yang di anter suami... cakep banget sih suami orang" goda Sinta sedikit lantang, sambil berjalan bergandengan dengan mika. "ehhh.. kamu lihat" rona merah menyembul dari papi Mika. Sinta pun tertawa keras seakan dunia hanya di tempati dirinya dengan sahabat karibnya. tanpa mereka sadari obrolan mereka tertangkap oleh rungu seseorang dari balik pintu, dengan tatapan sendunya membuat siapa saja iba melihatnya . . Di tempat lain, Fahri duduk terdiam menatap lurus ke arah meja di hadapanya yang tengah tersaji sandwich sederhana namun terlihat lezat. entah apa yang di pikirkan pria berparas tampan itu, namun ia terlihat sedang memilah milah potongan-potongan isi kepalanya. Tring..ring..ring.. Fahri mencari sumber suara ponsel pintar yang berada di saku celananya, Fahri menatap lama ponselnya sebelum siap mengangkatnya. "Hal---" Fahri belum menyelesaikan, namun suara di seberang terdengar begitu riuh seperti di tengah-tengah keramaian, tidak lama mimik muka Fahri terlihat begitu cemas , tanpa membuang waktu Fahri bergegas berlari keluar dari ruangannya setelah berpesan pada sekertarisnya ia bergegas menuju parkiran dengan buru-buru ia tancap gas tanpa memperdulikan Adam yang memanggil-manggil dirinya. dengan kecepatan penuh ia menembus kemacetan di tengah-tengah kota besar surabaya. . . Mika yang berdiri di pinggir jalan. terlihat melihat-lihat jam di ponselnya berulang kali, Kakinya terasa sedikit pegal karena sudah lama berdiri. di hentak- hentakkannya pelan agar mengurangi rasa pegal. sudah 45 menit Mika menunggu Fahri yang tak kunjung menjemputnya. Mika berusaha menghubungi suaminya menanyakan kemana dirinya namun tidak ada jawaban sama sekali. "Seandainya tadi Sinta gak ku paksa pulang duluan" kata mika penuh penyesalan, sebenarnya Sinta menawarkan diri untuk menemani mika sedari awal namun mika merasa tidak enak jika menghambat sahabatnya meski tidak diminta pun Sinta dengan senang hati menunggu Fahri bersama mika. "Mik, kamu belum pulang" suara terdengar dari balik punggung mika yang serasa mendekat, Mika sepertinya kenal dengan suara itu meski ia tak perlu menoleh untuk memastiskan.Mika pun segera menoleh pelan sambil tersenyum tipis. "iya kak, masih menunggu ini" Jawab mika agak canggung. "kamu sudah pulang sejak hampir satu jam yang lalu, kan?. gak kamu hubungi lagi suami kamu?" tanya Romi bertubi-tubi. Mika sedikit kaget bagaimana ia tahu kalau hari ini Fahri lah yang seharusnya menjemputku, tapi mika pikir merasa tak perlu memusingkan bagaimana lelaki tahu soal ini. "Kak romi pulang saja dulu, mungkin saja ia sudah di perjalanan. Aku tunggu sebentar lagi disini" jawab minyak sambil menelisiklalu lalang kendaraan, mencoba mencari sosok yang di tunggunya. Romi yang khawatir dengan mika mau tidak mau ia menuruti kata-katanya terlebih ia tak lagi punya hak untuk menetap meski ia ingin. "Yaudah kalau gitu, aku pamit. kamu hati-hati kalau pulang assalam'mualaikum" kata romi sembari menstarter motornya. ketika mika ingin menjawab salam romi, p[onsel mika berdering tertera nama 'Mas Fahri' di panggilan masuk. mika terlihat antusias saat menjawab panggilan itu. "mas, kamu dimana aku udah disimi dari jam 4 tadi" kata mika. Romi pun merasa dirinya terusik dengan interaksi mika suaminya. ia pun memalingkan muka sebelum tancap gas, saat ia mencoba melihat wajah pujaan hatinya itu sebelum pulang sesuatu menghentikaanya. "iya mas" jawab mika pelan , dengan ekspresi putus asa. ada apa batin romi. "Loh, kak romi masih disini?" kata mika setelah sadar romi masih berada di sekitarnya. "kamu gak di jemput dia?" tanya romi penasaran. Mika pun membalas dengan senyuman yang seperti di paksakan. "Aku pesen grab kak, kak romi enggak pulang?" Mika mencoba mengalihkan topik. "iya bentar lagi ini motorku agak macet , nunggu adekku jemput sekalian" kata Romi asal. mika pun hanya mengangguk setuju . Sudah hampir 15 menit, mika dan romi masih setia dengan diam mengamati kendaraan yang lalu lalang di hadapan mereka. Romi yang sedari tadi mencuri pandang tanpa sepengetahuan mika hanya menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit di jelaskan. sampai ojek online pesanan mika sudah sampai. "Kak, aku pulang dulu. mari" pamit mika dengan menuduk pelan sambil tersenyum tipis. setelah sosok mika sudah cukup jauh romi pun segera menghidupkan motornya yang dirasa tidak ada yang salah dengan motor kesayanganya. ia merasa sedikit bodoh dengan berpura-pura mogok padahal ia ingin menemani setidaknya agar gadis yang di sukainya dulu itu tidak kesepian. ia pun meninggalkan tempat itu dengan senyum bodohnya. ia adalah lelaki yang pintar di akademik namun ia merasa begitu bodoh dan tak bisa berbuat apa-apa jika mengenai cinta . mungkin bisa saja begitu, namun kau sudah bersiap untuk menjauh dariku. sedangkan aku bersiap untuk tak menjauh darimu. belum sempat aku menggengamnya, ia sudah beranjak pergi dari pandaganku. Netra itu menatap lurus kedepan, tampak begitu kacau. perasaannya yang layu bahkan sebelum ia bermekaran. Romi menghela nafas berat dalam perjalanan pulang .. . . Mika merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah dengan mata terpejam, rambut yang masih basah membekas di sofa dengan kepala yang ia sandarkan. mencoba mengingat sesuatu tentang sore tadi. "mika, maaf saya tidak bisa menjemput kamu bisakah kamu pulang dengan grab.. dan lagi hari ini saya juga tidak bisa pulang, ada urusan mendadak jadi say akan stay di cafe" jelas Fahri tanpa di ganggu gugat. mika yang tak punya Hak untuk urusan pribadi suaminya pun hanya menghela nafas berat. kemana kamu mas? kenapa gak pulang? . .di suatu tempat terlihat Fahri menggengam erat tangan yang ukuranya lebih kecil darinya yang sosoknya terlelap tak berdaya dengan wajah yang begitu pucat. suasana yang tenang dengan ruangan ber nuansa putih. dengan sebuah infus yang mengantung mengalirkan cairan ke tubuh gadis itu. "Salma ayo bangun sayang..." Fahri tampak putus asa, menghujani tangan salma yang lemah itu dengan ciuman tanpa henti.. . . . bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN