part 7

1000 Kata
Hawa dingin dari AC menyeruak menerpa pipi lembut Mika membuatnya terbangun, netra hitam yang masih belum terbuka sempurna itu memindai se keliling dengan rasa kantuk yang masih belum pergi. mengecek ponsel yang menunjukan pukul tiga pagi, ada Budiman yang masih terlelap dan di sudut ruangan samping ranjang pasien. Mata Mika berhenti pada sosok yang selama ini tak pernah ia ketahui bagaiman cara ia tidur bagaimana expresi nya ketika terjaga dlam mimpi, membuat Mika menatapnya lama dalam diam meski dengan jarak yang tidak cukup dekat. Mika yang sadar tertidur di sofa mencoba bangkit segera menuju ke toilet tapi sebuah kain tebal membuat langkahnya terhenti di raihnya dan ternyata itu adalah jas jaket milik suaminya, ada rasa kaget dan tak percaya ketika ia menatap sekilas sang suami yang tengah terlelap itu. karena sejak semalam setelah Fahri mengantar Sukma kembali kerumah ia mulai di landa kantuk yang luar biasa meski hawa dingin begitu menusuk, Entah apa gerangan yang membuatnya bersikap demikian dan lagi sikap nya sunnguh tidak bisa di tebak. enggan terlena dalam imajinasi yang tak seharusnya Mika menuju toilet untuk mengambil wudhu ia ingin menunaikan salat tajahud. setelah selesai ia pun mengadahkan tanganya ke atas memohon ampun kepada sang pencipta Alam semesta ini. Tidak ada kata kata yang lebih indah selain kata ikhlas dan sabar. Jika kita dekat dengan Allah, jika kita memiliki ikatan kuat dengan-Nya, jika kita yakin kepada-Nya, maka kita punya segalanya. Tanpa sadar lelehan cairan bening tumpah seraya mengadu kepada sang pencipta semesta, Doa dalam diam yang bahkan ia tak berani ia ucapkan lagsung. Mika yakin jika Allah memberinya ujian hidup maka juga Allah yakin ia dapat melaluinya sama seperti pernikahan yang ia jalani saat ini bukanlah ini termasuk ujian, merasa malu terus mengeluh tanpa henti, lalu di usapnya airmata yang menggenang di pelupuk mata seakan ingin terjun bebas menuju sajadah di bawahnya. "Cengeng sekali aku" dikerukupnya wajah dengan kedua tangannya. tanpa Mika sadar ada dua mata dalam yang sedang mengamati Mika dalam diamnya, ketika saat mika akan menoleh sekeliling dengan sigap sang pengamat pun kembali menutup mata segera agar tidak ketahuan sudah terbangun dari tidurnya. Hampir saja hufhhh.. tapi apa yang dia doakan kenapa menangis segala jangan-jangan dia mendoakan ku yang jelek amit amit .. Fahri yang sedang membatin membuatnya mengernyitkan keningnya secara tanpa sadar, Mika yang mengetahuinya pun merasa heran apakah sang suami sedang bermimpi buruk dan penasaran dengan apa yang ia impikan sampai seserius itu. . . Matahari mulai menunjukan sinarnya dri ufuk timur yang menyeruak dari luar melalui sela-sela gorden rumah sakit, Mika menawarkan diri untuk menyuapi Budiman yang masih lemah dalam balutan infus yang masih menancap di perggelangan tangan kanannya pun dengan senang hati menerima kebaikan Mika untuk membantunya menghabiskan sarapan paginya. Fahri yang baru kembali terlihat membawa dua bungkus bento bekal makan khas jepang yang di kemas dalam wadah berbentuk sedang. "Jadi bapak maunya di suapin" goda Fahri, saat ia melihat interaksi keduanya. "Siapa yang gak seneng di suapin sama anak perempuan, ya kan nduk" canda Budiman yang terlihat memang menikmati waktunya dengan mantunya yang di anggapnya seperti anak perempuannya. Mika hanya membalas dengan senyum manisnya. "udah nduk, kamu makan saja sana bapak sudah kenyang ini" pinta halus Budiman. "tapi bapak cuman makan sedikit tadi, nanti kalau cepet habis bapak bisa segera pulang" "persis kayak bapak , dulu Fahri masuk Rumah Sakit karena kecelakaan dengan polosnya dia nurut saat disuruh ngabisin makananya, padahal masih seminggu lagi baru bisa pulang" Budiman terbahak mengingat kejadian yang dirasa sangat lucu karena putranya begitu polos. Fahri yang merasa malu menarik mika agar mendekat dengannya "Bapak udah, " wajah semu merah milik fahri karena menahan malu membuat mika sedikit puas karena hanya dengan ini ia mampu melihat sisi lain dari pria dingin yang disebutnya sebagai Suami. Mika menikmati sarapan dalam diam mengatus nafas dan detak jantungnya agar seirama karena ini pertama kali ia merasa sedikit dekat bahkan masih terasa tangan besar yang menariknya tadi. Tanganya terasa hangat batin Mika. "Loh, mas fahri kenapa edaname nya gak di makan?" tanya mika yang mulai heran karena Fahri hanya menyisakan edaname tanpa menyentuhnya sama sekali. "huh, kenapa memang ...saya emang gak suka" ucap polos Fahri sambil memandang jijik kacang polong khas jepang berwarna hijau itu. "ini enak loh mas, aku makan ya boleh, mubazir tau" "hah, " merasa kaget karena Mika terlihat menyukai makanan yang ia tak suka, "silahkan" dengan senang hati Fahri memberi izin. "enak banget loh ini" seru mika. "aneh banget .." fahri menggeleng cepat masih tak percaya, ada orang yang suka dengan kacang itu. Senyum mengembang dari bibir Budiman melihat interaksi anak dan mantunya, dengan segera mengambil ponsel nya untuk memotret lalu di kirimkanya kepada sang istri melalui aplikasi selulernya di lengkapi dengan text liat bu, anak kita sama mantu akur sekali dengan di selipi emoticon tertawa lebar. Mika yang menikmati sarapanya sedikit mencuri pandang pada Fahri yang masih duduk berhadapan denganya , sibuk sendiri memainkan ponselnya entah dengan siapa ia berchat ria sampai membuat expresi serius sedemikian. "jadi saya antar jam berapa nanti" Fahri menatap sekilas,setelas ia terlihat memblas pesan. "jam sepuluh mas". Fahri yang masih di sibukan dengan ponselnya hanya memanggut setuju. . . Di perjalanan kehening menemani dua insan yang si sibukan dengan pikirannya masing-masing, yang satu sedikit lega karena selama dua hari di buat senang karena mengetahui sisi lain Fahri yang jarang ia ketahui, yang satunya telihat ada guratan khawatir terlihat jelas di wajah rupawan milik Fahri. setelah sampai fokus Fahri yang masih teralihkan mendapat uluran tangan Mika sedikit kaget saat ia merasakan punggung tangan nya bersentuhan dengan kening Mika. "terimakasih mas, sudah mau mengantarku" ucap mika memecah lamunan Fahri. sampai saat mika keluar mobil Fahri hanya mematung untuk mencerna apa yang ia lewatkan barusan sampai tidak sadar bersentuhan apalahi di salami sang istri, merasa aneh karena pertama kalinya perempuan memberi salam pamit padanya walau ini kedua kali bersentuhan setelah ijab kabul kala itu. apa sih yang kamu fikirin mas sampai bengong gitu. batin mika ketika beranjak pergi memasuki bangunan yang cukup luas di lengkapi taman kecil di sudut tempat. . . bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN