Tak..tak..tak..
Suara gebukan tajam mata pisau di hempaskan bertubi-tubi pada tubuh talenan kayu , gemercik air yang berjatuhan di dalam cekungan basin pun saling bersautan menggema di penjuru dapur sore ini.
"hei, terus ini di apain?"Kata Fahri sambil menunjukkan sebuah bungkus spaghetti dengan bingung.
"Itu airnya udah mendidih belum kalau sduah masukin ke dalam panci, jangan lupa kasih garam setengah sendok" balas Mika sekilas apa yang sedang di tanyakan sang suami.
"gila, kenapa garamnya banyak banget kamu ingin bunuh saya" tolak Fahri yang tidak jadi menuangkan garam ke dalam panci yang sudah mendidih.
"Duh mas fahri ini ya, enggak kita makan juga. ini hanya untuk perasa kok" jelas mika seraya mencuci tangannya.
"efeknya gak baik, bikin darah tinggi. kamu tahu saya itu makan makanan sehat saja" sambil menutup toples yang bertuliskan garam.
"Mas fahriii...... kok enggak di kasih garam nanti rasanya kurang gurih. balikin nggak" Mika mencoba meraih garam yang coba di sembunyikan Fahri di balik punggunya. namun karena ukuran tubuh yang berbeda jauh membuat mika kesulitan , Fahri yang mempunyai tubuh proporsional dengan tinggi 181cm itu dengan mudah mempertahankan toples berisikan garam itu di udara, dengan tinggi Mika yang hanya sampai sebahu dari tinggi Fahri pun sedikit kesulitan untuk menggapainya meski mika harus berjinjit dan lompat-lompat kecil di hadapan Fahri.
"Mas balikin nggak, ini tuh bumbu masakan jangan di buat mainan" mika yang setengah kesal dengan sikap sang suami.
"coba saja.. " "dasar pendek" Fahri menyeringai penuh kemenangan. Mika pun ahirnya mengalah karena merasa capek juga karena terlalu lelah untuk melompat-lompat sedangkan pria yang tengah membulinya itu tertawa penuh kemenangan. sore itu acara memasak spaghetti pun sedikit kurang memuaskan hasilnya di karenakan pertengkaran kecil mereka yang punya perbedaan soal memasak.
"ini kenapa bentuknya gini" protes fahri yang terlihat hanya mengaduk aduk spaghetti di piring yang berada di hadapannya.
bentuk mie yang sedikit lembek membuat Fahri tidak selera untuk menyantapnya, namun karena perutnya seakan tidak bisa di ajak konsprirasi mau tidak mau harus memaknaanya, walalu pun tampak jelas ia begitu keberatan.
Mika pun terkekeh mendapati sifat kekanankan sang suami, tidak banyak hal yang ia ketahui tentang pria yang hampir 2 bulan di nikahinya itu, tapi ada rasa syukur menaungi perasaannya saat ini, tidak lain karena perjanjian pernikahan itu membuatnya mampu melihat sisi lain yang di miliki sang suami. bukan hal istimewa dapat membuat Fahri makan satu meja dengannya . karena di balik sikapnya ini semata-mata hanyalah untuk memenuhi kesepakatan yang di buat mereka bersama.
Mika pun menatap fahri tanpa sepengetahuanya , netra hitam itu mengamati pria yang tengah lahap menyantap makanannya meskipun pada awalnya ia menolak mentah-mentah masakanya.
***
"Bu, kenapa dulu ibu memilih menikah dengan bapak?" tanya mika yang sedang memisahkan kecambah untu di pisahkan dengan yang masih segar dan sudah mulai membusuk.
"Ibu dulu gak suka sama bapak" jawab Rumini dengan santainya.
"heeeeeeh " Sontak saja mika yang begitu terkejut membuka mulutnya lebar lebar karena tak percaya, yang di ketahuinya hubungan mereka begitu dekat meski sudah hampi 30 tahun menikah tetapi masih begitu mesra , bahkan kesana kemari pun selalu di kerjakan bersama membuat mika begitu mengidamkan hubungan seperti orang tuanya.
"Jodoh , maut dan rezeki itu adalah rahasia milik Allah nduk, mau sebaik apapun rencana kita, Allah lah yang lebih tau mana yang terbaik untuk kita. mau sejauh apapun kalau memang itu takdirnya untuk kita enggak bakalan kemana mana. begitu juga yang sedekat apapun untuk kita kalau bukan untuk kita tetap akan menjauh" tutur Rumini panjang lebar.
"namun bagaimana jika kita tidak mencintainya, atau mereka tidak bisa mencintai kita" tanya Mika penasaran.
"Cinta itu adalah masalah waktu sayang, karena terbiasa timbul cinta. jika belum cinta kamu harus membuatnya jatuh cinta atas izin Allah , karena ketika menikah apapun itu adalah ibadah" senyum mengembang dari bibir rumini.
***
Sekilas ingatan perbicangan dengan ibunda nya tiga hari sebelum pernikahan berlangsung itu, membuat mika tersenyum tipis. Sampai sebuah kalimat melenggang bebas dari bibir mika.
"Mas Fahri, kenapa mas tidak menolak perjodohan ini?" tanya Mika menunduk baginya terasa berat jika harus menatap Fahri di tambah dengan pertanyaan demikian. Fahri yang mendengar pertanyaan itu pun hanya menghela nafas berat, mengatur emosi yang sedikit sulit di aturnya belakangan ini. ia tampak menatap lurus kearah mika mengunci pandangannya pada gadis yang terlihat sayu itu.
"Setahun yang lalu Bapak sakit, yang membuat nya bertambah parah adalah saat aku menolak perjodohan ini, mau tidak mau saya terpaksa melakukanya" terlihat ada penyesalan di balik kata-kata Fahri. mika yang tengah menyimak penejelasan FAhri pun hanya terdiam. mencerna setiap kata perkata yang keluar dari bibir suaminya, Mika tahu jika jawaban itu pasti akan membuatnya kecewa. namun tetap saja ia ingin menanyakannya . karena ia sejak membuat kesepakatan dengan Fahri ia sudah bertekat untuk berusaha sebaik mungkin mempertahankan pernikahan ini yang artinya mika harus menerima segala sikap dingin dan tak pedulinya itu.
"Bukankah kamu seharusnya menikah dengan orang yang kamu sukai juga , kenapa harus repot-repot terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan kamu" tanya fahri yang sedikit penasaran. bagi Fahri dengan umur mika dan pendidikan yang bagus itu ia mampu memilih sendiri pilihan hidup yang setidaknya ia dapat menikah dengan orang yang benar ia cintai.
"Aku tidak bisa menyukai seseorang yang belum tentu itu adalah jodohku mas, Allah mampu membalikan perasaan seseorang dengan mudah. jika aku begitu jatuh cinta dengan orang yang bahkan bukan untuk kita. itu hanya kan menyakiti diri sendiri pastinya" Mika yang terdengar lemah. Fahri pun berpikir sejenak dengan penuturan istrinya itu, ada perasaan membenarkan namun ada perasaan jika hati seseorang tidak dapat di paksakan.
Mika dan Fahri pun beradu pandangan yang mengunci. terkesiap karena sadar akan terbawa suasana, Fahri pun bergegas melangkah menuju kamarnya setelah menaruh piring bekasnya di dalam basin. tanpa banyak bicara mereka berdua pun berpapasan dengan perasaan yang tengah bercampur.
Ketika mika melewati kamar Fahri ia menatap lama pintu berwarna cokelat itu dengan pandangan yang sulit di artikan.
Kita bertemu di suatu tempat. Kau dan aku kini menjadi satu, 'kita'. Betapa menakjubkannya takdir kita ini.
.
.
bersambung