Mikaila pov.
Pikiran liarku menerawang jauh Mengarah langsung ke langit. Menembus kerumunan awan hitam yang kadang menyala.Terperangkap dalam hujan dan kemacetan kota seperti ini memang menjadi hal yang tidak enak bagi sebagian orang.
Namun, kini aku punya kesempatan untuk sedikit bermeditasi. Langit masih menjadi pusat perhatian utamaku. Muncul pertanyaan-pertanyaan mengapa langit bisa setinggi dan seluas itu,beberapa kali aku dengar orang membunyikan klakson abnormalnya dengan sangat keras. Entah menandakan hal ketidaksukaan pada pengemudi lain yang mengambil jalurnya, atau hanya sebagai tanda frustasi yang sudah sangat mendalam. Entahlah!
"akk---mbakk..." Panggilan gadis berambut pendek itu seketika membuyarkan lamunanku, lebih tepatnya ia barangkali sadar jika aku tidak merespon panggilannya. aku terlalu sibuk mengamati pemandangan luar dari balik kaca cafe yang menjadi tempatku singgah sesaat karena rintikan hujan yang semakin lebat. seperempat bajuku dan rambutku sudah sedikit basah karena rintikan hujan di perjalananku pulang.
"oh ya , makasih ya mba" aku sedikit kikuk karena pasti aku membuat ekspresi yang aneh tadi, duhh !!
Didepanku meja bulat berdiameter 40cm itu sudah tertata rapi satu set croissants dan cappuccino late sesuai pesananku itu sebagai pelengkap meditasi dadakan ku sore ini. kulihat jam di ponselku sudah menunjukkan pukul setengah lima. tidak seperti satu bulan belakangan ini hari ini aku tidak terlalu terburu-buru pulang ke rumah karena suami ku tidak akan makan malam di rumah jadi tidak perlu repot-repot memasakannya , tapi sebagai gantinya ia memakan sarapan di rumah hari ini. ini adalah kesepakatan kami paling tidak ia harus makan di rumah setidaknya satu kali dalam sehari. namun aku tidak yakin apa yang membuatnya pulang telat malam ini karena memang aku tidak di perbolehkan untuk mengetahui kegiatannya selama di luar rumah, lagi-lagi ini adalah syarat yang perjanjian yang bertandaskan sebuah materai sepuluh ribu.
di sela-sela menikmati minuman hangatku , sebuah cincin berwarna putih dengan mata yang cantik itu mengalihkan pandanganku kepadanya. ku tatap lekat benda kecil yang sudah melingkar menghiasi jari manisku cantiknya. Aku pun tersenyum mengengam nya erat dengan kedua tanganku. dua bulan sudah aku di persunting lelaki asing yang secara sengaja diperkenalkan orang tua kami. manis pahit bahagia seharusnya menjadi bumbu di pernikahan setiap insan yang sudah menikah, tapi ku rasakan kepahitan dalam berumah tangga dengan pria bernama Fahri itu jauh lebih banyak dari rasa bahagia, aku menatap sendu kursi kosong di hadapanku dengan perasaan yang aku sendiri tak mampu ku ungkapkan.
pernikahan yang masih berumur dua hari itu akupun di buat menangis sampai beberapa hari, merasa di permalukan merasa tidak ada harga dirinya lagi di hadapannya. tapi akan sangat lucu jika aku langsung mengeluhkannya pada orangtuaku. aku cenderung tidak pernah memperlihatkan kesusahan di hadapan mereka, bahkan sedari kecil aku selalu mengatakan baik-baik saja walau saat itu aku menjadi korban bully sewaktu di SMP. begitu juga dengan pernikahan paksaan kata Fahri. aku merasa aku masih sanggup menjalaninya walau jalanku terseok-seok.
Aku sudah berpikir aku sangat ingin menyerah, namun sikap Fahri yang di tunjukan padaku di Rumah sakit tempo hari itu membuat harapanku tumbuh kembali, sikapnya selama hampir seminggu itu membuatku sedikit lega ada apa gerangan dengannya, sikap yang ditujukan pada orang tua nya begitu menghangatkan hati tapi tidak denganku, meski Fahri tidak meninggikan suaranya ketika beradu pendapat denganku saat bicara berdua, tetapi terasa sedikit menghangat selama di rumah sakit. namun kelapangan ini tidak berselang lama sikapnya kembali dingin sedingin es ketika kami berada ki kamarnya. fantasi dan khayalan ku berguguran satu persatu sepertinya bahagia hanya singgah tanpa mau menetap kepadaku.
Foto pernikahan ku dengan Mas Fahri menjadi pelipur lara ku sejenak , Ibu Bapak mertuaku begitu baik padaku, meperlakukanku layak nya anak perempuan mereka aku dibuat bahagia olehnya seperti ada hikmah di balik pernikahanku dengan putra mereka. tentu saja kami tidak punya foto bersama selain foto pernikahan itu. perasaan yang bercampur itu membuatku merindukan kehangatan kedua orang tuaku. sebaik-sebaiknya di luar sana,rumah sendiri adalah tempat ternyaman.
Enggan tenggelam dalam kepedihan yang kurasakan , aku mengambil ponsel pintarku untuk memotret rintikan yang jatuh dari puncak atap cafe, melihat isi foto yang ada di galery ponselku. jemari ku seketika berhenti pada sebuah gambar yang ku ambil menggunakan ponsel ini sebuah foto anak laki-laki menggengam sebuah permen dengan senyum yang begitu manis. tanpa ku sadari sebuah tetesan air mata jatuh tepat pada layar sentuh ponsel pintar yang berada di genggamanku. Aku pun menyadari sesuatu.
Pada ahirnya, aku di membodohi diriku sendiri dan pura-pura tidak tahu yang sebenarnya kurasakan.
Beberapa orang merasa tidak aman dengan perasaanya , mereka menjadi takut dan melakukan satu dari dua hal.
Satu dari dua hal itu ahirnya membuatku mengambil opsi yang sangat ekstrim. di malam kami membuat kesepakatan aku menuangkan keputusaanku pada harapan yang entah berpihak padaku atau tidak. Meski aku tak mengatakan hubungan kami menghangat , namun aku bisa mengatakan bahwa tidak banyak perdebatan seperti di awal pernikahan kami, Aku juga heran dengan Fahri yang mudah sekali tersulut emosinya ketika berhubungan denganku. apalagi menyangkut dengan ayah mertuaku, ada semburat kekhawatiran Fahri untuk beliau. sebenarnya aku sudah merasa jika ia seorang anak yang berbakti tapi ada apa dengannya kenapa sikapnya sedemikian.
Mas Fahri mengikuti semua syarat yang aku ajukan, bahkan tidak jarang memprotes ku sebagai ganti untuk pertukarananya barang kali, entahlah!!
.
.
Pukul sebelas malam, namun runguku masih tidak mendengar suara mobil memasuki garasi rumah kami. aku pun juga tak bisa menanyainya perihal kemana ia pergi, sedang apa ia saat ini mengapa tak kunjung pulang. bayanganku tentang sesuatu yang buruk dengan Mas Fahri pun mengusik ketenanganku yang coba ku tahan sebaik mungkin. aku pun di buat tak nyenyak dalam tidur, meski ku yakini aku tidak bisa tidur sebelum suamiku kembali karena ini sangat jarang terjadi ia selalu pulang paling lambat pukul sepuluh.
derrrrr....ckiit..
Aku terperanjat dari atas tempat tidurku, suara mobil yang ku dengar tak salah lagi itu adalah mas Fahri. aku sedikit terhuyung ketika mencoba segera bangkit dari atas tempat tidurku. kulihat sekilas sudah pukul satu dini hari artinya aku ketiduran selama dua jam an. tak sabar aku segera keluar dari kamar dan mencari sosok yang sedang ku tunggu aku ingin melihat keadaannya saat ini, kekhawatiran mengambil alih diriku sesaat sampai ketika aku terengah-engah tepat berada di hadapannya. ia tampak shock dengan kehadiranku yang tiba-tiba berlari menuruni tangga menuju ke arahnya.
"ka---kamu ngapain?" tanyanya dengan mimik aneh.
"Kamu gak apa-apa kan mas?" mataku memeriksa dari ujung kepalanya sampai ujung kaki. Mas Fahri tampak kurang nyaman dengan sikapku, aku pun melangkah mundur selangkah untuk memberi jarak kami.
"Saya gak apa-apa, apa ada sesuatu terjadi. kamu tampak kacau?" tanyanya setelah aku selesai mengatur pernafasanku.aku menghela nafas lega.
"Aku pikir mas Fahri kenapa napa, soalnya belum juga pulang dari tadi" suaraku sedikit parau, sesuatu tertahan oleh air mata yang sudah di pelupuk mataku. aku tak berani melihat bagaiman reaksinya mengetahui kalau di khawatirkan olehku, apa ia akan marah lagi atau membentakku aku pun takut, aku dengan cepat menutup mataku menggigit bibir bawahku menunggu reaksi dari pria dingin itu.
"....setelah bekerja saya bertemu dengan teman-teman saya, makanya saya telat" jawabnya pelan. aku membelalakan mataku dengan spontan. ia tidak marah. aku hampir tidak percaya dengan nada bicaranya ini pertama kalinya aku mendengar nya berkata dengan lembut, bahkan mertuaku sedang tidak berada di sekitar, tapi kenapa?'
"Aku buatin teh chamomile ya, mas?" kataku menawarkan.
"eee.. gak perlu. kamu balik tidur saja" tolakknya halus.
"Mas Fahri mandi saja dulu, nanti aku taruh di meja makan ya. itu baik buat meningkatkan kualitas tidur" tawarku lagi. tanpa menunggu jawaban aku segera menuju dapur, saat aku menoleh sosoknya sudah hilang. aku tersenyum lega karena mas Fahri pulang dengan selamat tanpa kekurangan apapun.
.
.
.
bersambung....