"Bu, kita pamit ya, jaga diri di rumah jangan sampai sakit" Fahri mengurai pelukannya dengan ibu tercinta.
"Bapak, kita pulang dulu. jangan sampai kelelahan" Mika berpamitan dengan Budiman dan Sukma bergantian.
"Hati-hati ya sayang, kapan lagi mampir kesini" mereka berempat saling membalas lambaian sebelum meninggalkan rumah orang tuanya.
Kesunyian menguasai perjalanan dua pasangan yang masih setia berkutat dengan pikirannya masing-masing. rintikan air hujan menemani mereka membelah jalan raya yang padat sore hari ini, Mika yang mulai merasa tidak nyaman dengan keheningan ini mencoba mencari kesibukan dengan memainkan ponsel miliknya membuka sosial medianya yang sudah lama ia tak pernah membukannya setelah menikah, bergulir dari satu postingan ke postingan lainya. sebuah Quote mampir di berandanya seperti menjadi obat dari segala keluh kesahnya selama ini.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu.
Boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu.
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui - (QS Al-Baqarah 216)
Mika tampak terkejut setelah membaca quote itu , seakan tamparan keras untuknya. ia pun mulai menyadari sesuatu hal.
Memasuki kediaman mereka, Mika dan Fahri menuju keruangan masing-masing masih tetap dalam kesenyapan meski selama empat hari yang lalu mereka tampak menghangat ketika berada di rumah sakit, berinteraksi tanpa kecanggungan. dan sepertinya akting sebagai pasangan serasi sudah berakhir.
tokk.. tokk..
sebuah ketukan di balik pintu kamar Mika, Mika yang sedari tadi merebahkan tubuhnya di kasur miliknya pun beranjak melihat siapa yang mengetuk meski mika tahu siapa di baliknya.
"Saya tunggu di meja makan, saya perlu bicara dengan kamu" setelah mengatakan maksudnya Fahri pun beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari mika. Mika yang merasa gemas gereget dengan sikap semena-mena Fahri pun mau tak mau harus mengikuti permintaan sang suami.
"Ini--" Fahri tampak menyodorkan sebuah lembaran kertas dengan bertulisakan perjanjian pernikahan, sontak Mika pun melotot tajam mengarah pada sosok Fahri yang dengan santai nya menyatap mie kuahnya.
"Apa maksud kamu, mas?" Mika mencoba basa basi.
"kamu gak lihat, ini perjanjian pernikahan kita. saya pikir ini sangat berguna untuk kiat berdua khususnya saya, kamu tidak berencana menikah dengan saya seumur hidup kan?" tanya Fahri. karena tidak ada jawaban dari Mika Fahri pun terhenyak sesaat.
"Serius .. " Fahri berdecak sinis.
"Aku takut mas, bagaimana Allah nanti marah sama Kita?" ucap mika pelan.
Fahri yang sedikit kaget dengan balasan mika pun mencoba menyembunyikan expresi terkejutannya. "saya isi perjanjiannya untuk lima poin, dan kamu lima poin bukankah saya sudah sangat adil" mencoba membela diri. Mika tampak berpikir keras mencoba menrasionalkan pikirannya sebaik mungkin, Fahri menunggu jawaban mika yang di rasa ia berhasil membuat mika menyetujuinya.
"Baik, saya setuju dengan lima poin, tapi dengan syarat kamu bener memegang janji yang ada di dalam kertas ini. jiak saya tetap tidak bisa membuat kamu berubah, saya siap kamu ceraikan" jawabnya dengan gamblang. Mika menatap tajam sang suami dengan expresi yang tak bisa di baca, Fahri yang terkejut tak percaya mendengar jawaban isrtinya mengadu pandangan dengannya.
Malam itu Dua sejoli yang tengah terikat dengan pernikahan paksaan itu merealisasikan perjanjian pernikahan yang masih seumur jagung itu untuk satu Tahun kedepan, di warnai perdebatan dan huru-hara agar mendapatkan hasil yang sesuai keinginan mereka.
.
.
.
satu bulan berlalu---
tok..tokk.
"Mas Fahri.. ayok bangun udah siang ini, anterin ke super market" Mika yang sedikit berteriak membangunnkan suaminya, terdengan langkah kaki dari dalam ruangan.
"apa, ini masih jam sepuluh pagi kamu Tahu" balas fahri malas yang masih menguap karena masih dikuasai kantuk, fokus Mika seketika buyar karena di suguhi pemandangan tubuh kekar suaminya, meski tidak se atletis dengan roti sobek ala drama korea itu, namun mampu membuat Mika menelan saliva. rona merah bersemu di pipi Mika. mengalihkan pandangannya ke tempat lain dengan detak jantung tak beraturan. ini pertama kalinya Mika melihat tubuh shirtless laki-laki lain selain Bapak dan kakak lelakinya.
Di dalam perjalanannya menuju pusat perbelanjaan , sedikit macet karena memang hari ini adalah hari minggu sepeda motor ,mobil,dan angkutan umum lalu lalang memecah jalanan di bawah terik sinar matahari kota surabaya itu, namun ada yang lebih menarik perhatian Mika, dicurinya padangan mengamati sang suami yang tengah fokus menyetir, di liatnya sekilas perlahan dimulai dari tangan besarnya mengenggam setir mobil menuju lengan yang terlihat di balik lipatan lengan kemeja berwarna navy itu, pandangnanya beralih kepada d**a bidang Fahri, membuat ingatan pagi tadi seketika menjadi pelengkap imajinasi liarnya.
"Astagfirullah"mengalihkan pandangannya dari fahri,seketika Mika yang sadar bahwa pikiranya sedikit v****r.
Fahri yang mendengar Istrinya berstigstifar menatap sekilas menatap istrinya yang kurang paham dengan apa yang tengah terjadi, namun fokusnya teralih pada kuping mika yang kemerahan menahan malu, mukanya bisa semerah tomat batin fahri yang sedikit terkekeh.
Karena hari minggu , tempat belanja pun di padati pengunjung yang juga ingin berbelanja. Mika yang tengah di Sibuk kan dengan memilih barang barang sesuai dengan catatan yang dalam genggamanya di ikuti Fahri yang mengekori Istrinya dengan medorong sebuah troli yang di gunakannya menampung segala perbelanjaan yang tengah di incar sang istri, tak banyak bicara namun juga tidak bisa protes karena memang ini adalah bagian dari Perjanjian pernikahan yang sebulan lalu sudah disepakati mereka berdua.
"Mas, makan malamnya enaknya masak apa?" tanya mika yang masih berkutat membaca diskripsi bahan baku dari sebungkus pasta yang ada di genggamanya.
"Terserah kamu" balas Fahri dengan malas.
"kalau gitu bikin spaghetti aja yuk, yang ayam bolognese" Mika yang terlihat menunjukkan minatnya.
"Mas ajarin nyetir mobil dong" ujar Mika tanpa basa basi ketika memasuki mobil Honda CR-Z berwarna hitam milik sang suami.
"enggak" Tolak Fahri dengan cepat.
"Loh mas, kok keburu di tolak sih" Rengek mika yang teerlihat kecewa.
"Bisa gila aku ngajarin kamu nyetir, sekarang saja kamu sudah bikin aku pusing setengah mati. apalagi harus ngajarin kamu nyetir mobil" Tangkas Fahri.
"Kalau gitu aku boleh ambil les mengemudi?"
"Terserah kamu, pokok jangan ngerepotin saya saja" balas Fahri dingin. Mika pun menghela nafas berat.
"Jangan lupa, perjanjian nomer 3 mas" Kata mika dengan tenang, sedangkan pria di sampingnya hanya diam membisu menatap tajam lurus ke arah depan yang terlihat kesal namun tak bisa berbuat apa-apa.
.
.
bersambung