part 8

938 Kata
Fahri menginjak pedal rem segera ketika dirasa sudah sampai tempat tujuan di mana rumah berlantai dua sederhana berwana hijau cerah yang berada di perumahan pinggiran kota itu, dengan panik ia berlari kecil memasuki rumah yang tidak terkunci. menuju lantai dua. tak peduli dirinya terengah-engah karena berlarian, ketika pintu terbuka Fahri menemukan sosok yang sedang terlelap di atas kasur terlihat pucat pasi dengan plaster kompres yang merekat di dahi. "Salma..." panggil Fahri pelan, wajah tampannya di penuhi guratan kekhawatiran melihat gadis pujaannya tampak begitu lemah. Pagi ini Fahri menerima pesan dari sepupu Salma, Dinar. yang mengabarkan bahwa sudah dua hari ini dia tidak berada di butik dikarenakan Salma menderita deman tinggi. wajah Ayu itu perlahan membuka matanya, pandangan pertama yang ia lihat adalah sosok pria tampan yang menggengam tanganya menempelkannya pada pipi sang pria. "Fahri.. " sontak salma mencoba bangun dengan cepat dan mencubit pipi nya, karena ia tak percaya fahri datang menemuinya. "jangan , sakit tau " fahri mencoba meghentikan Salma karena takut ia kenapa-napa. "kamu kenapa disini?" "Aku tahu dari dinar kalau kamu sedang sakit, kenapa kamu tidak menghubungiku" fahri yang terdengar kecewa. "Aku gak mau ngrepotin kamu" jawab Salma pelan. "Aku bawain makanan kesukaan kamu, ayo aku bantu suapin" Fahri yang penuh perhatian membuat Salma tersenyum senang. Salma yang mulai membaik karena mendapatkan perhatian penuh dari Fahri, menyusul Fahri yang tengah berada di sofa yang terlihat sibuk dengan laptopnya. di amatinya wajah rupawan itu yang tampak sedikit lelah. "kamu kelihatan capek banget" Salma yang sudah mengetahui jika orangtua Fahri sedang di rawat di RumahSakit , sedikit merasa bersalah karena membuat Fahri datang jauh jauh kemari untuknya. "Alhamdulillah keadaanya mulai stabil sekarang" balas fahri yang menatap Salma sekilas lalu kembali menyibukan diri dengan laptopnya. "Kalian menunggu di sana semalaman" salma yang sedikit penasaran mencoba mencari tahu, meski ia tak menyebutnya secara spesifik namun Fahri yang sudah mengeti hanya bisa diam memenjamkan matanya sebentar lalu mengangguk pelan. Salma maupun fahri masih mempertahankan hubungan mereka meski mengetahui fahri yang sudah menikah, dengan alasan perjodohan yang dipaksakan membuat hubungan Salma dan Fahri kembali merajut kasih. meski tidak ada yang tau kecuali Dinar dan orang-orangyang belum mengetahui kalau Fahri sudah menikahi gadis lain. Menjelang sore hari Fahri yang masih harus kembali ke rumah sakit, merasa berat meninggalkan sang kekasih meski Salma sudah mengatakan ia sudah membaik tapi masih saja ia dengan berat hati harus pulang, pelukan erat mengahiri pertemuan mereka. "i love you fahri" Salma mengurai pelukannya dengan kalimat cinta yang bebas keluar dari bibirnya. "love you too,babe" fahri mengelus lembut pipi Salma lalu beranjak pergi. tanpa Fahri sadari setelah kepergiannya sosok salma yang terlihat baik-baik saja itu mulai meneteskan air matanya, mencoba meredam suara dengan kedua tangannya namun tangisnya kian hebat sampai bahunya bergetar kenapa merindukan kamu bisa sesakit ini fahri. . . Senyum mengembang di kedua sudut bibir Fahri, pertemuan dengan Salma membuat lelahnya terasa sedikit terobati. Fahri yang merasa tenang karena sebelumnya ia izin dengan sang ibu pergi sampai sore karena urusan pekerjaan. . . Kunjungan dokter malam itu memberi kabar baik pada Sukma dan Budiman, yang di perbolehkan pulang dalam waktu tiga hari jika keaadanya sudah stabil. Sukma acap kali memandang pintu Kamar pasien seakan sedang menunggu kedatangan sesorang,ya. Sang menantu tak kunjung datang membuatnya sedikit khawartir. "Kamu yakin le, Mika gak mau dijemput?.. kok belum kembali ya, ibu takut kalau terjadi sesuatu dengannya" ucap Sukma seraya menatap sekilas jam di dinding yang menunjukan pukul tujuh. "Iya bu, tadi Mika sms Fahri ini lo" balas Fahri sambil menunjukan sebuah pesan singkat Kamu langsung ke Rumah Sakit saja mas, nanti aku susul kesana --mika "Tapi kan ini udah sore tadi, le?" Sukma yang merasa kurang puas. "Kita tunggu saja ya, bu. Mika itu mandiri orangnya" jawab Fahri asal. kemana sih dia itu, ngapain punya ponsel kalau tidak bisa di hubungi, merepotkan saja. batin fahri kesal. Srett.... Pintu terbuka perlahan langkah kaki seseorang mendekati ranjang pasien, tampak sebuah Rantang berukurang sedang terdiri dari empat susun. "Mika" Sukma tampak senang dengan kedatangan Mika. Sukma teralihkan dengan sesuatu yang di tengah bawanya. "Ibu, ini tadi mika masak sesuatu " sambil membuka susunan satu persatu. Budiman dan Sukma tampak penasaran. "ayo bu, cepetan di buka bapak penasaran nih" Seru Budiman yang tak sabaran. "Aduh sabar dong pak, ini ibu juga lagi buka lo" Sukma terkekeh melihat sikap sang suami. Ada krengsengan , ayam rica-rica , lalapan dan sayur kangkung tersaji dalam wadah masing-masing. mendapat respon yang baik dari Mertua membuat mika merasa tersanjung, merasa bersyukur karena kerap kali membantu ibunya di dapur membuat mika bisa sedikit ahli dalam hal memasak. "Wah enak ya.." kedua orang Tua begitu menikmati masakan sang menantu mereka , pujian demi pujian melenggang bebas keluar dari bibir mereka. Fahri yang mencoba tak acuh namun sedikit penasaran karena memang ini pertama kalinya ia tau jika istrinya pintar memasak. "wah ini bumbu rica-rica kesukaan Fahri, le ayo habisin enak banget" "iya bu, ini mau ambil kok" Fahri yang tak bisa membuat alasan lain, mau tak mau harus mendalami skenario sebagai pasangan serasi di depan orang tuanya. Pedas terasa di susul dengan rasa manis pada gigitan pertama, Fahri tak membuat expresi apapun ketika mencoba masakan ayam rica-rica milik Mika, Mika yang merasa di hinggapi rasa gugup luar biasa, entah karna apa. mungkin ini pertama kalinya suaminya menyantap masakannya. jadi ia sedikit berharap jika ia menyukai setidaknya hanya sebagian kecil dari Mika. "enak.." ucap Fahri tertahan. Sukma dan Budiman merasa gembira atas reaksi Fahri. pipi mika berubah bersemu merah di tambah detak jantung yang kian tak beraturan, entah mengapa perasaan yang sedikit asing namun mampu membuat mika sedikit tersipu malu. Terkadang hati melihat apa yang tidak terlihat oleh mata.. . . bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN