part 9

1100 Kata
Pagi ini ruangan kamar melati tengah disibukan dengan mengemas barang-barang bawaan Budiman yang di perlukan selama satu minggu menginap di Rimah sakit ini. Sesuai arahan dokter jika dalam tiga hari keadaan Budiman sudah stabil Ia sudah di perbolehkan pulang. Mika dan Sukma tengah di sibukan dengan mengemasi barang bawaan Budiman lalu dimasukannya kedalam tas lipat, Fahri yang bertugas mengecek keseluruh ruangan agar tidak ada barang yang tertinggal, dirasa tidak ada yang tertinggal mereka pun segera meninggallkan ruangan itu. "Ibu ini Mika saja yang bawa, ini berat" Sukma yang sedikit keberatan dengan usulan sang menantu mencoba menolak dengan halus. "enggak apa-apa bu, ini segini bagi Mika enteng kok" jawab Mika sok , lantaran sang mertua mencoba membawa barang bawaan meski terlihat kesulitan karena memang sedikit berat, karena sebagian besar barang bawaan sudah di bawa oleh fahri semua. Budiman terkekeh melihat sang menantu dan istrinya berdebat kecil hanya karena ingin membawa sebuah tas saja, Fahri menghela nafas melihat mereka berdua, di karenakan Mika dan kedua orang tuanya yang sekarang begitu dekat bak anak sendiri. di perjalanan menuju rumah, keadaan di dalam mobil pun tak kalah riuh candaan demi candaan saling terlempar dari mereka satu sama lain, bahkan Fahri juga ikut menimpalinya. "Mika, besok kamu ada kerjaan tidak nduk" tanya Sukma. "Tidak bu, Mika ambil off hari saptu dan minggu" balas mika. "Besok minggu ya, kalau begitu kalian menginap saja ya" Sukma begitu antusias mengatakanya. "menginap--" Fahri sedikit kaget dengan permintaan sang Ibu. Mika pun memandang fahri dengan tatapan menuntut, Karena memang tidak bisa memutuskan begitu saja. karena selama ini yang ia ketahui skenario menjadi pasangan hanya sampai Rumah sakit saja, yah meski begitu sejak di Rumah Sakit Fahri terlihat tidak pernah menyinggung lagi persoalan tentang berpura-pura di hadapan orang tuanya, membuat Mika sedikit bingung dengan sikap suaminya yang sulit di tebak. "Bukankah Bapak perlu beristirahat bu, kalau kita disana Bapak gak akan cukup istirahatnya" dalih Fahri. "Emang bapak selama ini kurang istirahat, Mika juga belum pernah menginap di rumah kami lo" sahut Budiman. Fahri kesulitan menjawab permintaan kedua orang tuanya. setelah lama diam fahri menatap Mika sekilas mencoba mengkonfirmasi sesuatu sebelum menjawab. "Baiklah, tapi kita harus balik sebelum malam bu. karena Fahri ada kerjaan yang harus di urus" Sukma dan Budiman pun begitu senang di buatnya. lain halnya dengan Mika yang tak percaya dengan Fahri yang mengiyakan begitu saja tanpa membahasnya dulu dengannya, ingin sekali menuntut penjelasan dari sang suami alih-alih mika mencoba menjaga sikap agar Budi dengan Sukma tidak curiga dengan pernikahan pura-pura mereka. Memasuki halaman yang luas banyak bunga-bunga berbagai warna dan keindahan menyejukan mata Mika begitu memasukinya, Sukma yang memperhatikanya pun menawari untuk membawa pulang beberapa untuk di bawa pulang dengan sigap Mika pun mengiyakannya. "Bapak sudah pulang" ucap mbok rami asisten rumah tangga keluarganya , ketika membuka pintu mendapati sang tuan rumah sudah kembali. "Mbok, buatin bapak teh ya sama jus buah Fahri sama Mika ya" "Baik nyah, " jawab mbok rami Ketika Mika ingin menuju dapur, Langkahnya di buat terhenti oleh sebuah pemandangan yang membuatnya terharu bercampur sedih, Foto pernikahannya dengan Fahri di panjang di samping Foto keluarga Budiman mereka bersejajar dengan pigora berwarna keemasan membuatnya terlihat indah. Mika mengamati Fotonya yang tersenyum hangat beda halnya dengan Fahri dalam foto yang terlihat begitu dingin tanpa senyuman yang belakangan ini mika tahu di balik sikapnya adalah seorang pria yang tidak menginginkan pernikahan ini sama sekali, Bahkan di rumah mereka tidak memiliki foto itu sama sekali, ia pun mencoba tersenyum walau seperti menahan kesedihan. . "-----aku minta maaf" terlihat Fahri yang sedang menerima telepon memunggungi pintu kamarnya yang tertutup setengah, Gadis berambut hitam panjang itu menghentikan langkahnya ketika akan memasuki kamar Fahri, menilik ke dalam penasaran dengan siapa sang suami berbicara kenapa ia terlihat memelas serta meminta maaf. "Kamu ngapain disitu" ucap Fahri dingin. "a-aaku di suruh ibu.. makan malamnya siap" balas mika terbata bata. setelah melakukan tugasnya ia bergegas menuju dapur untuk membantu mempersiapkan makan malam. begitu makan malam selesai dan menghabiskan dessert bersama, mika yang mencoba mangamati suasana saat ini teringat akan orang tuanya di rumah, kehangatan keluarga ini membuatnya merindukan mereka sedang apa yan mereka sekarang batin mika. Mika yang sedari tadi sedikit lebih diam mendapat perhatian dari sang ibu mertua. "Kamu gak apa-apa nduk?" Tanya Sukma penuh perhatian. "ee--Mika gak apa-apa kok bu, mungkin sedikit lelah saja." Mika beralasan apa aku terlihat jelas ya. "ya sudah, kamu cepet istirahat gih. besok masih bisa di sambung lagi" "Fahri anterin mika ke kamar, Biarkan Mika istirahat" pinta Budiman. Fahri dan Mika kompak mengunci keheningan saat menuju kamar. namun ada perasaan gugup yang di tutupi oleh Mika bagaimana tidak ia merasa salah mengiyakan untuk menginap di sini, karena tidur dalam satu ruangan dengan Fahri seperti sesuatu yang tabu bagi mereka meski mereka suami istri yang sah di mata hukum dan agama. memasuki kamar langkah Mika begitu berat kekhawatiran akan banyak hal menghiasi pikirannya, ia pun menggeleng cepat. Fahri dengan cepat mengunci kamar ketika mereka berdua sudah memasuki ruangan, membuat mika di landa gelisah sampai telapak tangan mika keringat dingin saking gugupnya. "mas in--" mika sedikit kikuk. "Karena kita hrus bersikap seperti pasangan, mau gak mau kita harus berbagi kamar. kamu jangan sentuh apapun di kamar ini karena memang saya tidak suka orang lain menyentuh nya tanpa izin, kamu bisa tidur di kasur tapi jangan ngorok jangan bangunin saya di malam hari entah untuk apapun itu, jika kamu ngelanggar kamu yang pindah tidur di sofa dan saya tidur di kasur" jelas Fahri panjang lebar. Mika yang semula gugup ahirnya sedikit lebih tenang, benar- benar pernikahan yang menyedihkan begitulah menurut Mika. aku pikir kisah seperti ini hanya ada di tv saja , nyatanya aku sendiri mengalaminya. bagaimana bisa kami terikat oleh sesuatu yang amat sakral, sementara orang yang sudah berjanji kepada TuhanNya untuk menjaga dan membimbingku malah menyia-nyiakannya. setelah mika setuju dengan permintaan sang suami , ia merebahkanya tubuhnya dan beristirahat , sedangkan Fahri di sibukan dengan Laptop nya di meja belajar yang terlihat seperti model lama. mika mengamati perlahan ruangan kamar dari sudut ke sudut tembok berwarna abu-abu dan putih menggambarkan kestabilan dan menenangkan untuk beristtirahat, lalu di saat mata bulat itu selesai mengeksplor ruangan kamar fahri dengan pandanganya ia menangkap sebuah pigora kecil dengan siluet anak laki-laki memakai baju berwarna senada di lengkapi dengan topi bundar sedang menggengam erat permen di tangan kirinya senyuman penuh cinta dari kedua mata itu dengan expresi polosnya, lalu ia sekilas menatap punggung Fahri dan kembali menatap lama foto itu yang berada di atas nakas di samping tempat tidur. kamu akan kaget sekali,seandainya kamu tahu jika saat besar nanti kamu berubah menjadi pria yang sangat dingin dan tanpa perasaan. . . . bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN