part 12

1468 Kata
Fahri pov. Dari kecil aku sudah mendapatkan apa yang selalu aku inginkan. mendapatkan cinta dan kasih yang berlimpah dari kedua orang tua, hidup berkecukupan. membangun bisnis yang ku idam-idamkan. bertemu dengan gadis yang ku sukai, dan dia juga menyukai ku balik. sungguh sempurna bukan perjalanan hidupku ?, Aku yang sekarang menginjak umur dua puluh tujuh tahun terlintas dalam benakku ingin melangsungkan pernikahan dengan gadis pujaan hatiku yang seharusnya berlangsung satu tahun yang lalu. aku pun membeli sebuah rumah yang akan ku tinggali dengannya kelak, hidup sampai kakek nenek sampai rambut kami di penuhi uban. Namun apa yang sedang ku lakukan sekarang, membalik-balikan dokumen yang harus ku tanda tangani. pekerjaan sementara yang harus ku gantikan karena Bapak sedang sakit, pekerjaan yang amat jauh berbeda dengan pekerjaan impian ku. setelah Bapak sakit aku menggantikan posisinya untuk sementara waktu karena memang aku adalah anak satu-satunya beliau. cafe dan resto yang ku kelola mau tidak mau harus ku limpahkan pada asisten yang aku percaya. meski aku dapat mengeceknya setiap saat. Tak tersasa dua minggu sudah pernikahan ku dengan gadis asing itu. Suara ketukan membuyarkan lamunanku yang menatap malas pada dokumen yang berada di hadapanku. "Hei, tunjukkan sedikit minatmu dalam pekerjaan ini , jangan muram terus emang sayur asem " laki-laki itu pun terkekeh melihat ku yang tampak tak menunjukkan minatku dalam bidang pekerjaan yang di geluti bapak ini. Adam sepupu ku dia 2 tahun lebih tua dari ku, punya kehidupan yang cukup harmonis dengan istrinya yang sudah ia kencani selama masa kuliah dulu dan ia pun mempunyai mailakat kecil yang berumur 3 tahun yang selalu ia jadikan wallpaper di ponsel miliknya, bohong jika aku tidak ingin memiliki kehidupan pernikahan seperti dirinya, namun teringat pernikahan yang ku jalani saat ini membuat ku kesal setengah mati. "Apa pernikahan mu begitu sulit sampai aku harus memergoki mu menghela nafas sepanjang hari" tanyanya dengan tenang sambil memberiku sebuah dokumen penting mengenai pekerjaan. "Tentu saja sangat menyiksa jika kau harus hidup dengan seseorang yang entah datang darimana lalu muncul dengan status istri , aku sama sekali tidak bisa dekat-dekat dengannya. apalagi harus satu ruangan dengannya rasaannya sesak sekali" keluhku dengan putus asa, benar. Adam adalah satu-satunya yang menjadi tempatku singgah sekedar berbagi keluhan ku yang semakin hari semakin tak karuan. "Bukankah di rumah sakit kalian terlihat sedikit akur, kan?" adam pun bertanya dengan penasaran. "Tentu saja aku harus melakukannya,kalau tidak kondisi beliau akan drop lagi" kesalku memuncak mengingat kedekatan orang tuaku dengan istri ku, yah kalian bisa menyebutnya begitu. walau aku sendiri enggan menyebutnya demikian. "Sepertinya dia gadis yang baik, punya daya tarik dengan bisa seakur itu dengan pakde sama bude. yang bahkan Salma sendiri tak mampu melakukanya" jawab Adam tenang, tampak sedang mengetesku dengan mengaitkan salma dalam obrolan kami. sontak saja ku tatap tajam sepupuku yang mengatakannya dengan begitu tenang, tanpa diketahuinya ada sedikit goresan di dadaku saat menyadari fakta yang sebenarnya . Adam tahu bagimana perasaan dan hubunganku dengan salma sampai detik ini, namun ia tak pernah membuka mulutnya membocorkan rahasia kami bahkan kepada istrinya itulah hal yang ku sukai dari sepupuku. kami terlihat seperti saudara kandung karena kesamaan kami yang tidak memiliki saudara kandung. "Pikirkan baik-baik nasihat ku ini, fahri. Setiap yang terjadi sampai hari ini bukanlah sebuah kebetulan melainkan ada sebuah alasan di baliknya. cintamu pada Salma aku tidak berhak menyalahkan kalian tapi kau menikahi gadis yang tidak tahu apa-apa. jangan sampai kau kena karmanya nanti, jangan berpikir buruk tentangku aku hanya peduli dengan kau itu saja" jelas adam panjang lebar, aku tak dapat mengatakan atau membalas perkataan dari sepupuku itu. dia memang laki-laki yang punya pemikiran begitu dewasa yang membuat ku tambah kagum dengannya . namun aku tidak bisa melakukanya aku tidak mau terbawa perasaan dan punya hubungan emosional dengan gadis yang baru dua minggu ini ku nikahi. aku takut menghancurkan kepercayaan Salma dan untuk menjaga perasaan gadis yang ku cintai aku pun harus tetap menjaga jarak di antara kami. . . . Kususuri jalanan sepi sore ini menuju kediaman orangtuaku, aku ingin melihat keadaan Bapak. ingatan tentang di Rumah sakit terlintas dalam benakku saat ini, menghabiskan waktu disana dengan mika berpura-pura menjadi pasangan yang serasi di depan ibu dan bapak membuatku tersenyum miris. aku tak dapat mengendalikan emosi ku jika harus bersangkutan dengan Mika, meski gadis itu tidak menunjukkan ketidaksukaan nya terhadapku, namun aku berhasil membuat gadis yang saat itu baru 2 hari ku nikahi itu menangis saat ku jelaskan tentang kamar kami terpisah. aku sebenarnya tidak punya keinginan untuk menyakiti siapapun namun egoku tak dapat ku kendalikan . Melihat kedekatan mika dengan orang tuaku selama di rumah sakit pun menjadi boomerang bagiku, benar sekali kata Adam. kedekatan istri sah ku dan kedua orang tuaku membuatku sedikit dilema , sesuatu yang salma tak dapat lakukan itu. bukan ia tak mau melakukannya namun kedua orang tuaku seperti memberi jarak antara mereka dan salma meski kami sudah 5 tahun menjalin kasih, aku tak mendapatkan restu untuk hubungan kami , kala itu dengan beralasan bahwa aku masih terlalu muda untuk menikah. bertahun tahun sudah tak ku dapatkan izin itu pun kami berencana menikah meski tanpa persetujuan dari kedua orangtuaku. namun insiden kala itu meruntuhkan harapan ku hidup bersama salma. bapak jatuh sakit lalu ketika aku mencoba menolak perjodohan ini sakit yang di derita beliau kian parah. seburuk-buruknya aku sebagai anak tentu saja aku tak dapat membiarkan Ayah yang selama ini begitu memberikan segalanya jatuh sakit meski sebagian besar yang membuatnya sakit adalah aku sendiri. aku sungguh menyesal. sikap acuh dan emosi menguasaiku ketika kami menginap di rumah orang tuaku. aku tak dapat melakukan apa-apa selain mengikuti apa yang ada di kepala ku, tak kubiarkan ia memasuki kehidupanku dan aku juga tidak berencana memasuki kehidupanya sediktipun aku tidak tertarik. dengan membuat nya merasa tak diinginkan pikirku aku bisa membuatnya mundur dengan sedirinya namun dugaan ku salah ia menuruti perintahku tanpa menolak sedikitpun menerima keangkuhanku, walau saat di rumah sakit aku harus menurutinya dengan mengantarnya kerja sebagi bentuk formalitas kami di hadapan orang tuaku. hingga malam dimana aku harus menunjukkan keegoisanku lagi, aku membuat perjanjian pernikahan di atas materai. dia tidak bereaksi sama sekali diam membisu namun kutebak ia kecewa baguslah pikirku. namun sesuatu yang besar menghantam kepercayaan diriku yang sudah di atas langit "Aku takut mas, bagimana nanti Allah marah sama kita" kalimat yang ia lontarkan itu bagai pisau yang menghujam tepat di jantungku. astagfirullah ku lontarkan kalimat istighfar yang mempunyai makna permohonan ampunan itu. aku sedikit kalap dengan nafsu ku ,ada yang lebih besar dari segala yang ada di dunia ini yang patut ku takuti. Ku perhatikan ia banyak diam setelah mendengar tawaranku , entah apa yang sedang kamu pikirkan aku juga tidak terlalu peduli. sampai ahirnya ia menyetujuinya bahkan membuatku sedikit terkejut karena dari penuturannya ia bersedia di ceraikan jika tidak berhasil mengubahku mengubah aku apa maksdnya entahlah aku juga tidak begitu mengerti. Setiap dua minggu sekali aku harus menemaninya berbelanja bulanan, membantunnya memasak pada hari weekend lalu setiap hari aku harus makan dirumah setidaknya sekali dalam sehari. itulah sebagian dari syarat-syarat yang harus ku penuhi dalam kertas bertandas materai itu. aku pun heran ia tak meminta banyak hal namun hanya permintaan yang kurasa sepele ini. namun aku sedikit lega karena tidak harus menghabiskan banyak uangku untuk membeli makanan di luar karena aku tidak berbohong jika mengatakan masakannya enak, ya pas di lidahku yang sedikit pemilih ini. tentu saja aku tidak pernah mengatakannya melainkan aku terus saja mencibirnya di setiap saat menggerutunya di setiap kesempatan . muka cemberut seperti kerucut atau saat ia mulai protes dengan sikap acuhku , mata sayu nya ketika aku mengatkan hal yang melukai hatinya , namun hanya dengan es krim ekspresi mukanya pun dengan cepat kembali ceria. sebenarnya sudah lama ku sadari jika mika yang sekarang menyandang status sebagai istriku itu tidak pernah menunjukkan amarah nya bahkan ketika ada pelanggan yang arogan kepadanya bahkan pula kasir yang sinis dengannya ia tak membalas sedikitpun , namun sikapnya mendadak diam juga tidak memprotesnya atau mengadukannya padaku, ya meskipun aku juga tidak begitu peduli sebenarnya. sesuatu sisi lain yang ku ketahui darinya, pikirku. tringg... sebuah pesan masuk membuyarkan lamunanku namun berhasil membuat senyumanku merekah membacanya. film recommended banget, mau nonton bersamaku? tentu saja pesan dari pujaan hatiku , salma mengirimiku sebuah tiket dalam genggaman yang ku pastikan itu adalah tangan miliknya, tentu saja aku dengan senang hati menerima ajakan dari kekasih hatiku. Sejak perjanjian itu di sepakati bersama aku mencoba menepati janji sesuai syarat yang di tekankan , dan lagi aku melakukan ini hanya agar aku dapat segera melepaskan diri dari pernikahan ini dan kembali bersama dengan orang yang ku cintai. aku hanya mencoba berdamai dengan kondisi yang menjerat ku dengan gadis pilihan bapak. . . mobilku pun memasuki halaman yang cukup luas dengan di penuhi taman-taman kesukaan ibuku, aku pun tersenyum mengingat ingatan masa kecil yang muncul di sela-sela langkah kaki ku memasuki rumah bercat putih itu. . . bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN